Senin, 30 Januari 2017

Memburu harta (24)


Seorang pria tegap berkulit gelap menungguku dan Huang di pintu depan. Memandu kami menuju lantai atas. Di lantai satu, kami berjalan melewati sebuah lukisan abstrak raksasa berwarna cerah. Kemudian naik lagi ke sebuah tangga mewah. Tempat ini sedikit mirip lobi hotel mewah, dengan dekorasi teak  yang mahal dan balutan chrome  yang mengkilap.
Interior elegan ini tidak menyiratkan sebuah tempat bertemunya para intelijen papan atas, yang biasanya memilih tempat di taman atau di pelataran parkir untuk bertemu. Tempat ini adalah sebuah financial club. Di sini, semua informasi disampaikan dengan berbisik-bisik dengan penyekat ruangan yang anti sadap. Maklum para pemain keuangan selalu bicara tentang hal-hal yang bersifat confidential. 
Kami dipandu ke sebuah ruangan VIP room untuk lunch time. Dengan ramah pria tegap itu mempersilahkan kami masuk, sementara pria itu tetap berada di luar. Di dalam ruangan, nampak seorang wanita setengah baya dengan ramah menyapa kami.
“Silahkan duduk, ”
Huang menyalami wanita itu. “Anda masih seperti dulu yang saya kenal. Tetap cantik,” puji Huang sambil membungkukkan badan. “kenalkan, ini Jaka.” Saya menepati janji untuk membawanya dalam pertemuan,” lanjut Huang. Wanita itu melirik kearahku dengan senyum ramah, dan segera menjabat tanganku. 
“Sepuluh tahun sejak terakhir pertemuan kita di Istanbul, ya kan?” Wanita itu tersenyum sambil menuangkan teh hangat. Lalu menyajikannya untuk kami sambil membungkuk.
“Anda ingat saja cerita kita, juga teh kegemaran saya.”
“Tentu, Prof. Anda adalah pria yang tak pernah hilang dalam ingatan saya.”
Mereka terdiam saling menatap sesaat. Huang kemudian berkata santai, mencoba mencairkan suasana, “God bless America.”
Wanita itu menatap Huang dengan wajah kecut, “Saya pikir tidak ada lagi God bless bagi America. Citigroup, Bank of America, IBM sudah diambil alih oleh Cina. Bahkan sekarang, setiap bulan, satu industri kaos kaki diambil alih Cina,” komentarnya lirih. 
Dia juga terlihat tambah geram, “Setelah industri kapitalis AS rontok dimakan pengusaha Cina, giliran konglomerisasi minyak merampok kami dengan harga yang terus meroket. God far from us,” simpulnya.
“Ya, AS gemar bicara dan sesumbar mengkampanyekan nilai-nilai mereka untuk diterapkaan di semua negara. Sementara Cina diam, silent of gold, terus bekerja keras dengan cara dan sistem yang diyakininya. Seiring perjalanan waktu, ternyata kini Cina yang terbukti lebih baik dari Amerika,” kata Huang sambil tersenyum.
“Anda kan tahu. Bahkan selalu jadi bahan cemoohan, bahwa kami melarang kebebasan informasi. Seperti larangan media massa AS masuk ke Cina. Bahkan blog saja tidak boleh tampil di Cina. Kampus hanya dijejali oleh buku pemikiran bangsa Cina sendiri atau buku dari Amerika tapi sudah diedit oleh Cina. Tapi kini, sejarah membuktikan keyakinan kami, sebagaimana kegeraman Anda itu, bahwa God far from U.S,” kata Huang.
“Tapi, bukankah itu hanya sementara? Biasanya AS selalu berhasil keluar dari kesulitan. Bukankah mereka memang terlatih menghadapi berbagai kesulitan. Karena itulah mereka menjadi bangsa yang besar,” lanjut Huang.
“Selama ini sebagian besar dari kita, terutama mereka yang di didik oleh universitas di AS beranggapan, bahwa semua hal tentang Amerika adalah baik. Sehingga baik pula untuk diterapkan di negeri manapun. Baik itu kapitalisme, sistem pemilihan distrik, sampai kentang goreng. Pierr Bourd Bourdieau, seorang pemikir Prancis cemerlang, pernah menulis dengan marah, apa yang dianggapnya sebagai La ruses de la raison imperialiste. Menurut dia, satu-satunya buah kecerdikan akal imperialis adalah McDonaldlisasi pemikiran. Sebuah cara berpikir yang terbentuk lantaran dominasi AS di berbagai bidang dalam dana riset, penguasaan media massa, penerbitan buku dan kekayaan dunia akademik,” kata wanita itu.
“Yang saya ketahui tentang Amerika, bahwa kapitalisme bukanlah sistem yang di-create sedari awalnya untuk kesejahteraan rakyat AS, tapi untuk kepuasan segelintir orang. Sebuah sistem untuk mendorong tumbuh suburnya kekuasaan pemodal. Semua hal yang dirancang di dalam negara seperti TV, Universitas, lembaga riset dan lain-lain sebenarnya dipersiapkan untuk melancarkan penerapan sistem kapitalisme. Kemudian, Amerika dijadikan alat pelontar paham itu ke seluruh dunia.”
“Benar, Prof!” kata wanita itu tersenyum getir. “Satu setengah abad yang lalu, Marx sudah meramalkan hal ini akan terjadi. Bahwa yang menjadi sumber dari transformasi globalisasi itu bukanlah sebuah negari seperti AS atau lainnya, melainkan sebuah pergerakan yang datang dari dan untuk kepentingan pemodal. Lantaran modal, banyak negara mengesampingkan semua hal tentang kekuatan budaya dan agama. Kehebatan budaya yang mengakar di dalam masyarakat tidak lagi dijadikan pengikat dan pengokoh. Mereka lebih mempercayai Demokrasi pendukung liberalisasi ala Amerika sebagai sesuatu yang final. Dan terus bergerak meninggalkan mereka yang kalah bersaing melawan kekuatan modal.”
Mereka berdua terdiam. Sejenak kemudian, Huang menatap wanita itu. 
“Baiklah. Apa yang harus kita lakukan ke depan? Adakah hal penting untuk kita sharing?” tanya Huang ingin secepatnya tahu maksud pertemuan ini. “Madam ingin mengulang kembali operasi kita seperti sepuluh tahun yang lalu. Kita akan saling mendukung untuk tujuan yang sama, ya kan? Dan ini tentu soal, Jaka.”
“Benar. Kami akan mengirim anggota kami untuk bergabung dengan team Anda.”
Huang tidak menjawab. Ia terlihat berpikir keras. Ingin bertanya lebih jauh tentang perlunya team gabungan. Bukankah dulu pernah dicoba tapi hasilnya juga tak ada.
“Prof, dokumen itu ada pada kami dan Jaka ada pada Anda. Ini mengharuskan kita bersatu,” sambung wanita itu melirik kearahku dan mencoba meyakinkan Huang.
“Apa ada alasan lain yang lebih kuat?”
“Kami telah memberikan dokumen confirmation fund kepada Jaka. Bukti bahwa kami benar-benar serius.”
Huang menatap wanita itu. Dia melihat tatapan mata yang tulus, tak ada maksud lain. Tapi apakah benar, dokumen decade asset ada di tangan kelompok wanita ini? 
Tapi toh, Huang tidak melihat resiko kerugian, bila harus bersama dengan team wanita ini. Apalagi pengalaman sebelumnya membuktikan mereka adalah team yang hebat walau tak berhasil menuntaskan operasi. Bahkan nyaris berhasil, kalau saja pihak settler yang dipercaya tidak berkianat.
“Baiklah, saya setuju.”
“Terima kasih,” jawab wanita itu menjabat tangan Huang.
“Kami akan membentuk team Madam Rose untuk operasi ini.”
“Baik. Selanjutnya, kita akan selalu berkoordinasi di setiap langkah.”
“Ya, seperti dulu lagi,” kata wanita itu tersenyum 
Wanita itu menjabat tangaku dengan erat.” Jaga dirimu baik-baik ya, Jaka?” katanya lembut.
***
Dari Huang, aku mendapat informasi bahwa Madam Lyan telah mendapat laporan terakhir dari teamnya bahwa kode untuk meng-access decade aset pada Fed system belum juga ditemukan. Padahal teamnya merupakan lulusan universitas terbaik dengan kualifikasi terbaik pula. Bekerja siang malam menggunakan alat super canggih berharga hampir dua miliar dolar. Tapi dokumen yang didapatnya dariku memang terlalu sulit untuk dipecahkan. Ada misteri yang menyelimuti dokumen itu hingga teknologi abad kini pun tidak mampu berbuat banyak.
Namun yang pasti, dokumen ini membuktikan bahwa decade asset itu memang ada. Tercatat dengan rapi. Aset ini mulai masuk ke dalam Fed system secara resmi berdasarkan Hilton Memorial tahun 1962 di Jenewa. Sebuah kesepakatan antara Soekarno sebagai wakil pemilik aset dari beberapa negara dengan JF Kennedy sebagai wakil pemerintah Amerika. Kesepakatan ini disaksikan oleh gubernur Bank Sentral Swiss. 
Ini adalah kesepakatan yang sangat strategis untuk menyelamatkan krisis mata uang Amerika ketika itu. Protokol penempatan aset ini ke dalam sistem, dilakukan dengan pembukaan bullion account  di The Fed oleh Soekarno dan atas nama Soekarno. Dengan demikian, maka Aset itu tercatat sebagai bagian dari combined collateral  pada Fed sistem dan Bank International for Settlement yang memberi hak kepada Amerika untuk mencetak Dollar.
Dalam Hilton Memorial itu ada beberapa nama pemilik aset yang memberikan mandat kepada Soekarno. Tapi dari dokumen yang didapat dariku, Madam Lyan sadar bahwa nama-nama itu hanyalah sandi yang mewakili nama negara sebagai pemilik aset tersebut. Dokumen ini adalah buktinya. Itulah sebab, selama hampir 30 tahun tidak ada satu pun pihak yang berhasil menguasai aset itu walau menggunakan kuasa nama ahli waris pemilik yang tertera dalam Hilton Memorial. Ini karena The Fed system, mengenali nama-nama itu hanyalah sebagai sandi.
Setelah Aset itu ditempatkan ke dalam sistem, Kennedy pun bergerak lebih jauh, untuk meng-eliminate posisi the Fed sebagai private company.  Rancangan Undang Undang telah diusulkan kepada senat untuk mengesahkan pengambil-alihan The Fed oleh negara. Ini dilakukan Kennedy sesuai arahan Soekarno yang tidak ingin aset ini dikontrol oleh Group Fidelity yang notabene adalah pemilik The Fed.
Sistem database berbasis komputer diperkenalkan pertama kali oleh IBM pada tahun 1962 untuk mendukung program Apollo.  Komputer inilah yang digunakan The Fed untuk membangun sistem bullion account, dimana aset itu ditempatkan dan dicatat. 
Rancangan Undang Undang yang diusulkan Kennedy ternyata mengalami perlawanan dari orang-orang group Fidelity yang ada di senat. Maka untuk sementara, demi menjaga keamanan dan kepentingan Hilton Memorial, hanya Kennedy sebagai presiden yang berhak mengakses sistem tersebut. Namun, sebelum Rancangan Undang Undang itu disahkan, Kennedy keburu terbunuh saat berkunjung ke Texas. Dan sampai hari ini, pembunuhan tersebut masih menjadi misteri.
Sejak kematian Kennedy, aset itu dimanfaatkan oleh group Fidelity untuk memperkuat posisi the Fed sebagai penjamin mata uang melalui sistem forfaiting trading program.  Hanya saja perdagangan ini dilakukan dengan sangat rahasia, tidak pernah dipublikasikan. Hanya orang dalam group saja yang dapat menggunakan sistem ini. Tapi, sistem ini juga tidak pernah berhasil membuat perdagangan surat berhaga itu masuk ke dalam kuridor Bank International ForSettlement. Tak lain karena terbentur masalah legalitas kepemilikan. Pun, the Fed tidak bisa menghindar dari masalah ini karena The Fed juga bagian dari Bank International for Settlement.
Itulah sebabnya, Group Fidelity membangun sistem clearing tersendiri yang terhubung ke Fed system. Clearstream, DTCC dan Euroclear dibentuk sebagai global clearing settlement bermata uang dolar. Sejatinya, ini merupakan perang sistem antara The Fed dengan BIS, untuk merebut legitimasi sistem keuangan global.
Lambat namun pasti, Group Fidelity berhasil menggandeng bank-bank terkemuka di dunia masuk ke dalam sistem ini. Akibatnya keanggotaan Clearstream, Euroclear, DTCC melebihi keanggotaan yang ada pada Bank  International for Settlement. Di era informasi digital seperti saat ini, keanggotaan itu jadi semakin meluas dan tidak hanya sebatas lembaga keuangan, tapi juga para pribadi yang menguasai kekayaan raksasa di dunia ini.
Dengan demikian, Group Fidelity telah berhasil membangun imperium sendiri, lengkap dengan sistem keuangannya yang mengontrol hampir semua bank terkemuka di dunia. Eksistensi Bank International For Settlement tidak lagi diperhitungkan untuk melegimitasi transakasi yang mereka lakukan.
Seseorang yang berada di lingkaran dalam kekuasaan U.S telah menugaskan Madam Lyan untuk membentuk team, guna menemukan kode decade asset ini. Dengan misi yang sangat jelas, yaitu apabila kode akses atas aset ini dapat ditemukan, akan membongkar permainan busuk Group Fidelity secara keseluruhan. Dana yang berputar di Clearstream, DTCC dan Euroclear yang terkait dengan decade asset ini, otomatis akan ter-eliminate. Kekuatan Group Fidelity akan hancur. 
Pasar dan sistem keuangan global akan kembali pada hukum sebab-akibat ekonomi, di mana income didapat dari hasil produksi nyata untuk memenuhi konsumsi. Dana di perbankan hanya akan mengelola kelebihan pendapatan di masyarakat untuk disalurkan ke sektor riel. Inilah sebetulnya yang diinginkan sebagian besar bangsa Amerika yang sudah bosan dengan permainan busuk Group Fidelity. Yang membuat bangsa Amerika terjebak dalam lingkaran sistem moneter kapitalis. Menggiring mereka menjadi masyarakat yang malas dan boros hingga akhirnya terjajah secara sistem di dunia finansial.
Dari berbagai dokumen yang terkait dengan aset ini, Madam Lyan semakin dalam menaruh hormat kepada Soekarno. Dia adalah seorang petarung sejati yang seolah bangkit dari dunia lain untuk melawan rezim kekuatan sebuah kelompok yang sudah terbentuk sejak ratusan tahun lalu. Kemampuannya mempengaruhi Kennedy untuk keluar dari group Fidelity dan menempatkan bangsa Amerika sebagai penjaga kelangsungan sistem moneter yang adil adalah sangat luar biasa. 
Soekarno menyadari betul bahwa sejak Amerika terbentuk sebagai negara, dia telah disusupi kelompok yang berniat menjadikan mereka sebagai penguasa tunggal dunia. Sebuah ambisi yang sangat bertentangan dengan cita-cita pendiri negara Amerika. Menghancurkan group Fidelity di markasnya sendiri adalah cara paling tepat agar mereka kehilangan mata rantai komando untuk menguasai dunia.
Kennedy terlahir dari keluarga yang disegani di lingkaran group Fidelity. Yang membuat kagum Madam Lyan adalah bagaimana Soekarno dapat meyakinkan sebuah keluarga yang dibesarkan kekuatan group, hingga akhirnya bersedia menerima keinginan Soekarno untuk menghancurkan group itu sendiri. Walaupun upaya ini gagal, dan berakibat pembunuhan demi pembunuhan kepada setiap putra dari keluarga ini yang masuk ke panggung politik.
Kehebatan Soekarno lainnya adalah ketika berhasil memaksa Amerika untuk menekan NATO agar tidak terlibat dalam perang Irian Barat. Perang yang terjadi karena perebutan Irian Barat dari tangan Belanda. Kennedy berada di balik itu semua yang dengan setia memenuhi obsesi Soekarno.
Benar bahwa Soekarno dan Kennedy telah meninggal. Tapi mereka tidak gagal sepenuhnya. Mereka meninggalkan idealisme perjuangan bagi generasi setelahnya. Inilah yang diyakini Tomasi, Catty, Naga Kuning dan Madam Lyan, bahwa ketidak-adilan sistem moneter saat ini harus diakhiri. Dengan perjuangan selama bertahun-tahun, bahkan kadang berakhir dengan kematian. Namun itu tak sedikitpun menyurutkan langkah mereka.
Salah satu cara untuk mengakhirinya adalah dengan menggunakan bukti dokumen decade asset, seperti yang Madam Lyan kerjakan saat ini. Akan tetapi, bila hanya ada dokumen decade asset ini saja tanpa acces code ke dalam Fed system maka dokumen itu tak lebih dari sekedar bukti sejarah. Yang tak dapat digunakan untuk meng-eliminate dana yang berputar di Clearstream. Dokumen ini hanya akan bernilai tinggi di pengadilan internasional bila dibuktikan, bisa masuk ke dalam Fed system. Acces code adalah kunci menuju ke sana. Untuk membuktikan keculasan dan manipulasi yang dilakukan group Fidelity terhadap sistem moneter dunia.
Menurut Huang, Madam Lyan kini hanya bisa berharap kepadaku. Dengan bukti keberadaan Fund Confirmation yang diberikan kepadaku, ia berharap Naga Kuning berhasil menemukan acces code itu. Karena merekalah pemilik yang sebenarnya. Bagi Madam Lyan, keberadaanku tidak datang dengan sendirinya. Keberadaanku sama halnya seperti misteri aset itu sendiri. Meski juga bisa berbalik menjadi ancaman serius bagi negaranya bila pihak Naga Kuning menuntut aset itu dicairkan sesuai dengan jumlah yang sekarang tercatat di Fed system. Tapi Madam Lyan tidak terlalu khawatir, karena toh pengadilan internasional hanya akan mengakui transaksi yang tercatat di bawah kuridor Bank International for Settlement.
Sementara itu dari informasi intelijen yang Huang ketahui, Group Fidelity sedang berupaya keras agar aku menghentikan gugatan di pengadilan. Mereka melakukan tekanan kepada asosiasi lawyer agar menghindari kasus ini. Ini mereka lakukan semata untuk menutup publikasi dari media massa. 
Tapi setidaknya, situasi jadi lebih aman setelah team Madam Lyan memanipulasi Group Fidelity, yang merasa aman setelah berhasil memblokir ‘acces code’ untuk masuk ke dalam the Fed system.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar