Minggu, 30 Oktober 2016

Pancasila...


Ketika terjadi perdebatan di Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia ( BPUPKI), tentang seperti apa negara yang akan di dirikan. Sebetulnya Jepang sebagai sponsor terbentuknya BPUPKI menginginkan agar Indonesia didirikan seperti jepang , yaitu negara kerajaan. Tapi Soekarno dan Hatta yang terlibat langsung dalam diskusi dengan penguasa jepang di indonesia ketika itu menolak dengan tegas. Mereka tidak ingin negara kerajaan.

Usai pertemuan itu Soekarno berkata kepada Hatta, saya tidak akan sanggup mengemban amanah yang besar ini. Namun Hatta sebagai sahabat seperjuangan Soekarno meyakinkanya " Kalau bung tidak bersedia maka akan selalu ada orang lain yang akan melakukannya. Tidak perlu ragu ambil kesempatan ini. " Soekarno masih berat untuk menentukan sikapnya. 

Itu sebabnya dalam rapat BPUPKI, Soekarno tidak menentukan seperti apa negara akan dibentuk. Dalam pidato pembukaaan sidang pertama BPUPKI,Soekarno hanya menyampaikan visi nya terhadap negeri yang akan didirikan. Dimana negara Indonesia yang akan didirikan haruslah punya visi 1. Kebangsaan Indonesia. 2. Internasionalisme atau perikemanusiaan. 3. Mufakat atau demokrasi. 4. Kesejahteraan sosial. 5. Ketuhanan yang Maha Esa Menurut Soekarno, lima asas itu merupakan weltanschauung atau pandangan mendasar, filsafat, juga fundamen yang digali dari jati diri bangsa Indonesia. Namun gagasan Soekarno itu tidak di setujui. 

Rapat meraton itu tidak menemukan kata satu. Utusan agama Islam mengotot agar negara yang akan di dirikan sesuai dengan syariat islam. Argumen itu kemudian di sanggah karena di nilai hanya melihat bangsa Indonesia berdasarkan demografis. Umat Islam di Indonesia memang mencapai 90 persen. Jika melihat kondisi geografis, khususnya di Indonesia timur, maka komposisinya berbeda. Islam adalah minoritas. Saat itu golongan islam yang di wakili ulama tidak bisa bicara banyak. Karena mereka sadar kalau argumen tersebut di pertahankan maka rakyat indonesia timur yang beragama bukan islam akan mundur dari rencana mendirikan negara RI. Kalau ini di peruncing maka kemerdekaan Indonesia tidak akan terjadi. Pengalaman sebelumnya karena tidak adanya persatuan makanya indonesia tidak bisa merdeka. Mereka berdamai dengan kenyataan karena mereka pejuang yang cerdas. 

Belum lagi soal etnis, utusan Kalimantan mempertanyakan apa kepentingan kami harus bersatu dengan orang jawa? Utusan Aceh pun bertanya mengapa kami harus bersatu dengan orang jawa? kami aman aman saja tanpa adanya Indonesia. Belum lagi masing masing daerah meragukan negara yang akan didirikan nanti hanyalah kepanjangan tangan dari kolonialisme atas nama negara.

Sampai akhirnya Soekarno dengan suara lirih berkata kepada semua hadirin " Jika benar semua ini harus di selesaikan lebih dahulu, sampai rumit, maka saya tidak akan mengalami indonesia merdeka, tuan-tuan tidak akan mengalami indonesia merdeka, dan kita semua tidak akan mengalami Indonesia merdeka sampai keliang kubur " semua terdiam. Bayang bayang perpecahan ada di pelupuk mata. 

Saya mencoba mereskontruksi rapat BPUPKI itu dalam dialogh imaginer sebagai berikut.:

Kemudian Agus Salim yang merupakan pimpinan dari Serikat islam tampil mengambil alih situasi dengan bijak. Agus Salim bertanya kepada hadirin. "Mengapa kita harus bersatu ? " 

Semua terdiam saling pandang.

Agus Salim menjawab sendiri "Kita bersatu karena Tuhan. Semua kita sepakat kalaulah bukan karena Tuhan tentu kita tidak ingin menyabung nyawa untuk kemerdekaan. " 

Semua hadirin menganguk. Mereka tidak berbeda pendapat soal ini. 

"Nah kalau begitu,negara yang akan didirikan ini adalah negara yang di dasarkan kepada Ketuhanan. Seperti apakah Tuhan itu ? Bukan satu , bukan banyak tapi ESA. Ia bisa satu , bisa juga lain.Tak penting , karena hanya Allah yang tahu ujudnya."

Salah satu peserta bertanya " Kalau negara di dirikan karena Tuhan yang maha ESA,maka negara itu harus menjamin kemanusiaan yang adil. " 

Agus salim mengangguk.

Namun salah satu anggota menambahkan, " Adil yang bukan dasarnya subjective tapi atas dasar akhlak. Apa itu ? Ya beradab. Jadi seharusnya kemanusiaan yang adil dan beradab. “

Semua sepakat.

Nah.."lanjut Agus Salim.." Karena Tuhan negara di dirikan dan di laksanakan atas dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. Apakah kita sepakat untuk bersatu ? siapkah kita bersatu ? “

Semua setuju dan sepakat.

Maka di tetapkanlah Persatuan indonesia. Ini bukanlah paham nasionalisme seperti yang disampaikan Soekarno. Tapi bersatu karena Tuhan, bukan karena idiologi atau isme darimanapun sumbernya.

Hatta bertanya " Bila kita sepakat bersatu,maka seperti apa bentuk negara yang akan di dirikan nanti ?
Salah satu peserta menjawab bahwa "itu bukan negara kerajaan,bukan kesultanan , bukan khilafah, bukan pula republik seperti negara lainnya. “

" Jadi seperti apa negara itu ? Kejar Hatta.

"Bentuk negara itu adalah negara kerakyatan" jawab peserta.

“ Siapa yang memimpin ? Kejar Hatta lagi

" Mereka yang hikmat ( Berilmu ).”

" Apakah cukup yang berilmu ? bagaimana bila dia zolim?” Kejar Hatta.

" Tentu dia harus bijaksana.”

" Bagaimana proses pengambilan keputusan dalam kepemimpinan itu. Bukankah kita tidak sepakat negara kerajaan atau khilafah ? Tanya Hatta degnan cerdas.

" Dalam bentuk permusyawaratan. Bukan voting.” Jawab utusan Ulama.

"Siapa yang akan boleh bermusyawarah itu ? tanya Hatta.

"Mereka yang menjadi wakil rakyat ,golongan dan agama.”

'Baiklah kalau begitu maka kita sepakat mendirikan negara bentuknya adalah kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dan kebijaksanan dalam permusyawaratan perwakilan.” Agus Salim menyimpulkan.

Semua hadirin sepakat.

"Lantas apa tujuan negara didirikan ? tanya Hatta.

" Karena dasarnya adalah Tuhan maka tujuannya adalah keadilan.”

"Adil itu hanya milik Allah.Kita manusia tidak akan mampu mencapai keadilan itu walau seberapa keras kita ingin mencapainya. Adil apa ? "Kata Agus Salim.

" Keadilan sosial. Artinya keadilan yang sesuai dengan fitrah masing masing orang perorang"Kata Hatta.

" Baiklah kalau begitu kita akan dirikan negara dengan tujuan "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia."

***
Semua sepakat. Soekarno sebagai pemimpinan rapat menyampaikan ringkasan hasil rapat yang terkenal dengan sebutan Pancasila.  Suasana rapat ketika itu sangat sejuk. Mereka para pendiri negara berdebat dengan cerdas dan di dorong oleh cinta dan kasih sayang. Namun setelah falsafah negara di tentukan maka piagam jakarta di buat dan kelompok islam menambahkan kalimat "melaksanakan syariat islam bagi yang memeluk agama islam.Para peserta tidak begitu pusing soal tambahan kalimat itu.

Dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada 18 Agustus 1945, di putuskan untuk melakukan perubahan pada sila pertama dari yang ditulis dalam Piagam Jakarta. Tujuh kata itu, "dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya", kemudian dihapus. Maka selengkapnya rumusan Pancasila versi 18 Agustus 1945 itu menjadi seperti yang dikenal saat ini, yaitu:
1. Ketuhanan yang Maha Esa
2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan
5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Keputusan dihapuskannya kata "syariat Islam" memang belum memuaskan sebagian umat Islam. Sebagian kelompok masih berjuang untuk mengembalikan tujuh kata dalam Piagam Jakarta itu. Pemberontakan DI/TII/NII adalah bukti yang sekelompok orang berusaha melakukan makar namun dapat di gagalkan pemeritah bersama TNI. Perjuangan politik mengembalikan sila pertama sesuai piagam jakarta terus di lakukan. Dalam sidang konstituante di Bandung pada periode 1956-1959, sejumlah partai yang berasaskan Islam berupaya memperjuangkan berlakunya syariat Islam sebagai dasar negara RI. Namun berhasil di gagalkan. Mengapa ? karena itu hanya sekelompok kecil yang tidak bisa di katakan mewakili umat islam seluruhnya. Pancasila tetap sakti di bawah lindungi rahmat Alalh.

Kalau ada pihak yang sampai sekarang masih terus penasaran, maka nasip mereka akan sama. Pecundang!. Jadi tidak perlulah menegakkan benang basah. Konsep menjadikan agama merebut kekuasaan atas dasar dalil syariah di Indonesia , tidak pernah sukses sepanjang sejarah. Mari cerdas berpikir dan jangan mau di provokasi. Gerakan aksi turun kejalan menekan pemerintah sebetulnya tidak seratus persen benar seperti yang di lihat sebagai gerakan perwakilan murni seluruh umat islam. Ini hanyalah upaya yang sekedar mencoba coba, yang dari dulu tidak pernah mendapat dukungan dari seluruh umat islam di Nusantara ini. 
Jayalah negeri ini..** 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar