Minggu, 06 November 2016

Dia mualaf...


Di Hong kong saya punya sahabat orang Korea. Agamanya Budha. Namun sebetulnya dari kecil dia bukan penganut agama budha yang taat. Agama hanya dia tahu dari orang tuanya. Namun selama bertahun tahun bergaul dengan saya, dia terpancing untuk belajar tentang Islam.Saya memberinya buku bacaan ringan untuk sekedar mengenal tentang Islam. Setelah itu, saya tahu dia sangat rajin membeli buku tentang Islam, termasuk memahami Al Quran dan Hadith dari terjemahan. Namun memang tidak mudah dia pahami dan karena itu dia belum juga putuskan untuk menerima Islam sebagai agamanya. Saya hanya diam saja, tanpa ingin memprovokasinya untuk menerima Islam. Bagi saya, hidayah itu dari Allah, dan biarlah dia terus mencari kebenaran dengan caranya. Kalau dia datang ke saya bertanya maka akan saya jawab dengan senang hati. 

Suatu waktu ketika perjalanan dari Hong Kong ke Beijing, dia bertanya kepada saya

“ Bagaimana islam begitu merendahkan posisi istri di rumah? katanya. Maklum karena dia wanita.

“ Mengapa kamu menyimpulkan seperti itu ? 

“ Dalam AL Quran 4:34 menyebutkan bahwa pria adalah pemimpin bagi kaum wanita. Dan ada lagi hadith Nabi menyebutkan bahwa kalau sekiranya aku (di izinkan Allah) memerintahkan seseorang agar sujud kepada orang lain, niscaya aku akan perintahkan seorang istri agar sujud kepada suaminya . Ini artinya tidak ada kesetaraan. Padahal rumah tangga itu di bangun atas dasar equality. Tanpa itu, yang ada hanyalah penjajahan.”

Saya tersenyum. Sejauh itu pengetahuannya tentang islam namun belum juga membuat dia terbuka hidayah. 

“ Apa yang kamu ketahui itu benar. Namun kamu juga harus tahu bahwa Rasul juga mendidik manusia untuk menghormati istri, yang juga adalah ibu bagi anak anak kita. Sebagaimana rasul berkata Al Jannatu tahta aqdaamil ummahaat, bahwa surga itu di bawah telapak kaki ibu. Dan adalagi , Rasul mengatakan bahwa  Akmalul mukminiena iemaanan ahsanuhum khusluqan wakhiyaarukum khiyaarukum linisaaihim. Artinya Mu’min terbaik adalah yang terbagus akhlaqnya. Yang terbaik diantara kalian adalah yang paling baik kepada isterinya. Dengan dasar sabda Rasul tersebut,tentu peran istri lebih tinggi dari pada seorang mitra tapi ia adalah sahabat belahan jiwa kita. Yang harus kita jaga dan hormati sepanjang usia.”

“ Oh I see. “ Dia tersenyum” Bolehkan saya jadikan jawaban kamu itu sebagai dasar saya memahami Islam khususnya berkaitan dengan hubungan suami istri, dan mengabaikan yang saya tahu? 

“ Silahkan. Pilihlah yang kamu suka dan nyaman.”

‘ Apakah kamu melakukannya juga? Tanyanya.

“ Ya. Karena itu membuat saya bersabar dengan kekurangan dan kelambanan istri dan mendidiknya dengan sabar untuk seperti yang saya suka. Saya tidak akan kecewa bila istri saya jarang berhias di rumah karena sibuk dengan anak anak. Saya juga tidak mengeluh bila istri minta tolong dipijitin. Saya juga tidak akan membentaknya hanya karena dia bawel.

“ Oh I see. Indah sekali. Lantas bagaimana dengan surata An Nisa (4):3 yang membolehkan suami menikah lagi, dengan syarat suami sanggup berlaku adil. Apakah ini sangat subjectif hukumnya? Siapa yang bisa menjamin bahwa suami akan berlaku adil. Dan apakah ada orang bisa adil dengan istri istrinya? 

“ Kalau pria memegang pemahaman yang saya sampaikan ,  ia akan berhati hati untuk poligami. Jadi tidak akan sembarangan. Karena taruhannya adalah kejujuran dan empati terhadap perasaan istri yang bukan hanya mitra tapi juga sahabat belahan jiwa. Bukankah mencintai adalah bahasa jiwa terdalam untuk menjaga hati sepanjang usia.”

“ I see. “ Dia nampak tersenyum dalam kagum seraya mengangguk.

Tak lama kemudian dia bertanya lagi. "Islam mengajarkan agar taatlah kalian kepada Allah, taatlah kepada RasulNya dan kepada para pemimpin diantara kalian. Siapa yang di maksud dengan pemimpin di antaranya itu “ 

“ Mengapa kamu tanyakan itu ?

“ Karena saya baca dalam sejarah, ajaran ini Ini di pakai oleh pihak yang membangun organisasi atau partai atau Negara, yang menegaskan bahwa patuh kepadanya sama saja patuh kepada Allah dan Rasul. Sehingga tidak aneh bila pengikut yang termakan dalil ini sudah seperti orang mabuk candu. Siapapun tidak  lagi dianggap kecuali pemimpinnya. Bahkan diluar pemimpinnya adalah kafir. Tidak syari. “

“ Islam itu maha luas dan bijak. Tidak sesempit itu. Ada firman Allah surah Shad ayat 26, “ Hai Daud, Sesungguhnya kami menjadikan kamu khalifah (pemimpin) di muka bumi, Maka berilah Keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, Karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah…” Kepemipinan itu adalah pemberian dari Allah, maka ia disebut amanah Allah. Caranya hanya dua “berlaku adil dan tidak mengikuti hawa nafsu”. BIla pemimpin ,siapapun itu , apapun level kepemimpinannya dia menggunakan dalil tentang kewajibannya “ berlaku adil dan tidak mengikuti hawa nafsu”  maka rasa hormat dan setia dari pengikutnya akan datang dengan sendirinya. Persatuan umat menjelma atas dasar kasih sayang dan Allah akan menolongnya. Karena ia menjadi wakil Allah. Makanya setelah perang dunia kedua, konvensi HAM dibuat agar siapapun yang berkuasa di negara manapun harus menjunjung tinggi HAM, dan itu adalah keadilan dan tidak menzolimi orang lain. “

“ Oh indah sekali. Sangat universal ajaran Islam itu.”

Saya tersenyum. 

“ Tapi “ Lanjutnya “ Ada dalam AL quran Surat Al Maidah ayat 51 menyebutkan jangan mememilih pemimpin non muslim. Bagaimana dengan saya yang tinggal di Korea, atau orang lain yang tinggal di negara yang muslimnya minoritas dan pemimpinnya non Muslim?

‘ Seperti saya katakan tadi ukuran memilih pemimpin itu adalah Adil dan tidak mengikuti hawa nafsu atau tidak zolim kepada rakyatnya. Berkaitan dengan surat Almaidah 51, firman itu turun setelah perang Badar. Atau dalam suasana perang. Jadi sifatnya temporer. Tentu dalam situasi perang siapapun harus hati hati. Hanya memilih teman setia atau pemimpin yang seiman saja agar rahasia kita tidak jatuh ketangan musuh. Namun dalam situasi damai , yang jadi ukuran adalah adil dan tidak zolim. Siapapun itu selagi dia jujur, adil dan tidak zolim, tidak ada masalah dia jadi pemimpin, termasuk ia bukan muslim. Apalagi kepemimpinan dalam sistem demokrasi modern di pilih oleh rakyat berdasarkan rekam jejak, ketegasan, kemampuan, dan kejujujuran. Rakyat adalah pemimpin yang sesungguhnya.”

“ Jadi ayat tersebut tidak terkait dengan kepemimpinan? tanya nya.

“ Ya. “

“ Tapi dalam surat itu ada kata al-wilayah. Bukankah itu pemimpin? Kejarnya.

Saya tersenyum. Saya menghadapi non muslim tapi pengetahuannya luas. Ini cobaan bagi saya untuk menempatkan dia dalam persepsi yang tepat bahwa Islam itu agama yang membawa orang kepada kamajuan , bukan kemunduran. 

“ Benar. Namun artinya bukan pemimpin tapi adalah pertemanan atau persekutuan.”

“ Baiklah, ganti topik” Katanya

“ Silahkan.”

" Mengapa  harus sholat ?

" Itu sebagai ujud keyakinan kita kepada Allah.” 

" Kalau yakin kepada Allah, lantas mengapa harus sholat ?

" Tuhan itu sesuatu yang ghaib. Tidak mudah di pahami dengan akal. Karenanya diperlukan latihan memisahkan akal dan apapun di luar kita kecuali hati kita kepada Tuhan. itulah sholat.”

" Seperti meditasi ?

" Tepat sekali. Dulu kamu sering meditasi ya kan.”

" Ya.”

" Apa yang kamu pikirkan ketika melakukan meditasi?

" Konsentrasi penuh.”

" Bisakah kamu melakukan meditasi bila memikirkan hal yang lain?

" Tidak.”

" itulah sholat. Ketika kamu sholat ,kamu seakan akan berada didunia lain. Hanya ada kamu dan Tuhan. Yang lain tidak ada. Untuk itu kamu harus kosongkan pikiran kamu,dan hanya Tuhan yang ada.”

" Bagaimana bisa meyakinkan diri akan hal itu dan mengosongkan diri”

" Itulah gunanya bacaan dalam sholat. Menanamkan dalam diri ,alam bawah sadar kita bahwa Allah itu Maha Pengasih lagi penyang. Kita menjawab bahwa hidup ,mati, sholat kita hanya untuk Tuhan, Hanya Tuhan yang wajib di puji dan dibesarkan, yang lain tidak. " 

"Sebagaimana meditasi,untuk sampai ketahap yang kamu katakan itu tidak mudah. Hanya level hebat yang bisa sampai kepada pengosongan pikiran.Bahkan seumur hidup saya tidak pernah mencapai level meditasi seperti itu”

" Itulah mengapa Islam mewajibkan sholat di lakukan 5 kali sehari.Niatnya harus karena Allah. Itu tidak boleh di tinggalkan. Apapun keadaan , sholat harus di laksanakan. Mengapa ? Allah Maha Tahu akan manusia karena Dialah pencipta manusia. Dengan menjadikan sholat sebagai kewajiban keseharian, di lakukan dengan disiplin tinggi maka hanya masalah waktu by process siapapun akan mencapai tingkat dimana sholat telah menjadi kebutuhan hidupnya. Dia rindu kepada Tuhan,rindu kepada kesejatiannya untuk kembali kepada Tuhan dengan sebaik baik dirinya. Pada level ini bukan hanya sholat wajib dia lakukan juga sholat sunnat. “

"Oh..jadi islam mendidik siapa saja jadi orang suci dan sholat adalah latihan jiwa melalui gerakan yang teratur agar alam bawah sadar terbentuk ,bahwa hidup ,mati dan sholat hanyalah untuk Allah.Tentuk orang islam akan mencintai siapapun karena pesan Tuhan akan kasih sayang tertanam di alam bawah sadarnya. Dia akan menjadi pendamai dan penyejuk hidup yang serba pamrih..”

“Benar,,sekali."

" Terimakasih untuk pencerahannya. Sekarang saya dapat kesimpulan utuh bahwa kekuatan islam itu ada pada Sholat.Bila tidak sholat atau melakukan sholat dengan tidak benar maka orang islam jauh dari sifat Tuhan yang pengasih lagi penyayang. “ Dia tersenyum sambil mengangguk angguk. Semoga dia puas. Dalam setiap kesempatan bertemu di samping membahas bisnis kami juga membahas seputar Islam. Dengan sabar saya menjawab pertanyaannya. Kadang kami berdiskusi karena saya tahu dia bertanya atas pengetahuan.

***
Setahun kemudian dia kirim email dari Seoul. Dia mengabarkan bahwa dia sudah memeluk agama Islam. Dalam email itu dia menjelaskan pemahamannya tentang Islam. Dia mengatakan bahwa Islam adalah agama cinta. Bukan agama sesembahan seperti yang diyakini agama lainnya. Apapun amalan yang kita lakukan akan kembali kepada diri kita sendiri. Berkat cinta Allah, Dia memberi manusia kecintaan akan harta dunia ( QS. Alil- Imran (3): 14 ) dan juga kecintaan akan sesuatu yang berlebihan ( QS. AL Fajr (89) : 20 ).. Padahal ini jalan membuat manusia lupa akanNya. Bijaknya Allah, Dia pun mengirim rasul untuk menyampaikan kabar gembira untuk bagaimana caranya mengelola kecintaan kepada dunia itu tidak sampai membuat manusia lupa akan cintanya kepada Allah.

Kalaupun ada ketentuan punishment ( neraka ) dan reward ( sorga), itu bukanlah platform beragama. Karena itu tak lain cara Allah menempatkan system pengelolaan melekat pada diri manusia agar tetap berkiblat kepada Allah. Islam bukanlah agama yang di penuhi oleh euforia metafora akan sorga. Bukan pula agama yang menjadi teror akan neraka. Bukan!. Islam adalah agama cinta dan kasih sayang untuk mengenal Allah dan kembali kepada Allah dalam kadar kesempurnan sebaik baiknya ciptaaan Allah. Semua selain Allah adalah ciptaan. Setiap ciptaan tidak ada yang abadi juga tentu tidak sempurna. Namun yang pasti tidak ada pencipta membenci ciptaannya.

Kemudian dia melanjutkan. Itulah sebabnya bila kecintaan kepada Allah telah bersemayam dihati maka manusia itu sangat berbeda dengan yang lainnya. Dia kuat dan teramat kuat dalam ukuran rasional manusia kebanyakan. Dalam keadaan apapun dia tetap kuat. Karena baginya nasip baik maupun nasip buruk, sama saja baginya. Dua duanya adalah cobaan dari Allah dan buah cinta Allah. Mungkin suatu saat dia sampai pada puncak kesalahen tertinggi dan bisa saja satu saat diapun akan tergelincir kelembah dosa karena lupa dan dia sadar Allah akan memberikan punishmen. Diapun kembali kepada Allah dan Allah menyambut kembali kehadirannya dengan cinta. Selagi hayat dikandung badan, Allah akan mengujinya dan tentu juga Allah akan menjaganya dari ujian itu. Karena Allah tidak akan menguji bila manusia tidak mampu melewatinya. Terimakasih saudaraku. Karena kesabaran kamu dan kelapangan hatimu, pintu hidayah terbuka untuk ku. Subhanallah. Begitu indahnya kata kata hikmah keluar dari teman mualaf ini…

***
Yang sering di lupakan orang ketika melihat hadith Nabi adalah bahwa jarak kemunculan hadis itu dengan kita lebih dari 1500 tahun, bahwa para imam hadis, seperti Iman Bukhari, Imam Muslim, dan lain lain hanyalah mengumpulkan hadis dengan sangat sanad-sanadnya- Kemudian dalam rentang lebih dari 1000 tahun itu , dari kumpulan hadis itu muncullah pemikiran para ulama hebat dengan membangun dalil tentang Tauhid, economy, politik, dan lain lain. Semua itu ditulis menjadi karya kitab fenomenal di zamannya. Keadaan ini terus berlangsung sampai kini. Tanpa di sadari dalam perkembangan zaman dari masa kemasa, Al Quran dan hadis tetap tidak berubah namun dalil berkembang sehingga membentuk banyak golongan dalam islam. Sebetulnya perbedaan itu adalah rahmat. Namun bila nafsu kepentingan pribadi dan golongan yang di kedepankan maka bisa saja masing masing golongan merasa benar dan saling mengkafirkan. Selagi islam di maknai dengan nilai dan "membacanya" dengan hati tanpa melibatkan hawa nafsu , yakinlah islam itu tidak rumit dan sangat mudah,sangat menentramkan...ia menjadi cahaya untuk rahmat bagi Alam semesta..

1 komentar:

  1. Indah sekali pak Eri,. Mohon izin utk dishare. Semoga Anda dan keluarga sehat selalu & ilmu serta amalnya berkah & bermanfaat.

    BalasHapus