Sabtu, 14 Januari 2017

Persahabatan..

Ia tiba-tiba muncul di depan mejaku. Tubuhnya semampai, dan wajahnya nampak segar. Kupersilakan duduk sambil bertanya-tanya dalam hati, apalagi yang hendak dia diskusikan denganku.

“ Saya engga bisa jauh dari kamu. 10 tahun lebih kebersamaan bukan waktu sebentar untuk pergi dan melupakanmu. Beri kesempatan aku untuk memulai kembali mengumpulkan serpihan yang berserakan dan membangunnya seperti dulu lagi. Masih adakah kesempatan itu? “ katanya dengan serta merta

Aku tersenyum sambil mengangguk-angguk. Aku tidak tahu apa alasannya kembali kepadaku. “Wajahmu masih seperti dulu, tapi agak gemuk keliatannya” katanya melanjutkan. “Tidakkah engkau merindukanku?” tanyanya. “Tidakkah engkau peduli keadaanku tanpamu?” tanyanya membuat aku agak risih. Dulu pernah keinginan timbul di hati untuk menahannya pergi dari aku. Tapi aku berpikir kalau aku inginkan yang terbaik baginya maka memberikan kesempatannya menentukan pilihan adalah bijak.

“Kita pernah bermitra dan akhirnya bubar. Namun di hatiku kamu tetap sahabatku. ?” kataku. Ia mengangguk. “Kamu bebas datang dan pergi dariku. Bagiku sama saja, Kebersamaan itu tidak harus bersedekat. Berjauhan secara phisik tak apalah asalkan di hati kita tetap bersatu, saling mendoakan. Ya kan. ?”

“Ya,” jawabnya dengan wajah yang mulai cerah.

Lalu ia mengatakan dengan ragu  “aku ingin kembali ke perusahaan. Apapun itu jabatannya aku tak peduli. Jadi cleaning service juga engga apa apa,” katanya dengan penuh keyakinan. “
“Kita berteman lebih 10 tahun dan kebersamaan diantara kita tidak ada masalah yang mengharuskan kamu merendahkan diri di hadapanku. Nanti kubicarakan dengan pemegang saham lain. Semoga mereka bisa menerima kamu kembali.,” jawabku agar dia tidak terlalu berharap.

“Kamu terlalu baik.” katanya. 

***

Pertemuan singkat itu berlalu. Pembicaraan sesama sahabat tanpa perlu bertanya lebih jauh. Mengapa?. Masing-masing bisa memaklumi dan semua orang punya alasan mengapa dia harus pergi dan akhirnya kembali. Mengapa aku ceritakan tentang dia kepadamu?  Siapa dia sebenarnya ? Aku di pertemukan dengan dia begitu saja oleh Tuhan. Butuh dua tahun sampai akhirnya aku yakin bahwa dia tulus bersahabat. Persahabatan itu dilanjutkan dengan kemitraan bisnis. Kesibukanku kadang tidak punya waktu untuk bertemu dengan dia yang kupercaya mengelola salah satu bisnisku. Belakangan aku mendapat kabar bahwa dia sedang dekat dengan pria , yang juga bekerja sebagai staf nya di perusahaan. Ketika aku tanyakan, dia membenarkan. Alasannya pria itu punya kehebatan dalam marketing dan punya network luas. Tentu alasa yang tak perlu di sampaikan bahwa kehadiran pria itu sebagai pelipur lara dan sepi setelah ia bercerai dengan suaminya. ia tak ingin terus sepi merundung hidupnya, di tengah keramaian kota dan keheningan pagi dan senja, membuatnya resah. Di tambah lagi bekerja di lingkugan group usahaku membuat dia harus patuh dengan SOP ketat.

Aku bisa memaklumi bila  usia yang di atas empat puluhan itu cukup melelahkan untuk bertahan hidup sendirian. Dari agen koran subuh, sampai kantor dari siang sampai senja, lalu pulang ke rumah, merebahkan diri seorang diri, sampai waktu mengantar subuh dan mengulangi ritual siklus kehidupan. Ya dia butuh teman hidup sebagai suami.

Teringat beberapa tahun lalu ketika aku berkunjung ke rumah sakit, kutemukan dia dengan beberapa kerabat dekat lainnya. Kudapati ia terbaring di tempat tidur. Beberapa slang oksigen di hidungnya. Ia bernapas dengan bantuan oksigen. Matanya berkaca-kaca sambil mulutnya berkata, “Kudengar kau datang. Beginilah keadaanku. Maafkan aku. Bukankah seharunya aku mati saja..” Agak sulit baginya berbicara. Dadanya tampak sesak bernapas. Aku tidak mungkin berbicara mengenai modal yang ludes karena ulahnya membuat perusahaan kena tipu. Aku tidak akan menuntut mitranya, dan juga tidak akan mempertanyakan kegagalannya.

Sebetulnya dia tidak pernah mengabarkan dia sakit. Namun dalam kesibukan, waktu jua yang memberi kabar. Seorang teman dekat, waktu berjumpa di Hong Kong berbisik padaku, “dia di tipu oleh pria yang sangat dia cintai. Pria itu bukan hanya menipu uang tapi juga cinta.”
“Oh, Tuhan,” kataku kepada diriku sendiri. Betapa malang nasipnya. Menjanda dalam kemiskinan. Dan setelah dia bangkit dari keterpurukan akibat mantan suaminya selingkuh, kini seorang pria kembali datang menghancurkanya. Dari kesunyian hati itu, tanpa dia sadari ternyata pria yang dicintainya itu memanfaatkannya dan dia jadi korban. Apakah dia salah ? atau pria itu brengsek? bagiku, dia tidak salah. Dia hanya salah menyikapi hidupnya, dan pria itu hanya berusaha bertahan hidup sebagai penipu. Hidup memang tidak ramah. Predator ada di mana mana. Hati hati adalah mutlak. Dia sahabatku. Aku harus peduli kalau tidak siapa lagi yang akan peduli. Itulah sebabnya aku terbang ke Jakarta untuk hanya sekedar meyakinkan dia bahwa aku bisa maklumi keadaannya dan memaafkannya. 

Dia kembali sehat dan melanjutkan hidupnya. Itu karena aku berusaha membangkitkan passion nya agar tidak larut dalam kegagalan dan kebodohan masa lalu. Apakah setelah itu dia benar benar sehat? ya secara phisik dia sehat dan penuh semangat tanpa lelah mengelola bisnis. Tetapi, secara psikis dalam kesendirian, ia kadang larut dalam kehidupan malam bersama teman temannya. Menurutnya , itu cara cerdas keluar dari kesepian untuk kembali kedunia nyata. Apakah benar alasannya itu?. Kalau benar , bagiku itu tidak ada masalah. Namun suatu senja, entah serangan apa yang mendera dadanya, barangkali jantung. Ia terkulai di ruang hajat. Di sebuah cafe, petugas mencoba membuka kamar toilet. Menemukan dia dalam keadaan tidak sadarkan diri. Identitas diketahui dengan alamat Kelapa gading. Petugas cafe menemukan telp darurat di HP nya adalah nomor telp ku. Aku datang dini hari ke Rumah sakit dan  keesokannya aku membawanya ke singapore. Setelah 2 minggu di rawat dia bisa kembali pulang kerumah. Penyakitnya karena darah rendah. Kelihatannya dia menderita dalam  kesendirian walau dia nampak bahagai dan perkasa sebagia professional business woman.

***
Setelah melewati kebersamaan lebih 10 tahun atau tepatnya 12 tahun lebih dia memutuskan untuk mundur dari perusahaan. Alasannya dia ingin mengabdikan hidupnya untuk kegiataan sosial dan menemukan Tuhan. Aku tak bisa menolak keinginannya, Karena itulah doaku untuk dia selalu, beharap agar dia menemukan Tuhan. Hanya tiga bulan setelah dia pergi, dia kini kembali lagi kepadaku. “ Tiga bulan dalam kesendirian aku bisa menemukan Tuhan. Dan Tuhan inginkan aku tidak lagi berharap apapun dari manusia, kecuali kepada Tuhan. Kehadiranmu dalam hidupku adalah bukti kehadiran Tuhan. Berkali kali aku mengecewakanmu karena kebodohanku namun kamu tidak pernah membenciku, bahkan tidak pernah terpikirkan untuk menghukumku. Dan kini kamu tanpa beban apapun bisa menerima kembali aku tanpa bertanya apa alasanku.” 

“ Boleh tahu apa keinginan mu sebelumnya ? Kataku

" Kamu!. " Katanya tegas. " Sejak awal bertemu dengan mu, atau tepatnya 13 tahun 48 hari aku menanti kamu menginginkan aku” sambungnya. Aku hanya tersenyum. Menikah adalah takdir namun persahabatan adalah pilihan. Dan aku memilih dia sebagai sahabat untuk menjadi orang yang selalu ada untuk dia. Karena kadang banyak hal yang kita suka terhadap orang terdekat kita, tentu banyak juga yang tidak kita suka. Sahabat bukanlah seorang yang selalu membuat kita tertawa tapi bisa juga membuat kita harus menahan diri dari amarah atau sedih hanya sekedar untuk mengerti dia. Sahabat adalah cobaan terhadap diri kita sendiri. Apapun sikap dia terhadap kita adalah cobaan untuk kita melewatinya dengan sabar dan ikhlas.

Senja itu berangkat dan malam menjemput. Semoga besok dia berbeda dengan dia sebelumnya, dan hanya berharap kepada Tuhan. Agar hidupnya damai dalam kesepian, bahagia dalam kesempitan. Menyadari bahwa persahabatan yang tulus adalah anugerah terindah dari Tuhan, yang harus di syukuri sepanjang usia. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar