Sabtu, 16 Juni 2018

Kebenaran?

Ada cerita lain soal kisruh anggaran antara Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) versus DPRD DKI. Ahok pernah menolak anggaran sebesar Rp 8,8 triliun yang diajukan DPRD untuk sosialisasi SK Gubernur DKI. Di awal Januari 2015, Ahok menerima pengajuan anggaran Rp 8,8 triliun dari Bappeda DKI. Usulan itu ternyata dari DPRD DKI. Anggaran sebesar itu ditujukan untuk sosialisasi SK-SK Gubernur. Dalam anggaran sosialisasi tersebut, goal akhirnya adalah pemahaman masyarakat terhadap SK-SK Gubernur. "Pas gue lihat, apa-apaan nih! Gue kasih lingkaran terus tulis 'nenek Lu!'. Apa yang mau disosialisasi dari SK Gubernur? Tinggal dilihat doang, makanya gue tulis 'Nenek lu!' di lingkaran. Balikin. Sudah baca 'nenek lu!' tersinggung kali mereka," tutur yang dikutip oleh Detiknews (3/3/2015).

Saya tidak akan membahas soal perseteruan anggaran antara Ahok dan DPRD DKI. Saya hanya ingin membahas kebenaran atas sikap AHok tersebut dalam empat dimensi. Dimensi pertama adalah Filosofis dan dogmatis ( agama). Kedua, dimensi Sosiologi. Ketiga , dimensi Yuridis. Keempat adalah dimensi cultural. Sekarang mari kita bahas satu persatu.

Dimensi Filosofi dan dogmatis. 
Sikap Ahok tidak salah. Karena adalah tugasnya yang diamanahkan oleh UU , dan Agama untuk mengawal APBD tidak di bancaki dan kalau bisa jangan membuat anggaran boros. Perbuatan mubazir dilarang Tuhan. Kita tidak melihat cara atau gaya Ahok bicara. Kita lihat adalah substansinya yang membela kebenaran. Tentu Ahok ada alasan tersendiri mengapa dia harus berkata kasar kepada DPRD. Secara filosofi itu dapat dimaklumi. Tidak ada cara sempurna untuk memperjuangkan kebenaran. Dalam agama itulah yang disebut fitrah manusia. Itu manusiawi.

Dimensi Sosiologi.
Sikap Ahok dipandang merusak kehormatan anggota Dewan yang secara sosiologi diakui bahwa Anggota dewan itu dipilih oleh rakyat. Suara rakyat adalah suara Tuhan, begitu demokrasi menyebut. Makanya anggota dewan disebut dengan orang yang terhomat. Jadi wajar saja kalau anggota dewan merasa tersinggung dan marah. Walau tanpa melihat substansi kebenaran yang ahok sedang perjuangkan, secara sosiologi, Ahok telah melakukan kesalahan.

Dimensi Yuridis.
Secara yuridis Ahok tidak bersalah. Mengapa ? karena disposisi itu bersifat rahasia yang dia berikan kepada bawahannya , yaitu ketua Bappeda. Nah kalau dia sampaikan langsung ke DPRD maka itu jelas melanggar Hukum. Dengan dasar menghina anggota dewan. Itu sama saja dengan menghina hakim di pengadilan. Dan pengadilan tidak akan melihat substansi sikap Ahok. Itu dua hal yang berbeda. Secara yuridis kebenaran itu punya nilai tersendiri.

Dimensi cultural.
Secara budaya DKI, apa yang dikatakan oleh Ahok itu tidaklah ungkapan yang kasar. Walau orang betawi sangat menghormati neneknya. Tetapi orang betawi memang bicaranya begitu. Tetapi bagi orang jawa dan sumatera dan lainnya , berbeda. Bagi mereka Ibu ( nenek) adalah simbol yang sangat dihormati. Bahkan bagi mereka Ibu itu pintu gerbang menuju Sorga. Menghormati ibu bukan hanya dari sikap tetapi juga dari cara bicara yang harus santun. Begitula cara menghormati adat dan sekaligus bertaqwa kepada Allah. Jadi secara cultural lain daerah lain pula nilai nilai kebenaran itu.

Nah dengan memahami empat dimensi itu kita jadi paham bagaimana Jokowi bisa bersikap dalam memimpin negara ini. Kalau ada issue politik maka ia sikapi dengan tenang. Karena bisa saja secara filosofi dan dogmatis tidak salah namun dalam dimensi lain belum tentu benar. Atau bisa saja secara sosiologis itu dibenarkan. Maka perhatikan bagaimana sikap Jokowi. Pertama adalah dia tidak mudah bawa perasaan ( Baper ). Ingat bahwa kebenaran didunia ini tidak ada sesungguhnya kebenaran atau tidak ada kebenaran absolut. Setiap orang bersikap dengan dimensi berbeda. Jadi dia hadapi issue itu secara kontekstual. dia tidak larang demo 411 dan 212. Dia biarkan aparat memberi izin. Ya kalau itu ranah hukum ya biarkan hukum yang bekerja. Kalau itu ranah politik maka biarkan politik yang bekerja, kalau itu ranah agama biarkan ulama yang bekerja, begitu juga halnya dengan dimensi lainnya. Karenanya Jikowi tidak pernah terjebak dengan polemik yang tidak berkesudahan karena konteks berbeda.

Kedua, Jokowi selalu gunakan akal dan hati nurani. Akal , dia pahami kebenaran itu secara multi dimensi dan kemudian dia kembalikan kepada nurani. Nurani akan menunutunnya bagaimana seharusnya bersikap. Mungkin karena itu orang harus menelan pil pahit ketika dia menyampaikan kebenaran. Memberantas mafia rente. Memaksa Freeport tunduk dengan UU Minerba dan divestasi. Membuat perpu Ormas dan membubarkan HTI. Membuat UU anti teror. Atau bisa mungkin dalam hal lain, demi persatuan kesatuan dan perdamaian , dia harus mendiamkan walau hatinya menjerit.  Contoh Imam besar FPI, Habib Rizieq Syihab, mengaku sudah menerima surat penghentian penyidikan perkara (SP3) kasus chat. Rizieq menerima surat itu dari pengacaranya. Kasus nasional yang akhirnya anti klimak. Rizieq menang. Hukum adalah hukum.  Keduanya adalah cobaan dan Tuhan akan menolongnya selagi dia mengikuti hati nurani dalam bersikap. Orang beriman semua paham itu. Pada akhirnya Tuhan lah penilai terbaik dan adil seadilanya dan itu nanti diakhirat semua orang akan mempertanggung jawabkannya.

Berpikir negatif.



Saya tidak tahu bagaimana harus bersikap terhadap dia. " Demikian kata teman saya. Bertahun tahun saya berusaha untuk bertahan dan mengerti tapi selalu salah disikapinya. Ketika ia berjaya dalam bisnis melanjutkan usaha orang tuanya. Di hadapannya saya selalu salah. Saya bersolek dianggapnya berlebihan. Saya tak bersolek, dianggapnya saya tidak bisa menghormati dirinya dan tidak berkelas. Saya lebih banyak waktu untuk anak, dia anggap saya berlaku sebagai baby sitter. Apapun salah. Ketika usahanya jatuh terpuruk, dia mulai menyalahkan siapapun. Dan semua akhirnya saya sebagai tumpuan kegagalannya. Sampai akhirnya dia bilang saya pembawa sial. Pada tahap ini dia sudah menyalahkan Tuhan, mengapa saya menjadi Jodohnya. Sampai akhirnya dia sendiri memutuskan untuk menceraikan saya. Mungkin saya gagal atau tidak beruntung. Tapi demikianlah takdir saya. Semua berakhir dengan tragis. Pengorbanan saya bertahun tahun seakan tidak ada arti baginya. Belakangan saya tahu hidunya semakin terpuruk. Demikian kata teman dengan air mata berlinang.

Apakah saya hancur? Tidak. Lanjutnya. Saya hadapi semua itu sebagai sebuah takdir. Dua tahun kemudian saya dapatkan jodoh lagi dan kami menikah. Bukan pria dari keluarga kaya. Bukan pula orang berpendidikan luar negeri. Hanya pria biasa. Dia mau menerima janda dengan satu anak. Kami lalui hidup dengan harapan baru. Kami punya keyakinan bahwa kami akan atasi semua masalah dengan kekuatan cinta. Atas dasar berpikir positip bahwa semua akan baik baik saja asalkan kami tetap saling percaya. Katanya. Benarlah, usaha yang tadinya dirintis suaminya , setelah menikah , usahanya terus berkembang. Dia mendapatkan hormat dari perkawinan keduanya.Ya kadang kita harus bertemu dengan orang salah untuk mendapatkan yang terbaik, katanya berpikir positip atas perceraiannya.

Kisah sahabat saya itu mengingatkan saya bahwa orang baik selalu berpikir baik terhadap apapun. Atau dalam bahasa romantis nya yaitu selalu berpikir positip. Orang buruk laku selalu berpikir negatif. .Dia hanya tahu kesalahan orang lain. Dia tidak pernah merasa bersalah dan anggap dirinya sempurna. Dia tidak mau mendengar orang lain. Dia hanya mau di dengar. Dia tidak mau mengerti sikap orang. Dia hanya ingin orang mengerti dia. Hidupnya sangat menyedihkan dan selalu ingin tampil hebat di hadapan orang lain tapi semua hanya cover. Sekeras apapun orang baik bersama dia hanya masalah waktu dia akan terpisah dengan sendirinya. Karena orang baik hanya bersama orang baik. Mengapa ?

Chemistry orang negative thinking hanya bisa bersama dengan orang yang berpikir negatif. Tetapi diantara mereka tidak ada kesetian. Mereka hanya berteman dalam canda saling olok mengolok orang lain untuk memuaskan nafsu rendahnya. Karenanya sikap berpikir negatif adalah sedikit mendekati gila. Mereka manusia gagal yang selalu berpantasi hidup sukses dengan mudah. Walau begitu, jangan dibenci tapi didoakan agar dia berubah menjadi lebih baiik. Yang penting hadapi dengan sabar dan istiqamah. Kalau sudah keterlaluan maka menghindarlah dari mereka. BIla nanti mereka berubah baik maka mereka akan datang dengan sendirinya kepadamu.Terimalah dengan cinta tanpa dendam apapun.

Sikap negative thinking adalah bad attitude.Ia tidak datang dengan sendirinya. Ia datang dari lingkungan terdekat dan lingkungan pergaulan. Sebaik apapun prilaku kamu maka hanya masalah waktu kamu akan berubah buruk bila bergaul dengan orang yang berpikir negatif. Kalau kamu orang baik maka kamu akan tersingkir dengan sendirinya dari lingkungan mereka. Jadi kalau ada orang berpikir negatif meninggalkanmu atau tidak mau menjadi sahabatmu maka bersyukurlah. Itu cara Tuhan mencintai mu untuk tetap di jalan Tuhan.

Anak ku..Apapun yang terjadi selalu ada alasannya. Disetiap alasan selalu ada sisi positip dan negatif nya. Ambil lah positip nya. Jadikan itu sebagia karakter hidupmu. Dan karakter mu terbentuk karena lingkungan pergaulan mu. Ingat nak, sukses mu karena lingkungan pergaulan mu orang orang yang berpikir positip. Karenanya carilah teman yang bisa membawamu kemata air melepas dahaga mu dan membasuh tubuhmu , walau harus melewati onak. Yang senantiasa menuntunmu kepada cahaya ketika kamu terpuruk dalam gelap. Yang menebarkan aura positip untukmu berubah lebih baik. Pepatah kuno mengatakan " baik dan buruk nasipmu adalah pilihan cara kamu berpikir. Kalau nasipmu buruk maka cobalah intropeksi mereka yang ada disekitarmu dan sikap mentalmu."

Kasus Novel Baswedan?

Belakangan ini terutama beberapa hari ini banyak sekali beredar opini seputar kasus NB. Saya tidak mau menanggapinya. Karena itu pendapat...