Kamis, 26 Januari 2017

Memburu harta (23).


Hanya butuh satu jam perjalanan dengan pesawat untuk sampai di Guangzhou. Aku beserta Team Chang di jadwalkan akan mengikuti rapat di CITIC Plaza. Sebuah gedung pencakar langit di pusat kota Guangzhou, dengan delapanpuluh lantai. Tamu dari Beijing yang di maksud ternyata hanya dua orang. Keduanya di perkirakan berusia di atas enam puluh.
Salah satu tamu itu menatapku dengan seksama. “Kami harap inilah akhir dari perjalanan panjang. Di tangan Anda, kami semua menaruh harap,” katanya kepadaku dalam bahasa Inggris yang fasih.
Tamu yang satunya berdiri. Menyerahkan dokumen dari tangannya kepadaku. “Ini kuserahkan dokumen yang bisa Anda gunakan untuk menyelesaikan transaksi di Swiss.”
Aku berdiri, membungkukkan tubuhku sedikit, sambil berkata, “Terima kasih. Akan kupegang amanah ini dengan baik.”
Dokumen yang baru saja kuterima adalah Safe Keeping Receipt Bullion Aset. Dokumen bukti tanda terima penitipan aset di beberapa bank di Eropa.
Kedua tamu itu saling berpandangan. Kemudian nampak air mata mereka berlinang. Drama itu disaksikan oleh semua anggota Team Chang.
“Apa yang akan kamu lakukan dengan dokumen itu, Jak?” Lien bertanya dengan mimik serius.
“Aku akan memanggil lawyerku masuk ke Hong Kong untuk membahas langkah hukum yang harus kulakukan. Kemudian aku akan masuk ke salah satu bank Eropa di Hong Kong untuk membuka rekening custody. 
“Rekening custody?” Huang mengangkat alis.
“Aku akan menempatkan dokumen Fund Confirmation di sana.”
“Fund Confirmation? Evident transaksi di Swiss?” Chang bertanya dengan mimik terkejut. “Bukankah kamu bilang, otoritas Amerika menolak untuk mengakui transaksi ini?” sambungnya.
“Seseorang telah memberikannya kepadaku.”
“Siapa dia?”
“Madam Lyan.”
“Lyan Piory?!” seru Huang.
“Mungkin,” jawabku sambil mengerutkan kening. “Aku tidak tahu pasti nama lengkapnya.”
“Ya, Lyan Piory. Dia adalah salah satu pejabat senior US Treasury. Di mana kamu bertemu dengannya?” Aku terdiam. Ragu untuk menjelaskannya. “Ok, baiklah. Selanjutnya apa yang akan kamu lakukan dengan evident itu?” tanya Yu mengacuhkan sikap diamku. Seakan mengerti, tentangku yang tidak ingin berbagi informasi tentang Lyan Piory.
“Setelah rekening custody kubuka, maka pihak bank akan melakukan verifikasi atas fund confirmation yang kutempatkan itu.”
“Untuk apa?”
“Verifikasi itu akan mengharuskan The Fed menyerahkan evident asset itu kepada bank Custody. Selanjutnya, secara sistem keberadaan, decade asset itu akan berada di bawah kendalik, sebagai pihak yang diberi kuasa oleh kalian.”
“Apa jadinya bila setelah verifikasi ternyata ditolak oleh The Fed?”
“Bank custody akan menuduhku melakukan pemalsuan dan penipuan dalam transakasi keuangan. Tentu kalian sudah tahu hukuman apa yang akan kuterima di Hong Kong,” Aku melirik Lien yang nampak tegang. “Aku butuh kuasa khusus dari Anda untuk melakukan ini,” lanjutku mantab.
“Kami sudah siapkan surat kuasa untuk melangkapi proses verifikasi berdasarkan dokumen yang kami serahkan,” kata Yu. “Sebaiknya kita lakukan di hadapan lawyermu, Jak.”
Saat ini, sama sekali aku tidak lagi diliputi keraguan dalam setiap langkah. Karena aku hanya melaksanakan protokol ini seperti apa yang pernah disampaikan lawyer-ku. Aku sadar benar telah berada dalam posisi yang tidak mudah. Walau aturan pasar uang begitu ketat namun tangan-tangan kekuasaan yang tak terlihat, bisa ikut bermain untuk membuatku menjadi pencundang. Ini memang hal yang biasa terjadi di dunia yang serba kapitalis, di mana uang yang jadi penguasa. 
Dan, hal yang busuk lagi culas, dapat berjalan mulus bila the invisible power ikut bermain. Aku teringat bagaimana proses pelepasan aset yang dilakukan BPPN. Semuanya hasil konspirasi dan rekayasa! Dengan data laporan yang ku terima dari Amir, aku tahu betul semua kebusukan sebuah konspirasi di negeriku tercinta.
Garibaldi Venture Fund Ltd, mengambil alih PT. Gajah Tunggal melalui BPPN. Menurut data dari Bloomberg dan PWC, aku tahu bahwa perusahaan ini berdomisili di Singapura. Tapi ternyata perusahaan ini tidaklah terdaftar di Singapura, alias fiktif. Juga Farallon, perusahaan ini dinyatakan sebagai pemenang tender pengambil alihan BCA melalui divestasi.  Menurut Securities and Exchange Commision (SEC), Farallon Capital Management LLC merupakan perusahan go-public  dengan nomor 0000909661. Namun di situs SEC dan di 20-F FCM,  daftar subsidiaries  tidak terdapat nama FarIndo maupun BCA sebagai anak perusahaan. Dan dari business registry-nya di Mauritius juga tidak ada nama FarIndo sebagai perusahaan berdomisili di Mauritius. Aset BCA senilai Rp. 104 triliun, dijual sangat murah. Hanya senilai Rp. 5,3 triliun.
Hal yang sama juga terjadi pada Swissasia Global, pengakuisisi Lippo Bank. Juga Uni Bank Tbk yang terdeteksi sebagai penerbit NCD  bodong, yang diambil-alih oleh 21 pemegang saham SPV  dari Samoa Island. Indosat juga dijual ke STT Singapura. Sales and Purchase Agreement-nya untuk Indonesian Communication Limited (ICL) Mauritius, yang katanya subsidiary dari STT Singapura, ternyata tidak ada nama ICL sebagai anak perusahaan STT Singapura. Di Business Registry negara Mauritius juga tidak ada nama ICL terdaftar di sana.
Sampai kebijakan sistem akuntasi BI yang ditetapkan oleh IMF pun direkayasa. Pada tahun 2000, BI mengumumkan perubahan pencatatan devisa dari Gross Foreign Asets  ke International Reserves and Foreign Currency Liquidity (IRFCL).  Sebagai dampaknya, terjadi penyusutan devisa sebesar USD 3 milliar. IRFCL ini sendiri diperkenalkan oleh IMF. 
IRFCL merupakan hasil dari off-balance-sheet-components, dikurangi predetermined dan contingent short-term drains.  Anehnya, hanya Indonesia yang mengalami penyusutan ketika migrasi sistem ini, sementara negara lain tidak terjadi apa-apa.
Dari situs BPK, aku juga tahu bahwa anak perusahaan Bank Indonesia yang berkedudukan di Negeri Belanda, Indover BV, melakukan write off  sebesar 385,27 Juta US dollar. Dengan mengalihkannya ke Indo Plus BV yang efektif per tanggal 23 November 2003. Artinya Negara RI qq Bank Indonesia dirugikan sejumlah nilai tersebut.
Itulah sedikit contoh yang kuketahui dan kini semakin yakin bahwa kekuatan Group Fidelity memang mampu berbuat apa saja, termasuk merampok aset negara lewat cara-cara sistematis dan legal. Hebatnya tidak satupun politisi di DPR atau aparat hukum yang mempersoalkan masalah ini. Kasus ini tidak pernah dipersoalkan secara hukum. Mungkin sudah dipeti-eskan.
Aku tahu itu. Mereka sama seperti Amir yang begitu loyal kepada Robert. Mereka yang ada di ring kekuasaan itu tak berdaya menghadapi kekuatan Group Fidelity. Sehingga, negara terjebak dalam cengkraman gerombolan manusia berwajah iblis yang rakus menghisap darah rakyat yang lemah. 
Akankah aku mampu melawan kekuatan group raksasa ini? Sungguh, apa yang bisa kulakukan hanya berserah diri kepada Tuhan. Yakin bahwa Team Madam Lyan dan Naga Kuning juga menyadari kekuatan Group Fidelity ini. Karenanya, mereka tentu sudah mempersiapkan diri dengan sangat baik. Semoga saja!
***
John Low, bekali-kali kuhubungi lewat sambungan telepon internasional, tapi tetap saja tidak bisa. Dari sekretarisnya, aku tahu bahwa John sedang berada di New York. Jadwal kembali ke Swiss baru satu minggu lagi. Karenanya aku belum bisa memastikan jadwal untuk transakasi di Hong Kong. Team Chang memilih menunggu di Shenzhen yang lebih dekat dari Hong Kong.
Di Shenzhen, aku menginap di Hotel Shangrila yang berlokasi tidak jauh dari Lo Wu, central station Shenzhen. Shenzhen adalah kota yang didirikan di awal tahun 1980. Awalnya hanya sebuah desa nelayan, tapi kini telah menjelma menjadi kota kosmopolitan. Inilah salah satu kota yang mayoritas penduduknya berusia muda. Kota ini dirancang dengan sangat modern. Memang hampir semua kota di Cina tumbuh pesat. Seolah saling bersaing mencapai kemakmuran.
Chang mendatangi kamarku sebelum breakfast, “Jak, aku berusaha menghubungi otoritas Hong Kong agar bersedia untuk menjagamu dari kemungkinan buruk pada saat verifikasi. Tapi,” Chang terhenti dan menatap keluar jendela. Aku mengerutkan kening, “Katakan, kenapa?”
“Mereka tidak bisa banyak membantu. Resikonya sangat besar bila mereka melindungimu. Ini adalah transaksi off-shore di bawah yuridiksi Amerika. Perlakuan istimewa untukmu akan merusak reputasi Hong Kong sebagai financial center dunia,” kata Chang yang segera terdiam. Tak berani menatapku.
Aku berdiri dari tempat duduk dan menghampiri Chang. Kutepuk bahunya dua kali dan kukatakan, “Bukankah kita sahabat? Aku percaya pada nilai-nilai persahabatan itu. Tidak ada masalah dan tidak usah merasa bersalah bila akhirnya aku harus di penjara di Hong Kong. Ini adalah pilihanku dalam menjemput takdir.”
“Ya! Tapi, terlalu berat bagimu,” kata Chang menghela napas.
“Tidak ada masalah. Semua akan baik-baik saja,” jawabku berusaha menguatkan Chang untuk tetap tegar.
“Baiklah. Tapi kamu perlu tahu, bahwa kami akan selalu di belakangmu. Serumit apapun situasinya.”
“Terima kasih.” Lalu kami saling merangkul untuk beberapa saat. “Nah, sekarang mari kita breakfast.”
Pada saat sarapan, semua anggota team hadir dalam keadaan diam seribu bahasa. Mereka tahu situasi sulit yang akan kuhadapi. Sementara aku berusaha sesantai mungkin. Bersikap seakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. “Mengapa kamu tenang sekali?” tanya Wu heran. Dia yang selalu diam tiba-tiba ikut bicara. Tak bisa menahan rasa penasarannya.
“Untuk kalian semua tahu, ada pengalaman miris ketika aku pergi ke kebun sawit milik seorang teman. Kebun itu sangat luas tapi terpaksa harus dijual kepada orang asing. Di sana aku menyaksikan sendiri pekerja kebunnya yang terpaksa pergi ke negeri orang untuk bekerja. Karena di negeri kami, penghasilan sebagai buruh tani tidak cukup untuk hidup layak. Anak gadisnya terpaksa dijual untuk menjadi pelacur. Tahukah kalian, bahwa anak adalah cermin kehormatan bagi seorang ayah dan permata bagi seorang ibu? Kalau sampai mereka mengorbankan anaknya, itu artinya tidak ada lagi yang dapat mereka jual demi bertahan hidup. Sepotong mutiara dan kehormatan yang tersisa, pun harus mereka jual. Itulah cermin nasib bangsa kami. Sementara segelintir orang lainnya, hidup bermewahan seakan tidak pernah tahu arti kesulitan hidup. Inilah yang membuat aku terpanggil untuk sebuah perubahan. Peristiwa demi peristiwa yang kulalui adalah sebuah ‘mukjizat’ bahkan lebih itu, menyadarkan aku untuk menghargai hidup orang lain. Itulah makna perjuangan pendiri negara kami. Perjuangan mencari kemuliaan di hadapan Tuhan, bukan semata mencari citra di hadapan manusia. Kalaupun ada sesuatu yang buruk yang harus terjadi untuk perjuangan ini, tidak akan pernah aku sesali. Inilah jalan hidup dan takdir yang harus kulalui.”
Mereka semua terdiam.
“Dan lagi,” lanjutku. “Tahukah kalian bahwa hasil tambang kami memasok 25% timah, 2% batu bara, 7% emas dan 6% nikel bagi kebutuhan seluruh dunia? Karunia Allah kepada negeri kami sangat besar. Sumber daya energi yang kami punya sangat lengkap. Dari minyak, gas bumi, batu bara hingga energi terbarukan seperti tenaga air, angin, surya, panas bumi hingga bio massa. Hutan yang terbentang dari Sabang hingga Merauke, setara dari London ke Siberia yang luasnya kurang lebih 72 juta hektar. Keanekaragaman hayatinya tiada tara, berada di urutan nomor 2 dunia. Lebih dari setengah 200 juta penduduk Indonesia adalah tenaga kerja produktif. Tapi kenyataannya, kekayaan dan potensi besar itu tidak ada artinya sama sekali. Terbuang sia-sia, digadaikan liberalisasi dan privatisasi. Penjajahan model baru terjadi lewat Undang-Undang dan peraturan hasil konspirasi rezim yang berkuasa. Ambil contoh, dampak liberalisasi di sektor migas. Saat ini, 85% konsesi migas dikuasai oleh asing, hanya sisanya saja yang dikuasai Pertamina. Ada lebih dari 300 blok migas di tangan asing, yang jika ditandai titik-titik pada peta Indonesia, maka tampak sekali, bahwa Indonesia sudah digadaikan. Luas lahan konsesi migas yang diberikan pemerintah kepada investor asing mencapai hampir setengah dari seluruh daratan Indonesia. Semua itu terjadi berkat lobi korporasi raksasa asing yang memaksa pemerintah untuk tunduk menerima.” Aku menghela nafas. Menahan gelisah yang tak tertahankan.
“Dan kini, akibat sistem moneter global. Kami harus merasakan derita krisis moneter gara-gara permainan culas pasar uang dunia. Kami dilanda krisis anggaran dan sudah masuk ke dalam perangkap mematikan yang hampir tidak mungkin diselesaikan tanpa revolusi. Sementara revolusi adalah hal yang menakutkan dan tidak boleh terjadi. Lalu apa yang harus dilakukan?”
Aku kembali terdiam, kehilangan kata-kata. Aku  merasa, kalau ada kesempatan untuk berkorban demi perubahan yang lebih baik, tentu bukan hal yang berlebihan untuk kutempuh. Meski kecil kemungkinannya untuk berhasil. Seperti situasi saat ini, ketika berhadapan dengan group Fidelity. Bagiku, pilihan ini adalah suatu keharusan, daripada hanya bisa kesal dan merutuk keadaan, tanpa berbuat apapun.
“Jak,” seru Huang. “Keadaan negerimu sekarang, tidak jauh berbeda dengan keadaan Cina di masa rezim komunis Mao dan kelompok empatnya. Bahkan boleh dibilang, keadaan rakyat Cina saat itu lebih buruk dibanding kondisi negeri Anda. Ketika itu, para petani dipaksa bekerja keras untuk memuaskan partai. Sementara semua kehidupan dikontrol ketat oleh pemerintah dengan banyak aturan yang menyulitkan rakyat untuk bergerak bebas.”
“Lantas, apa yang diperbuat rakyat hingga bisa menyadarkan pemerintah untuk berbuat seperti sekarang ini?” tanyaku.
“Prosesnya memang tidak mudah. Tapi budaya kami mengajarkan untuk selalu berjuang melawan kesulitan. Nah, dari sinilah awal munculnya perlawanan atau revolusi rahasia atau silent revolution, di Provinsi Zhejiang. Pada masa sebelum liberalisasi ekonomi, Zhejiang adalah contoh kemampuan pemerintah lokal melawan sistem komunis. Namun perlawanan ini tidak begitu diperhatikan oleh pemerintah pusat karena letak daerahnya yang terlalu jauh, berada di perbatasan Taiwan. Kota ini awalnya tidak dirancang sebagai pusat industri oleh pemerintah pusat. Tapi sebagai pusat pertahanan militer karena berbatasan dengan Taiwan. Hanya selat yang membatasi keduanya. Daerah ini sangat sedikit sekali mendapatkan anggaran dari Pusat dan hampir tidak mungkin menciptakan pertumbuhan. Namun rakyat Zhejiang bangkit dengan modal kemampuan kemandirian. Pembangunan dilakukan oleh masyarakat dengan dukungan pendanaan dari budaya arisan. Kebiasaan masyarakat Cina yang suka berkelompok berdasarkan pertemanan, hobi hidup hemat dan gemar menabung telah menjadikan sistem arisan sebagai amunisi utama menuju kemakmuran.
Ketika sistem arisan ini menunjukkan keberhasilannya, maka patut kita ambil pelajaran. Bahwa mereka pun mampu berbuat jenius, meski tanpa dukungan penasehat keuangan Wall Street dan pengacara di London. Larangan mendapatkan dana dari sistem perbankan telah mendorong terbentuknya sistem perusahaan keluarga kolektif (koperasi). Lalu melobi perusahaan Negara untuk menjadikan mereka sebagai anak angkat. Lewat perjanjian dengan manajemen perusahaan Negara tersebut, koperasi itu akan membungkus dirinya dengan nama, dokumen-dokumen dan nomor rekening di bank, di mana perusahaan Negara itu tercatat sebagai nasabah utama. Kolaborasi tersamar ini berhasil dengan sukses karena didukung jaminan dari sistem arisan, sehingga mampu memperkuat likuiditas bank. 
Langkah ini tidak hanya membuat usaha mereka halal menerima kredit dari bank, tetapi juga membebaskannya dari keharusan membayar pajak. Para petani, melalui sistem pertanian kolektif yang ditetapkan pemerintah juga berhasil mengelabui pemerintah dengan cara yang sama. Tentu cara ini tidak akan berjalan dengan baik tanpa dukungan tidak langsung, baik dari penguasa partai lokal maupun intelektual kaum muda yang tersadarkan oleh ambisi rakyat untuk mandiri. Dukungannya bersifat tidak langsung, karena melawan secara langsung kekuatan pusat adalah tidak mungkin. Maka tidak aneh bila banyak pemimpin usaha kolektif (koperasi) dimotori oleh pejabat partai lokal, gigih memberikan pendidikan untuk semangat kemandirian. Para pemuda lulusan universitas Zhejiang melalui program kebudayaan, secara diam-diam pergi ke penjuru Cina untuk memasarkan produk dan melobi pedagang Hong Kong untuk menjadi perantara mereka masuk ke pasar internasional.
Keberhasilan Zhejiang telah menyadarkan Pemerintah Pusat. Deng menjadikan ini sebagai momentum yang tepat untuk melakukan reformasi ekonomi. Zhejiang pun dijadikan model pembangunan bagi seluruh provinsi. Partai Komunis mulai bersedia memperbaiki kesalahan ideologi radikal pada masa lalu, termasuk kesalahan Mao dan kelompok Empat Maois. Perubahan ini menandakan era kepemimpian yang lebih praktis. 
Di bawah komando Deng, reformasi ekonomi dipantau dari dekat oleh Partai Komunis. Pemberatasan korupsi dilakukan dengan cara praktis dan sistematis sebagai bagian tak terpisahkan dari sistem pengawasan era reformasi. Hasilnya, hampir 40 ribu industri milik Negara yang tidak efisien telah ditutup. Sejak tahun 1996 sampai dengan 2001 sebanyak 53 juta orang yang bekerja di sektor pemerintahan diberhentikan. Jumlah ini sama dengan seperempat penduduk Indonesia.
Kini provinsi Zhejiang telah menjelma menjadi kekuatan ekonomi raksasa yang melahap sebagian besar lahan pertanian menjadi pusat industri bagi segala jenis produk. Di provinsi Zhejiang, 90% usaha dan penyedia infrastruktur seperti tenaga listrik, jalan tol,dan lain-lain, dikelola oleh masyarakat atau swasta. Persentase tertinggi dibanding provinsi lainnya. Dalam perjalanan dari bandara ke pusat kota, terlihat jelas iklan berbagai produk. Mulai dari kamera digital, telepon genggam hingga berbagai alat permesinan. Semuanya adalah produk lokal, tapi begitu diminati oleh pedagang besar dari Eropa dan Amerika. Masyarakat Zhejiang dan hampir semua provinsi di Cina telah menjadi momok menakutkan bagi pencinta paham kapitalis tentang teori penguasaan modal. Teori mereka ternyata berhasil dijungkir-balikkan oleh kekuatan sistem komunitas yang bergerak bagaikan roket. Sebuah kekuatan yang hampir tidak bisa ditemukan dalam teori ekonomi kepitalis, yang menempatkan kekuatan konglomerisasi individu sebagai pendorong pertumbuhan.”
Wu tiba-tiba ikut menimpali, “Pertumbuhan ekonomi yang begitu pesat dan pencapaian kemakmuran di semua kota dan desa sangat mengejutkan kami. Tak pernah terbayangkan sebelumnya. Ini bukanlah hasil kerja dari pemerintah pusat. Semua itu lahir dari antusias masyarakat yang sadar untuk memperjuangkan kehormatan keluarga dan negaranya, berdasarkan cara-cara, tradisi dan budaya yang kami yakini. Bukan dengan meniru cara Amerika, Eropa atau Negara lainnya.”
Aku terpukau. Benarlah apa kata orang bijak: Belajarlah sampai ke Negeri Cina!
“Sepertinya, kami di Indonesia yang terus menerus dilanda kebingungan, tak ada salahnya mempelajari resep kemajuan Cina. Pun tidak perlu malu untuk menjadikan Cina sebagai role model akselerasi pembangunan nasional.”
“Kita akan selalu bersama, tapi bagaimanapun itu tergantung garis politik negeri Anda. Sepertinya mereka masih menganggap komunis adalah ancaman umat beragama. Padahal kami tidak pernah membenci agama. Kami hanya tidak ingin agama ditunggangi untuk kepentingan golongan. Itu saja,” kata Chang mantab. Obrolan asik kami terhenti ketika tiba-tiba teleponku berdering.
“Pak Jaka!” Terdengar suara yang sudah sangat kukenal.
“Ya, John?”
“Maaf, aku terpaksa mundur dari posisi sebagai lawyer Bapak,” suara John terdengar berat.
“Mengapa?”
“Aku tidak mengerti, Pak. Segera setelah seseorang mengancamku, hampir sebagian besar klienku menarik diri. Kelihatannya ancaman dari orang itu benar-benar serius.”
“Apa yang kamu maksud dengan ancaman?”
“Seseorang telah mintaku mengundurkan diri dari posisi sebagai lawyer Bapak.”
“Oh?!” Aku mengerutkan kening. “Baiklah, terima kasih.”
“Maaf, Pak Jaka.”
“Tak apa. Tidak ada masalah. Terima kasih.” Aku menundukkan kepala. Seakan tak mempercayai kabar yang baru kuterima. Tiba-tiba semua menjadi begitu kacau dan rumit.
“Ada apa, Jak?” Lien memegang bahuku.
“Lawyerku mengundurkan diri.”
Mereka semua terkejut. Langkah kami rupanya sudah terlacak Group Fidelity. Langkah strategis yang sudah matang di depan mata, dengan mudah dipatahkan group itu. Memang ini bukanlah perjuangan yang mudah. Group Fidelity tentu dapat melakukan apa saja, termasuk memaksa orang lain untuk menuruti kemauannya.
“Oh, tidak ada masalah. Kita bisa cari lawyer lain, kan?” kata Yu.
“Aku tidak yakin akan ada lawyer lain yang bersedia. Namaku pasti sudah di black-list oleh asosiasi lawyer.”
Kembali mereka semua terdiam. “Untuk sementara, sepertinya tidak ada yang dapat kita lakukan,” kataku pasrah.
“Aku ada ide.” Wu berdiri.
“Apa itu?” kataku.
“Kami akan mencabut mandat. Surat pencabutan ini akan kami sampaikan kepada Global Asset Management dan kepada bank yang terkait dengan transaksi ini. Dengan demikian, kami bisa menunjuk lawyer sendiri untuk mendampingimu,” lanjut Wu.
“Posisimu tetap penentu dalam transaksi ini. Kita akan membentuk sebuah Private Investment Company yang terdaftar di Delaware, US sebagai mandataris. Di dalam perusahan itu, kamu akan bertindak sebagai chairman,” sambung Lien.
“Tapi sebaiknya, Jaka tidak tercatat dalam kepemilikan saham atau jabatan apapun di perusahaan itu. Mulai saat ini mereka harus tahu bahwa team kita yang akan bergerak untuk menghadapi mereka secara langsung. Kita tidak bisa terus-terusan bersembunyi di balik layar,” saran Huang berapi-api.
“Baiklah, kalau itu yang kalian mau.” Aku menatap mereka satu persatu, “Kalianlah pemiliknya dan kalian juga yang menentukan.”
“Jaka, kamu akan tetap jadi penentu dalam transaksi ini. Karena kamu adalah orang yang terpilih. Kami yakini sepenuhnya, bahwa Anda-lah yang bisa menyelesaikan decade asset ini,” kata Lien.
Mereka tersenyum dan mengangguk kepadaku. Sekarang aku sadar,  bahwa keberadaanku dalam decade asset ini telah menampakkan posisi yang sebenarnya. Yaitu sebagai pemegang kunci gerbang penguasaan aset dari sebuah sistem yang belum pernah dapat ditembus. 
Aku teringat kode yang dulu kucatat saat melihat harta itu di dalam gudang penyimpanan. Tapi, itu kan hanya di dunia mimpi. Apakah wajar berharap kebenaran dari sebuah mimpi untuk menghadapi masalah di dunia nyata? 
Tapi pertemuanku dengan orang tua di Hobey, dan foto Darsa yang bersanding erat dengan orang tua itu, telah membuatku yakin. Bahwa kode itu berasal dari kekuatan dunia lain. Sebagai orang beragama, harus mempercayai ini. Hal ghaib adalah hal utama yang harus dipercayai umat islam. 
Begitupula dengan team Chang. Walaupun sampai kini mereka tidak mengetahui posisiku sebagai pemilik acces code, namun sikap mereka yang patuh dengan budaya takdir di balik kata, ‘orang terpilih’, sudah cukup menjadi bukti. Bahwa ada suatu kekuatan yang ada padaku. 
Itulah mengapa, aku masih ditempatkan sebagai penentu dari semua upaya yang mereka lakukan untuk menguasai decade asset. Bagaimanapun, aku hanya memilih mengikuti takdir yang sesungguhnya sudah diatur oleh sang Maha Kuasa.
“Beijing harus mengetahui strategi kita ini,” kata Chang. “Sebaiknya besok kita segera terbang ke Beijing.”
“Tapi tidak akan cepat prosesnya. Beijing sangat birokratis,” sambung Huang.
“Kalau begitu, aku akan kembali ke rumah dan menunggu kabar selanjutnya dari kalian,” kataku.
“Sebaiknya kamu tetap di Hong Kong, Jak. Kami akan sediakan fasilitas di sana. Itu lebih aman bagimu,” saran Chang.
“Ya. Kupikir, itu juga lebih baik,” kata Lien menimpali.


1 komentar:

  1. gak terasa , nangis baca cerita orang cina memajukan rakyatnya ........

    mewek aku pak ..............terima kasih

    BalasHapus