Minggu, 28 Januari 2018

BUKU JALAN SEPI : REVOLUSI MENTAL.


Saya yakin bahwa kemenangan Jokowi sebagai Presiden dalam Pemilu 2014, berkat dukungan sistem demokrasi yang dikawal ketat oleh SBY sehingga memungkinkan yang bukan Jenderal, Professor, Ulama, Elite politik bisa jadi Presiden. Kalaulah orientasi SBY adalah kekuasaan, maka tidak sulit baginya memenangkan calon dari lingkarannya sendiri. Karena selama 10 tahun berkuasa, jaringan politik dari ormas, partai, sampai TNI sudah dalam cengkramannya. Tetapi, Tuhan berkehendak lain. Kehadiran SBY adalah jalan berkah Tuhan menghadirkan Jokowi, seorang rakyat jelata jadi Presiden. Dan kehadiran SBY juga berkat kerelaan Megawati memberikan kesempatan kepada seorang Jenderal Profesional menjadi Presiden. Itulah buah dari sejak diubahnya Pancasila seperti awal proklamasi kemerdekaan. Bahwa Pancasila itu adalah falsafah negara, yang menjadi dasar negara kita.

Ketika Jokowi mencanangkan revolusi mental, saya sempat bertanya tanya. Mengapa mental? Mengapa harus revolusi? Mengapa tidak melalui reformasi mental. Saya berusaha mendapatkan tulisan resmi dari pemerintah tentang revolusi mental ini. Tetapi tidak saya temukan dengan tepat. Yang ada hanya retorika berkaitan dengan program Nawacita nya Jokowi.  Saya berusaha mendapatkan informasi dari situs PDIP dan buletinnya tetapi tidak ditemukan penjelasan yang kongkrit. Saya yakin sekali bahwa Jokowi punya pertimbangan khusus sehingga mencetuskan perlunya revolusi mental itu.  Tentu itu berdasarkan renungan dan masukan dari banyak pihak. Apa itu?

Sejarah mencatat 350 tahun Indonesia dijajah oleh Belanda. Secara logika hampir tidak mungkin Belanda, kerajaan Kecil yang ada di Eropa bisa menjajah Indonesia yang begitu luas. Apalagi ketika itu di Indonesia sudah ada kerajaan Islam seperti: Samudera pasai dan Aceh Darussalam (Sumatera), Pajang, Demak, dan Cirebon (Jawa), Kerajaan Banjar dan Kutai (Kalimantan). Belanda tidak datang dengan pasukan besar dan senjata berat. Tetapi datang dengan konsep bisnis. Perdagangan dan investasi. Di awali dengan misi dagang, dan kemudian masuk ke PMA yang dilegitimasi oleh Kerajaah yang ada ketika itu. Itu berlangsung selama 200 tahun. Dan akhirnya dikuasai sebagai sebuah koloni Belanda. Kenapa sampai banyak kerajaan atau kesultanan tidak bisa mengusir Belanda? karena mental para elite kerajaan sudah bobrok. Atau secara spiritual sudah bangkrut. Makanya mereka tidak peduli dengan amanah Tuhan atas kekuasaan yang ada pada mereka.

Barulah ketika munculnya paham nasionalisme dari kalangan pelajar dan ulama. Kekuatan itu bangkit, untuk mengusir Belanda dari bumi pertiwi. Kekuatan segelintir para pemuda itu nothing dibandingkan dengan kekuatan sistem dan militer yang dimiliki Belanda. Tetapi berkat kekuatan cinta yang mereka miliki mampu memberikan inspirasi kepada rakyat seluruh nusantara untuk Indonesia merdeka. Proklamasi kemerdekaan lahir tanpa ada ego politik aliran atau isme. Indonesia di proklamirkan atas nilai tauhid: nilai nilai kemanusiaan yang adil dan beradab untuk lahirnya semangat persatuan, dengan mengutamakan jalan musyawarah dan mufakat, untuk mencapai keadilan sosial bagi semua.

Apabila selama Orde Lama kita menjadi negara gagal mengelola ekonomi dan politik. Itu bukanlah karena kita kurang ulama hebat, kurang ekonom hebat, kurang politisi hebat. Bukan. Apalagi ketika itu secara moral bangsa kita sedang tinggi sekali karena di kenal sebagai bangsa yang berhasil melawan kolonalisme dan menjadi inspirasi bagi bangsa lain untuk bebas dari penjajahan. Tetapi karena mental para elite orientasinya kepada kekuasaan atas dasar semangat golongan dan partisan. Akibatnya barisan nasional jadi kacau, sehingga banyak kebijakan strategis untuk kemakmuran gagal di delivery kepada rakyat.

Begitupula selama Orde Baru, selama 32 tahun pembangunan ekonomi seakan tiada henti. Sangking hebatnya Indonesia pernah dijuluki sebagai macan Asia, dan Soeharto dijuluki sebagai Bapak Pembangunan, yang mengukuhkan dia sebagai pemimpin tak tergantikan. Tetapi apa yang terjadi? hanya karena badai moneter dari luar menyerang ASIA, rupiah terjun bebas. Kehebatan yang dibanggakan tak nampak sama sekali. Yang ada nampak loyo kehilangan tenaga untuk tinggal landas, seketika negara oleng dan terjerembab. Akhirnya tahulah kita bahwa 32 tahun negara di bangun diatas fondasi yang renta.

Apa salah kita? Padahal kita kaya SDA. banyak orang Pintar lulusan Luar negeri. Banyak ulama hebat. Banyak kampus dibangun. Banyak tempat ibadah di bangun. Tetapi mengapa kita gagal makmur, bahkan terjebak dengan hutang sangat besar?  Jawabanya adalah karena kita hebat membangun secara phisik tetapi justru pembangunan phisik itu menimbulkan KKN yang meracuni mental elite politik. Dan pada waktu bersamaan etos kerja rakyat menurun akibat subsidi dan segala kemudahan. KIta jatuh karena mental kita sendiri yang rusak.

Era reformasi kita berusaha keluar dari masa lalu yang kelam. Regulasi diperbaiki agar semakin besar peran serta rakyat dalam pembangunan. Demokrasi di buka lebar dan bebas. Pancasila di kembalikan sebagai dasar falsafah negara. KPK dibentuk agar Korupsi, kolusi, nepotisme dapat diperangi secara khusus. Rezim reformasi bisa berdamai terhadap masa lalu dengan mem bail out perbankan, yang kalau di hitung sampai sekarang nilainya Rp. 3000 Triliun.

Kitapun berhasil mendapatkan presiden baru melalui Pemilu langsung. Harapan di pagut untuk masa depan yang lebih baik. Tetapi apa yang terjadi? 10 tahun era SBY berkuasa negara membakar uang Rp. 3000 triliun lewat subsidi BBM. Kalaulah uang itu digunakan untuk membangun infrastruktur, mungkin kita sudah mengalahkan negara ASEAN. Bukan itu saja, bisnis rente tercipta disegala sektor seperti MIGAS, Pangan, kehutanan, Kelautan. Itu terjadi secara massive yang berdampak kepada inefisiensi nasional dan melemahkan daya saing kita. Industri tidak tumbuh, bahkan terjadi deindustrialisasi.

Di penghujung kekuasaan SBY, Current account kita defisit. Mengapa itu terjadi? padahal team Kabinet SBY adalah orang orang hebat. Ulama hebat ada disekitar SBY. APBN kita meningkat 4 kali lipat sejak kejatuhan Soeharto. Kitapun sudah masuk anggota G20. Mengapa?  Karena mental elite politik dan kelas menengah kita yang rakus.

Apa yang dilakukan Jokowi, dari segi orientasi pembangunan memang sebuah reformasi total. Bahwa sudah saatnya pembangunan itu tumbuh karena kemandirian, yang datang langsung dari rakyat. Karenanya reformasi pajak adalah mutlak dilakukan agar semakin besar penerimaan APBN dari Pajak Penghasilan. Pada waktu bersamaan, negara memberikan kanal seluas mungkin agar setiap orang punya peluang yang sama dalam memberikan kontribusinya kepada negara. Tentu setiap orang harus mau bekerja keras agar unggul dalam persaingan, baik di tingkat lokal maupun internasional. Dan suksesnya pembangunan semacam ini sangat tergantung dari revolusi mental, bukan hanya elite politik, birokrat tapi juga rakyat.

***
Sebagai anak bangsa dan rakyat, saya berusaha meng explore tentang revolusi mental dari perspektif saya. Tentu tidak seratus persen benar. Dan lagi secara ilmiah belum ada kesepakatan antar ahli tentang definisi apa itu mental. Saya berusaha berpikir terbuka dan membuka hati dalam membahas ini. Kata mental itu sendiri berasal dari bahasa Latin yaitu dari kata mens atau metis yang memiliki arti jiwa, nyawa, sukma, roh, semangat. Dengan demikian mental ialah hal-hal yang berkaitan dengan psycho atau kejiwaan yang dapat mempengaruhi perilaku individu. Setiap perilaku dan ekspresi gerak-gerik individu merupakan dorongan dan cerminan dari kondisi (suasana) mental.

Kalau kita menarik makna tersurat dan tersirat dari asal kata Mental maka kita tahu pasti bahwa mental itu berkaitan dengan jiwa. Sesuatu yang transendental. Jadi mental itu adalah manifestasi dari nilai nilai budaya dan agama yang di imaninya. Mayoritas penduduk Indonesia beragama islam. Tetapi mengapa nilai nilai Islam itu tidak menjadi potensi besar memakmurkan bangsa ini.? Fenomena ini diamati dengan baik oleh Gordon W. Allport, sang Ahli Psikologi. Ia punya jawaban bahwa Islam diperkenalkan Rasul dalam keadaan utuh. Hanya masalahnya menjadi lain ketika ia tersebar-luaskan.

Cara menerima agama inilah yang berbeda, sehingga berbeda pula sikap dan perbuatannya. Menurut Allport, karena umat memandang agama sebagai something to use, but not to live. Orang berpaling kepada Tuhan, tetapi tidak berpaling dari dirinya sendiri. Agama di politisir, digunakan untuk menunjang motif-motif lain: kebutuhan akan status, rasa aman atau harga diri dan kekuasaan. Orang yang beragama dengan cara ini, melaksanakan bentuk-bentuk luar dari agama. Ia puasa, sholat, naik haji, dan lain sebagainya, tetapi tidak di dalamnya. Imam Al-Ghazali, menyatakan bahwa beragama seperti ini adalah beragama yang ghurur (tertipu). Tertipu, karena dikira sudah beragama, ternyata belum.

Allport juga bilang, bahwa cara beragama seperti ini memang erat kaitannya dengan penyakit mental. Sehingga kesimpulannya, cara beragama seperti ini tidak akan melahirkan masyarakat yang penuh kasih sayang. Sebaliknya, kebencian, iri hati, dan fitnah, korup masih tetap akan berlangsung.  Sehingga bukannya kedamaian yang didapat tetapi jusru kekacauan. Bukannya kemajuan yang didapat, malah kemunduran.

Jokowi sangat paham akan hal itu. Menurut cerita dari media massa bahwa Jokowi adalah muslim yang taat. Dia sudah menyempurnakan rukun islamnya jauh sebelum dia terpilih sebagai Presiden RI. Tentu mental yang dimaksud Jokowi adalah Akhlak. Lantas apa itu akhlak?

***

Saya pernah di undang makan malam oleh teman Yahudi. Setelah usai makan, dia bayar sendiri bill nya dan pergi sambil mengucapkan terimakasih atas kedatangan saya. Dia tidak merasa bersalah ketika pergi tanpa membayar bill saya. Padahal dia undang saya. Saya tidak merasa tersinggung karena begitu etikanya. Secara moral dia tidak merasa bersalah karena itulah kebiasaan di lingkungannya. Beda dengan di Cina, kalau kita di undang makan malam, kening kita berkerut saja dia sudah cemas. Kawatir makanan terhidang tidak membuat kita puas. Setelah usai makan dia akan bersegera membayar Bill. Bagi mereka membayar makan teman adalah kehormatan. Ini etika dan standar moral mereka.

Bila kita melakukan perbuatan baik atau memberi sesuatu kepada seseorang, di dunia barat mereka akan segera mengatakan Thank you very much dan kita akan segera menjawab "Most welcome ". Etika mereka kalau di beri maka akan mengatakan terimakasih dan dijawab dengan terimakasih kembali. Artinya ada niat atau unsur untuk membalasnya dalam kesempatan lain. Kebaikan harus dibalas kebaikan. Tapi orang China kalau menerima kebaikan atau pemberian, maka dia akan berkata " Xièxiè (terimakasih) dan akan di jawab Bùyòng xiè (tidak perlu terimakasih). Mengapa etika china, orang menerima kebaikan tidak punya kewajban membalasnya. Ini moral mereka, sandarannya budaya.

Kalau etika lebih bersifat teori sementara moral lebih bersifat praktis. Teorinya sederhana bahwa kebaikan harus dibalas kebaikan. Berbuat baik hanya kepada mereka yang berbuat baik. Bersilaturahim hanya kepada mereka yang mau bersilaturahim. Berbicara hanya kepada mereka yang mau berbicara. Memberi makan hanya kepada mereka yang mau memberi makan. Memuliakan hanya kepada mereka yang memuliakan kita. Bagaimana dengan orang jahat? Orang jahat di asingkan secara sosial. Orang pelit kehilangan komunitas. Orang sombong tidak mau bergaul kehilangan kehormatan. Artinya keburukan dibalas dengan keburukan juga. Ini standar etika berlaku dimana saja. Di barat maupun di timur sama saja. 

Moral menyatakan ukuran, etika menjelaskan ukuran itu. Bila etika bersifat universal sementara moral bersifat lokal (budaya). Etika di AS belum tentu sama dengan moral di Indonesia. Dibelakang moral ada norma yang menjadi dasar berbuat. Norma itu menyangkut aturan, pedoman yang bersifat normative. Dengan norma ini diharapkan manusia bisa beriteraksi dengan tertip.

Bagaimana Akhlak? Akhlak itu sendiri sebetulnya berasal dari bahasa Arab, khuluqun. Kata kata khuluqun itu sendiri berarti kejadian yang erat hubungannya dengan khaliq yang berarti pencipa. Singkatnya pengertian akhlak adalah perbuatan baik yang disebabkan oleh adanya hubungan antara makhluk dengan khaliq untuk dasar berinteraksi dengan sesama mahkluk. Sebagian orang menganggap etika itu sendiri adalah akhlak. Memang keliatan sama karena keduanya berhubungan dengan tingkah laku manusia. Namun ada letak perbedaannya yang principil yaitu soal kebenaran. Kebenaran pada etika adalah kebenaran akal yang bersandar pada filsafat. Ini kebenaran yang bersifat subjective. Yang tentu kebenaran itu tidak selalu benar tergantung dengan tempat, situasi dan kondisi yang ada. Sementara akhlak, sumber kebenaran itu berasal dari Tuhan. Ini bukan buah pikiran akal dan bukan pula tesis filsafat. Ini firman Allah. Ia menembus ruang dan waktu yang tak mungkin didebat.

Bagimana aplikasi Akhlak? Berbuat baik bukan hanya kepada mereka yang berbuat baik kepada anda tapi juga kepada orang yang jahat. Bersilaturahim bukan hanya kepada mereka yang bersilaturahim tapi juga kepada mereka yang memutuskannya. Berbicara bukan hanya kepada mereka yang berbicara tapi juga kepada mereka yeng enggan berbicara. Memaafkan mereka yang tidak memberi kemaafan. Mereka amanah kepada mereka yang mengkhianatinya. Memuliakan mereka yg menghinanya. Sikap ini jelas secara etika dan moral keliatan konyol tapi itulah Akhlak.

Dengan akhlak, tak penting bila air susu dibalas tuba, tak penting titian biasa lapuk, janji biasa ingkar, semua dimaafkan. Yang jauh mendekat, yang dekat merapat. Tidak perlu ada benci, tidak perlu hukum sosial, tidak perlu ada eklusifitas, tidak perlu ada pencitraan untuk menaikan gengsi. Karena semua perbuatan hanya karena Tuhan dan semua urusan kembali kepada Tuhan. Bila kebaikan berbalas baik maka bersyukur kepada Tuhan, dan bila kebaikan dibalas kejahatan maka bersabar. Apapun itu bagi orang yang berakhlak, semua adalah baik. Hidupnya bahagia dan kecukupan bukan karena simbol duniawi tapi karena Tuhan hadir dalam dirinya, untuk cinta bagi semua.

***

Akhlak itulah yang kini semakin memudar. Orang beragama apapun, sama saja. Akhlak dipertanyakan. Mengapa?  karena adanya dorongan prinsip free will dan semangat berkompetisi atau Bahasa mesranya adalah Nafsu duniawi. Pengaruh dari luar disikapi dengan menerima begitu saja. Mungkin menolak dari segi konsepsi tapi tidak bisa menghindar dari sifat individualisme, rakus yang dibawa oleh pengaruh darl luar dengan membajirnya barang dan jasa yang memanjakan ego. Mereka mengabaikan soal akhlak dengan alasan perubahan zaman harus disikapi dengan smart agar indonesia bisa seperti negara maju lainya. Tidak ada lagi ketulusan. Semua serba transaksional.

Mereka bisa saja menjelaskan bahwa sifat transaksional itu bagus selagi sama sama happy. Mereka punya dasar untuk menjelaskan argumen tentang apa itu Kapitalisme seperti yang diajarkan Adam Smith dalam buku "The Theory of Moral Sentiments" (1759) dan "An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations" (1776), yang terakhir dikenal luas sebagai The Wealth of Nations. Mereka bisa saja beargumen lebih hebat dari Adam Smith dengan mengadobsi pemikiran David Ricardo, yang menentang segala bentuk proteksi Pemerintah dan menganjurkan keadilan sosial dari kebebasan pasar melalui kebijakan pajak. Sebagaimana dalam bukunya yang berjudul Principles of Political Economy and Taxation" (1817).

Kemudian mereka bisa saja mengatakan Adam Smith, David Ricardo kampungan dengan mengadopsi pemikiran Alfred Marshall yang memperkenalkan ilmu ekonomi dalam matematika, yang berusaha menghindari ekonomi dalam ranah politik. Teorinya merupakan gabungan dari supply and demand curva, marginal utility, dan marginal production.  Yang ditulis dalam bukunya “Economics of Industry" (1879) dan "Principles of Economics" (1890),

Mereka bisa saja semakin gandrung dengan Teori Marshall setelah muncul pemikiran John Maynard Keyness, yang mendorong agar Pemerintah aktif melakukan intervensi pada kebijakan moneter dalam rangka mengatasi dampak buruk akibat dari resesi ekonomi. Ya mereka lebih suka dengan pasar yang regulatedl sesuai dengan buku "General Theory of Employment, Interest and Money”.

Kemudian muncul Milton Friedman. Merekapun mulai berubah pemikiran. Pasar yang regulated itu tidak sehat. Mereka terinspirasi setelah membaca buku "Capitalism and Freedom”. Tetapi apa yang terjadi? Krisis ekonomi terjadi dari waktu kewaktu. Seakan menjadi sejarah abadi yang terus berulang ulang. Apa sebabnya?  Albert Hirschman mengatakan dalam esainya, Against Parsimony: Three Easy Ways of Complicating Some Categories of Economic Discourse: “ketika kapitalisme bisa meyakinkan setiap orang bahwa ia dapat mengabaikan moralitas dan semangat bermasyarakat (public spirit), dan hanya mengandalkan gairah mengejar kepentingan diri, sistem itu akan menggerogoti vitalitasnya sendiri, yang hanya mengakui bahwa rakus itu bagus seperti yang dikumandangkan oleh risalah macam The Virtue of Greed dan In Defense of Greed.

Sebab vitalitas itu berangkat dari sikap menghormati norma-norma moral tertentu, sikap yang katanya tak diakui dan dianggap penting oleh ideologi resmi kapitalisme. Terbukti Cina, lebih berhasil dalam menerapkan sistem kapitalisme walau ideologinya sendiri adalah komunis. Karena Cina hanya menjadikan komunis sebagai metodelogi mengisolasi kapitalisme agar tetap dalam standar moral kebersamaan, bukan individu.

Semua harus belajar dari krisis di AS. Sejak Krisis Mortgage tahun 2008 sampai hari ini AS tetap tidak bisa keluar dari krisis. Bahkan menempatkan AS dalam krisis baru yaitu krisis utang. Artinya berbagai upaya terbaik dari para akademis terbaik lulusan universitas terbaik di AS telah gagal. Dampaknya dunia berhadapan dengan ketidakpastian pertumbuhan ekonomi. Bayang-bayang akan terjadi krisis baru di kawasan emerging market seperti Indonesia dan lainnya sudah nampak. Mengapa?

Saya teringat ungkapan dari Jeffrey T. Kuhner, ia adalah kolumnis dari The Washington Times, yang dalam kolomnya mengomentari bahwa krisis ekonomi terjadi karena krisis moral kepemimpinan di AS. Ini terjadi disemua level kepemimpinan di AS, “We are now facing more than just a financial mess; almost every other major institution is under threat. The political system is adrift; public schools are failing; the borders are porous; the intelligence agencies are dysfunctional; the inner cities are infested with drugs and gangs; the family is broken; and millions are fleeing their churches.

In most of our institutions there is poor leadership. A survey by Harvard's Center for Public Leadership revealed 77 percent of Americans believe the country faces a leadership crisis; this is prevalent across 12 different institutions and leadership groupings. In the survey, Congress, the executive branch, the business community and the media ranked in the lower echelons. Democratic capitalism is based on widespread social trust - especially, trust in leaders. Without this confidence, the whole system threatens to unravel. The solution is not more government regulation; it is moral and spiritual renewal.”

Ungkapan tersebut di atas ingin menyadarkan publik AS bahwa krisis terjadi harus disikapi secara fundamental terhadap akar masalah. Dana talangan tidak akan menjamin perbaikan ekonomi AS. Ini hanya mengobati rasa sakit tapi tidak menghilangkan sumber penyakit. Biang penyakit sebenarnya adalah ada pada kemorosotan moral para pemimpin AS. The solution is not more government regulation; it is moral and spiritual renewal. 

Teman saya yang bekerja sebagai Fund Manager di New York mengatakan bahwa krisis ekonomi AS dan juga dunia saat ini lahir dari krisis mental. Sejarah modern dibangun di atas kebohongan yang mengatakan bahwa kemakmuran, ketenaran, dan kecanduan belanja adalah rahasia menuju kebahagiaan. Setiap hari media massa mengiklankan untuk orang menjadi rakus dan tamak. Tidak punya uang? Kanal berutang disediakan dari Credit Card yang sehari settled sampai dengan kredit perumahan yang sehari juga settled. Semua rakyat terbiasa dan akhirnya terlatih berutang untuk mendapatkan kebahagiaan melalui berkonsumsi. 

Pada waktu bersamaan para pemimpin larut dengan cara yang sama yaitu menyelesaikan masalah anggaran dan belanja melalui berhutang. Mereka bangun citra kepemimpinan melalui pertumbuhan ekonomi lewat berhutang sampai pada titik tidak lagi layak berutang. Karena sudah di atas ambang kepatutan untuk menerima utang, namun ini terus dipaksakan walau tidak rasional. Memang mereka tidak peduli.

Berabad-abad yang lalu ini sudah dikawatirkan oleh para filsuf tentang munculnya krisis spiritual. Deskripsi Plato dalam Republik, yang menyebutkan bahwa ada tiga bagian dari jiwa manusia yaitu hasrat, akal, dan thymos/gairah. Ketiganya saling bertautan dan menjadi dasar dari segala tindakan, tetapi di situ Plato lebih menekankan pada implikasi dari hasrat. Jika kita kontekskan deskripsi Plato ini tepat untuk mengidentifikasi beberapa persoalan seperti halnya demoralisasi kepemimpinan, di mana para pemimpinnya seringkali memiliki ‘hasrat’ yang ‘luar biasa’, salah satunya dalam mengendalikan negara.

Sejalan dengan deskripsi Plato, dalam Terminologi Kant menyebutkan bahwa fungsi akal budi dalam moralitas dipengaruhi, salah satunya, oleh konsepsi tentang kategori—atau disebutnya sebagai ‘motif memuaskan hasrat sebanyak mungkin’. Sama seperti penekanan Hegel tentang ‘hasrat pengakuan’, atau lebih jelasnya disebut Hume sebagai ‘budak nafsu’. Para pemikir sekular tahu persis bahwa kalau ada yang cacat dalam sistem yang mereka tawarkan maka itu lebih kepada mental dari manusia itu sendiri.  Agama juga sama, tidak ada agama yang salah kecuali mental orang yang buruk. Jadi masalahnya ada pada mental atau akhlak. 

Peradaban yang di bangun di bawah kerajaan islam sejak era Khulafaur Rasyidin sampai dengan Dinasti Turki Ustmani mengajarkan kepada kita bahwa pada akhirnya kejatuhan dinasti islam bukan karena ajaran islam tapi karena akhlak para elite dan umat islam merosot sampai titik nadir. Mental baik dan buruk itu selalu bersanding walau dengan narasi dan prinsip pengetahuan yang sama. Iman yang sama. Kiblat yang sama. Mengapa? Nabi memang hebat, para sahabat Nabi itu hebat. Para ulama punya pemikiran hebat. Tetapi kita bukan Nabi, bukan sahabat Nabi, bukan pula ulama hebat. Untuk menyerupai mental mereka, tidak bisa semudah kita membaca hadith dan firman Tuhan, dan dalil agama, tapi bagaimana kita melewati hidup dalam banyak peristiwa sampai kita terbukti memang bermental baik.

***
Pada hakekatnya pendidikan mental yang baik itu ada disemua agama maupun kebudayaan. Mengapa? baik agama atau kebudayaan berasal dari Tuhan juga. Bagi yang mau berpikir, kemana saja wajah di hadapkan ada ayat ayat Tuhan. Tetapi karena didalam diri manusia ada sifat kebebasan berkehendak (free will) dan hasrat untuk berkompetisi. Maka yang terjadi, tidak selalu pendidikan mental yang baik menghasilkan pribadi yang baik, dan belum tentu suatu peradaban yang dibangun dengan idiologi hebat, bahkan agama atas nama Tuhan sekalipun akan menghasilkan masyarakat yang bahaagia. Bermental mulia. Mengapa?

Tidak ada yang perlu membuat kita bingung. Ini sudah fitrah manusia. Adam keluar dari sorga karena menggunakan sifat freewill nya itu dengan memakan buah terlarang. Putranya saling bunuh karena berkompetisi mendapatkan wanita pilihannya. Siapapun dia, didalam dirinya terdapat DNA yang memuat informasi lengkap tentang free will dan kompetisi. Artinya kita tidak bisa menghindari sifat free will dan kompetisi. Tanpa free will dan kompetisi maka value kita sebagai manusia akan hilang. Lantas bagaimana seharusnya bersikap agar free will dan kompetisi itu dapat di kendalikan sehingga membuat jiwa kita seimbang?

Dalam setiap acara dihadapan khalayak, Jokowi punya kebiasaan memberikan hadiah bagi pemenang kwiz berupa Sepeda. Ada sebagian orang menganggap bahwa itu cara Jokowi menggalakan kebiasaan naik sepeda agar jantung sehat. Itu bisa benar. Tetapi ada yang orang lupa bahwa sepeda itu adalah simbol dari keseimbangan Jiwa. Semua budaya, agama, sain tidak punya teori yang jitu untuk orang bisa langsung naik sepeda, tanpa latihan, dituntun, keberanian jatuh, keyakinan. Tuntunan, keberanian, keyakinan, itu tiga hal untuk orang punya kemampuan alam bawah sadar menciptakan keseimbangan. Tanpa keseimbangan, tidak mungkin orang bisa mengarahkan sepeda sesuai tujuannya. Kendaraan roda dua adalah bukti nyata kehebatan manusia menjaga keseimbangan. Dan itu bukan karena logika alam sadar.

Nah bagaimana membangkitkan alam bawa sadar itu? Caranya hanya satu, untuk Indonesia orientasi hidup harus kepada Tuhan. Kemudian berbuatlah dan belajarlah dari kenyataan tapi jangan mengutuki kenyataan, apapun itu. Karena itulah ilmu hikmah dimana Tuhan sedang mendidik manusia membangkitkan alam bawah sadarnya. Di sinilah mindset harus dibangun. Bahwa manusia tidak boleh tergantung terhadap materi atas dasar konsepsi Idiologi atau agama. Artinya, idiologi atau agama hanyalah metodelogi, bukan tujuan. Yakinkan itu dalam diri sebagai prinsip membentuk mental yang mandiri bersama Tuhan. Bagaimana memahami ini secara konkrit?

Analoginya begini, Anda tahu kan jeruk? rasanya manis. Kulit, warnanya kuning dan licin. Kalau dibanting akan terdengar suara lembek. Sekarang perhatikan. Rasa manis itu karena lidah anda. Warna kuning itu karena mata anda. Suara lembek itu karena telinga anda. Nah sekarang dimana jeruknya? Tidak ada. Semua:  suara, warna, rasa itu diterjemahkan oleh otak melalui gerakan saraf di tubuh anda. Data base otak menterjemahkan warna, bunyi, rasa itu menjadi konsepsi tentang jeruk. Lantas dimana anda? tidak ada. Yang ada hanyalah ide.

Diri anda, tubuh, harta, alam, semua itu adalah materi. Setiap materi itu omong kosong. Kehidupan ini hanyalah kumpulan ide tentang materi. Itu tak lain cara hebat Tuhan mengaktualkan dirinya dalam kehidupan kita. Agar hanya Dia sebagai awal dan akhir dari semua urusan. Kalau hal tersebut dipahami dengan benar, maka masihkah anda menjadikan materi sebagai orientasi hidup anda? Kalau Ya, maka anda pasti sangat tolol. Wong pepesan kosong kok di jadikan tujuan. 

Mengapa? Kita terisolasi oleh ruang dan waktu. Dan karena waktu, Tuhan tunjukan omong kosong tentang materi itu. Perhatikan, kayu malapuk, bumi menua, kita menua, kulitpun keriput, perasa berkurang sensitifitasnya, telinga budek, mata rabun. Hanya masalah waktu, mati pasti terjadi. Makanya bila datang dorongan free will dan hasrat berkompetisi sangat dominan maka ketahuilah anda sedang terjebak dalam narasi omong kosong. Hasilnya pasti jadi bahan ketawaan Tuhan. Mengapa? karena bego.

***
Apabila kita memahami bahwa materi itu omong kosong maka konsepsi kita harus dibangun dari nilai nilai Tuhan. Tuhan menyediakan metodelogi memahami itu melalui kebudayaan, agama atau pengalaman hidup. Tapi apakah cukup dengan memahami saja? tidak. Anda harus melatih alam bawah sadar anda tentang nilai nilai tresendental itu. Mengapa? Alam Bawah Sadar adalah bagian pikiran manusia yang tidak disadari keberadaannya, namun pengaruhnya sangat besar. Kekuatan bawah sadar merupakan kekuatan yang sangat hidup. Karena 90% kekuatan anda berasal dari alam bawah sadar. Hanya 10% berasal dari alam sadar. Bawah Sadar diciptakan Tuhan sebagai tanda KekuasanNya.  Nasip anda ditentukan oleh kekuatan alam bawah sadar itu. Atau bisa dikatakan, senang atau susah, sukses atau gagal-nya perjalanan hidup manusia, sangat dipengaruhi oleh "program" atau "sugesti" yang tertanam di Pikiran Bawah Sadar.

Oleh karena itu, sangat penting bagi siapapun juga untuk memahami Potensi Pikiran Bawah Sadar. Yang lebih penting lagi adalah tahu menggunakan kekuatan bawah sadarnya. Bagaimana caranya? Harus di sadari bahwa raga anda terjebak dengan ruang dan waktu. Anda tidak akan memahami alam bawah sadar tanpa latihan melalui raga anda. Setiap agama punya cara melatih alam bawah sadarnya itu. Contoh dalam agama Buda disebut dengan Meditasi atau puja bhakti. Dalam islam, ritual sholat, zikir. Kristen, melalui Kebaktian, Magnificat. Hindu punya ritual Sandhyopasana dan Samskara.

Semua agama punya aturan melatih alam bawah sadarnya melalui ritual. Bahwa mereka harus menghilangkan atau membersihkan pikirannya dari rasa bangga, prasangka, atau pengharapan. Dalam islam, ketika orang sholat dia tidak lagi berada di dunia. Dia berada di singgasana Allah. Hanya ada, dia dan Allah. Tidak ada perantara apapun. Agama lain pun punya prinsip yang sama. Bila latihan itu dilakukan terus menerus sepanjang usia maka alam bawah sadar akan terbentuk dengan sendirinya. Sehingga pikiran Bawah Sadar dapat mengendalikan aktivitas fisik tanpa disadari oleh Pikiran Sadar dan dapat mengungkapkan ide atau pikiran yang berada di luar jangkauan persepsi sadar (Extra Perceptions).

Dengan demikian maka hidup akan berubah, penyakit bisa tersembuhkan, kesuksesan dan kebahagiaan bisa diraih dengan mudah. Anda tidak hanya bekerja dengan kecerdasan berpikir, melainkan intuisi, kreativitas dan "keberuntungan" berpihak kepada Anda. Mengapa? Cara kerja pikiran bawah sadar sangat berbeda dengan pikiran sadar. Apabila selama ini Anda bekerja keras dan hanya mengandalkan logika atau alam sadar saja, maka Anda pasti mendapatkan hasil yang biasa-biasa saja. Atau bahkan, untuk mencapai suatu usaha, Anda perlu banting tulang sehingga Anda kelelahan. Anda mudah terjebak dengan cara pintas perbuatan dosa yang merugikan orang lain.
.
Nah banyak orang beragama dan berpendidikan di era modern sekarang kurang melatih alam bawah sadarnya. Mereka hanya sibuk melatih logika alam sadarnya melalui pendidikan dan kursus, hasilnya hanyalah paradox. Banyak orang beragama rajin melakukan ritual meditasi, sholat, malah potensi alam bawah sadarnya tidak muncul. Mengapa? Karena persepsinya ketika sholat masih berada di alam sadarnya dengan harapan akan reward pahala atau sorga atau kehormatan. Sehingga walau dia sholat rajin, berdoa rajin, dia masih terjebak dengan alam sadarnya. Renta terhadap tantangan hidup, mudah mengeluh dan cepat putus harapan.

Makanya perlu reorientasi mental beragama. Bahwa agama itu harus dipahami sebagai 'comprehensive commitment' dan 'driving integrating motive', yang mengatur seluruh hidup seseorang. Agama diterima sebagai faktor pemadu (unifying factor). Bukan sebagai something to use, but not to live. Orang berpaling kepada Tuhan, tetapi tidak berpaling dari dirinya sendiri. Sehingga ritual agama tidak membuat dia menjadi lebih baik secara mental. Imam Al-Ghazali, menyatakan bahwa beragama seperti ini adalah beragama yang ghurur (tertipu). Tertipu, karena dikira sudah beragama, ternyata belum.

Bisa saja orang tidak memahami agama dengan baik, tidak melakukan latihan sholat atau ritual secara intensif, seperti bangsa China, Jepang, atau kaum atheis, aliran kepercayaan, namun mentalnya baik karena alam bawah sadarnya menyala. Bagaimana caranya mereka melatih alam bawah sadarnya? Ya, lewat kebudayaan. Budaya mereka mengajarkan dan melatih berkomunikasi dengan alam dan lingkungan. Tentu tidak berkomunikasi semata dengan kata kata. Berkomunikasi dengan "perasaan" (feeling). Perasaan adalah bahasa jiwa. Jika ingin tahu apa yang benar tentang sesuatu, dengarlah nurani. Yang senantiasa berbicara kepada manusia setiap waktu. Juga bisa berkomunikasi lewat "pikiran" (thought). Pikiran dan perasaan tidaklah sama, meskipun keduanya dapat berlangsung pada saat yang sama. Dalam komunikasi lewat pikiran, mereka menggunakan media imajinasi dan gambaran. Karenanya, pikiran lebih efektif daripada menggunakan "kata" sebagai alat komunikasi.

Mereka juga menggunakan kendaraan "pengalaman" sebagai media komunikasi, seperti melihat orang sakit, kematian, bencana, kekecewaan, kebahagiaan.  Setiap pengalaman itu menjadi pemicu untuk memasuki alam bawah sadar. Contoh andai mereka gagal berkali kali, mereka tidak mengeluh tapi disikapi dengan positip sebagai cara membangkitkan kekuatan alam bawah sadarnya untuk menjadi orang sukses, kuat dan punya empati besar kepada orang lain. Mereka paham kalau kegagalan dan penderitaan disikapi dengan negative, penuh keluhan maka potensi alam bawah sadarnya semakin meredup dan biasanya mereka jadi korban kehidupannya sendiri. Itu mereka hindari sekali.

Kita tidak perlu bersikap negative terhadap orang yang tak seiman dengan kita, dan anggap mereka salah. Faktanya kadang mereka lebih sukses membangkitkan alam bawah sadarnya dibandingkan orang yang katanya taat beragama. Mengapa?. Pemahaman teologi mengatakan bahwa manusia menciptakan kejadian di alam semesta ini bersama Tuhan. Bahwa manusia bekerja sama dengan Tuhan untuk menciptakan berbagai peristiwa yang di kehendaki. Artinya Tuhan itu sangat dekat dengan manusia. Bahkan kalangan ahli tasawuf mengajarkan manusia harus memikirkan diri sebagai manifestasi Tuhan. God as me. Tuhan sebagaimana saya.  Sebagaimana paham wahdatul wujud, bahwa kehendak seseorang bersatu dengan kehendak Tuhan.

Pada tingkat tertentu, menurut pandangan itu, dalam pengalaman ruhani yang sangat tinggi, yakni paling ujung dari seluruh perjalanan sufi, manusia tidak lagi bisa membedakan mana dirinya dan mana Tuhan. Pada tahap ini kemampuan alam sadar tak lagi berfungsi untuk membedakan antara khalik dan makhluk, antara Tuhan dan saya. Makanya jangan kaget bila slogan “Nothing is impossible. “China pada acara Olimpiade 2008, Cina setelah revolusi kebudayaan dan mulai membangun tahun 1976. Tahun 2008 telah menjelma menjadi kekuatan ekonomi nomor dua di dunia. Tidak ada yang tidak mungkin. Manusia pegang kendali atas nasipnya!

***
Kembali kepada ajakan Jokowi untuk melakukan revolusi mental. Yang dimaksud mental itu adalah ruh dari Pancasila. Jokowi tidak ingin kita terjebak dengan paham materialism. Kalau paham ini dikedepankan maka politik kita akan menjadi politik identitas yang tak ubahnya dengan fasisme, nazi atau komunis. Kita sebagai bangsa akan terjajah lewat pemikiran, yang seharusnya merdeka. Karena itulah fitrah kita sebagai manusia ciptaan Tuhan. Kita juga tidak mungkin menjadikan Pancasila sebagai idiologi seperti paham lain. Karena kalau Pancasila sebagai idiologi maka kita menciptakan tiran baru bernama Pancasila.  Jadi apa?

Ya Pancasila itu adalah falsafah hidup kita sebagai bangsa dalam bernegara. Pancasila bukan simbol yang harus disembah. Tetapi sebuah kerangka berpikir atau mindset tentang bagaimana hubungan kita dengan Tuhan, yang merupakan landasan dari semua perbuatan. Dengan kepercayaan kepada Tuhan, maka sikap mental kita akan lebih mengutamakan kemanusiaan yang adil dan beradab. Sehingga kita tidak sulit dipersatukan sebagai sebuah bangsa, untuk menyelesaikan semua masalah secara musyawaran dan mufakat dengan orientasi kepada keadilan sosial bagi semua. Adil itu adalah salah satu Sifat Tuhan. HIdup kita di awali karena Kekuasaan Tuhan dan berujung kepada sifat Tuhan.

Mindset Pancasila inilah yang harus menjadi konsepsi landasan bagi kita semua dalam bersikap dan berbuat sebagai anak bangsa, sebagai negara, dan sebagai pemimpin. Semua agama ada didalam Pancasila. Kita tidak mempermasalahkan apapuh idiologi asalkan tidak bertentangan dengan falsafah Pancasila. Nah mengapa Jokowi mengatakan “revolusi “? Karena Pancasila itu bukan hal yang baru. Tetapi dia sudah ada jauh sebelum negeri ini merdeka. Pancasila lahir dari agama berkata, budaya memakai. Antara agama dan budaya itu bagaikan gelas dengan tatakan. Seperti ketupat, antara bungkus dan isi satu kesatuan. Jadi, ajakan revolusi mental itu adalah ajakan hijrah pemikiran kita untuk kembali kepada jati diri kita sebagai bangsa. Bangsa religius.

Karena selama ini jalan sudah jauh menyimpang dan kita semakin bukan diri kita lagi. Kita terjebak dalam dunia individualisme, materialisme, simboliisme, dogmaisme, dokrinasi dan lain sebagainya. Kita berusaha mencari keluar dan akhirnya kita tidak menemukan apa apa, bahkan semakin membuat kita lemah dalam menggunakan free will dan berkompetisi dengan pihak luar.   Orang bijak berkata “Jika kamu melihat keluar, maka kamu tidak akan tahu kemana kamu melangkah. Lihatlah ke dalam. Melihat keluar, kamu bermimpi. Melihat ke dalam, kamu terjaga. Mata memberimu pengliatan. Hati memberimu arah.”

Latihlah alam bawah sadar untuk memahami nilai nilai transedental itu melalui ritual agama agar intelektual anda terlatih menjadi orang berbudaya yang gemar menimba ilmu untuk bekerja keras dan cerdas, juga ikhlas. Contohlah Jokowi, rajin sholat lima waktu dan puasa senen kemis. Makanya secara mental dia sehat lahir batin. Ini teraktualkan dari gaya hidupnya yang sederhana dan pekerja keras tanpa kemaruk harta. Memang hidup itu adalah jalan sepi, sebuah jalan spiritual menuju Tuhan Yang Maha Esa.

***
Sumber : Buku Jalan Sepi. 
Bab : revolusi mental. 
Utuk pesanan hubungi WA 081212199662

1 komentar: