Selasa, 15 November 2016

Beda ?


Seorang teman banker berkata kepada saya, mungkin salah satu penyebab dinasti ottoman jatuh adalah karena kekalahan perang di mana mana. Banyak daerah kekuasaannya memisahkan diri. Lantas apa penyebabnya ? Karena adanya fatwa ulama bahwa mortir dan mitraliyur adalah senjata yang ‘haram’, benda orang ‘kafir’. Fatwa ini tentu di patuhi oleh Sultan yang melarang angkatan perangnya menggunakan senjata orang kafir itu. Namun Mustafa Kemal Ataturk menolak tegas fatwa itu. Ia berani beda. Andaikan dia menerima fatwa itu mungkin dia tidak akan jadi Presiden Turki karena Turki menjadi negara jajahan Eropa. Sejarah Turki akan berbeda. Mengapa sampai begitu mudahnya Ulama Ottoman memberikan fatwa tersebut? tanya saya. Teman saya mengatakan karena kehebatan kaum Yahudi yang berhasil masuk ke dalam wilayah ulama melalui uang dan kesenangan dunia yang di tebar. Jadi dari dulu sampai sekarang tidak ada orang yang bisa menjamin dia paling suci. 

Saya tidak pernah kawatir bila orang mengatakan saya berpaham sekuler , dan bahkan saya di cap kafir sekalipun hanya karena saya berbeda paham dengan mereka.  Di depan Tuhan, saya ingin menunjukkan bahwa iman saya tak mendorong saya tenggelam ke dalam rasa gentar di cap orang lain kafir atau munafik. Juga tak membuat saya bangga dan merasa terlalu yakin masuk sorga karena mengikuti fatwa Ulama. Karena saya tahu beribadah adalah metodelogi mendekati Tuhan, bukan cara meraih sorga. Karena sorga itu tidak ada kaitannya dengan ibadah tapi semata mata rahmat Allah, yang bisa di berikan kepada siapapun Allah kehendaki. Sola urusan dunia, meskipun saya bukan Attaturk, dengan mantap saya bisa pisahkan mana yang wilayah Tuhan  dan mana yang wilayah manusia. Saya akui ke Maha Pengurusan Allah dan Pemberi rezeki, tapi  saya harus bekerja  keras dan cerdas agar mendatangkan uang ke rekening saya. Dari sikap kebanyakan orang seperti saya ini, buahnya adalah benda-benda peradaban yang independen dan bebas di perjual belikan di Bursa, sebuah dunia sekuler, sebuah kemerdekaan ‘ego insani’, mengandung iman yang mengakui kebesaran Tuhan tapi menegaskan otonomi manusia untuk melewati sunattullah.

Tapi apa pedui saya soal anggapan orang. Tentu saja tuduhan ‘kafir’ atau ‘bid’ah’ pada akhirnya keputusan manusia juga ,yang karena satu dan lain hal menganggap dirinya penjaga akidah yang lebih banyak tahu. Tapi kita tahu tiap keputusannya di ambil dengan Hakim yang in absentia. Tuhan tak hadir dalam sidang Fatwa. Hanya para penjaga akidah sering tak sadar bahwa atas Nama-Nya pun mereka bisa keliru. Tetapi yang menyedihkan bahwa pemahaman tafsir yang berbeda itu sudah cukup alasan menyebut anda sesat, atau kafir atau munafik. Ada ratusan ribu orang berdemontrasi yang membela fatwa MUI namun ada ratusan juta yang tidak ikut demo. Yang tidak ikut demo, yang tidak ikut bersimpati, di anggap bukan golongannya, bukan calon penghuni sorga, dan termasuk bukan golongan orang beriman. 

Saya mendapatkan hikmah setelah menonton Film FITNA lewat Youtube. Saya tak menikmatinya. Isinya repetitif. Apa maunya sudah dapat pula diperkirakan. Dimulai dengan karikatur terkenal dari Denmark, karya Kurt Westergaard itu yang membuat umat islam sedunia meradang karena menistakan Rasul yang di agungkan. Film ini adalah kombinasi antara petikan teks Quran dalam terjemahan Inggris, suara qari yang fasih membacakan ayat yang dimaksud, dan klip video tentang kekerasan atau kata-kata benci yang berkobar-kobar. Ayat 60 dari Surat Al-Anfal yang ditampilkan pada awal Fitna, misalnya—perintah Allah agar umat Islam menghimpun kekuatan dan mendatangkan rasa takut ke hati musuh—diikuti oleh potongan film dokumenter ketika pesawat terbang itu di tabrakkan ke World Trade Center New York, 11 September 2001. Kemudian tampak pengeboman di kereta api di Madrid. Setelah itu: seorang imam yang tak di sebutkan namanya bangkit dari asap, menyatakan: ”Allah berbahagia bila orang yang bukan-muslim terbunuh”.

Pendek kata, dalam Fitna, Quran adalah buku yang mengajarkan khotbah kebencian yang memekik-mekik dan tindak biadab yang berdarah. Wilders penulis skenario film sebenarnya hanya mengulang pendapatnya. Pada 8 Agustus 2007, ia menulis untuk harian De Volkskrant: Quran, baginya, adalah ”buku fasis” yang harus di larang beredar di Negeri Belanda, seperti halnya Mein Kampf Hitler. ”Buku itu merangsang kebencian dan pembunuhan.” Salahkah Wilders? Tentu. Penulis resensi dalam Het Parool konon menyatakan, setelah membandingkan film itu dengan Quran secara keseluruhan, ”Saya lebih suka bukunya.” Sang penulis resensi, seperti kita, dengan segera tahu, Wilders hanya memilih ayat-ayat Quran yang cocok untuk proyek kebenciannya. Semua orang tahu, Quran tak hanya deretan pendek petikan itu. Dan tentu saja tiap petikan punya konteks asbabunnuzul. 

Tapi Wilders tak hanya sesat di situ. Ia juga salah di tempat yang lebih dasar: ia berasumsi bahwa ayat-ayat itulah yang memproduksi benci, amarah, dan darah. Ia tak melihat kemungkinan bahwa Al-Qaidah yang ganas, Taliban yang geram, imam-imam dengan mulut yang penuh api—mereka itulah yang mengkonstruksikan Quran hingga jadi sehimpun kata yang berbisa. Ajaran tak selamanya membentuk perilaku; perilaku justru yang tak jarang membentuk ajaran. Tapi dalam hal itu Wilders tak sendiri. Kaum ”Islamis” juga yakin, ajaranlah yang mampu membentuk manusia. Dan seperti Wilders, mereka juga memilih ayat-ayat yang cocok untuk agenda kebencian mereka. Dan seperti Wilders, mereka tak mengacuhkan konteks sejarah ketika sebuah ayat lahir.

Benci memang bersifat substraktif. Benci membuat pelbagai hal jadi ringkas—dan membuat sang pembenci tegas, jelas, menonjol. Benci adalah advertensi Wilders dan iklan para imam dengan demagogi ”Islam”.Itulah sebabnya Wilders salah tapi di benarkan. Ia salah, bila ia hendak menunjukkan hubungan antara Surat Al-Anfal ayat 39 dan pemenggalan leher wartawan Eugene Armstrong menjelang akhir film. Tapi bukankah para algojo itu melakukannya karena merasa mengikuti firman Tuhan? Apa mau dikata: inilah zaman ketika firman berkelindan dengan fitnah, ketika yang sakral bertaut dengan yang brutal. Kita hidup pada masa ketika Jonathan Swift, satiris penulis Gulliver’s Travels dari abad ke-17 itu, terdengar kembali arif dan sekaligus menusuk: ”Kita punya agama yang cukup untuk membuat kita membenci, tapi tak cukup untuk membuat kita mencintai….” Dengan begitu maaf terasa mahal sekali, dan kebencian di kampanyekan dalam demo di tengah takbir yang di saksikan oleh para Ulama yang mengaku penjaga akidah..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar