Kamis, 06 Oktober 2016

Memburu harta (7)

Keesokan pagi, Budiman menelephonku agar bergabung dengannya di Singapore untuk berbicara dengan mitranya.  Dengan pesawat sore aku terbang ke Singapore. Di Changi Airport, Budiman sudah menanti untuk membawaku ke Hotel.
“Sehat, Ja?” kata Budiman sambil memeluk ku erat. 
“Sehat, Bud. Terima kasih.”
“Nanti kita makan malam dengan mitraku. Jelaskan semua strategi skema pembiayaanmu. Dia yang akan membantu aku.”
“Gimana reputasinya?”
“Dia tidak pernah default. Aku sering gunakan jasanya.”
Aku mengangguk.
“Bagaimana keadaan ekonomi di Indonesia?” Kataku ketika di dalam taksi menuju Hotel. 
“Semakin tidak jelas. Kenyataannya sekarang, kita terpuruk dan IMF mengendalikan kita sesukannya.”
“Man, kita harapkan IMF mampu mengatasi masalah ekonomi di luar kemampuan kita mengatasinya. Bukankah IMF adalah the last lending resource? Ketika index ekonomi tidak qualified menarik hutang maka IMF adalah satu-satunya resource. Ini lembaga multilateral yang anggotanya hampir semua negara termasuk negara kita. Ya kan?”
“Tapi Ja, kamu lihatkan? Tidak ada yang kita dapat dari lembaga multilateral itu. Lantas apa lagi yang harus ditunggu? Bubarkan mereka! Ini penting untuk kedaulatan bangsa dan negara ini. Ini adalah jihad melawan penjajahan!” 
“Aku mengerti.” 
“Ketahuilah bahwa negara kita sudah terjebak dalam konsep demokrasi yang melenceng jauh dari harapan pendiri negara ini. Demokrasi liberal yang ada di era reformasi sekarang telah menghilangkan indentitas kita sebagai bangsa. Bukan kemerdekaan yang kita dapat, tapi justru hidup kita dikendalikan Asing. Menjadi bangsa yang akan selalu dikerdilkan dan terjajah sampai mati.”
“Dari mana kamu bisa sampai pada kesimpulan seperti itu, Bud?” 
The silent revolution.” 
“Apa itu?”
“Itu adalah istilah yang dipakai IMF untuk merevolusi keuangan global. Tujuannya adalah agar semua negara di dunia tunduk pada kesepakatan Washington. Tidak ada lagi restriction  dengan mengatas namakan nasionalisme dalam bentuk proteksi. Gerakan revolusi mereka berfokus pada perlindungan penuh bagi negara maju untuk bisa memanfaatkan semua resource negara berkembang, dan perlindungan bagi inovasi mereka lewat hak paten teknologi.
Sebetulnya The Silent Revolution adalah gerakan yang dibuat oleh sekelompok elite di AS yang pro pasar bebas dengan konsep neoliberal. Namun perkembangan selanjutnya, membuat semua institusi yang berada di bawah pengaruhnya ikut menggunakan cara yang sama yaitu the silent revolution.”
Aku mendengarkan dengan seksama sambil berkerut kening. Berulang kali aku mengusap wajahku yang tiba-tiba terasa kebas dan kering.
“Gerakan ini diawali tahun 1980-an. Dijalankan secara sistematis. Merupakan gerakan berjamaah di semua level struktur sosial, yang bersatu dalam barisan neoliberal. Cirinya adalah: pertama, mereka tidak mempengaruhi organisasi massa untuk mendapat dukungan publik tapi mendekati komunitas terdekat dengan publik. Kedua, mereka menghindari polemik. Ketiga, karena sifatnya yang silent maka gerakan ini menggunakan cara-cara dunia intelejen. Atau lebih tegasnya, smart power.”
“Tapi, Bud, bukankah  IMF akan keluar?” 
“Aku tahu, bagaimanapun IMF pasti akan keluar dari Indonesia. Tapi aku juga dapat bocoran bahwa pemerintah sudah diyakinkan oleh team ekonomi di kabinet untuk memperpanjangnya dalam bentuk Post Program Monitoring sampai tahun 2007. Aku yakin publik tidak banyak tahu tentang ini. Kelak, sumber-sumber pendanaan dari luar negeri pun akan dilakukan secara diam-diam. Atau bisa saja dibungkus dengan segala kebijakan dan peraturan yang membuat rakyat semakin bingung, agar nantinya rezim bebas bergandengan tangan dengan kekuatan asing,” jelas Budiman 
 “OK, Kembali ke silent revolution.”
“Ok, dalam rentang pergerakannya dia berhasil membuat perubahan signifikan. Kekuatan gerakan ini terwujud dalam bentuk demokratisasi, yang memungkinkan rakyat lepas dari partronnya yang selama ini berfungsi sebagai penangkal segala pengaruh buruk ideologi asing.”
“Oh, begitu?”
“Ya. Pada tahap awal, gerakan ini berhasil menempatkan orang-orang kampus, pengusaha, artis, dan militer yang miskin pemahaman geopolitik dan geostrategik ke dalam lingkar kekuasaan. Orang-orang inilah yang kini aktif secara diam-diam mendekati ring-ring satu komunitas atau kelompok di tengah masyarakat.
Target mereka dalam jangka panjang, membuat gerakan buruh dan tani menjadi tumpul karena barisan terdepan mereka telah ditelikung lewat smart power. Gerakan agama baik yang formal maupun non formal juga telah mulai mereka lemahkan lewat tehnik adu domba, intimidasi, dan penyesatan opini publik terhadap lembaga-lembaga keagamaan.
Fenomena yang terjadi sekarang hanyalah awal dari gerakan ini. Euforia demokrasi dan kebebasan berbuat bagi wong cilik hanyalah sementara saja. Kelak akan dihabisi lewat silent revolution. Para aktifis buruh yang selama ini dekat dengan rakyat jelata akan dikerdilkan. Ormas dan kader Partai Nasionalis akan terpecah hingga akses ke grass root semakin lemah. Ormas kampus tak kan lagi bergigi. Gerakan agama yang terdiri para intelektual Islam akan dijadikan bahan cemoohan lewat kampanye demokrasi yang culas, dan penyesatan opini publik.
Hebatnya lagi, gerakan ini ada namun tidak teridentifikasi, bagaikan bayang-bayang. Ada tapi tidak meninggalkan jejak. Kita hanya dapat merasakan saat hak-hak rakyat menjadi semakin terpinggirkan, sementara kepentingan asing semakin mendapat ruang untuk meraup segala potensi dan sumber daya yang kita punya. Hanya soal waktu, setelah semua kekuatan ruh antara nasionalis dan sosialis hancur, maka akan muncul kekuatan baru yang sesuai dengan platform mereka. 
Pada saat itulah, tidak ada lagi nasionalisme 45. Tidak ada lagi falsafah hidup Pancasila. Tidak ada lagi agama sebagai ruh berjuang untuk keadilan dan tidak ada lagi suara bagi kepentingan wong cilik sebagai ikon perjuangan kelas tertindas. Yang ada hanyalah bisnis suara untuk menjadi pemenang. Negara dan bangsa hanya akan menjadi persoalan bisnis semata. Sadarkah kamu akan hal ini, Ja?”
“Oh, Tuhan...” 
“Ja, Sewaktu kuliah aku adalah seorang mahasiswa idealis. Setelah tamat, aku langsung terjun bisnis. Lebih dari duapuluh tahun aku hidup sebagai pengusaha yang bergaul dengan elite kekuasaan. Sedikit banyak aku tahu benar bahwa keberadaan Soeharto sebagai penguasa orde baru tidak terlepas dari pertarungan dua kekuatan besar, yaitu grup Barat yang dikomandoi Amerika dan grup Timur yang dipimpin Uni Soviet. Sebuah perang yang dikenal sebagai ‘perang dingin’. Perang tentang pengaruh kedigdayaan, tanpa kontak senjata. 
Naiknya Soeharto dan jatuhnya Soekarno adalah kemenangan Amerika di Asia Tenggara atas paham komunis Uni Soviet. Sebagai bentuk kompensasi, Amerika dan Barat memberi dukungan penuh bagi Indonesia agar tidak terjebak dalam kemiskinan. Belajar dari pengalaman revolusi di Cina, bahwa kemiskinan menyuburkan tumbuhnya paham komunisme.
Karenanya peran para ekonom Indonesia lulusan Amerika atau dikenal dengan nama Mafia Barkeley,  juga tidak bisa dilepaskan dari kompensasi ini. Mereka membawa paham baru tentang paradigma pembangunan, yang sebelumnya hanya bertumpu pada kekuatan rakyat, atau disebut juga Berdikari. Paradigma mereka sederhana, yaitu perlunya suatu grant design pembangunan nasional yang akan mendorong terciptanya pertumbuhan ekonomi dan pemeretaan. Istilah ini dikenal dengan nama teori Rostow. 
Teori ini juga yang dipakai di Korea Selatan, Malaysia, Thailand, Singapura, Taiwan, Turki dan negara-negara lainnya yang tergabung dalam kelompok di bawah pengaruh kekuatan AS-Barat. AS menyadari bahwa Negara yang berhasil mereka bebaskan dari pengaruh komunis ini mempunyai keterbatasan modal dan teknologi untuk bisa menggerakkan mesin ekonominya. Maka, program bantuan pendanaan dan teknologi pun menjadi bagian tak terpisahkan dari politik luar negeri AS ketika itu.”
“Ya, Bud, aku tahu kita mendapatkan dana melimpah dari Amerika dan Eropa.  Ada tiga koridor pinjaman yang mereka berikan, yaitu pinjaman melalui World Bank Group yang bersifat lunak. Pinjaman ini digunakan untuk pembangunan infrastruktur. Koridor kedua adalah pinjaman Mutlilateral melalui IGGI, bersifat grant dan sebagian lagi berupa pinjaman lunak berbunga 2,5% per tahun dengan jangka waktu duapuluh lima tahun. Dengan masa tenggang bebas bunga lima tahun. Pinjaman ini dipakai untuk memperkuat likuiditas APBN guna mensuplai dana ke publik untuk menumbuhkan sektor riel. Koridor ketiga adalah pinjaman bilateral, yang juga bersifat lunak dan sebagian berupa grant. Pinjaman ini ditujukan untuk mendukung pendanaan sektoral.”
“Benar, Ja. Apa yang diterima Indonesia, sama dengan apa yang diterima negara-negara lain yang tergabung dalam kekuatan pro-AS-Barat. Artinya apapun yang diberikan oleh pihak Amerika (barat) kepada Indonesia, baik berupa modal maupun teknologi, hakikatnya berkaitan langsung dengan politik luar negeri AS dalam konteks perang dingin. Inilah sejatinya platform hibah luar negeri mereka. There arn't no such thing as a free lunch.  
Semua menyadari bahwa tidak ada sesuatu yang gratis. Tujuan dari politik adalah kekuasaan dan penguasaan resource. Istilah yang oleh Soekarno disebut dengan Neocolonialism, menyikapi perang politik Barat dan Timur. Kolonialisme atau penjajahan model baru yang tidak dalam bentuk fisik, tapi dalam bentuk ideologi. Itu sebabnya Soekarno kemudian membentuk Gerakan Non Blok untuk melindungi negara-negara yang baru merdeka, agar tidak terseret dalam arus perang dingin tersebut. 
Ini terbukti saat berada di bawah kepresidenan Soeharto, Indonesia terjebak dalam kekuatan AS-Barat. Ketika menerima bantuan dari mereka, kita dipaksa menyerahkan natural resource kepada Amerika. Istilahnya adalah winner takes all. Meski begitu, Soeharto tidak begitu saja mengorbankan nasionalismenya, untuk sebuah kompromi politik.
Strategi global Amerika memang ampuh menguasai dunia. Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan yang tidak punya cukup natural resource, dimanfaatkan SDM-nya untuk menjadi lebah pekerja guna memenuhi kebutuhan konsumsi Amerika yang rakus. Turki yang letaknya strategis antara Timur dan Barat dimanfaatkan sebagai pangkalan perang. Meksiko, Brazil, Argentina, Indonesia, Iran, dan Arab Saudi yang kaya natural resouce, dikuras habis untuk memenuhi kebutuhan bahan baku mesin industri Amerika. Untuk mengamankan politik globalnya tersebut, Amerika memang sengaja memelihara para diktator dan monarki di negara-negara yang berada di bawah pengaruhnya. Termasuk bantuan militer yang tak terbatas, baik untuk persenjataan maupun training.
Setelah ‘perang dingin’ usai, politik luar negeri Amerika pun berubah. Kalau sebelumnya penguasaan resource lebih kepada penguasaan politik, selanjutnya adalah penguasaan pasar melalui sistem globalisasi. Melalui WTO yang didukung World Bank Group, memaksa negara pro Barat untuk mengakui globalisasi sebagai paradigma baru menuju era pembangunan masa depan yang berkeadilan. Maka, paham demokratisasi dengan jargon Freedom, Peac, Equality pun dicanangkan ke seluruh dunia.
Sejak itu kampanye demokratisasi melalui agen-agen demokrasi lulusan Amerika, terus bergerilya membangun kekuatan pro demokrasi di seluruh dunia. Kampanye ini berhasil membuat Uni Soviet terpecah menjadi negara-negara kecil.
Soeharto menyadari, bahwa paska perang dingin, dia sudah mulai diasingkan oleh AS-Barat. Dia juga tidak lagi mudah mendapatkan bantuan pinjaman lunak. AS mulai memaksa Soeharto untuk menerima paham demokratisasi berupa penghapusan semua kebijakan subsidi kepada rakyat yang selama ini dibiayai dari bantuan luar negeri. Melepas semua kebijakan proteksi yang anti globalisasi dan pro kepada pengusaha lokal di bidang investasi, perdagangan, pariwisata, telekomunikasi dan keuangan. 
Bantuan AS-Barat yang selama ini ditujukan untuk stabilitas keamanan regional telah beralih menjadi deregulasi semua sektor yang anti demokratisasi dan globalisasi. Soeharto bereaksi dan mencoba berkompromi dengan membuat kebijakan-kebijakan baru. Namun, berbagai kebijakan yang dikeluarkannya dalam bentuk Paket Kebijaksanaan, tak kunjung memuaskan Amerika dan Eropa Barat. Di saat bersamaan, negara-negara ASEAN lain coba berlindung di balik Soehato atas tekanan Amerika tersebut.
Puncak kekesalan Amerika dan Barat kepada Soeharto dan ASEAN adalah dijatuhkannya bom nuklir dalam bentuk gelombang hedge fund yang membuat mata uang negara-negara Asia Tenggara tumbang. Asia pun dilanda krisis ekonomi parah.” Kata Budiman berapi-api.
“Dan ongkos ledakan nuklir ini sangat mahal, yang membuat Robin Gobin tersingkir sebagai Menteri Keuangan Amerika. Dan membuat Smith Barney masuk dalam kubangan hutang long term investment debt sebesar USD 100 billion, yang kemudian dimerger dengan Solomon.” Kataku menambahkan.
“Cara Soeharto mengundang IMF adalah untuk menguji sistem yang dibangun oleh AS-Barat. Karena IMF merupakan lembaga internasional sebagai the last lending resource untuk menstabilkan perekenomian negara-negara anggota. Seperti sebelumnya, ia berhasil membantu negara-negara yang hancur paska perang dunia kedua.” Lanjut Budiman.
“Tapi ternyata IMF justru memaksa Soeharto mengikuti demokratisasi dan globalisasi secara utuh.” Sahutku.
“Permintaan IMF tidak sepenuhnya diterima oleh Soeharto yang tidak ingin mengorbankan nasionalismenya. LOI dengan IMF tidak diimplemetasikan. Dia justru mengancam IMF dan Amerika, dengan ancaman penempatan future option delivery beberapa blok minyak yang sudah dan belum digali sebagai financial guarantee atas kebijakan mata uang fixed rate. Beberapa lembaga keuangan internasional yang tergabung dalam combine collateral yang dikomandani oleh Deutch Bank bersedia menjadi underwriter. Cara ini dilakukan Cina dan terbukti berhasil sebagai alternative financial resource mereka.
Sebetulnya ancaman ini ampuh memaksa Amerika dan IMF untuk mengikuti Soeharto. Perundingan penyelesaian krisis sudah di depan mata, sama seperti Korea Selatan, Thailand  dan Malaysia. Soeharto meminta agar IMF bertanggungjawab memberi bantuan lunak selama duapuluh lima tahun tanpa bunga untuk menutupi BLBI dan mengembalikan kepercayaan masayarakat terhadap perbankan. Karena sebenarnya kebijakan hutang luar negeri Indonesia bukanlah kebijakan rakyat, tapi kebijakan politik luar negeri AS untuk mengamankan stabilitas regional ASEAN dari ancaman komunis. Dan Indonesia sudah membayar lunas dengan terciptanya kawasan ASEAN yang aman. Bahkan mengambil alih Timor Timur dari ancaman partai Fretelin yang pro komunis dengan ongkos yang sangat mahal. Jadi kalau pun kini terjadi krisis maka Amerika-lah yang harus bertanggungjawab.”
“Hmm… Tapi, sayang sekali sebelum semua itu terwujud, Soeharto keburu dijatuhkan kekuatan kelompok pro demokrasi AS yang lebih kuat menguasai pandangan publik Indonesia.” Kataku parau.
“Ya. Sejak kejatuhan Soeharto dan kelompok pro demokrasi berkuasa, IMF bebas berbuat apa saja, sampai akhirnya berhasil memaksa pemerintah untuk menerima Letter of Intent dari IMF. Dan yang lebih parah lagi adalah menyetujui penyelesaian BLBI melalui Obligasi Rekap dan menjadikan Otoritas Penyelesaian Utang bukan penyehat tapi malah pengobral aset negara kepada pihak asing.” Lanjut Budiman lirih
“Para pemimpin baru yang pro demokrasi tidak satupun dari mereka yang bermental negarawan. Terjebak dalam permainan politik tingkat tinggi. Dan ternyata janji IMF untuk melakukan pemulihan Obligasi Rekap tidak kunjung datang. Membuat rakyat marah dan menuntut IMF agar keluar dari Indonesia. Indonesia pun kian terperosok ke dalam jebakan hutang luar negeri yang tak kunjung dapat diatasi, mengganggu kekuatan APBN untuk memberi dukungan sosial bagi kesejahteraan rakyat.” 
“Benar, Ja. Untuk kamu ketahui, Soeharto sebenarnya dibesarkan oleh Soekarno. Bahkan dalam memoarnya, Soeharto mengatakan bahwa dia adalah pengagum Soekarno. Menganggapnya sebagai guru dan orangtua yang selalu dihormatinya. Meskipun keduanya sempat tak sejalan dalam kebijakan politik.
Tapi, bagaimanapun, Soekarno dan Soeharto mempunyai satu kesamaan, yaitu nasionalisme keduanya yang kuat. Keduanya sangat bangga dengan tanah airnya. Bila akhirnya mereka berseberangan, itu karena perbedaan cara mereka mencintai bangsanya. Soekarno maupun Soeharto memang tidak luput dari banyak kekurangan dan kesalahan. Namun itu semua tidak menghapus jasa mereka sebagai bapak pemersatu bangsa, hingga bisa berdaulat dan dihormati oleh bangsa lain.”
“Bagaimana dengan harta Soeharto di luar negeri?” Tanyaku untuk menegaskan apapun tindakan korup tidak bisa diterima walau jasanya banyak.
“Dalam sebuah pertemuan dengan salah satu banker di Singapore dan Swiss, aku  pernah menanyakan secara pribadi tentang keberadaan dana Soeharto di negara mereka. Mereka menjawab bahwa itu hanya propaganda murahan. Tidak ada satupun rekening pribadi yang terhubung dengan Soeharto di sana. Kamu kan tahu, yang paling berharga di dunia ini adalah nyawa. Dan Soeharto tidak pernah percaya dengan dokter luar negeri tentang kesehatannya. Dia hanya percaya dengan dokter dalam negeri. Apalah soal uang. Memang ada rekening atas nama putra putrinya tapi itu hanya rekening bisnis legal yang jumlahnya tidak berarti dibandingkan dengan rekening pengusaha lainnya.” Kata Budiman.
“Ya, bagaimanapun, yang pasti saat Soeharto menggantikan Soekarno, ia berhasil melakukan koreksi pendahulunya dengan memanfaatkan isu internasional bukan untuk ikut hanyut dalam konflik perang dingin dan angkat suara keras. Tapi ia berhasil memanfaatkannya untuk kesejahteraan rakyat.” Sambungku kemudian.
“Ya, Ja. Di era kini, pemerintah memang berganti dan rezim demokrasi membawa angin perubahan tentang kebebasan berpolitik. Tapi sejatinya negara justru makin terperosok ke dalam cengkeraman Multi National Corporation di bidang finansial, teknologi, industri, pertambangan dan distribusi. Di waktu bersamaan, hutang terus digali untuk membayar kewajiban hutang yang ditimbulkan kebijakan politk luar negeri AS-Barat pada rezim Soeharto, dan akibat kebijakan yang ditimbulkan oleh IMF sendiri. Karena janjinya untuk memberi dana segar, tak kunjung dipenuhi.”
“Kita tidak pernah belajar dari Korea, Jepang dan Malaysia yang bersatu ketika krisis terjadi, berbaris rapat menghadapi musuh bersama: AS-Barat. Kita justru ribut dalam negeri sendiri dan saling berebut kekuasaan. Akhirnya AS-Barat leluasa masuk membawa perangkap bagi para politikus amatir, untuk bisa merebut kekuasaan.” Kataku.
Kami berdua terdiam untuk beberapa saat. Seakan tak ada lagi bahan untuk di diskusikan. Aku dan Budiman sering berdikusi tentang banyak hal. Baginya, bertemu dan bersdiskusi denganku adalah obat stress. Dia merasa tidak pernah jauh dari kebenaran ketika dia lupa. Akupun senang  berteman dengan Budiman karena dihadapanku dia tidak pernah berubah. Tidak ada topeng. Kami kadang berbeda pendapat namun bila waktu datang sholat, kami akan sholat berjamaah. 
Taksi yang kami tumpangi sudah sampai di Mandarin Hotel, Orchard. Budiman mengatur check in untukku dan memberikan kunci kamar kepadaku.  “Aku tunggu kamu di café. Mereka akan datang sebentar lagi.” Aku bergegas untuk bersiap-siap, bertemu dengan mitra Budiman yang berjanji untuk membantu mendapatkan  credit line dari bank di Singapore.
Hanya 10 menit setelah ganti pakaian di kamar hotel aku sudah berada di café. “Ja,  mereka janji akan datang bersama banker.” Kata  Budiman dengan tersenyum. “Waw! Hebat!” Seruku. “Jadi kita bisa jelaskan langsung kepada Banker. Kalau mereka paham maka akan tinggal melanjutkan formalitas yang berhubungan dengan paperwork.”
“Tepat sekali. Aku rasa tidak akan sampai satu minggu selesai.” Kata Budiman dengan yakin.
***
Benarlah, sesuai janji jam 7 mereka sudah datang. Mereka semua berempat. Dua adalah mitra Budiman dan dua orang lagi adalah banker.
“Jelaskan bagaimana rencana bisnis Anda?” Kata mitra Budiman tanpa basa basi. Inilah gaya Singapore dan Hong Kong. Selalu to the point. Akupun menjelaskan secara ringkas rencana bisnis yang kususun untuk memberikan solusi pembiayaan bagi Budiman. Khususnya berkaitan dengan exit pelepasan saham kepada perusahaan raksasa dibidang pangan setelah  lima tahun di restruktur. Semua dokumen yang berkaitan dengan apa yang kukatan, aku serahkan kepada mitra Budiman. Mitra Budiman menyerahkan dokumen itu kepada Banker. Salah satu Banker itu membaca dengan seksama.
Banker itu menatapku setelah membaca dokumen yang aku serahkan, “Anda yakin bisa menyediakan SBLC untuk jaminan?” 
“Yakin.” Jawabku mantap.
“Bagaimana bisa yakin?”
“Anda bisa hubungi teman saya di Hong Kong,” kataku sambil menyodorkan business card milik Ester.  Dia memperhatikan dengan seksama dan kemudian tersenyum kepadaku.
“Ok. Kami pastikan dapat memberikan Credit line.” Kata banker kepadaku. “Jadi kapan aplikasi kredit akan diajukan?” Lanjut banker itu menatap kepada mitra Budiman.
“Beri kami waktu sampai lusa. Karena besok kami harus mendirikan Special Propose Company untuk vehicle penarikan credit dari bank Anda.”
“Ok, kami tunggu.”
“Maaf berapa lama kredit bisa dicair?” aku bertanya kepada salah seorang Banker.
“Lima hari setelah paper work lengkap dan SBLC kami terima dengan memuaskan sesuai system perbankan.”
“Bagaimana dengan Loan to value?” sambungku.
“90 %.” Kata banker itu tanpa ragu. Nampak sekali dia sudah berpengalaman  menangani transaksi ini.
“Terima kasih. Deal yang sangat memuaskan.” Kata Budiman.
Aku langsung menelephon Ester di Hong Kong. Ester senang sekali mendengar kabar bahwa bank di Singapore bersedia memberikan kredit. Dia berharap dalam seminggu selesai. Lusa dia akan terbang ke London. “Temani aku ya, ke London?” pinta Ester kita mengakiri pembicaraan di telephone.
Keesokan harinya aku menemani Budiman ke bank untuk rapat formal dan menyerahkan document yang berkaitan skema pembiayaan dan profil assetnya.  Sorenya aku terbang ke Hong Kong untuk bertemu dengan  Ester mempersiapkan recana ke London.
***
Cuaca Hong Kong di bulan Desember pada sore hari berkisar delapanbelas derajat celcius. Aku merapatkan leher jaket dan melangkah cepat ke koridor kedatangan Airport.  Telephonku bordering. Nampak di layar cellphone tertera nama Ester.
“Jaka!” Seru Ester diseberang.
“Ya.”
“Kita dapat masalah. Channel aku di London, menolak menyediakan SBLC untuk jaminan credit di Singapore,” kata Ester panik. Mendengar perkataanya, rasanya seperti disambar petir di siang bolong. Ada apa ini? Mengapa selalu ada kejutan dari Ester, di ujung jalan perjuangan dan selalu berakhir hampa?
“Aku harus ketemu dengan kamu,”  kataku lemah.
“Baik. Langsung saja ke kantor. Aku tunggu ya?”
Dengan taksi dari bandara aku melaju menuju kantor Ester di Queen Road, di kawasan central Hong kong.  Sesampai di gedung kantornya, dia sudah menanti  tepat di depan loby. 
“Kita bicara di sana aja,” kata Ester menunjuk café yang ada lantai dasar gedung kantornya.. 
“Ada apa sebenarnya?” tanyaku dengan wajah tegang. Bayangan nasip Budiman yang terjebak dengan aplikasi credit membuatku jengah. Apa jadinya bila gagal  mendelivery SBLC?
“Kamu ingin tahu jawabannya?” 
“ Ya, Please!” 
“Ini ulah David.  Dia sengaja menutup semua resource-ku. Akibatnya semua relasikuku menolak. Padahal sebelumnya mudah dan tidak ada masalah.” Ester  bingung dan aku lebih bingung.
“Dari mana kamu tahu ini ulah David?” tanyaku.
“Kolegaku di London yang bilang itu. David minta agar jangan terlibat denganku kalau tujuannya untuk membantu kamu, Jaka!”
“Hebat sekali si David itu?!” kataku geram.
“Jak, sudahlah. Engga usah dipikirkan soal David. Dunia keuangan itu kecil sekali. Dia berhak melakukan itu karena itulah cara dia membuat kamu kembali ke dia.” Kata Ester memegang lenganku.
“Baiklah.” Aku menarik napas dalam-dalam. ”Kembali ke masalahku. Besok Budiman harus mengajukan credit ke Bank. Kamu kan tahu apa dampaknya bagi Budiman bila dia gagal delivery SBLC. Dia akan kehilangan uang membayar provisi kredit dan fee kepada mitranya di Singapore. Ini bukan uang kecil.” Kataku mengingatkan Ester bahwa kegagalan traksaksi ini berakibat buruk bagi Budiman. “Kami hanya punya waktu lima hari!”
Ester hanya diam. Wajahnya tegang. Dia merasa menyesal atau usulannya mengenalkanku kepada David. Aku berusaha tenang. Bagaimanapun ini sudah terjadi. Tapi kemana lagi langkah harus diayunkan?
“Jak!” seru Ester. “Kamu tahu kan, Tomasi?”
“Ya. Aku tahu. Ada apa dengan dia?”
“Tadi aku menelephonnya di Swiss. Dia janji akan membantumu menyediakan SBLC. Tapi kamu harus ikut platform dia.”
“Apa platform dia?”
“Dia tidak cerita. Dia akan jelaskan sendiri kepadamu.” Kata Ester nampak putus asa. 
“Kamu mau bicara dengan dia, Jak?” Aku mengangguk. Jari-jari lentik Ester  mencari sebuah nomor Tomasi dalam handphone-nya.  Aku menunggu dengan cemas. Aku melirik jam tangan dan waktu menunjuk pukul lima sore, waktu Hong Kong. Dari balik kaca café di gedung megah itu, aku melihat lalu lalang kendaraan mewah yang berjalan tertib di jalan raya. Beberapa pejalan kaki berjalan cepat-cepat pada trotoar yang berpagar pertokoan mewah. Betapa pongahnya Hong Kong di mataku sore itu. Dan aku kembali menghembuskan nafas berat, sekedar mengurangi tekanan yang menyesak di dada.
“Tom, ini Jaka, ada di depanku. Bisakah bicara langsung dengan dia soal rencana kamu membantunya? Nih bicara!” Ester menyerahkan cellphone-nya padaku.
“Jaka. Gimana kabarnya?” sapa Thomasi di ujung telephon.
“Kabar baik, tapi sedikit ada masalah. Kamu sudah tahu kan, masalahnya?”
“Ya, aku paham masalah kamu. Aku akan bantu sebisanya.” Kata Tomasi terkesan tegas.
“Tom, aku tahu kamu akan bantu. Tapi, apakah kita masih punya waktu? Karena besok aku harus delivery SBLC ke bank di Singapore. Maaf, benar-benar waktu tidak berpihak kepadaku saat ini.”
“OK. Segera kirimkan email  semua data bank koordinat  di Singapore. Dalam enam jam. aku pastikan akan delivery SBLC.” Kembali terdengar suara tegas Tomasi. Menandakan dia serius dengan kata-katanya.
“Oh, terima kasih, Tom. Terima kasih!”
“Setelah SBLC diterima oleh bank di Singapore, aku akan segera bertemu kamu di Singapore. Ada hal yang harus kamu lakukan untukku. Bisa, kan?”
“Bisa.” Jawabku cepat.
“Baik. Sampai jumpa di Singapore.”
Cellphone aku serahkan kepada Ester. “Kamu yakin, Tom akan menepati janjinya?”
“Entahlah! Tapi itulah satu-satunya harapan kita. Ya kan?” kata Ester sambil menatap wajahku sendu. 
“Hei! Ayo tersenyum!” Seruku sambil tersenyum ringan. ”Tidak ada yang perlu dikawatirkan. Aku engga mau liat kamu stress. Mari berpikir positip. Karena itu doa sesungguhnya.” Ku elus pipi Ester dengan punggung jariku. Dia menempelkan pipinya di telapakku. “Aku terlalu mengkawatirkan kamu, Jak!”
“Ngomong-ngomong, kamu terus berhubungan dengan Tomasi sejak terakir bertemu di Jakarta?”
“Ya. Kalau dia ke Hong Kong, Tomasi selalu menyempatkan diri untuk  bertemu denganku.” Jawab Ester ringan.
“Oh. Jadi kalian akrab ya? Pernah dating dengan dia?”
“Engga pernah. Kalaupun ketemu di café, dia selalu bawa temannya.”
“Kamu suka dia?” Selidiku.
“Maksud kamu?”
“Kamu mencintai dia?”
“Engga!”
“Kenapa?”
“Sudahlah! Sampai saat ini, hanya kamu pria di hatiku. Tapi tak pernah bisa kujangkau untuk menjadi suamiku. Tapi menjadi sahabatmu merupakan berkah tak terbilang.”
“Terima kasih. Bagiku menjadi sahabat kamu lebih dari segala galanya.” 
“Aku tahu. Semoga kita  selalu bersama.” Aku memeluk Ester. Dia membalas pelukanku dengan hangat, ”jangan pernah tinggalkan aku ya?” katanya berbisik.
Senja berlalu dengan kesan mendalam di hati. Malam menjemput dengan kelamnya yang damai. Kami berjalan kaki ke arah Wanchai. Hong Kong di bulan Desember pada malam hari mencapai suhu duabelas derajat celcius. Kulirik Ester yang nampak kedinginan di balik gaun blazernya. Kulepas jas dan kukenakan padanya untuk membalut tubuh Ester melawan dingin. Dia melingkarkan tangan ke pinggangku untuk menghangatkan tubuhku. Kami saling menjaga dan melindungi satu sama lain. Selalu begitu. Tanpa pernah bertanya mengapa dan selalu memberi sebelum diminta.
Kami menghabiskan malam di café di kawasan Wanchai, Lokhard road. Menjelang dini hari aku berniat mengantar dia ke apartement tapi Ester menolak. “Aku ingin tidur di hotel kamu. Boleh ya?” Katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar