Kamis, 06 Juli 2017

Karena Tuhan...

Di kafe itu, ia meneguk kenangan. Ini gelas soda ketiga, desahnya, seakan itu kenangan tanpa akhir yang bakal direguknya. Hidup, barangkali, memang seperti segelas soda dan kenangan. Sebelum sesap buih terakhir, dan segalanya menjadi getir. Tapi, benarkah ini memang tidak ada gelas terakhir, jika ia sebenarnya tahu tak pernah menghitung gelas yang diminumnya selama menanti.

Sebagian pengunjung kafe yang memperhatikannya, beranggapan dia tidak sedang menanti siapa siapa. Setelah helaan nafas panjang , dia akan berdiri dan berlalu setelah menempatkan uang di meja untuk bayar Bill. Itulah kebiasaannya yang selalu nampak biasa saja. Karena segalanya dianggap sama saja sebelum sang pria yang dinantinya benar benar hadir didepannya. Kenangan tentang pria itu membuat hidupnya tak pernah berubah. Segalanya nampak indah seperti ketika pria itu menciumnya untuk pertama kali dulu.

Dulu, ketika dia masih mengenakan seragam SPG parfum di mall Shanghai. Senyumnya masih ringan seringan SPG merayu konsumen. Usianya . Rambut tergerai hingga di atas buah dada. Saat itu ia yakin: pria itu tak berdusta ketika berkata ”Aku akan selalu mencintaimu, kekasihku….” Kata-kata itu kini terasa lebih sendu dari lagu yang dilantunkan penyanyi itu. I just called to say I love you….

Tapi mengapa bukan sendu lagu itu yang ia katakan dulu? Ketika segala kemungkinan masih berpintu? Mestinya saat itu ia tak membiarkan pria itu pergi. Tak membiarkan pria bergegas meninggalkan kafe ini untuk memburu pesawat kembali ke negerinya. Ada sesal yang tak bertepi bila ingat itu. Tapi semua sudah terjadi dan dia tetap percaya pria itu akan kembali walau tak tahu kapan saatnya muncul didepan pintu Cafe sebagaimana janji pria itu.

Waktu bisa mengubah dunia, tetapi waktu tak bisa mengubah perasaannya. Kenangannya. Itulah yang membuatnya selalu kembali ke kafe ini. Kafe yang seungguhnya telah banyak berubah. Meja dan kursinya tak lagi sama. Tetapi, segalanya masih terasa sama dalam kenangannya. Ya, selalu ke kafe ini ia kembali. Untuk gelas soda ketiga yang bisa menjadi keempat dan kelima. Seperti malam-malam kemarin, barangkali gelas soda ini pun hanya akan menjadi gelas soda yang sia-sia jika yang ditunggu tidak juga tiba.
”Aku akan kembali dan bila itu terjadi maka Cafe inilah tempat janji kita bertemu kembali." Kata kekasihnya.

Setelah bulan berganti dan tahun berganti untuk dua kali musim panas datang, pria itu tidak juga datang. Ribuan e-mail dia kirim tak berbalas. Telp tak terjawab. Ia mulai meragukan semua tentang pria itu. Tapi bayi yang lahir dari percintaan mereka adalah kekuatan yang membuat dia harus bertahan. " Aku tidak menjual diriku kepada manusia karena cinta tapi aku menjual diriku kepada Tuhan. Pernikahan itu syah dihadapan Tuhan. Tentu kekuatan Tuhah melalui bayi itu akan membawa pria itu kembali kepadanya. Tapi kapan ?

”Apakah Anda seorang diri? Kata seorang pria pengunjung Cafe yang berusaha nampak ramah.
”Ya"
”Boleh traktir Anda minum?
”Tidak perlu. Karena saya sedang menanti seseorang" katanya. Mungkin ini jawaban yang kesekian ratus kepada setiap pria yang mencoba menggodanya.

Entah mengapa setiap dia digoda pria, dia selalu berdoa kepada Tuhan agar pria yang dinantinya muncul didepan pintu Cafe itu. Lambat laun dia tidak lagi merindukan pria itu. Dia hanya ingin bertemu dengan pria yang pernah berjanji untuk menemuinya, untuk bayi yang sedang dikandungnya.

Menemui? Apakah arti kata ini? Yang sangat sederhana, menemui adalah berjumpa. Tapi untuk apa? Hanya untuk sebuah kenangan, atau adakah yang masih berharga dari ciuman-ciuman masa lalu itu? Masa yang harusnya mereka jangkau dulu. Dulu, ketika ia masih mengenakan seragam SPG yang seksi. Saat senyumnya masih menjual . Dengan rambut tergerai hingga di atas dada. Ketika ia yakin, pria itu tak mungkin bahagia tanpa dirinya.

Ah, ia jadi teringat pada percakapan-percakapan itu. Percakapan di antara ciuman-ciuman yang terasa gemetar dan malu-malu.

”Aku selalu membayangkan, bila nanti kamu pergi aku akan selalu duduk sendirian di malam bulan purnama sambil membayangkan dirimu sedang melakukan hal yang sama. Saat itu aku akan meminta kepada Tuhan agar kamu kembali kepada ku. Karana tahukah kamu? Betapa aku sangat mencintaimu. Walau seribu bulan berlalu cintaku tak akan pernah padam. " katanya. Pria itu memeluknya.

" Karena Tuhan kita akan selalu bersama walau apapun Prahara dan tembok yang memisahkan kita “

Dia tersenyum, kemudian mencium pelan. ”Tapi aku tak mau mati dulu.”
”Kalau begitu, biar aku yang mati dulu. Dan aku akan menjadi bulan, yang setiap malam purnama menatap mu ….”

”Hahaha,” dia tertawa renyah. ”Lalu apa yang akan kamu lakukan bila telah menjadi bulan?”
”Aku akan menyinari malam mu untuk melihat setiap sudut Tubuhmu yang putih bersih. Walau anak sudah lahir dari rahimmu, Dadamu tetap membusung dan selalu kurindu dalam malam malam panjang bersedekat. Dada yang akan terlihat mengilap ketika kena cahaya bulan hinggap di atasnya

Ia bersenandung sambil membuka satu per satu kancing seragam. Dia yang hanya memejam. Ia seperti melihat cahaya bulan yang perlahan keluar dari kelopak matanya yang terpejam. Seperti ada seberkas cahaya bulan di keningnya. Di pipinya. Di hidungnya. Di bibirnya. Di mana-mana. Kamar penuh cahaya bulan. Dada itu tenggelam dalam desahan angin malam yang tak terdefinisikan. Ia selalu membayangkan itu. Sampai kini pun masih terus membayangkannya. Itulah yang membuatnya masih betah menunggu meski gelas soda ketiga sudah tandas. Selalu terasa menyenangkan membayangkan dia tiba-tiba muncul di pintu kafe, membuat ia selalu betah menunggu meski penyanyi itu telah terdengar membosankan menyanyikan lagu-lagu yang ia pesan.

Ia hendak melambai pada pelayan kafe, ingin kembali memesan segelas bir, ketika dilihatnya pria yang dinantinya sudah ada di pintu kafe. Mendadak seluruh detak jantungnya berhenti. Walau kafe yang ingar bingar namun terasa sesak. Ia terpukau bersetatap dengan pria itu yang nampak murung dengan geliat lidah pada tiap jeda tubuhnya.

" Wan Ning" akhirnya keluar juga suara lembut dari mulut pria itu. Dia tetap mematung. " Its me.." kata pria itu. Apakah ini hanya belaka imajinasinya? Penyanyi terus menyanyi dengan suara yang bagai muncul dari kehampaan. Dan kafe yang ingar ini makin terasa murung. Tiba-tiba ia menyaksikan cahaya bulan muncul dari balik keremangan, memenuhi panggung. Hingga panggung menjadi gemerlapan oleh pendar cahaya bulan yang temaram keperakan.

Gelas sisanya sudah tidak berbusa. Hanya putih yang diam. Tidak seperti cahaya bulan beterbangan gemerlapan berpendar keperakan. Air soda di gelas mati. Sementara kuning di luar sodanya gemerlapan. Hidup. Ia jadi teringat pada setahun lalu dimana dia terpaksa menjual anak bayinya kepada Agent agar diadopsi sama keluarga mampu. Karena telah tiga tahun hidupnya semakin sulit dan dia ingin melanjutkan hidupnya di kota besar.
" mengapa kamu tega melepas anak ini? Kata Agent.

"Aku terjerat hutang. Karena biaya hidup yang besar sementara aku tidak punya waktu cukup untuk bekerja keras menghidupi anak ini. "
"Memang sangat sulit hidup di kota besar seperti Shanghai. Dan anak ini harus berpisah dari mu. Dimana ayahnya?
Dia hanya menggeleng lambat dalam duka terkubur dihati terdalamnya
"Anak ini milik Tuhan. Tentu Tuhan lebih tahu apa yang terbaik untuk bayi ini. Yang jelas bersamaku , bayi ini tidak akan punya masa depan. Biarkan Tuhan menentukan takdirnya " katanya dengan berurai airmata.

Pria itu menyentuh jemarinya. Itu menyadarkan nya bahwa dia tidak sedang bermimpi. Benar, pria itu memeluk eratnya. Dia tetap mematung tanpa membalas pelukan. Dia tidak ingin pertemuan ini hanya mimpi.

" akhirnya kamu datang juga." Katanya lirih." Aku kehabisan harapan kepada mu tapi aku tidak pernah kehilangan harapan kepada Tuhan.”

" dan Tuhan juga akhirnya mengantarkan aku kembali ke mari, dan menepati janji ku untuk bertemu di Cafe ini.”

" apakah benar ?

" Benar Wang Ni. Empat bulan lalu aku bersama istriku mengadopsi bayi. Melalui Agent di Beijing kami di persilahkan untuk memilih dari puluhan bayi yang ditawarkan. Aku dan istriku memilih bayi perempuan yang cantik. Entah mengapa sejak pertama kali aku gendong, bayi itu yang tadinya menangis segera tenang. Lambat kemudian dia tertidur dalam dekapan ku.”

" Jadi kamu kembali ke negeri kamu untuk menikah dengan wanita lain.? katanya dengan tetap tenang tanpa perlu harus menangis lagi. Airmatanya sudah lama kering.

" Maafkan aku, wang Ni." Kata pria itu dengan wajah sesal" Dan kini aku sudah bercerai”

" Semudah itukah?

" tidak mudah. Masalahnya ternyata ketika kami ingin mendapatkan certifikat adopsi atas bayi itu, aku diharuskan untuk test DNA agar jelas bahwa anak itu bukan anak biologis ku. Tapi..." kata pria itu terhenti seakan tersekat tenggorokannya.

" Tapi apa?

" Hasil test DNA terbukti bayi itu adalah anak biologis ku. Inilah kekuasaan Tuhan. Ada ribuan bayi ditawarkan tapi kami memilih satu dan ternyata yang aku pilih adalah putri ku sendiri. Karena itu, istriku minta cerai karena dia tak ingin mengecewakan wanita yang telah mengorbankan cintanya untukku"
Wanita itu sekarang menangis. Entah dari mana airmata itu datang. Yang pasti penyebabnya ketika seorang perawat masuk kedalam Cafe membawa bayi perempuan dan berlari memeluknya sambil berteriak " Mama…"

Dipeluknya bayi usia 3 tahun itu dengan sepenuhnya cintanya" mama janji sayang. Apapun yang terjadi kita akan selalu bersama sama”

Pria itu merangkul wanita itu yang sedang memeluk bayi itu dalam isakan tangis. "aku dan bayi ini adalah titipan Tuhan untukmu. Dan kini Tuhan kembalikan kepadamu setalah sejenak diambilNya. Bukan karena Tuhan membencimu, tapi karana Tuhan sedang menguji keimananmu. Apakah kamu mencintai Tuhan ataukah kamu mencintai manusia”

Cafe itu sudah mulai lengang. Mereka bertiga melangkah keluar. Pria itu menggendong balita itu yang terlelap dalam nyaman. Ketika itu musim semi di Shanghai. " kamu tidak bertanya mengapa sampai aku menikah dan melupakanmu bertahun tahun bersama anakmu “

" Han, hidup adalah soal pilihan. Sehebat apapun kita memilih namun Tuhan punya rencana sendiri. Aku tidak perlu alasanmu. Karena semua kehendak Tuhan. Bertemu karana Tuhan dan berpisah pun karena Tuhan. Siapalah kita yang merasa berhak menentukan apa yang kita mau. Sementara tak ada manusia yang bisa menolak kematian. “

" Ya Wan Ni”

" Kini kita berkumpul kembali dan bagiku ini adalah berkah dan juga cobaan sekaligus agar aku semakin dekat kepada Tuhan. Pahamkan sayang"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar