Sabtu, 26 November 2016

SDA dan ancaman konflik global


Jangan di kira berkah Tuhan akan SDA adalah rezeki yang mudah di manfaatkan untuk mencapai kemakmuran. Setiap Tuhan memberi sumber rezeki maka Tuhan juga melengkapinya dengan cobaan. Cobaan itu bukan hanya harus bekerja keras tapi bagaimana menahan serangan dari predator luar yang ingin juga memafaatkan sumber daya yang ada itu.Banyak negara berkembang yang punya SDA pada akhirnya SDA itu menjadi sebuah kutukan seperti  apa yang di sampaikan oleh Richard Auty dalam tesisnya " kutukan sumber daya" di tahun 1993, Beberapa penelitian, termasuk oleh Jeffrey Sachs dan Andrew Warner, telah memperlihatkan hubungan antara keberlimpahan sumber daya alam dengan lambatnya pertumbuhan ekonomi negara pemilik SDA. Tantangan geopolitik global saat ini bukan lagi bermotif ideologi, agama, atau penguasaan teritori. Tetapi berganti menjadi sumber daya alam, seperti makanan, energi, dan air. Penduduk bumi yang kini mencapai 6,6 miliar dan masih akan terus bertambah, sehingga memerlukan sumber kehidupan. Apa yang di sebut food, energi, water (FEW) security, ini sangat penting, jjika dunia gagal mengatasi dan mengelola kemungkinan terjadinya benturan kepentingan dalam pencarian penguasaan FEW bisa menyulut konflik baru di tingkat global

SURIAH

Apabila rezim Bashar Al Asaad di suriah jatuh dan digantikan oleh kelonpok oposisi, apa yang akan terjadi ? Tanya saya. Sentimen soal Sunni dan Syiah itu hanyalah omong kosong. Perjuangan tegaknya syariah islam, itu juga omong kosong. Itu semua hanya alat propaganda politik untuk  dukungan kepada pro demokrasi menjatuhkan Bashar. Yang pasti bahwa bIla Bashar jatuh maka kebijakan politik Suriah terhadap LIbanon juga akan berubah. Begitupula kebijakan terhadap Palestina juga akan berubah. Perubahan ini pasti menguntungkan AS dan Israel. Demikian kata teman saya ketika saya berkunjung ke Dubai tahun 2013. Mengapa ? 

Semua tahu bahwa letak geographis Suriah  dengan Turki di sebelah utara, Irak di Timur, Laut Tengah di Barat dan Yordania di selatan, ini sangat strategis untuk jalur lintas perdagangannya minyak. China dan Rusia tidak ingin karena perubahan itu hegemoninya hilang di wilayah ini. Apabila Bashar jatuh maka control China dan Rusia terhadap Suriah dan kemudian Libanon  akan hilang. Tentu apapun akan dipertaruhkan oleh China dan Rusia melindungi Bashar. Harap maklum bahwa Rusia dan China adalah termasuk konsumen MIGAS terbesar didunia setelah AS. Jadi sebenarnya ini soal minyak, Ini menyangkuat resource oil and gas yang sangat penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, demikian tutur teman saya yang pernah terlibat dalam pembiayaan  project migas di Arab.

Kemudian ketika saya bertemu dengan teman yang terlibat dalam business fund provider untuk minyak, sedikit tersibak pengetahuan saya soal konplik suriah ini. Dia bertanya, tahukah anda apa itu Basin Levant? itu adalah wilayah yang berada di Estern Mediteranian yang mencakup pesisir Israel, Suriah, Lebanon, Ciprus dan Palestina, mengandung sekitar 122 trilun kaki kubik gas dengan deposit minyak 1,7 miliar barel. Atas dasar itulah maka Pemerintah Israel bersama AS telah punya agenda jangka panjang untuk membangun terminal terapung gas alam cair yang dilengkapi system pertahanan udara dan dukungan angkatan laut. 

Tapi rencana itu tidak semudah membalik telapak tangan. Karena berdasarkan Konvensi PBB tentang Hukum Laut, Palestina, Lebanon dan Suriah semua berhak untuk mengeksplorasi dan menyuling minyak dan gas di zona masing-masing. Tanpa izin dari salah satu Negara itu maka agenda Israel akan kandas secara hokum. Itu sebabnya dengan memanfaatkan Arab spring , Israel bersama AS melalui Task Force Center ( USCENTCOM) di Qatar dan Bahrain melakukan operasi intelligent yang didukung oleh Mossad dan CIA untuk menjatuhkan Bashar al-assad dan menggantikannya dengan rezim yang akan menjadi boneka AS seperti Negara teluk lainnya.

Sampai kini konflik suriah tak kunjung selesai dan Bashar tetap bertahan. Mengapa ? Menurutnya yang membuat keadaan Suriah berlarut larut karena operasi menjatuhkan Bashar al-assad tidak dilakukan secara langsung seperti menjatuhkan Sadam dan Khadafi tapi melalui “ perantara “ dibawah kendali operasi intelligent. Mengapa tidak langsung ? karena pihak China dan Rusia tidak mau lagi diajak beraliansi di PBB untuk melegitimasi serangan langsung. Maklum sebelumnya China dan Rusia dibohongi oleh AS dan Barat ketika menjatuhkan Sadam dan Khadapi. Bagi bagi tidak adil. AS dan Barat mendapatkan lebih, sementara China dan Rusia mendapatkan sedikit. 

Karenanya AS dan Israel menggunakan kekuatan oposisi dalam negeri untuk melakukan pressure kepada pemerintah Suriah dan ketika konplik terjadi, pihak AS dan Israel menggunakan jalur swasta untuk membiayai operasi intelligent menciptakan chaos agar Bashar jatuh. Menurutnya ada sebuah perusahaan bernama XE Service LL mendapatkan dana dari perusahaan offshore company yang merupakan holding company dari berbagai perusahaan minyak yang beroperasi di Timur Tengah. Dana inilah yang di pakai untuk melatih tentara bayaran, mengirim senjata, biaya propaganda, dan lain sebagainya. Ini operasi intelligent yang rumit karena melibatkan network AS /Israel dari Turki, Irak, Afganishtan, Yordan, Arab Saudi, Qatar dll.

Mengapa operasi ini tidak efektif ? tanya saya. Secara keseluruhan efektif namun menjadi rusak karena tentara bayaran menggunakan seragam resmi tentara Bashar untuk melakukan penculikan, terror dan pembunuhan kepada rakyat sipil. Awalnya ini berhasil efektif menjatuhkan citra tentara sekaligus Pemerintahan Bashar dimata internatioanl. Namun berkat operasi kontra intelligent yang dilakukan iran dan Suriah berhasil menangkap ratusan tentara bayaran dan sebagian lainnya terbunuh dalam operasi penggerebekan. Dari merekalah terungkap pengakuan tentang operasi Xe untuk menjatuhkan rezim Bashar. Sebetulnya ini sudah lebih dulu diketahui oleh Jurnalis Barat seperti CNN namun dengan tertangkapnya pemberontak itu semakin memperkuat indikasi bahwa AS ada di balik pemberontakan dan teror.

Jadi apa yang menyebabkan masalah Suriah tidak pernah selesai sampai kini karena kepentingan asing begitu besarnya untuk mengontrol Suriah. Amerika punya agenda. China bersama Rusia punya agenda. Pergolakan di Suriah adalah repliksi perang antara Rusia ( bersama China ) dan AS ( bersama Barat) dengan agenda yang sama yaitu, bisnis minyak dan gas. Ini semua menyangkut dana triliunan dollar yang dipertaruhkan. 

Keberadaan Israel bersama Liga Arab dan Iran bersama rezim Bashar hanyalah pion dari dua group raksasa dalam perebutan konsesi minyak. Lantas dimana Rakyat suriah? Tidak ada!. Makanya saatnya persatuan umat islam tampil untuk menyelesaikan masalah ini dengan jujur untuk kepentingan rakyat Suriah. Tidak ada LIga Arab, tidak ada Iran, tidak ada AS, tidak ada China, tidak ada Rusia, tidak ada Sunni, tIdak ada syiah. Yang ada hanya rakyat suriah dan Islam… 

MYANMAR.

Ketika bertemu dengan teman di Hong Kong yang punya business di Myanmar, menurutnya masalah etnis Rohingya di Burma adalah masalah lama yang tak pernah tuntas  di selesaikan oleh sejarah. Tapi konplik yang kini terjadi adalah akibat dari pertarungan kepentingan politik Negara besar yang ingin menguasai Myanmar secara tidak langsung. Apa pasal? Menurutnya Myanmar memang dikenal sebagai Negara kaya SDA, meliputi emas, berlian dan migas. Terutama ketika tahun  2004 di temukan gas bumi di  Shwe (emas) Blok A1-Teluk Bengal. Prakiraan deposit gas mencapai 5,6 triliun kubik yang tidak akan habis di eksploitasi hingga 30  tahun, maka semenjak itulah bentangan pantai sepanjang 1.500 km antara Teluk Bengal - batas laut Andaman, Thailand menjadi incaran Negara Negara seperti  Cina, Jepang, India, Perancis, Singapura, Malaysia, Thailand, Korsel dan Rusia. Negara Negara terserbut bertarung mendapatkan konsesi untuk eksplorasi serta eksploitasi kecuali AS agak belakangan melalui  Chevron (AS) dan Total, Perancis.

Tapi menurut teman saya, yang paling  agresip menguasai Myanmar adalah China dan kemudian Rusia. Kedua Negara ini bukan hanya menguasai konsesi minyak dan gas tapi juga terlibat aktif memberikan bantuan peralatan militer kepada junta militer di Myamar, juga memberikan bantuan dana tidak sedikit untuk pembangunan insfrastruktur ekonomi. Saat kini china sedang berambisi menyelesaikan pembangunan pipa minyak sepanjang 2.300 km dari pelabuhan Sittwe, Teluk Bengal sampai Kunming, Cina Selatan. Depat dibayangkan cengkaram China akan Myanmar sangat kuat. Bila project ini selesai maka niscaya seluruh impor minyak dari Timur Tengah dan Afrika cukup di pompa melalui Sittwe ke salah satu kilangnya di Kunming. Apabila proyek itu selesai maka geopolitik di Asia Tenggara bakal berubah, terutama dalam hal distribusi minyak. Ibarat memangkas jarak pelayaran sejauh 1.820 mil laut ,  bahkan lebih dari sekedar memangkas jarak, modal transportasi import minyak Cina dalam jalur sangat aman dan lebih murah.

Amerika dan Barat memang hanya peserta pasif ditengah hegemoni China dan Rusia  terhadap Myanmar namun bukan berarti AS dan Barat berikhlas hati terhadap itu semua. AS dan Barat paham betul bahwa ada saatnya mereka bergerak untuk menjadi pemenang. Kesalahan paling besar bagi Rusia dan China yang punya akses kepada Junta Militer Myanmar adalah gagal meyakinkan pemerintah Myanmar untuk menyelesaikan masalah Rohingya. Padahal ini potensi konplik terpendam yang mudah di ledakan oleh siapapun yang tidak menginginkan stabilitas di Myanmar. 

Memang etnis Rohingya tidak pernah di akui sebagai bagian dari Burma. Tidak seperti etnis Bamar, Karken, Kayah, Chin, Arakan (disebut Rakhine), Mon, Kachin yang mendapatkan hak layaknya warga Negara syah. Mengapa sampai etnis Rohingya tidak diakui. Menurutnya ini karena factor sejarah yang menimbulkan dendam berkepanjangan. Bermula ketika pada tahun 1658, akibat konflik internal di Kekaisaran Mogul, pada 7 feb 1661 pangeran India Shah Shuja datang berlindung ke Arakan tapi dia dibunuh oleh raja yang beragama islam . Akibatnya terjadi perang saudara di Arakan antara etnis Rohingya yang beragama islam dengan Arakan budha. Perang berkelanjutan ini membuat Arakan lemah dan akhirnya direbut oleh Raja Burma. Padahal sebelumnya Raja  Burma pernah  dikalahkan oleh Arakan ketika dipimpin oleh Suleiman Shah dari etnis Rohingya  yang mendapat dukungan dari Sultan Bengal, Nasiruddin Shah.

AS dan Barat paham sekali akan factor sejarah yang menyimpan potensi konplik itu. Ketika inggris keluar dari Birma dan membiarkan birma merdeka,  memang sengaja menanamkan bomb waktu ke Burma dengan membiarkan Arakan masuk bagian Burma yang mereka tahu bahwa Arakan tak ingin menjadi bagian dari Burma.  Maka bisa di tebak keributan dan kekacauan di Arakan dengan korban etnis Rohingya tidaklah datang dengan sendirinya. Kejadian itu hasil sebuah grand design dengan scenario yang hebat.

Bermula dari masalah krimininal biasa dimana etnis Rohingya memperkosa wanita Arakan Budha, yang memancing kerusuhan besar. Sebentar bisa di redamkan namun berikutnya muncul lagi keributan kecil  dari Arakan Budha kepada etnis Rohingya dan benturan terjadi lagi. Begitu seterusnya. Keadaan ini membuat Junta Militer di Myanmar menjadi bertindak keras untuk menjaga stabilitas. Kekerasan pemerintah kepada komunitas Arakan bukan hanya kepada Rohingya yang muslim tapi juga kepada Arakan Budha. Disamping itu memang Arakan tidak pernah berikhlas hati menerima kekuasaan Junta Militer. Konplik ini akan digiring menjadi issue international. 

BIla kekacauan ini terus terjadi dan perhatian dunia terarah penuh kepada Myanmar khususnya korban kemanusiaan atas Etnis Rohingya maka seperti biasanya akan mengundang turut campur PBB dengan mengirim pasukan perdamaian untuk menentukan nasip Arakan. Bila ini terjadi maka akan membuat Pemerintahan junta Militer tersudut untuk duduk dalam meja perundingan. Senjata demokrasi akan dipakai oleh AS dan sebagaimana biasanya AS akan muncul sebagai pemenang mengontrol Myanmar , mengontrol asia tenggara.  Bila scenario tersebut diatas terjadi maka saat itulah kontrak konsesi minyak yang sudah ditanda tangani Junta Militer Myanmar akan dievaluasi ulang. Uncle Sum akan mendapatkan porsi paling besar tanpa harus berkorban banyak seperti China dan Rusia.  

Apa yang terjadi di Myanmar bukanlah masalah besar. Ini masalah dalam negeri Myanmar sendiri. Kalaupun ada pergolakan dan penolakan rezim yang berkuasa sekarang maka jumlahnya tidaklah mencerminkan mayoritas rakyat Myanmar. Saya pernah berkunjung ke Yangon dari Yunan. Kehidupan rakyat disana nampak biasa biasa saja. Kebutuhan pokok terjamin dan infrastructure ekonomi dibangun dengan systematis dibawah dukungan China. Memang kebebasan seperti kehidupan masyarakat materialistis seperti di negara demokrasi lainnya , tidak nampak. Pemerintah memang mengontrol kehidupan masyarakat sesuai dengan donkrit politik mereka yang sadar dengan ancaman pengaruh dari luar. Apapun paham yang dapat membuat Myanmar terpecah sebagai negara berdaulat akan berhadapan dengan tangan besi pemerintah.

Kalaupun kini Myanmar lebih memilih China, India sebagai mitranya dan menapik AS ( Barat ) maka itupun harus dihormati. Karena AS dengan pro demokrasinya pun tidak bisa menjamin kehidupan rakyat akan lebih baik setelah penguasa otoriter dijatuhkan. Seyogianya, membiarkan rakyat Myanmar menjalani kehidupannya sesuai dengan pilihannya adalah lebih bijak daripada terus menekan penguasa disana, yang justru menambah persoalan bertanbah rumit dan akhirnya rakyat Myanmar juga yang akan menderita. Seperti arogansi AS yang membekukan dana pemerintah junta militer di luar negeri. Anehnya, AS tidak melakukan hal yang sama kepada penguasa Israel yang menyerbu pendudukan Palestina. Yang pasti Myanmar tidak sendiri melawan arogansi AS, disampingnya ada Iran, Sudan dan Korea Utara, yang selalu tampil gagah berani demi kehormatan bangsanya.

Yang harus di ketahui oleh Rakyat Myanmar bahwa pandai pandailah memanfaatkan komplik yang kini terbentuk diantara dua kekuatan raksasa , China dan AS. Kedua negara besar ini, tidak pernah tulus untuk membuat kemakmuran bagi bangsa Myanmar. Kedua duanya mempunya kepentingan ekonomi untuk menjadikan Myanmar sebagai resource bagi kelangsungan pertumbuhan ekonomi mereka. Kekuatan dalam negeri harus terus di bangun sambil mendidik rakyat untuk cerdas menyikapi setiap pengaruh asing yang masuk. Kemudian secara gradual membuka katup kehidupan politik lebih terbuka, sebagaimana yang dilakukan china kini setelah berhasil dengan reformasi ekonominya.

AS dan China atau lainnya tidak bisa memaksakan kehendak seperti apa yang mereka mau untuk rakyat Myanmar. Rakyat Myanmar lebih tahu , mau di bawa kemana negerinya. Memprovokasi mereka tentang pro demokrasi atau lainnya, tidak akan membantu mereka. Semoga Myanmar dapat belajar dari suriah..

***
Semoga ini tidak pernah terjadi di Indonesia. Saya katakan semoga karena Indonesia kaya akan SDA terutama wilayah yang strategis yang menyimpan kekayaan luar biasa untuk pangan dan energy. Kita harus sadar bahwa kita setiap saat terancam akan di suriahkan oleh kekuatan asing dengan memanfaatkan potensi konplik di Indonesia , yaitu perbedaan agama, mahzab dan golongan. Segala macam cara pihak asing akan berusaha menggoyang persatuan dan kesatuan ini dengan memanfaatkan kebebasan media massa dalam sistem demokrasi. Berbeda dengan Myanmar dengan sistem junta militer sehingga sulit pihak asing memprovokasi terjadinya kekacauan. Di Indonesia , agitasi yang melemahkan reputasi pemerintah akan terus di lakukan oleh Proxy asing yang berlabelkan HAM, agama dan lainnya , agar integritas pemerintah jatuh sehingga lemah untuk terjadi benturan horizontal antar anak bangsa. Akhirnya setelah konplik terjadi dengan korban tak terbilang, pihak asing akan masuk atas nama Dewan Keamanan PBB , dan leluasa menempatkan pion nya sebagai penguasa untuk menjalankan agendanya. 

Ingatlah, saudaraku...Kita akan kuat selagi kita bersatu dan berdamai dengan kenyataan tanpa bisa di adu domba karena kita bukan hanya bisa melupakan perbedaan tapi karena kita mampu saling memaafkan. Perbedaan bagi kita adalah kekuatan untuk membangun peradaban. Bukan malah menjadi sumber potensi konplik. Ingat bahwa 350 tahun kita bisa di jajah oleh Belanda karena kita tidak bisa bersatu. Ketika persatuan terbentuk kita menjadi pemenang dalam perang kolosal dengan asing. BIla sikap persatuan dan kesatuan ini terus kita galang maka kedepan apapun upaya asing mengobok ngobok kita melalui proxy nya yang ada di dalam negeri,  akan kita lawan atau setidaknya kita tidak tanggapi segala upaya provokasi yang menimbulkan perpecahan...Indonesia adalah rumah kita untuk kini dan besok, kita semua harus menjaganya...pahamkan sayang..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar