Selasa, 04 Oktober 2016

Memburu harta (5)


Sesuai janjinya, sehari setelah menerima dokumen business plan, David mengundangku makan malam. Dia berpesan agar hanya aku yang datang. Kelihatannya dia tidak ingin ada orang  lain hadir dalam pertemuan itu. Seperti biasa, pertemuan diadakan di Hong kong Financial Club.  Sebelum berangkat memenuhi undangan David, aku menelphone Ester. 
"Ester, David memenuhi janjinya mengundang makan malam. Tapi dia hanya ingin aku saja yang hadir. Apakah ini tidak  masalah untukmu?  "
"It’s OK. Ja. Terus saja ikuti saran dia. Kalau bisa setelah dinner dengannya mampir ke apartemen ku, ya? Kita bahas apa sikapnya.  Selamat menikmati makan malam, ya? "
Aku selalu datang lebih awal dalam setiap janji bertemu. Ini sudah menjadi kebiasaan.  Namun ketika aku sampai, David sudah berada di table-nya. Dia tersenyum cerah melihat kehadiranku. Dengan ramah dia menawarkan minuman apa yang ku sukai. Aku memilih red wine. Selama makan malam dia tidak berbicara apapun tentang business plan-ku. Dia lebih suka membicarakan tentang bobrokknya budaya corporat sekarang. 
Menurutnya, pada jaman kejayaan Ekonomi Baru di tahun 2000, survei dari business week memperlihatkan bahwa 72% masyarakat Amerika merasa corporates terlalu menguasai hidup mereka. Sementara korporat itu tumbuh tanpa akar yang kuat. Buktinya beberapa perusahaan besar terkemuka yang listing di Wall Street, tersangkut dengan mega skandal. Fenomena ini hanyalah sebuah awal. Satu hal yang pasti, selain memang sudah dipertanyakan bahkan sebelum jaman Enron,  legitimasi kapitalisme global lately, sebagai sistem produksi, distribusi dan pertukaran yang sudah dominan, akan semakin terkikis trust-nya. Bahkan di jantung asal sistem ini. 
Angka itu sekarang mungkin meningkat jauh lebih tinggi lagi. Sama seperti evaluasi berlebihan  terhadap saham yang mengakibatkan jatuhnya perusahaan-perusahaan dot.com di Wall Street tahun 2000-2001. Tindak penyelewengan korporatis merupakan salah satu ciri utama Ekonomi Era Baru. Nampaknya pertumbuhan laba mulai mengalami kemandekan di sektor usaha AS setelah 1997. Mengakibatkan perusahaan-perusahaan besar melakukan merger.  Sebagian dengan motivasi menyingkirkan saingan, sebagian lagi berharap mendapatkan pembaharuan keuntungan dari suatu proses mistis yang disebut ‘sinergi’ ini.
Contoh-contoh paling signifikan antara lain: Penyatuan Daimler Benz-Chrysler-Mistsubishi, pengambil-alihan Nissan oleh Renault, merger Mobil-Exxon, kesepakatan antara BP-Amoco-Arco, Star-Alliance di layanan penerbangan, merger AOL dengan Time-Warner dan dibelinya perusahaan SLJJ MCI oleh WorldCom. Pada kenyataannya, ternyata banyak merger berakhir dengan hanya konsolidasi pembiayaan semata tanpa menambah laba. Seperti pada contoh kasus AOL dan Time Warner.
Ketika merger tidak bisa dilakukan, maka perusahaan bisa sampai tewas dalam persaingan tersebut. Atau mengakibatkan pailit dan bangkrut seperti pada kasus raksasa eceran K-Mart. Dengan margin  laba menjadi kurus atau habis, maka kelangsungan hidup mereka semakin bergantung pada pembiayaan dari Wall Street, yang notabenenya semakin dikuasai oleh Bank blasteran investasi-komersial seperti JP Morgan Chase, Salomon Smith Barney, dan Merril Lynch yang saling berkompetisi secara agresif.
Beberapa perusahaan yang sulit menunjukkan prospek, beralih ke jalur ‘mendapatkan dana sekarang dengan menjual janji di masa depan’, suatu praktek yang dikuasai sangat baik oleh para manajer investasi di sektor high-tech. Ini adalah suatu teknik yang nampak inovatif, tapi sejatinya adalah teknik perdagangan yang bertumpu pada ilusi. Teknik inilah yang mengakibatkan melangitnya nilai share saham di sektor teknologi tinggi. Meski sebenarnya mereka kehilangan hubungan pada keadaan nyata perusahaan saat itu.
Amazon.com misalnya, share sahamnya terus meningkat sekalipun belum menjadi laba. Beberapa perusahaan lain yang baru berproduksi, kehilangan segala kontaknya pada industri dan beralih strategi berusaha menggelembungkan harga saham untuk memberi jalan bagi para kapitalis ventura (venture-capitalist) dan manajer investasi yang punya akses dan pilihan untuk melakukan pembunuhan sejak pada penjualan awal. Dan setelah itu perusahahaan ditinggalkan sekarat, lalu runtuh!
Itulah mengapa, akhirnya memang tak mungkin memanipulasi fakta selamanya untuk bisa menarik pemodal. Dalam neraca rugi laba, keuntungan harus lebih besar daripada biaya. Ini kenyataan yang sederhana tapi berat. Kenyataan ini kemudian memunculkan berbagai teknik akuntansi genit seperti ‘kemitraan’-nya Andrew Fastow, eksekutif finansial Enron, yang sebenarnya hanyalah suatu trik untuk menyingkirkan biaya dan hutang dari neraca. Adalagi cara yang lebih kasar, misalnya seperti yang dilakukan oleh WorldCom, yaitu menyamarkan biaya sebagai investasi.
Kekuasaan Neo-liberal dikawal oleh deregulasi dan pemanjaan sektor privat. Dalam konteks ini, praktek-praktek tersebut dengan sangat mudah mengikis batas yang disebut sebagai ‘dinding-api’ antara manajemen dengan dewan pemegang saham, antara analis saham dengan pialang saham, antara auditor dengan yang diaudit. Karena sama-sama dirundung oleh bayang-bayang keruntuhan ekonomi serta menipisnya pendapatan bagi semua pihak, maka baik para pengawas maupun yang diawasi memainkan pretensi  seolah-olah dikendalikan sistem check and balance. Dan bersatu untuk menciptakan ilusi kekayaan, dengan tujuan mempertahankan selama mungkin uluran tangan dari pemodal yang tidak curiga.
Front bersama ini tak bisa dipertahankan terus menerus. Karena orang-orang yang tahu keadaan sebenarnya akan sangat tergoda untuk menjual, sebelum khalayak investor terbuka matanya. Dengan keadaan ini maka perhitungan bisnis menyempit menjadi soal menentukan kapan menjual, kapan mengambil uang dan kapan lari menghindar dari tindakan hukum. CEO Enron, Jeffrey Skilling melihat gelagat tanda-tandanya. Dia mengundurkan diri setelah mendapatkan US$112.000.000,00 dari menjual sahamnya, beberapa bulan sebelum kejatuhan Enron. Dennis Kozlowski dari Tyco kurang begitu beruntung. Dia merasa tidak cukup dengan mengeruk uang US$240.000.000,00. Dia masih berusaha memeras uang ketika perusahaan mulai jatuh. Dan sekarang, dia terkena pasal menghindari pajak.
Jelas akan banyak lagi bandit yang terbuka kedoknya. Siapa tahu dalam barisan ini nanti termasuk juga Presiden Amerika? Meski demikian, sekalipun akan ada sederet nama-nama, tapi pusat persoalannya adalah pada dinamika sistim kapitalisme global yang dinakhodai sektor finansial tanpa regulasi. Persoalan ini tak bisa dilenyapkan hanya dengan pernyataan kebaikan seperti: ‘tak ada kapitalisme tanpa nurani’ atau penyelesaian usang seperti: ‘good corporate governance.’ 
Sementara di waktu yang sama, pemodal luar negeri meninggalkan AS. Dollar AS merosot dan lubang kelebihan produksi makin menganga. Paduan antara krisis ekonomi struktural yang semakin dalam dengan krisis legitimasi kapitalisme neo-liberal ini, jelas menjanjikan masa depan yang rawan!
“Wawasan Anda luar biasa luasnya. Anda paham bagaimana  lingkungan bisnis global saat ini?”
“Kita harus peka, Jak! Bisnis saya sebagai angel investor harus mengenal dengan baik peta bisnis dan orang-orang yang ada di sekitar saya agar tidak terjebak dengan orang-orang yang keliatannya ayam merak tapi nyatanya ayam kampung.”   
“Benar sekali. Dunia usaha maupun orang, sama saja. Suka topeng dan membangun citra untuk menutupi kekurangannya.Ya, kita harus hati-hati dan harus menghindari sifat ini.” Kami terdiam  sebentar. Aku meminum wine yang masih tersisa setengah gelas.
“Jaka,” seru David.  Aku mendongakkan kepala, siap menyimak. “Sekarang kita bahas tentang business  plan Anda,” lanjutnya. 
Dadaku sedikit gemuruh demi mendengar kata itu. Ini yang aku tunggu. Bagaimanakah kira-kira sikapnya? Dengan wajah tenang dan penuh akrab dia menyampaikan maksudnya.
“Saya tertarik dengan business plan Anda dan terlebih lagi dengan skema pembiayaan yang kamu create. Ini sangat inovative. Anda menunjukan diri sebagai konsultan pembiayaan kelas dunia. Saya tertarik dengan potensi anda.”
“Terima kasih.”
“Saya menawarkan kemitraan bisnis kepada Anda?” Katanya dengan hati-hati sambil tetap menatapku serius.
“Kemitraan seperti apa?” tanyaku bingung. Ini tawaran yang luar biasa. Baru kemarin aku cerita kepada Ester, betapa aku mengagumi David. Dan sekarang dia menawarkan kemkitraan padaku? Sungguh tak masuk akal!
“Saya ingin menjadikan Anda sebagai mitra global saya untuk memperluas portfolio bisnis saya di Asia khususnya di Indonesia.”
“Apa yang harus saya lakukan untuk bisa menjadi mitra Anda?”
“Menjadi proxy saya untuk setiap perusahaan yang saya ambil alih. Anda orang yang saya percaya sebagai pengelola bisnis saya secara formal. “
“Mengapa Anda begitu percaya dengan saya?”
“Ini bukan soal percaya.Tapi tepatnya saling menguntungkan.”
“Saya ingin sebuah penjelasan.”
“Tepatnya begini, kita akan mendirikan perusahaan PIC atau Private investment Company yang terdaftar di wilayah bebas pajak, seperti negara BVI dan lainnya. Kepemilikan  perusahaan itu sepenuhnya adalah group saya. Kami menunjuk Anda sebagai proxy untuk melakukan kegiatan shadow banking. Semua sumber daya kekuangan berasal dari group saya. Jadi, ketika PIC mengambil alih, maka pemegang saham  adalah PIC tersebut dan posisi Anda adalah proxy kami untuk menjalankan agenda  global kami. Bisa dipahami?”
“Tawaran yang menarik dan sulit untuk ditolak!” Kataku girang.
“Nah, kembali ke masalah business plan  untuk menyelamatkan clients Anda dari ancaman penyitaan oleh otoritas, bisakah kita mulai kemitraan kita dari rencana bisnis Anda ini?” kata David dengan suara datar.
“Apa maksud Anda?”
“Biarkan clients Anda gagal dengan rencananya dan selanjutnya, Anda ambil alih melalui lelang  yang akan dilakukan oleh Otoritas. Tentu bukan rencana yang buruk dan sulit, kan?”
Aku tersentak! Betapa hebatnya orang ini merekrutku. Dia tidak butuh rekomendasi dari siapapun untuk meyakinkan bahwa aku orang yang pantas dipercaya dan capable. Dia hanya butuh keyakinan dengan kemampuan yang bisa kulakukan dengan rencananya. Lama aku menatapnya sampai dia salah tingkah. 
“Pak David, saya adalah konsultant profesional. Tugas saya karena kepercayaan dari clients saya. Tidak mungkin saya menyalahgunakan kepercayaan ini hanya  karena tawaran hebat dari Anda.” Sahutku tenang.
“Anda tidak perlu mengkhianati clients, Jak. Katakan sejujurnya bahwa Anda sudah gagal. Terbukti dengan ditolaknya underwriting bond Anda oleh AMC. Tugas Anda itu sudah selesai!” perkataan David sangat menohok dan sulit di tolak dengan logika.
“Tapi tugas saya terus mencari solusi,” Kataku tak mau kalah, sesuai kata hati.
“Jaka, bisinis itu berhubungan dengan trust dan reputasi. Clients Anda tidak punya reputasi karena dia sudah gagal menyelesaikan utangnya di Bank!”
“Tapi itu bukan salah dia. Ini karena pemerintah gagal mengurus moneter.”
“Bagaimana pun itu salah dia. Ingat, dia bukan karyawan yang mudah diatur pemerintah. Dia pengusaha yang harus berpenciuman tajam terhadap lingkungan bisnisnya. Seharusnya dia antisipasi jauh sebelumnya sebelum masalah besar terjadi. Di era globalisasi saat ini, tidak ada lagi batas negara. Kita bebas mendapat kenyamanan bisnis dimana saja. Kalau lingkungan bisnis tidak menguntungkan jangka panjang, ya pindah ke negara lain. Pahamilah itu.”
Aku terdiam. David benar dengan semua kata-katanya. Pengusaha Indonesia selama  era Soeharto memang hidup dimanjakan fasilitas negara. Sehingga lupa  untuk melihat keluar. Mereka tumbuh besar namun hanya sebagai jago kampung. Dan ini juga kelemahan Budiman. Dia asyik dengan rencana pengembangan bisnisnya menjadi konglomerat tapi lupa memperkuat setiap unit bisnisnya lewat penguasaan tekhnologi dan perluasan jaringan global.
Namun aku tidak bisa begitu saja menyalahkan Budiman karena dia sahabatku. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri bila aku menerima tawaran David, dan menyaksikan Budiman terpuruk. Sementara aku menikmati hidup bergelimang status orang kaya karena berhasil mengambil alih perusahaan melalui lelang yang diadakan otoritas negara.  Orang tuaku tidak mendidikku menjadi pengkhianat. Apalagi David adalah group pemodal kapitalis international dan dia menjadikan tanah airku sebagai target memperbesar portofolio bisnisnya secara kapitalis pula. Pasti hasilnya akan sangat jauh dari semangat berbagi untuk kesejahteraan bagi semua.
“Maaf, saya tidak bisa cepat menerima usulan Anda.  Beri saya waktu untuk berpikir.” pintaku dengan bijak.
“Kapan Anda akan kembali ke saya?” Kejar David.
“Anda tidak perlu menunggu. Saya akan datang bila keadaan memungkinkan.”
“Baiklah,” kata David tegas. ”Tapi saya tetap menunggu Anda!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar