Rabu, 02 November 2016

Kemuliaan Islam...



Ketika di luar negeri ,di sebua hotel bintang 5,  ada tiga orang pria berbaju gamis dan berjanggut menanti di depan pintu lift. Ketika pintu lift terbuka, teman saya menahan saya untuk tidak masuk sama sama mereka dalam satu lift. 
“ Mengapa kita engga masuk dalam lift “ tanya saya bingung.
“ Saya terlalu tua untuk menghadapi hal yang tak terduga.”
“ Maksud kamu ?
“ Wajah mereka mengingatkan saya tentang pelaku teror, pasukan jihad”
“ Menurut tafsir Jihad bukan kekerasan, seperti pikiran kamu”
“Tapi kenyataanya orang lain  berkata jihad itulah yang membenarkan bila orang yang di anggap kafir atau murtad di bunuh. Tiap tafsir bisa dibantah tafsir lain. Kepada siapa saya bisa minta kata akhir tentang apa sebenarnya yang diperintahkan agama?

Saya terdiam...

Jarak antara kekerasan dan sikap yang tak mengizinkan perbedaan hanya terbentang beberapa senti—seperti terbukti dalam sejarah ketika dalil yang absolut dipergunakan dalam bertikai. Kita tahu, riwayat agama-agama tak bersih dari darah dan kebengisan. Tentu saja tak hanya agama: yang brutal terjadi tiap kali doktrin tergoda jadi totaliter, ketika ajaran di jejalkan ke segala pojok hidup dan lubuk jiwa, ketika para ahli agama—sebagaimana kaum ideolog—merasa diri jadi penyambung lidah Yang Maha Sempurna. Yang sering di abaikan ialah bahwa tiap godaan totaliter, yang bermula dari bayangan tentang kesempurnaan, selalu berakhir sia-sia. Bayangan tentang ”yang sempurna” ini hanyalah fantasi tentang utopis, pada hakikatnya lahir dan tumbuh dari rasa risau tentang dunia yang apa boleh buat cacat. Ketika yang cacat tak kunjung dapat di hilangkan, doktrin pun membentuk diri dengan menciptakan apa saja yang harus di kutuk dan akhirnya di binasakan: si ”bejat moral”, si ”fasik”, si ”murtad”, si ”kafir”, si ”revisionis”, ”si komunis”, ”si liberalis”….

"Fundamentalisme agama lebih berbahaya… sebab ia tak berbentuk, dan bergerak ke banyak arah. Fundamentalisme memperoleh pengikut di tempat yang paling tak terduga. Ia menyatakan diri dalam bentuk yang acak dan sangat massive. Dengan secuil firman Allah, benci bisa jadi advertensi dahsyat. Jika kamu teriakkan rasa muak, geram, dan tak sabar kamu kepada sekelompok manusia, dengan teriakan yang cukup keras, kamu akan menarik perhatian orang ramai. Kamu bahkan akan dapat dukungan. Sejarah juga mencatat, mereka itu mengisolasi diri, menjadikan dirinya tak kelihatan, merawat khayal atau phantasma-nya, menyimpan tenaga, dan menanti sampai saatnya datang. Sehingga akan ada selalu orang-orang yang menjadikan nafsunya sebagai dasar mentafsirkan firman Tuhan untuk menjadi pemicu bahwa kekerasan dengan pemaksaan kehendak itu di benarkan. Mereka adalah sampah dari peradaban manusia yang menjunjung tinggi kemanusiaan yang seharusnya cinta dan kasih sayang sebagai tautnya dengan Tuhan." Kata teman

" Mengapa ?

“ Mereka tak melihat hidupnya berharga, dan tak memandang hidup orang lain berharga pula. Maka ketika saat itu tiba dan ia menggebrak, ia siap membinasakan orang lain. Mereka punya agama yang cukup untuk membuat mereka membenci, tapi tak cukup untuk membuat mereka mencintai” Katanya.

Saya terdiam...

Saya teringat sejarah. Saat kejatuhan Usman bin Affan, khalifah ke-3. Sahabat Rasul yang di angkat ke kedudukan pemimpin umat pada tahun 644 itu–melalui sebuah musyawarah terbatas antara lima orang–berakhir kekuasaannya 12 tahun kemudian. Ia dibunuh. Para pembunuhnya bukan orang Majusi, bukan pula orang yang murtad, tapi orang Islam sendiri yang bersepakat memberontak. Mereka tak sekadar membunuh Usman. Menurut sejarawan al-Thabari, jenazahnya terpaksa “bertahan dua malam karena tidak dapat dikuburkan”. Ketika mayat itu disemayamkan, tak ada orang yang bersembahyang untuknya. Siapa saja dilarang menyalatinya. Jasad orang tua berumur 83 itu bahkan diludahi dan salah satu persendiannya di patahkan. Karena tak dapat di kuburkan di pemakaman Islam, khalifah ke-3 itu dimakamkan di Hisy Kaukab, wilayah pekuburan Yahudi.

Tak di ketahui dengan pasti mengapa semua kekejian itu terjadi kepada seseorang yang oleh Nabi sendiri telah dijamin akan masuk surga. Dalam kitab al-Tabaqãt al-Kubrã karya sejarah Ibnu Sa’ad, yang menyebutkan satu data yang menarik: khalif itu agaknya bukan seorang yang bebas dari keserakahan. Tatkala Usman terbunuh, dalam brankasnya terdapat 30.500.000 dirham dan 100.000 dinar. Kaum “Islamis” tak pernah menyebut peristiwa penting itu, tentu. Dan tentu saja mereka tak hendak mengakui bahwa tindakan berdarah terhadap Usman itu menunjukkan ada yang kurang dalam hukum Islam: tak ada pegangan yang mengatur cara mencegah seorang pemimpin agar tak menyeleweng dan bagaimana pergantian kekuasaan dilakukan.

Ketika Usman tak hendak turun dari takhta , ia mengatakan, “Demi Allah, aku tidak akan melepas baju yang telah disematkan Allah kepadaku!”, orang-orang Islam di bawahnya pun menemui jalan buntu. Sebagaimana di sebut dalam Kebenaran Yang Hilang, para pemuka Islam waktu itu mencari-cari contoh dari masa lalu bagaimana memecahkan soal suksesi. Mereka gagal. “Mereka juga mencari kaidah dalam Islam…tapi mereka tak menemukannya,”. Maka perkara jadi runcing dan mereka mengepung Usman–lalu membunuhnya, lalu menistanya.

Tampak, ada dinamika lain yang mungkin tak pernah diperkirakan ketika Islam bertaut dengan kekuasaan. Dinamika itu mencari jalan dalam kegelapan tapi dengan rasa cemas yang sangat. Orang memakai dalih agama untuk mempertahankan takhta atau untuk menjatuhkan si penguasa, tapi sebenarnya mereka tahu: tak ada jalan yang jelas, apalagi suci. Di satu pihak, mereka harus yakin, tapi di lain pihak, mereka tahu mereka buta. Itu sebabnya laku mereka begitu absolut dan begitu bengis. 

Pada tahun 661, setelah lima tahun memimpin, Ali dibunuh dengan pedang beracun oleh seorang pengikutnya yang kecewa, Ibnu Muljam. Abdurrahman bin Muljam Al-Muradi, adalah orang yang di kenal sangat taat dalam aqidah.Ia seorang ahli ibadah, ahli shalat, shaum, dan penghafal Al-Qur’an. Namun karena tenggelam dalam fitnah Khawarij, ia menjadi   pembunuh ponakan yang sekaligus menantu Rasul.  Khawarij memiliki sekian sifat sebagaimana Rasulullah sabdakan. Mereka adalah kaum yang banyak membaca Al-Qur’an tetapi tidak memahami apa yang dibaca. Bahkan memahaminya dengan pemahaman yang menyimpang dari kebenaran. Ali Bin Abithalip khalif ke-4 itu wafat setelah dua hari kesakitan. Ibnu Muljam di tangkap. Sebagai hukuman, tangan dan kakinya di penggal, matanya di cungkil, dan lidahnya dipotong. Mayatnya dibakar. Kekerasan di balas kekerasan. Selesaikah ? Tidak.

Ketika pada abad ke-8 khilafah jatuh ke tangan wangsa Abbasiyah, yang pertama kali muncul al-Saffah, “Si Jagal”. Di mimbar ia mengaum, “Allah telah mengembalikan hak kami.” Tapi tentu saja ia tahu Tuhan tak pernah menghampirinya. Maka ia ingin tak ada lubang dalam keyakinannya sendiri (juga keyakinan orang lain) tentang kebenaran kekuasaannya. Al-Saffah pun mendekritkan: para petugas harus memburu lawan politik sang khalif sampai ke kuburan. Makam pun dibongkar. Ketika ditemukan satu jenazah yang agak utuh, mayat itu pun di dera, di salib, di bakar. Musuh yang telah mati masih terasa belum mutlak mati. Musuh yang hidup, apa lagi…. Itu sebabnya, bahkan sekian abad setelah “Si Jagal”, orang macam Ahok di ancam harus dibunuh. Karena Ia mempersoalkan keabsahan firman Allah di pakai memprovokasi orang dalam menentukan pilihannya di Pilgub. Ia mengusik komoditas sekelompok orang yang kaya raya karena firman Allah laku di jual untuk meningkatkan rating TV dan onkos naik panggung yang enam digit, juga bisa mengedorse orang jadi penguasa..

Dalam sejarah Islam—sebagaimana yang umumnya sudah diketahui. Jika ”Islam” adalah nama bagi sebuah peradaban, yang terjadi adalah sebuah riwayat panjang tentang arus yang surut. Penyair muslim kelahiran India, Hussain Hali (1837-1914), yang menggambarkan bagaimana peradaban yang pernah jaya pada abad ke-8 itu akhirnya ”tak memperoleh penghormatan dalam ilmu, tak menonjol dalam karya dan industri”. Yang kemudian berlangsung adalah Islam yang hanya sibuk dengan urusan langit dan lupa akan bumi yang mengharuskan bersaing mendapatkan kemakmuran dengan jerih, iktiar atas dasar iptek. Tanpa itu tak lebih hanyalah kumpulan orang yang tak henti menyalahkan siapapun dan terpinggir dengan sendirinya dari kemajuan zaman

“ Akankah ada perubahan sesuai keyakinan, yang pernah menakjubkan ketika kali pertama di perkenalkan oleh Rasul? ' Kata teman saya.

Saya percaya, Islam akan selalu indah bagi siapa saja dan solusi bagi apa saja, apalagi bila ia menggenggam iman dan percaya bahwa Allah Maha Pengasih Penyayang. Hanya saja bagi segelintir orang islam, mereka lupa akan sejarah. Bahwa upaya teror , kekerasan, kebencian tidak pernah sukses melakukan perubahan seperti tafsir yang ia percayai. Mereka tidak pernah bisa belajar dari sejarah dan mendapatkan hikmah untuk merubah dirinya menjadi agent cinta. Tapi saya sadar, mereka akan sulit untuk bersikap demikian. Terutama ketika mereka menerima ajaran bahwa dunia hanya bisa beres karena mereka. Maka bom di ledakkan, chaos tercipta, surga yang kekal di janjikan, jihad kematian jadi langkah awal dan akhir. Dan selebihnya beku, tanpa di sadari merekalah penista agama sesunggunya, karena mereka merusak kemuliaan islam yang seharusnya menjadi rahmat bagi semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar