Minggu, 28 Juli 2019

Cinta Besar


Pria muda itu menghadap tuan rumah seraya menyerahkan surat dari Mertuanya, HOS Tjokroaminoto. Pria itu mengatakan bahwa dia akan melanjutkan pendidikannya di THS (Technische Hooge-School) Bandung. Dengan kedua tangan terbuka tuan rumah menerima pria muda itu untuk ngekos di Rumahnya. Apalagi mertua Pria muda itu orang yang sangat dihormatinya. Kebetulan dia lebih banyak di luar rumah sibuk mengurus bisnisnya. Sementara Istrinya tinggal sendirian di rumah di Kota Bandung. Pria muda itu bernama Soekarno. Tuan rumah itu bernama Haji Sanusi. Istrinya bernama Inggit Garnasih.
Rumah itu berukuran 150 meter Persegi. Untuk ukuran rumah ketika itu, itu termasuk kelas menengah. Rumah itu ada enam ruangan. Ruang tamu, ruang belajar, ruang tengah, kamar, ruang tempat pembuatan bedak, dan ruang serbaguna. Soekarno mendapat ruangan paling depan. Rumah Inggit menjadi ramai karena banyak teman Soekarno yang datang. Soekarno disenangi karena kepintarannya berbicara dan mampu menjelaskan pikiran-pikirannya dengan mudah. Dan Inggit merasa hidupnya menjadi lebih bergairah dengan melayani Soekarno dan teman-temannya.
Tak terasa waktu berlalu. Setiap bangun tidur yang pertama yang dilihat Soekarno adalah Inggit. Hubungan merekapun semakin dekat. Sementara Haji Sanusi pun jarang di rumah karena sibuk berniaga dan kegiatan politiknya. Inggit lebih banyak tinggal sendirian dirumah menanti suaminya pulang. "Hanya Inggit dan aku dalam rumah yang sepi. Dia kesepian, aku kesepian. Perkawinannya tidak betul. Dan perkawinanku tidak betul. Dan, sebagai dapat diduga. Hubungan ini berkembang," kata Soekarno.
Bagi Soekarno, kebahagiaan dalam perkawinan baru akan tercapai apabila si istri merupakan perpaduan dari seorang ibu, kekasih, dan seorang teman. Ia ingin teman hidupnya bertindak sebagai ibunya. Kalau dia pilek, dia ingin dipijit istrinya. Kalau lapar, dia ingin menyantap makanan yang di masak sendiri oleh istri. Kalau bajunya koyak, ia ingin istri menambalnya. Dengan Oetari keadaannya terbalik. Dia yang menjadi orang tuanya, dia sebagai anak.
Bagaimana dengan Inggit ? Inggit dengan matanya yang besar dan gelang di tangan itu tidak memiliki latar belakang yang menonjol. Dia sama sekali tidak terpelajar, tetapi bagi Soekarno intelektualisme tidaklah penting dalam diri seorang perempuan. Baginya, yang menjadi ukuran adalah sifat kemanusiaan. Inggit sangat mencintainya. Inggit tidak memberikan pendapat. Dia hanya memandang dan memperhatikan, mendorong dan memuja. Dia memberi Soekarno cinta, kehangatan, sikap tidak mementingkan diri sendiri dan itu tidak pernah Soekarno peroleh sejak dia meninggalkan rumah orang tuanya.
Psikater akan mengatakan bahwa ini adalah pencarian kembali kasih sayang ibu. Mungkin juga, siapa tahu? Jika Soekarno mengawini Inggit karena alasan ini, itu terjadi secara tidak sadar. Dia waktu itu, dan sampai sekarang, masih seorang perempuan yang budiman. Pendeknya, kalau dipikirkan secara sadar, perasaan-perasaan yang dia bangkitkan kepada Soekarno tidak berbeda dengan yang dia berikan pada seorang anak kecil.
Hubungan yang semakin dekat dengan Inggit akhirnya timbul gunjingan-gunjingan dari orang-orang disekitar mereka. Agar tidak terlalu luas gunjingan itu, akhirnya Soekarno pun mengutarakan maksudnya kepada suami inggit untuk menikahi istrinya. Ia meminta Haji Sanusi untuk segera menceraikan Inggit.
Entah apa yang dirasakan Haji Sanusi saat mendengar keinginan Soekarno. Sadar akan situasi tersebut, Sanusi pun rela melepas Inggit Garnasih. Bahkan dengan segala keikhlasannya, Sanusi berpesan kepada Inggit agar menjadi sandaran bagi Soekarno dan membantu perjuangan Soekarno dalam mewujudkan impiannya. Namun pada waktu bersamaan Inggit pun minta kepada Soekarno untuk menceraikan istrinya , Oetari. Soekarno menyanggupi. Usia Soekarno dengan Inggit, terpaut 13 tahun. Inggit bagaikan kakak Soekarno. Namun cinta tidak mengenal usia.
Ketika Inggit telah diceraikan Sanusi dan Soekarno menceraikan Oetari, Pada 24 Maret 1923, Soekarno menikahi Inggit. Soekarno tidak pernah merasakan getaran cinta kepada Oetari. Karena sudah dianggapnya adik sendiri. Namun dengan Inggit walau usia terpaut jauh, Soekarno bisa melabuhkan cintanya.
Bagi Soekarno, Inggit sangat penting baginya. Inggit adalah ilhamnya. Inggit adalah motivatornya. Ditengah ketidak pastian sebagai pejuang, Soekarno memang memerlukan semua itu. Dia sekarang mahasiswa di tahun kedua. Dia sudah menikah dengan seorang perempuan yang dia butuhkan. Usianya sekarang lebih 21 tahun. Masa jejakanya sudah berada di belakang. Tugas hidupnya terbentang di depan. Pemikiran awal yang dipupuk oleh Pak Cokro dan mulai menemukan bentuknya di Surabaya, tiba-tiba keluar menjadi kepompong di Bandung dan berkembang dari keadaannya itu menjadi seorang pejuang politik yang sudah matang. Dengan Inggit berada di sampingnya, ia melangkah maju memenuhi perjanjiannya dengan sang nasib".
Kehidupan pernikahan mereka tidaklah selancar air mengalir. Soekarno yang masih kuliah di Technische Hoogeschool (THS), tidak punya penghasilan. Dengan bijak Inggit terus memotivasi Soekarno agar menyelesaikan kuliahnya dengan baik disamping kegiatannya sebagai aktivis pergerakan pada masa itu. Setelah Soekarno menyelesaikan kuliah dan dapat titel insinyur, Soekarno tidak bekerja. Ia lebih focus sebagai aktifis. Inggit harus terus mencari tambahan penghasilan agar dapur tetap ngebul. Ia tidak mendapatkan uang belanja dari suaminya. Dia harus bekerja keras untuk rumah tangganya. Beda dulu ketika dia masih jadi istri Sanusi, tidak pernah kekurangan uang.
Namun Enggit merasa bahagia, sangat bahagia. Sebagai istri aktifis. Enggit harus siap Suaminya ditangkap Belanda kapan saja. Soekarno pernah di penjara ketika masih kuliah. Setelah itu, Inggit harus melewati kehidupan rumah tangga dalam pengasingan. Masa-masa sulit dipembuangan di Ende Flores dan Bengkulu pun dia jalani dengan tegar. Dengan susah payah dihalaunya kesepian yang dirasakan Soekarno dalam pengasingan itu. Dalam umur 28 tahun suaminya sudah dipenjara, 12 tahun dari tahun-tahun terbaik seorang laki-laki di habiskan dalam pembuangan dan inggit selalu setia mendampingi suaminya.
Begitu hebatnya penilaian Soekarno tentang Inggit namun pada akhirnya ia manusia biasa yang tentu punya kekurangan dan harus berusaha mendapatkan kesempurnaan. Pada pembuangan selanjutnya ke Bengkulu, Inggit pun menemani Soekarno. Dan di Bengkulu inilah prahara rumah tangga mereka mulai meruak dengan kehadiran Fatmawati. Soekarno jatuh cinta lagi dan ingin punya anak, punya keturunan dari darah dagingnya sendiri.
Saat itu Fatmawati berumur 17 tahun, sedangkan Inggit telah menapaki usia 53 tahun. Bagaimanalah perasaan yang berkecamuk dalam dada Inggit, menyaksikan suami yang sudah bersamanya sejak puluhan tahun, yang sudah dibesarkannya dengan penuh kelembutan dan perjuangan menginginkan sesuatu yang Inggit tak bisa penuhi, di usianya yang tak lagi muda. Firasat itu sebenarnya sudah ada, perasaan bahwa Soekarno berubah perlakuan terhadap dirinya. Ditambah lagi bisik-bisik orang sekitar tentang kedekatan Soekarno dengan Fatmawati.
Namun, memang benarlah Inggit seorang wanita yang kuat. Di tengah kegalauan hatinya yang sedang berkecamuk hebat, masih terlintas pemikiran tentang hal-hal yang baik. Tidak sebersitpun pemikiran negatif tentang suaminya terlintas. "Tergodakah dia? Barangkali, ya, barangkali begitu. Sebab itu, sabarlah! Barangkali kejadian ini cuma meminta kesabaran. Barangkali cuma meminta percobaan. Barangkali cuma meminta keibuan dariku yang untuk sementara harus aku maklumi segalanya dan nantinya akan menjadi beres kembali. Tetapi, janganlah menyerah sebelum apa-apa. Jangan ribut. Tahan! Sabarlah! Bersopanlah! Sopan! Dan aku pun ikuti perasaan dan pikiran itu. Aku pun taat kepada pikiran-pikiran itu. Aku sabar. Menyabar-nyabarkan diri."
Cinta kepada Fatmawati membuat Soekarno harus menyadari realita hidupnya bersama Inggit. Bahwa cinta dan pengabdian Inggit tidak cukup tapi ada lebih daripada itu. Inilah kata Soekarno kepada anak angkatnya “ Ibumu berusia lebih daripada Papi. Memang dia dahulu cantik. Dan, dia wanita yang setia dan bijaksana. Tetapi, Papi laki-laki dalam usia jaya. Mengertilah, Omi. Izinkanlah Papi mengawini dia.”. Seperti itukah lelaki? Itukah balasan atas pengabdiannya selama ini?
Berkatalah Soekarno kepada Inggit dengan air menggenangi pelupuk matanya, "Kalau sekiranya aku menjalani hidup yang normal dengan kegembiraan yang normal pula, mungkin aku dapat menerima kesepian karena tak punya anak. Tetapi aku tidak memiliki sesuatu kecuali kemiskinan dan penderitaan. Aku sekarang berumur 40. Dalam umur 28 tahun aku sudah dipenjara, 12 tahun dari tahun-tahun terbaik seorang laki-laki kuhabiskan dalam pembuangan. Bagaimana pun, dengan cara apa pun, sebaiknya ada suatu imbalan. Aku merasa aku tidak lagi mampu menanggung beban jika yang ini juga dirampas dariku".
Inggit bersikukuh pada sikapnya yang tak ingin dimadu. Soekarno pun sempat mengalah hingga pernikahan itu tetap bertahan setelah mereka meninggalkan Bengkulu dan menetap di Jakarta. Namun, rumah tangga mereka sudah terlanjur dilanda ketegangan. Pertengkaran sering pecah di antara keduanya. Dan Soekarno sering terserang penyakit sehingga harus dirawat di rumah sakit selama berpekan-pekan. Perceraian pun akhirnya ditempuh sebagai jalan terbaik.
Dalam perjalanan pulang ke Bandung, setelah talak jatuh, ia berhenti di tengah kebun teh untuk mendoakan Soekarno Inggit mengatakan: "Sesungguhnya aku harus senang pulang karena dengan menempuh jalan yang bukan bertabur bunga, aku telah mengantarkan seseorang sampai di gerbang yang amat berharga. Ya, di gerbang hari esok yang pasti akan jauh lebih berarti, yang jauh lebih banyak diceritakan orang secara ramai. Dan mungkin yang jauh lebih gemerlapan, lebih mewah. Tetapi apalah arti kemewahan. Yang penting adalah kebahagiaan dan itu adanya di dalam hati. Ya, yang terpenting adalah soal di dalam hati! Kebebasan, itulah yang penting....
Setelah Soekarno bercerai dengan Inggit dan menikah dengan Fatmwati, selanjutnya masa revolusi mengantarkan Soekarno menjadi “bung besar’sebagai pemimpin revolusi. Soekarno berhasil dengan impiannya untuk kemerdekaan Indonesia dan menjadikan Indonesia terhormat di mata international. Pada saat itu ,Soekarno butuh lebih dari seorang Fatmawati yang telah memberinya lima anak. Tahun 1952, Soekarno menikah dengan Hartini. Dan Fatmawati harus keluar dari Istana karna tidak rela dimadu, seperti yang dulu dilakukan oleh Inggit.
Dan setelah itu 1959 atau tujuh tahu setelah menikah dengan Hartini , Soekarno mempertistri Kartini Manoppo. Tiga tahun setelah itu atau tahun 1962 menikah lagi dengan Ratna Sari Dewi. Tahun 1963 atau setahun setelah itu menikah dengan Haryati. Setahun kemudian atau 1964 memperistri Yurike Sanger dan terakhir ketika dalam tahanan rumah , tahun 1966 Soekarno masih sempat menikahi gadis bernama Heldy Djafar. Andai ajal tak menjemput, bagi Bung Karno, seolah tak pernah ada wanita terakhir untuk diperistri.

***
Lebih 10 tahun setelah Soekarno tutup usia, barulah pada tahun 1984 Fatmawati berkesempatan untuk bertemu dengan inggit. Di hadapan wanita sepuh itu, Fatmawati Sukarno bersimpuh. Sambil berurai air mata, dia bersujud menciumi kedua kakinya. Dengan terbata-bata, Fatmawati meminta maaf karena telah menjalin tali kasih dan menikah dengan Sukarno. “Indung mah lautan hampura (seorang ibu adalah lautan maaf),” si perempuan sepuh itu membalas sambil memeluk dan mengelus kepala Fatmawati.Inggit memaafkan Fatmawati yang dianggapnya sebagai anak. Ia ikhlas menjalani hari tuanya dengan berjualan bedak buatan sendiri. Ia memaafkan Bung Karno yang ketika masih sebagai mahasiswa disapanya dengan panggilan Kusno. Inggit tidak mengeluh. tidak menangis. Demikianlah cinta Inggit pada Soekarno. Cinta semata-mata karena cinta. Tidak luka ketika dilukai dan tidak sakit ketika disakiti, tanpa pamrih tanpa motivasi. Cinta besar inggit lah yang membuat Soekarno menjadi besar. Inggit sosok istri yang tegar, contoh untuk semua istri dan para calon istri, bahwa cinta itu melepaskan sesuatu yang pada waktu bersamaan sangat membutuhkannya.

Pilihan

Menjelang tahun baru aku stuck di Beijing. Sebentar lagi akan berganti tahun 2006.  Aku terkurung dalam kesendirian di Panninsula Hotel Beijing. Salju berjatuhan mengiringi kedatangan tahun baru. Sepanjang malam, aku termenung dalam melankolia. Dari jendela kamar hotel, aku lihat jalanan kota ramai. Kendaraan bergerak berselambat. Malam semakin larut. Tahunpun berganti. Bebunyian yang tersisa hanya deru kendaraan malam. Yang terlambat bangun. Yang melintasi malam bersama kerahasiaan tentang tujuan. Perjalananku sendiri lamat saja. 

Belum pernah kurasa amat sepi. Malam ini, kota seakan lelah, sebagaimana aku yang masih bertarung dengan waktu menggapai asa. Perjalanan hidupku mengajarkan tidak bisa tergesa gesa. Pelan adalah keselamatan. Menekuri ketelitian. Menghindari bakhil yang celaka. Semenjak beberapa tahun lampau. Ketika aku masuk dalam dunia bisnis. Aku tidak pernah tahu apa itu ulang tahun. Waktu aku habis dalam rapat bisnis, menganalisa setiap peluang, mencari solusi dan bersikap awas terhadap segala kemungkinan. 

Bulan mendengkur. Aku mendengarnya. Aku selalu dapat mendengar dengkurnya yang keras menggaung di antara awan dan gedung tinggi. Bulan selalu tertidur selepas tengah malam. Bosan barangkali. Lelah juga mungkin. Tapi kau selalu mengatakan, ”bulan bukan bosan. Ketika kota hening, ketenangan akan membiusnya.” Tak setuju benar aku perihal itu. Tapi memang keheningan selalu dapat membius. Keheningan adalah jenis racun dengan wujud yang lain.

Selalu, kuingat semua tentang kita, Suci. Awal phase kehidupanku yang tak henti terjerambab, bangkit dan kembali terjerembab. Kadang membuatku masuk dalam lobang gelap tak bersinar. Terkurung dalam sepi dan teracuhkan orang banyak. Kalaulah tanpa kesabaran yang dibekali oleh Tuhan dalam jiwaku, rasanya sudah lama aku ingin akhiri hidupku. Kesabaran itu lahir dari kekuatan. Kekuatan itu sendiri tercipta karena kepercayaan yang kau berikan, Suci. Aku tidak pernah takut dan kawatir akan hidupku. Itu berkat sabar, berkat Tuhan mengirim kau.

“ Aku ingin punya rumah besar, Mobil mewah dan semua hal yang wah “ katamu setelah tiga bulan kita saling kenal. Aku sempat mentertawakan dirimu. Bagaimana pedagang teh botol kaki lima bermimpi seperti itu. “ karenanya aku harus dapat suami yang bisa memenuhi keinginanku.“ Katamu lagi. Aku tersentak. Saat itu aku perhatikan dengan seksama wajahmu. Sebetulnya kamu cantik, tetapi karena kemiskinan kecantikan itu berkabut. Entah Pria kaya mana yang mau perhatikan wajah dibalik kabut itu. Tapi aku bisa meliatnya, saat itu.

Kamu dan aku, orang kampung. Walau matamu sipit, kamu tetap orang kampung yang datang ke Jakarta menambah daftar kemiskinan. Kita bertemu di tengah debu jalanan. Aku harus berpeluh menyusuri kota sebagai salesman. Sementara Kamu harus duduk di pojok tangga pasar sepanjang hari menjual teh botol. Dalam lelah tanpa ada satupun prospek pembeli, kamu memberiku teh botol tanpa meminta uang kepadaku. Ketika aku bingung bayar uang kuliah , kamu memberikan uang tabunganmu. Ketika aku sakit, kamu menjengukku dan merawatku dengan uangmu. Kamu terlalu baik, Suci.
“ Aku harus berhenti kuliah. Ini membosankan. Aku tidak butuh titel. Tidak Ci.” Itu kataku suatu ketika setelah setahun hubungan kita yang semakin dekat.

Kulihat Suci terdiam dalam keterkejutannya. Dia hanya menahan kecewanya dengan menundukkan kepala.  Apakah Suci setelah ini akan pergi meninggalkanku. Mungkinkah itu ? oh, Jangan Suci. Kalau kau benar benar mencintaiku , tolong juga maklumi pilihanku. Ya, kan. Suci tetap diam. Benarlah setelah diam nya beberapa saat, diapun pergi. Tinggal aku sendiri. Banyak hal yang ingin kujelaskan kepadamu , Suci tapi apakah kamu bisa mengerti. Tentu kamu bisa mengerti karena kamu cukup cerdas dan memahami perasaanku terdalam. Benar katamu bahwa jadi sarjana dan kemudian jadi PNS adalah pilihan yang aman. Dan lagi Pegawai negeri adalah profesi mulia dan hanya segelintir orang saja yang bisa mendapatkan kesempatan untuk menjadi seorang pejabat. Masalahnya aku tak ingin menjadi segelintir orang itu ? Aku ingin menjadi orang kebanyakan. Tentu banyak profesi yang bisa dikatakan mulia. Bukan hanya PNS. Mei seakan membantah itu. Seperti dialogh ku sebelumnya dengannya.

“ Ya Hidup sebagai pengusaha juga tidak lebih buruk. Memang tidak sehebat PNS tapi setidaknya penghasilannya lebih besar dibandingkan PNS dengan sepuluh tahun pengalaman kerja. Kita bisa bebas dan merdeka untuk tidak dibawah kendali orang. Apakah ada yang lebih baik hidup ini selain kemerdekaan itu sendiri. ? “

"Memulai bisnis bukan hal yang  mudah. Siapa kamu? Kamu terlahir dari keluarga miskin. Jangan terlalu bermimpi.Hadapi kenyataan” Itulah yang selalu diulang ulang oleh Suci. 

Tapi pikiranku sudah bulat. Berhenti kuliah. Mungkin Suci juga berhenti menjadi kekasihku. Sakit dan sangat menyakitkan kehilangan orang yang dicintai hanya karena perbedaan prinsip. Bukankah cinta itu alat ampuh untuk saling memaklumi dan meredam perbedaan, apalagi soal prinsip. Ya, keliatannya hubunganku dengan Suci tak lebih hubungan percintaan ala kapitalis. Selagi tidak menguntungkan sesuai pemikirannya maka hubungan tak perlu dilanjutkan.  Aku yakin Suci tidak akan merasa berdosa , apalagi kecewa bila harus menjauh dariku.  Tapi bagaimana denganku ? 

Benarlah beberapa minggu kemudian, Suci tidak lagi nampak berjualan di pojok pasar. Behari hari ku nanti kedatangannya di pasar itu, tetapi dia tidak pernah nampak lagi. Kudatangi tempat tinggalnya, menurut tantenya dia kembali ke Pontinak. Mungkin menikah. 

Sejak itu aku tak ingin lagi mencari wanita lain. Aku lebih focus dengan bisnis yang sedang kurintis. Kalau ada wanita yang bersedia dengan keadaanku, maka itulah jodohku. Siapapun itu. Tak penting cantik seperti Suci.

***
Aku melangkah keluar kamar. Menuju cafe and Bar Panninsula Hotel. Tahun telah berganti. Suasana cafe masih ramai pengunjung. Mataku mengarah ke table dimana seorang wanita duduk sendirian. Jantungku terasa berhenti. “ Kau…” desisku tertahan saat menatapnya. Perempuan yang barusan ada dalam lamunanku. Setelah 24 tahun tak bersua. Telunjukku tiba-tiba layu saat dia tersenyum kearahku.  Suci kini ada dihadapanku. Ya Suciku. Tatapan mata kami begitu teduh. Begitu lembayung. Butir-butir air mata Suci menepi di antara kelopak. Berderai di pipinya yang ranum. Jatuh satu-satu bagaikan salju. Butir air mata itu menyelam di genangan bola mataku yang terdedah sedari tadi. 

Suci memelukku dan merebahkan kepalanya didadaku. Hangat. Aku hanya diam tanpa ada keberanian membalas pelukannya. Aroma rambutnya begitu semerbak. Bukan itu, tapi itu aroma yang dulu pernah hadir dalam hidupku...dulu sekali. Kutatap kedua bola matanya bergantian. Sorot matanya masih nyalang. Berbunga-bunga. 
“ Kamu sehat, Ci “
Suci tersenyum. Mengangguk beberapa kali. Bola matanya mengisyaratkan sesuatu yang lebih dari sebuah sapaan mesra.

Aku berkaca di bola matanya yang bening. Masih begitu bening. Aku menatap diriku dalam tiupan angin petang bagai alunan gazal yang lembut. Sayatan biola tua yang mendayu-dayu. Aku merasa sudah begitu tua. Tapi sapa lembut Suci bagai mengelupaskan kerutan-kerutan di keningku.

”Apa yang masih kau ingat?” bisiknya dengan irama rendah. Menyayat-nyayat. Mataku kian terbuka lebar saat menyaksikan banyak lukisan, kata-kata, rekaman, dan irama berloncatan dari bola matanya. Tiap helaan napasku bagai memutar kenangan di sebuah layar seluloid yang usang. Warnanya lembayung kecoklatan. Sudah terlalu lama rekaman-rekaman tersebut mengendap di bola mata itu.

Di Beijing menjelang pagi, 24 tahun kemudian, kami bersua. Bak seekor burung yang bersayap lembayung pula terbawa angin yang mengantarkan dirinya padaku. Dan aku pun bagaikan sebuah ranting kayu mendedahkan diri tempat berhinggap bagi dirinya. Tentu saja, ia agak lelah karena bertahun-tahun terbang menembus gumpalan awan dan tabir masa silam yang tertinggal jauh.

”Kau nampak masih berlum terlalu tua…” sapanya.

”Udah diatas 40 usiaku. Tepatnya 43 tahun. Dan kau juga masih tetap cantik ?” Kataku. 

Ia menggeleng. 

”Aku tidak muda lagi. udah 40 tahun…” katanya dengan senyumnya yang dulu. Tak berubah.

”Semua kita menua, Ci” sambutku meyakinkan dia semua orang menua namun persahabatan tak akan lekang oleh waktu.

”Aku kangen, kamu. Kangen sekali..?” ucapnya mengangkat alis kiri yang kian memperlihatkan kemanjaan yang pernah kurasakan di masa-masa yang sudah terlewati.

”Kau masih suka ke Pasar dulu ketika kita sering bersama…” kataku menunduk.

”Sudah lama aku tidak kesana. Entah kapan kali terakhir kesana.”

“ Ada apa Ci? Apa yang terjadi dalam 24 tahun ini? tanyaku dalam hati. Tatapan matanya yang teduh menangkap tanda-tanya itu. Ia menjawab tanpa ragu-ragu. Segalanya begitu bening. Bagaikan titisan gerimis yang jauh di sebuah telaga jernih yang menguraikan riak-riak kecil menjadi not angka dan nyanyian.

”Kau masih menyukai lagu “ always on my mind ?” tanya Suci.

”Iya… masa lalu dan masa kini, sama saja bagiku….”

Giliran ia terpekur.

”Aku masih ingat semuanya. Sebuah kehampaan yang membuat hatimu terluka. Aku tak banyak tahu apa maknanya waktu itu. Aku hanya seorang anak gadis yang mudah memalingkan diri dari siapa saja. Aku merasa bagai seekor burung berbulu keemasan yang boleh terbang sesukanya. Dan aku tak pernah hinggap di ranting mana pun. Aku hanya terbang dan terbang…” kata Suci dengan suara tertahan kerinduan dan air mata.

”Tentu kau sudah melupakanku…”

”Iya..tepatnya 10 tahun sejak berpisah dengan mu. Namun setelah itu setiap bangun tidur pagi, wajahmu terus terbayang, sampai kini…”

”Kamu baik baik saja, Ci?”

Suci mengangguk. 

Kemolekannya memukauku kembali. Kemolekan yang bertapis kematangan jiwanya. Ia memang sudah tidak muda lagi.

”Aku pernah jadi piaran pengusaha kaya. Menenaminya kemana mana, bahkan sebagian besar negara didunia telah aku kunjungi. Tapi itu hanya sebentar. Cepat sekali berlalu..” tuturnya mengenang.

”Kau telah terbang begitu jauh. Melintasi awan, langit, gunung, kenangan, batu, hujan, lelaki… dan…”

”Jangan sebut itu…” tiba-tiba suaranya agak keras sambil meletakkan telunjuknya di bibirku. Aku terperanjat. Sentuhan lembut itu bagai menguliti diriku. 

Kami sama-sama terdiam. 

Ia bercerita tentang masa lalunya. Ia tidak pernah menikah tapi punya sorang anak laki laki.

”Aku datang kesini bersama pria. Dia sedang mendengkur di kamar. Namun aku tetap sendiri…” tuturnya mulai berterus terang.

”Aku amat bersimpati…” sambutku lemah-lembut. ”Ada banya pria tempatmu berlabuh. Selalu ada untuk mu Ci ?” ucapku dengan tersenyum

Suci merunduk. Diam. 

”Aku datang ke sini diajak berlibur dan menghibur pria. Akhirnya takdir mempertemukan kita lagi disini." 

Kami kembali terdiam. Kemudian terdengar suara Suci dengan lembut " Ceritakan tentang kamu. Aku ingin tahu...boleh kan ”

" Aku memulai hidupku dengan sangat keras. Berkali kali aku membangun usaha berkali kali juga jatuh. Namun jatuh atau bangun ,tidak membuat aku berubah. Ya, aku tidak punya pilihan karena memang no way return. Aku harus terus melangkah. Aku menikmati proses hidup ku bagaikan ulat berusaha keluar dari kepompong untuk menjadi kupu kupu yang indah. Hambatan dan kegagalan tidak membuat aku kalah dan lelah tapi semakin membuat aku bijak. Bisnis tidak membuat aku bangga. Tidak. Namun dengan bisnis yang ada, setidaknya aku diperlukan oleh istri dan anakku, orang tuaku, keluarga besarku, serta sahabatku. 

”Kamu sudah berkeluarga ?” sela Suci

”Sudah. Sudah 15 tahun usia pernikahan kami. Kini punya anak dua.”

“ Wanita yang beruntung” Wajah suci murung. " Bagaimana dengan bisnis mu ?sambungnya

“ Bisniku memang berkembang di banyak negara. Walau kehidupanku bergaul dengan banyak orang hebat tapi aku tetap seperti dulu.Tidak ada yang berubah.Tak pernah bisa meninggi. Aku tak bisa terbang seperti dirimu…”

”Setinggi-tinggi burung terbang… akan merendah juga suatu ketika. Seperti diriku kini…hanya masalah waktu”

Aku sedih karena melihat Suci ku nampak lelah dan menua..Kutatap wajahnya. Ada goretan kelelahan dan tentu harapan akan pertemuan ini. Apa yang harus kukatakan kepada dia? Kepada Suci ku...

“ Di usia ku kini aku tak mau lagi berpikir memaknai bahagia itu apa. Aku hanya ingin mengisi sisa hidupku dalam realitas hidupku. Karena inilah sebaik baiknya untuk ku. Apapun pilihanku telah kucoba lakukan namun yang terjadi ternyata kehendak Allah juga yang berlaku. Kita hanyalah hamba Alllah yang diberi tugas melewati rentang waktu seperti scenario Tuhan. Kamu bertemu dengan pilihanmu dan akhirnya tetap sendiri. Akupun melangkah sesuai pilihanku sebagai pengusaha, dan berkeluarga”

Suci menunduk. 

“ Memang tidak seharusnya kita bertemu bila harus berpisah namun juga tidak seharusnya disesali yang telah terjadi. Mahal sekali pelajaran hidup kita. Sementara sang waktu terus bergerak kedepan. Rambut semakin memutih dan gigi semakin goyah. Langkahpun semakin lemah. “ Ucap Suci.

" Tak ada cara terbaik dalam hidup ini kecuali bertobat. Dan bersiap siap untuk pulang keharibaanNya.' kataku.

" Aku selalu mencintaimu walau ragaku dimiliki orang lain." katanya memelas.

" Kamu akan selalu baik baik saja. " kataku merangkulnya. " Jaga diri baik baik ya Ci " sambungku seraya berlalu dari hadapannya.


Semoga dia mendapatkan hikmah dari pertemuan kami. Tentu Allah yang mengatur ini semua setelah rentang waktu 24 tahun terpisah. Untuk memberikan jawaban atas rahasia pilihan hidup kami dulu ketika remaja. Kita memang bebas memilih yang kita suka namun Allah pun bebas menentukan. Nasip buruk yang terjadi, tak bahagia dan menderita, bukanlah karena pilihan kita tapi karena kita tidak pernah ikhlas menerima kenyataan itu. Setidaknya dalam hidupku, Tuhan pertemukan aku dengan wanita yang bersedia menjadi istriku, dan tidak pernah pergi meninggalkanku dalam kondisi apapun. Kemanapun aku pergi dia selalu setia menantiku pulang. Dan Suci sudah menentukan sikapnya ketika dulu aku berhenti kuliah, dia meninggalkanku. Semoga kamu paham ya Ci...

Mencintai Ibu

“ Permisi mas “ kata wanita itu ketika hendak ke toilet terhalang oleh petugas cleaning service yang sedang bekerja di jalan menuju ke toilet. Ketika dia usai dari toilet, pria itu tersender di dinding dengan wajah pucat. Wanita itu meraba kening pria itu. Panas. Dia langsung memanggil satpam dan membawanya ke rumah sakit.  Wanita itu menjamin biaya berobat pria itu sampai dinyatakan sehat oleh petugas UGD.Menurut dokter, pria itu kena asam lambung. Wanita itu memberi ongkos pulang kepada pria itu. “ Terimakasih Mbak. “ 
“ Nama kamu Fathur ya ?
“ Ya Mbak. 
“ Ya udah hati hati ya di jalan. istirahat dan makan yang cukup. “ Katanya. Dia kembali ke kantor tapi rencana meeting jadi tertunda. Deal yang sudah depan mata gagal. 

Bertahun tahun kemudian, wanita itu tidak juga berhasil dalam karirnya sebagai petugas sales. Padahal dia sudah bekerja keras dan focus. Hasilnya hanya cukup untuk makan dan bayar sewa rumah tanpa bisa menabung. Usia sudah diatas 30 tahun. Tidak ada pria yang serius untuk meminangnya walau dia berkali kali menjalin hubungan. Sepertinya sukses sebagai sales sama sulitnya dengan menjalin hubungan dengan pria. Maklum dia wanita dari keluarga miskin. 

“ Mbak …” terdengar suara panggilan dari dalam kendaraan mewah yang berhenti tepat disampingnya yang sedang menanti kendaraan di halte. Dari dalam kendaraan keluar pria gagah berdasi. “ Masih ingat saya..” Kata pria itu.
Dia berusaha mengingat. “ Ah, kamu dik fathur kan.” 
“ Ya mbak. Mau kemana ?
“ Mau pulang.”
“ Kemana jurusannya?
“ Bekasi.”
“ Saya antar ya. “
“ Loh engga ngerepotin.”
“ Kebetulan kita satu arah. “

Pria itu bercerita perjalan hidupnya sampai dia sukses seperti sekarang. Dulu waktu dia bekerja sebagai cleaning service, itu dia sedang menyelesaikan tugas akhir S1 nya. Tetapi karena keluarganya miskin dan ayahnya meninggal, dia terpaksa cuti kuliah untuk kerja  terlebih dahulu. Tahun 1998 banyak perkebunan sawit PIR ditelantarkan oleh konglomerat. Dia diajak temannya bekerja di daerah di perusahaan yang  mengelola kebun sawit milik petani dan membantu memasarkannya. Dia berhasil kerjasama dengan PTP untuk membantu proses pemasaran hasil kebun petani namun dengan syarat dia harus mendapatkan mitra buyer. Bersama temannya dia berangkat ke Singapore untuk mendapatkan mitra dari trader CPO. Nasip baik datang. Ada trader yang mau jadi mitranya. Sejak itulah usaha tempat dia bekerja berkembang. 

Mitranya dari Singapore memberi kepercayaan untuk akuisisi kebun sawit yang macet di BPPN. Diapun dapat saham dan bermitra dengan trader CPO Singapore. Hidupnya berubah. Sekarang dia punya puluhan ribu hektar kebun sawit dan empat pabrik kelapa sawit. Bersama teman temanya dia membuka usaha dibidang property dan pertambangan.  Wanita itu tidak bisa membayangkan pria yang tadinya dia kenal sebagai cleaning service, 10 tahun kemudian sudah jadi pengusaha besar. Reformasi memang banyak menenggelamkan pengusaha lama dan melahirkan banyak pengusaha baru. 

Keesokannya pria itu telp wanita itu untuk bertemu kembali. Pria itu membawa wanita itu kerumahnya yang megah dikawasan mewah. Dia terpesona. “ Kamu belum menikah, Fathur ?
“ Belum mbak. Gimana dengan mbak ?
“ Saya juga belum. Mengapa kamu belum menikah. Bukankah kamu punya segala galanya?
“ Saya tidak akan menikah kalau mamak saya tidak mau tinggal dirumah saya. “
“ Loh kenapa mamak kamu tidak mau tinggal bersama kamu?
“ Entahlah. Pening saya. Bisa bantu saya untuk yakinkan mamak saya.” 
“ Maksud kamu “
“ Mbak bilang, kalau mbak calon isri saya dan inginkan mamak saya tinggal bersama saya “
Wanita itu terdiam. Sandiwara apa ini. Mengapa harus memperdaya ibunya.
“ Bantu saya mbak.” kata pria itu memelas.
“ Ya udah. “
“ OK kalau begitu, besok pagi kita ke Medan. Temui mamak saya.”
***
“ Mak, ini calon istriku. Bukankah mamak janji akan ikut aku kalau aku punya istri.”
“ Mamak engga mau tinggal sama kau. Mamak sudah senang tinggal dirumah pemberian ayah kau.”
“ Tapi aku punya rumah besar di Jakarta. Aku ingin mamak senang dimasa tua mamak. Biar aku yang merawat mamak.
“ Aku disini senang.”
“ Tapi aku sulit untuk tiap minggu jumpa mamak. AKu sibuk. Mengertilah Mak. Ikut aku.”
“ Engga mau aku. Jangan kau paksa aku. Kalau kau sibuk, tidak perlu tengok mamak “

Wanita itu terdiam. Dia tidak mampu melihat wajah ibu dari pria itu. Wajah itu wajah kerinduan dan kesepian dari seorang ibu, yang punya anak tunggal, dan menjanda. Walau rumah ibunya dibangun mewah namun tidak membuat ibunya bahagia. Akhirnya mereka pulang tanpa bisa membujuk ibu pria itu.

Setelah setahun hubungan mereka semakin akrab. Kalau ada waktu senggang pria itu selalu menyempatkan waktu bertemu dengan wanita itu. Suatu saat pria itu berkata “ Waktu kali pertama melihat mbak, saya sudah jatuh cinta. Apalagi ketika tahu mbak membantu saya yang miskin. Sejak itu saya berjanji kalau saya jadi orang kaya, saya akan melamar mbak. Apakah mungkin? 

Wanita itu tidak menjawab. Berhari hari pria itu menanti jawaban dari wanita itu, yang akhirnya wanita itu menjawab “ Maaf, saya tidak bisa  menerima lamaran kamu.”
“ Mengapa ?
“ Kalau dengan ibu yang melahirkan kamu saja kamu tidak  bisa memahami kebutuhannya, bagaimana kamu bisa memahami saya. Bagaimana kamu bisa mendidik anak anakmu untuk mengerti saya. Apalagi kalau saya sudah tua”
“ Emang apa kebutuhan mamak saya “
“ Waktu dan perhatian kamu, bukan harta kamu. Itulah yang tidak bisa kamu delivery..” 

Wanita itu berlalu dari hadapan pria itu.


Hikmah cerita: Mencintai ibu bukan dengan uang dan harta tapi kita harus mampu menjaga perasaannya, yang kadang semakin tua semakin menuntut kita untuk semakin bersabar

Tuhan telah tunaikan janji Tejo

Sepuluh tahun di rantau. Sepuluh tahun jauh dari sanak keluarga. Sepuluh tahun dibawah gelombang jauh ketengah laut. Akhirnya akupun kembali kekampung ini. Tak ada perubahan berarti dikampung ini. Sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Hingga tak membuatku asing untuk kembali. Hanya angkutan pedati sudah digantikan dengan ojek. Pasar desa sudah diramaikan oleh suara musik dari toko penjual kaset. Wanita desa sudah banyak yang menggunakan baju gaya orang kota. Namun selebihnya adalah sama. Tak ada kemajuan. Itulah sekilas yang kutahu ketika menginjak kaki di senja hari. Didesaku , dimana aku dilahirkan.
“ Nah , Jono ,ya “ Terdengan suara sapa dari arah belakangku. Nampak wajah tua yang tersenyum dengan gigi yang menghitam.
“ Bu, Barijah ? Kataku pasti. Ya , Dia ibu dari sahabatku yang bersama sama denganku merantau ke kota.
“ Mana , Tejo. ? “ Tanyanya. Suara agak lambat. Namun wajahnya seakan menyiratkan cemas “ Belum sempat pulang ya..” Sambungnya. Kemudian matanya mengarah ketempat lain. Dia terduduk didekat pintu stasiun.
“ Bu..” Seruku sambil memegang bahunya “ Tejo sibuk sekali dikota. Dia belum sempat datang. “ Kataku membujuknya.
“ Tapi ada suratnya kan.”
Aku terkejut. Surat !
“ Ya , Ada. “ Secepatnya aku menjawab dan langsung mengeluarkan kertas dari dalam tasku. Sebetulnya itu bukan surat. Hanya secarik kertas yang hanya coretan tanganku. Tapi setidaknya ini dapat melepaskan rindunya kepada anaknya.. Diciumnya surat itu berkali kali dengan mata berbinar “ Bacakanlah untukku…tolong ya “ Kata Bu Barijah. Aku tahu dia tidak bisa membaca.
Akupun membacakan surat itu dengan karanganku sendiri. Kata demi kata meluncur dengan berat. Setiap gerak bibirku diperhatikan oleh Bu Barijah seperti dia sedang membayangkan Tejo didepannya. Usai membaca surat dia , tertawa dan tersenyum kepada kesemua orang yang ada didepan stasiun itu. “ Tejo akan pulang. Kalian dengar itu..Anakku akan pulang.” Suaranya agak meninggi kegirangan. Orang orang yang lalu lalang di stasiun hanya tersenyum. Ada juga yang melihat aneh kearah Bu Birjah. Tapi Bu Birjah tak peduli.
Sesampai dirumah. Ibu menyambut hangat kedatanganku.Begitupula dengan ayah dan adik adiku. Walau tak banyak uang yang kubawa kekampung namun kebahagiaan mereka dengan kehadiranku lebih dari segala galnya. Malamnya ibu berkata kepadaku “ Jo, Kamu bertemu dengan Barijah di stasiun ?
“ Ya, Mbok..”
“ Sudah hampir setahu dia selalu ada distasiun menanti kedatangan Tejo. Kadang sampai ketiduran di Stasiun. Akhirnya dia tak mau lagi pergi meninggalkan stasiun. Semua orang menyangka Barijah sudah gila. Tapi dia tetap waras. Ibu tahu betul itu. Dia hanya rindu anaknya. Kapa ya Tejo pulang. Gimana kabarnya..”
“ Lantas siapa yang kasih dia makan. “
“ Orang orang yang ada di stasiun. Mereka iba dengan nasip Barijah yang punya anak tunggal yang pergi merantau dan juga menjada ditinggal mati oleh suami. “
Aku hanya terdiam. Bayanganku langsung kepada Tejo, sahabatku dari sejak kanak kanak. Kami memang tak pernah menyelesakan sekolai SLTA.Kami hanya tamat SLTP. Sebagai anak petani yang miskin ,memang kami tak berharap banyak dari orang tua. Ada rasa tanggung jawab untuk membahagiakan orang tua untuk sekali seumur hidup. Setidaknya itulah harapan Tejo untuk membawa ibunya ke Haji. Mungkin naïf rasanya bila berharap terlalu jauh nasip akan berubah bagi kami anak desa yang tak berpendidikan. Tapi , tekad sudah bulat. Kami harus meninggalkan desa. Sebelum berangkat sebetulnya Tejo agak berat langkahnya pergi meninggalkan ibunya. . Dia anak tunggal. Apalagi ayahnya sudah meninggal.
Terbayang wajah Bu Barijah melapas kepergian kami di stasiun kereta. Wajahnya nampak kawatir.Air matanya berlinang. Tak lepas pagutan matanya memandang kereta melaju sampai hilang ditikungan. Tejo nampak tegar. “ Aku harus segera kembali kedesa dengan sukses Jo. Aku ingin membahagiakan si Mbok. Syukur syukur aku bisa bawa si Mbok ke Mekah..” Itulah kata Tejo yang tak pernah kulupakan. Setelah menempuh perjalanan yang panjang. Akhirnya sampailah kami di kota. Sanak famili tak ada. Kecuali teman teman sekampung yang dituju. Itupun rata rata mereka hidup sangat serba terbatas. Tinggal dirumah reot ,dipinggir kali.
Di kota kami bekerja apa saja, Kadang jadi kuli bangunan. Kadang jadi pedagang asongan. Kadang jadi pengais sampah. Tak terasa waktu berlalu. Keakrapan bersama Tejo lambat laun semakin memudar. Tejo sudah jarang dapat ditemui. Belakangan yang kutahu dia sudah beristri dan tinggal di Tempat Pembuangan Sampah. Daerahnya cukup jauh dari tempat tinggalku.. Akupun sudah disibukan dengan hari hariku . Tapi batin ku tak pernah melupakan Tejo.
Suatu hari pada Jumat malam. Aku tersentak dari tidur ku. Aku bermimpi tentang Tejo. Dalam mimpiku tejo berkata “ Aku akan bersama sama si Mbok ke rumah Allah.” Paginya, aku langsung ke tempat Tejo tinggal. Setelah bersusah payah bertanya tempat tinggal Tejo, akhirnya aku dapat menemukannya. Tapi …apa yang kudapi. Tejo sudah dipanggil oleh Allah. Tadi malam tepatnya. Dia meninggalkan seorang Istri dan anak. Sebetulnya bukanlah istri sesungguhnya. Wanita itu seorang janda dengan satu anak yang tak jelas siapa bapaknya. Tejo melindungi janda itu dan menafkahinya.
“ Tejo ,orangnya baik sekali. Tak pernah sungkan untuk menolong siapapun. Tak pernah bertangkar dengan siapapun. Semua kami mencintainya. Pernah kami disini mau sokongan untuk mengobati penyakit paru parunya tapi dia menolak. Dia selalu tegar dengan penyakitnya. Entah apa yang membuat dia begitu tegarnya…” demikian teman temannya.
“ Lebih empat tahun dia melindungi saya. Selama itu dia tidak pernah menyentuh saya. Walau dalam sakit sekalipun dia tetap bekerja untuk menafkahi kami. Dia ingin sekali menikahi saya setelah dia dapat membawa ibunya pergi haji. Tapi….” Demikian wanita itu berkata tentang Tejo sahabatnya. Wajah wanita itu sembab karena lelah dalam kesedihan teramat dalam.
“ Jono…Kamu melamun ya..” Teguran ibu membuyarkan lamunanku.
“ Eh ya mbok. Oh , ya sejak kapan Bu Barijah mulai sering menanti di stasiun itu “ tanyaku
“ Sudah hampir setahun. Atau tepatnya ketika adik kamu menikah. Hari jumat malam. Ibu ingat betul itu. Karena malam itu dia datang ke rumah di tengah acara perkawinan. Dia bilang tak bisa lama lama karena harus menjemput Tejo di Stasiun untuk kereta sore..” . Oh itu tepat hari kematian Tejo.
Seusai makan malam aku sempatkan datang kestasiun untuk menemui Bu Barijah. Kedatangaku disambut hangat oleh Bu Barijah. Dia duduk dipinggir stasiun dengan tikar lusuh. Bajunya lusuh. Udara malam dibalutnya dengan sarung.
“ Jo.. terimakasih. Tadi Tejo sudah datang temui ibu. Dia sehat Jo. Dia peluk ibu. Dia ingin ajak ibu pergi kerumah Tuhan..”
“ Oh Ya bu..” aku pikir Bu Barijah sudah gila atau berhalusinasi karena kerinduan teramat dalam kepada Tejo.
“ Ya Jo. Dia datang kuda putih. Gagah sekali Jo. Ibu mau ikut Tejo..” Kata Bu Barijah nampak ceria.
“ Ya Mbok…”
“ Kamu jangan pergi dulu ya. Tejo sedang pergi sebentar. Dia janji akan jemput ibu..tunggu ya..”
Aku tak bisa berlama lama bersama Bu Barijah.Semakin lama aku disini bersamanya semakin tertekan jiwanya. Semakin dalam kerinduannya kepada Tejo. Karena bagi Bu Barijah aku dan Tejo adalah dua anak yang selalu lekat dalam pikirannya. Apalagi , waktu dulu ibu sedang sakit, Bu Barijah lah yang menyusuiku. Karena waktu kelahiran Tejo dan aku hanya berjarak dua hari. Akupun kembali kerumah dengan langkah berat. Ingin rasanya membawa Bu Barijah pulang. Ingin rasanya aku menyampaikan hal yang sebenarnya tetang Tejo yang sudah almarhum. Tapi semua itu tak bisa bibirku bergerak.
Pagi harinya. Suara diributkan oleh orang kampung yang mengabarkan bahwa Bu Barijah meninggal tadi malam di stasiun. Orang kampung, termasuk aku berlari ke stasiun untuk membawa jenazah Bu Barijah. Jasadnya yang membeku di stasiun itu, nampak dalam keadaan tersenyum bahagia sambil memegang erat kertas yang tadi kubacakan sebagai surat dari Tejo…
Aku terkesiap memandangi jasad Bu Barijah. Airmataku berjatuhan. Aku menangis sejadi jadinya. Ibu memelukku. “ Kabarkanlah kepada Tejo…” suara ibu berbisik kepadaku…

Tejo memang berhasil membawa ibunya kerumah Tuhan. Memang Tejo tak berharta. Dia Maskin. Namun Akhlaknya yang mulia melindungi seorang janda yang terabaikan dengan seorang anak terlantar adalah harta tak ternilai untuk membawa ibunya kerumah Tuhan dengan senyum. Allah tak melihat dari apa yang kita berikan kepada Ibu kita tapi seberapa jauh kasih sayang dan cinta kita dibalik pemberiaan itu , walau itu hanya sebatas niat yang tak tertunaikan .Selagi ada niat untuk berbakti kepada ibu , selagi akhlak mulia bertaburan dimuka bumi maka selama itupula seorang ibu pantas melahirkan kita untuk menjadi rahmat bagi alam semesta. Allah telah menunaikan niat Tejo ..

GA, masalah BUMN?

Pada bulan Juni 2019, Otoritas Jasa Keuangan menemukan pelanggaran dalam laporan keuangan PT Garuda Indonesia (Persero) pada tahun bu...