Jumat, 11 November 2016

Salahkah saya memilih Ahok..?


Ada inbox masuk ke saya dari seseorang. Saya tak perlu sebutkan namanya karena dia menyampaikan melalui jaringan pribadi. Saya tidak perlu minta izin kalau tulisannya akan saya muat dalam blog ini. Karena dia sendiri sudah menyampaikan “ Bapak silahkan muat di blog atau fb tapi jangan sebut nama saya.” Dia hanya ingin sekedar saya tahu bagaimana sikapnya. Apakah saya salah , pak ? Katanya di akhir tulisannya. 

Pak..
Saya seorang Pria. Terlahir dari keluarga sederhana. Kedua orang tua tidak sarjana. Mereka orang biasa saja. Namun lima orang kami bersaudara semua sarjana. Hidup kami semua mapan. Tiga orang jadi pengusaha , dua jadi pegawai swasta. Kami dari keluarga muslim. Sedari kecil kami di didik dengan agama. Kelima kami sudah khatam Al Quran dalam usia 6 tahun. Usia 7 tahun kami sudah membiasakan sholat dan di awasi ketat oleh kedua oran tua kami. Ketika masuk bulan ramadhan dari usia enam tahun kami sudah di didik berpuasa secara penuh. Ibu saya selalu menasehati kepada para putrinya “ Kalau ada pria yang mencintai mu, pastikan kamu seiman dengannya. Soal kaya, atau titel tidak penting. Yang penting kamu tahu dia berakhlak baik dan mau bekerja keras sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai suami.” 

Ayah saya menasehati kami agar niatkan pergi haji bila kelak kami bisa mandiri. Usahakan pergi haji sebelum kalian menua. Alhamdulilah, kami semua sudah pergi haji. Kedua orang tua kami sudah diatas usia 80 tahun. Namun mereka tetap sehat walau sudah sepuh. Mereka tetap tinggal di rumah di mana kami pernah tinggal di besarkan oleh mereka dengan cinta. Kami lima bersaudara bergantian menjaga kedua orang tua kami dan juga menanggung kebutuhan hidup orang tua kami.  Ilmu agama kami tidak luas. Karena waktu kami lebih banyak di sibukan dalam keseharian. Jarang sekali kami menghadiri majelis taklim. Jarang sekali kami menghadari ceramah mingguan di masjid. Jangan tanya kepada kami apa itu surat Al Maidah 51 atau apalah.  Kami tidak paham. Kalaupun di jelaskan, tetap terlalu jauh dari jangkauan kami.

Pak, kami tidak tahu apakah kami pantas masuk sorga atau menuju neraka bila kami bersikap terhadap Ahok. Yang pasti pilihan kami sudah tetap kepada Ahok. Karena kami di besarkan di Ibu Kota. Dari kecil sampai kini usia diatas 40 tahun, kami sebagai saksi tentang geliat pembangunan di Jakarta. Jadi kami bisa tahu pasti perbedaannya sejak Gubernurnya Ahok. Dalam waktu singkat dia menjabat sebagai Gubernur , banyak yang telah di lakukannya yang tak pernah terpikirkan apalagi di kerjakan oleh gubernur sebelumnya. Mengapa dia harus di hentikan hanya karena dia mengucapkan " sesuatu dengan niat baik " sebagai response atas retorika lawan politiknya yang melarang orang muslim memilih pemimpin non muslim.? Mengapa? 

Kedua orang tua saya menasehati kami bahwa " tidak perlu terlalu di pikirkan pendapat orang tentang Tafsir Al quran. Itu terlalu rumit kamu pahami. Tapi tanyalah hatimu. Kemudian bersikaplah sesuai kata hatimu. Karena di dalam hatimulah Tuhan itu ada. DIA akan meniupkan kebenaran untuk kamu patuhi. Bagaimana dengan pendapat MUI bahwa Ahok telah menistakan Agama dan wajib  di hukum ? tanya saya. Ayah saya mengatakan, bahwa " semua orang bisa saja salah. Tidak ada manusia yang sempurna. Maafkan dan lupakan. Sebagai warga negara Ahok akan menghadapi proses hukum. Doakan saja hal yang baik untuk Ahok. Yakinlah yang tahu hati kecil Ahok hanya Allah. Kalau dia benar maka Allah akan menolongnya. Hanya Allah sebaik baik penolong." 

Benarkah itu ? Saya percaya sama orang tua saya daripada orang orang di luar sana yang piawai merangkai dalil AL Quran dan hadith, yang ketulusannya masih di pertanyakan. Sementara saya mengenal iman dan agama dari kedua orang tua saya. Dari cinta dan ketulusan mereka mendidik saya, hidayah datang kepada saya. Orang bilang saya islam KTP, biarlah. Yang jelas yang tahu niat kami beragama hanya Allah. Cukuplah Allah sebaik baiknya penilai.

Saya tahu begitu banyak ajakan teman untuk ikut tausiah.  Namun saya lebih memilih beragama secara sederhana saja. Sholat tepat waktu, puasa senin kemis, berzakat, pergi haji. Hanya itu yang saya pahami dalam beragama. Selebihnya, biarlah saya melangkah dengan keyakinan saya sebagai ayah, suami, anak dan anggota masyarakat. Sebagai suami saya harus bekerja keras mendapatkan rezeki halal untuk menafkahi anak istri,  merawat kedua orang tua saya dengan cinta, dan mendermakan sebagian harta saya , membantu saudara jauh yang miskin untuk mendapatkan kesempatan pendidikan dan terlindungi dari kemiskinan karena yatim. Itu aja.

Di tengah hujatan terhadap Ahok, hati saya semakin kokoh untuk menetapkan pilhan kepada Ahok. Kata orang dengan memilih ahok sama saja menentang Al Quran dan itu neraka! Pak, kalau membenci Ahok dan menghukumnya, hadiahnya sorga maka sebaiknya saya tidak perlu sorga. Saya hanya merindukan Tuhan yang Maha Pengurus , pengasih Penyayang. Saya hanya merindukan Allah tanpa berharap sorga atau neraka. Di manapun Allah ridho menempatkan saya, itulah sebaik baiknya untuk saya. Apakah saya salah ? 

***
Saya membalas inbox nya dengan menegaskan bahwa kamu tidak salah. Tahukah kamu Dik, bahwa nikmat yang luar biasa yang di berikan ALlah kepada manusia adalah kemudahan dalam melaksanakan Agama ( QS. Al-Baqarah 185). Rukun islam itu hanya lima saja. Tak banyak. Gampang kan. Kamu telah melaksanakan rukun islam dengan menyempurnakannya pergi haji. Kamu juga tidak menganggap penghasilan semua untuk keluargamu, tapi kamu utamakan kedua orang tuamu, dan kamu dermakan juga sebagian penghasilanmu untuk mereka yang tidak mampu, dan itu kamu utamakan mereka yang dekat denganmu. Itu sudah tepat. Saya yakin semua itu kamu lakukan dengan ikhlas karena ke-imanan mu sesuai rukun Iman yang hanya enam saja.

Soal Surat Al Maidah sesuai himbauan MUI, sikapmu juga sudah benar, bahwa kamu sebaiknya tanyakan kepada hatimu. Tahukah kamu Rasul pernah bersabda “..Minta fatwalah kepada hatimu dan mintalah fatwa kepada dirimu. Kebajikan adalah apa yang menjadikan jiwa dan hati merasa tenang, sedangkan dosa adalah apa yang terombang-ambing di dalam jiwa dan dada meskipun orang-orang memberimu fatwa.” (HR Ahmad). Beragamalah dengan nyaman Dik, berbuatlah apa saja yang membuat hatimu tenang sebagaimana hadith “ Saya pernah bertanya kepada Rasulullah saw tentang kebajikan dan dosa, lalu beliau (Rasul saw) menjawab; “ Kebajikan itu adalah akhlak yang mulia dan dosa itu adalah apa yang bertengger di dadamu sementara kamu tidak senang  orang-orang mengetahuinya.”” (HR Muslim). Kalau karena ada orang menggunakan tafsir untuk membenci dengan nafsunya maka menghindarlah. Karena pikiran yang buruk apapun dalihnya, bukan akhlak yang mulia, Dik

Doa saya untukmu saudaraku. Mari kita tundukan hati dengan khusu hanya karena Allah dan saling mendoakan agar terhindar dari aklak buruk karena beragama dengan nafsu…

7 komentar:

  1. Paragraph 2 baris 12-13 djelaskn mereka semua anak perempuan...lalu knp brubah mnjadi suami atau lelaki??

    BalasHapus
    Balasan
    1. anak dari org tua penulis ada yang pria dan wanita

      Hapus
    2. Baca donk, Sy seorang pria

      Hapus
  2. Kalau soal msk surga atau tdk msk surga itu semua otoritas Tuhan. Kalaulah bisa seorg manusia atau manusia lain yg menentukan kita bisa msk surga atau tdk msk surga,untuk apa kita ber Tuhan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  3. Kalau soal msk surga atau tdk msk surga itu semua otoritas Tuhan. Kalaulah bisa seorg manusia atau manusia lain yg menentukan kita bisa msk surga atau tdk msk surga,untuk apa kita ber Tuhan.

    BalasHapus
  4. sepakat. Ahok bicaradi Kepulauan Seribu...tidak menuduh ulama....tapi justru ke para pesaing politiknya yg gunakan ayat sbg senajata melawan Ahok yg Non Islam. kalau AHok Hindu atau Budha ...pake ayat yg mana? Kan hanya politikusygkampanye.... Kan gak boleh kampanye di tepat2 ibadah...seperti ulama berceramah...

    BalasHapus