Senin, 17 Oktober 2016

Memburu harta (19)

Catty berangkat lebih dulu setelah petugas menjemputnya di kamar. Sebelum pergi, dia memelukku erat lama sekali. Aku bisa merasakan bahwa sebenarnya, Catty tak ingin berpisah dariku. Namun semua memang harus terjadi sesuai kehendak takdir. Aku mengusap pungunggnya beberapa kali sebelum akhirnya, Catty melepaskan pelukan. “Jaga dirimu baik-baik. Tetap berhubungan ya?” kata Catty dengan air mata berlinang.  Aku tersenyum sambil memegang dagunya, “yakinlah bahwa kamu akan selalu baik-baik saja. Bukankah pertemuan kita karena takdir? Sejauh ini, kita dapat melewati rintangan dengan baik-baik saja. Dan akan selalu begitu.” Catty tersenyum. Lalu, perlahan dia mulai membalikkan badan dan melambaikan tangan. Sejenak kemudian, tubuhnya lenyap di telah daun pintu. Meninggalkan aku sendiri dalam kubangan rasa yang entah.
Aku duduk di pinggir tempat tidur menunggu jemputan. Dalam kesendirian, aku kembali terngiang kata-kata Madam Lyan, tentang ambisi group Fidelity untuk menguasai dunia. Betapa Iblis memang dapat berwujud dalam beragam bentuk. Bahkan dia bisa masuk ke dalam tubuh manusia dan menyetir manusia untuk berbuat seperti apa yang iblis mau. Manusia yang sudah dimasuki iblis  bisa saja seorang ahli di bidang ilmu pengetahuan atau bisa saja dia adalah pemimpin suatu bangsa. Mereka akan menjadi magnit bagi yang lain untuk mengikutinya. Dan tentu saja, mereka yang bisa di tipu oleh iblis adalah manusia yang keimanannya rendah, seperti Amir.
Tak heran bila kemudian orang sepintar Amir  menjadi begitu loyal kepada group Fidelity. Karena saat Iblis berhasil merasuk ke dalam orang berilmu tinggi di bidang ekonomi, budaya, sosial dan sains, maka dia akan menjadi model bagi orang lain untuk berkiblat pada ilmunya. Bila dia seorang pemimpin maka dia akan menjadi magnit bagi orang lain agar menjadi pendukungnya. Dengan cara ini Iblis bisa memperdayai manusia dalam jumlah besar untuk menjadi sesat di hadapan Allah. 
Group Fidelity sengaja menciptakan tiran dan pakar pengetahun agar orang berkiblat sesuai agenda mereka. Yang jadi pertanyaan adalah bagaimana cara Iblis menyesatkan orang itu agar bisa menjadi magnit kesesatan? Aku gelisah! Aku tahu betul kelicikan itu. Iblis akan menjadikan satu hal yang 0,9-nya benar. Tidak bertentangan dengan ketentuan Allah, dan tentu saja selaras dengan kaidah etika dan moral universal. Kemudian sisanya akan disesatkan. Jadilah satu hal itu menjadi sesat, gara-gara 0,1 bagiannya. Betapa terkutuknya!
Kukira, cara menyesatkannya pun sangat halus. Saking halusnya, akal kita tidak bisa mendeteksi kesesatan itu. Kenapa? Tidak lain karena yang 0,1 ini, berhubungan dengan nafsu manusia. Inilah yang jadi lubang dalam diri manusia sehingga bisa terlepas dari ikatannya dengan Allah. Walau hanya 0,1 yang disesatkan Iblis, dan masih tersisa 9,9 kebaikan, tapi dia akan memanipulasinya dengan istilah, keindahan harta dan kemuliaan nama besar. Manusia pun akan tertipu sehingga mau menuruti kesesatan itu. Istilah inilah yang membuat Amir begitu bersemangat dan percaya dengan sistem yang di tawarkan group Fidelity. 
Aku yakin, karena dua hal ini yang akan membuat manusia gigih mempertahankan yang sesat agar keindahan harta dan kemuliaan nama besarnya tetap disandang. Demi dua hal ini, ideologi sosialisme membuat manusia ingin tetap berkuasa atas orang lain secara menyeluruh. Begitupula dengan ideologi kapitalisme, yang membuat manusia menjadi gemar menumpuk harta dan mencari kekuasaan walau harus menindas orang lain. Agar kedua isme ini tetap eksis dipahami orang banyak sebagaimana keinginan mereka, maka agama harus dijauhi. Karena hanya agama yang bisa menunjukan kebenaran sejati dan membuat magnit itu menjadi lemah. Astafirullah!
Barangkali kau belum begitu paham dengan apa yang kusampaikan. Tanyalah kepada sebagian orang-orang kaya yang lemah iman, mengapa dia tidak mau berbagi dengan orang miskin? Pasti dia punya jawaban hebat untuk membenarkan sikapnya agar tidak berbagi. Bila berdebat, mereka punya dasar pengetahuan yang cukup untuk menangkal setiap tuduhan. Bahkan bisa jadi hipotesa mereka akan kita iyakan, bila keimanan kita dangkal. 
Iblis bisa memperdaya manusia dengan segala bentuk prasangka, analogi dan tesis. Tapi tidak bagi mereka yang dekat dengan Allah. Iblis pun mampu menciptakan situasi dan kondisi yang akan menimbulkan ketakutan atau kecemasan bagi orang kaya dan penguasa untuk semakin tergantung dengan bisikannya. Setiap hari, setiap detik, iblis meniupkan rasa cemas itu kepada orang kaya dan penguasa agar terus bertindak zalim demi mempertahankan status quo mereka. aku menghela nafas panjang demi melonggarkan perasaan yang berkecamuk dalam dada. Ada sebuah bisikan, bahwa ini adalah tanggung jawabku untuk ikut menyampaikan sebuah kebenaran walau tidak harus menjadi ustad atau ahli agama.
***

Beberapa jam kemudian, petugas lain menjemputku keluar dari kamar. Aku mengikuti langkah petugas menyusuri lorong. Ketika sampai di luar, betapa terkejutnya aku, ternyata hari sudah malam dan baru menyadari bahwa selama ini aku berada di basement hotel bintang tiga di daerah pinggiran kota Bangkok. Cara yang sangat pintar untuk mengkamuflase sebuah markas. 
Kendaraan melaju ke bandara. Di dalam kendaraan, petugas itu memberikan amplop. Kuterima amplop warna kuning itu dan memasukkannya kedalam jas. Kendaraan lalu masuk ke tempat parkir jet pribadi. Dengan pesawat inilah aku akan menuju Singapura, selanjutnya kembali pulang ke rumah.
Di dalam jet pribadi itu, anganku masih sibuk dengan segudang pertanyaan. Apakah Madam Lyan akan berhasil menemukan sandi decade asset itu? Aku kembali teringat pada pertemuan dengan seseorang di dalam mimpi. Kalau kode itu mudah ditemukan melalui dokumen yang ada di tangannya, lalu apa hubungannya dengan petunjuk dalam mimpi? Apakah ada pihak dari dunia lain yang ikut mengawasi keberadaan aset ini dan tidak menginginkan aset ini jatuh ke pihak yang salah? 
Sulit di nalar adanya hubungan antara dunia lain dengan dunia nyata. Tapi kalau mendengar penjelasan dari Madam Lyan, sepertinya bisa saja terjadi. Karena gerakan Fidelity Group adalah mata rantai kekuatan setan yang bersumber dari balik kegelapan yang tidak menginginkan adanya perdamaian di muka bumi. Karenanya, pertarungan antara pihak yang baik dan jahat akan selalu ada. Sederhananya, kalau ada kekuatan gelap dari dunia lain, kenapa tidak ada kekuatan baik juga dari dunia lain? Allah memang menciptakan Iblis, tentu dengan maksud tertentu.
Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kemudian setelah aku melewati semua ini. Aku tidak punya rencana apapun untuk menghubungi Chang. Hanya, kembali aku teringat kata-kata Darsa ketika memintaku kembali masuk ke dalam ragaku, Saatnya Anda kembali ke tubuh Anda. Ikutilah dua pria itu. Mereka adalah takdirmu. Jemputlah 
Kata-kata ini menyiratkan bahwa masalah yang kuhadapi belum selesai. Akan ada kelanjutan ceritanya. Dan tugasku adalah mengikuti dua pria dari kelompok Madam Lyan.
Sementara pertemuanku dengan Team Chang sebelumnya, menyadarkannku tentang ancaman bagi umat manusia dari program promosi demokrasi. Yang akan membuat manusia kembali terjajah dalam jaringan neokolonial. 
Catty juga memperkuat keyakinanku, bahwa ada kekuatan raksasa yang ingin menguasai dunia melalui pengendalian sistem keuangan global. Dan terakhir pertemuanku dengan Madam Lyan, menegaskan siapa musuh bersama yang sejati bagi umat manusia. Ternyata semua itu sudah diingatkan oleh Allah di dalam kitab suci. Hanya saja manusia lupa. Terlalu asyik dengan tipu muslihat kesenangan dunia yang di  ciptakan oleh kekuatan iblis.
Lalu, aku kembali terbayang pada diriku sendiri. Aku, Jaka Samora. Siapakah aku hingga terseret masuk dalam pertarungan besar ini? Aku  bukan tokoh agama yang menguasai pengetahuan tentang kitab suci. Bukan pula politikus yang memahami aturan kenegaraan. Juga bukan ilmuwan yang ahli di bidang ilmu rekayasa. Aku  bukanlah siapa-siapa. Lantas mengapa aku bisa sampai masuk ke ruang dimensi lain dan mendapatkan pencerahan tentang pendiri negaraku yang begitu semangat melawan neokolonialism? Tuhan-lah yang mengatur itu semua. Tak ada lagi yang perlu diragukan untuk tetap ikhlas mengikuti dan melawati hari esok, menjemput takdirku. 
Bayanganku kembali terantuk pada peristiwa saat aku berada di tengah kebun sawit milik Budiman. Sebuah peristiwa yang sangat menggugah nuraniku untuk bangkit melawan ketidak-adilan. Aku saksikan sebuah keluarga, dengan seorang ibu yang harus menelan pil pahit kegetiran. Ditinggal suami bekerja menjadi kuli di negeri orang, dan merelakan dua anak putrinya menjadi pelacur di negerinya sendiri. Padahal semua orang tahu, negerinya adalah tempat berburu bagi orang-orang dari segenap pelosok bumi untuk mencari kekayaan sumber daya alam. 
Maka tidak aneh bila negeri yang dikenal sebagai negeri subur makmur, namun justru menjadi pengimpor utama beras dan produk pertanian lainnya. Juga tidak aneh bila sumber daya alam migas melimpah namun rakyat harus membayar sama mahal dengan bangsa lain yang tidak punya sumber daya migas. Juga tidak aneh bila negeri yang memiliki luas teritorial laut melebihi yang dimiliki Thailand dan Malaysia, namun nelayannya jauh lebih miskin dari nelayan mereka. Juga tidak aneh bila negeri yang 100 persen penduduknya mempercayai agama namun menjadi negara dengan peringkat pornographi nomor dua di dunia.
Bila tidak ada perlawanan dari kita yang peduli maka Allah-lah yang akan melawannya! Karena Dia tidak akan pernah membiarkan kezaliman berlaku, dan terjadi terus menerus di muka bumi ini. Kitab suci telah mengingatkan dalam banyak kisah dari kaum-kaum sebelum kita. 
Sebetulnya, Tuhan juga telah mengingatkan kita dengan berbagai peristiwa. Hujan turun tidak membawa berkah tapi dalam bentuk bencana banjir. Angin tidak memberikan peluang bagi nelayan tapi menjadi bencana gelombang pasang. Alam yang berada di lintasan khatulistiwa yang dikenal bagai kilauan mustika, berubah menjadi lintasan rentetan bencana. Gunung meletus, tsunami, angin beliung, kebakaran hutan dan gempa.
Akhirnya aku sadar, bahwa negeriku adalah contoh bangsa yang gagal menjadi dirinya sendiri karena pengaruh segolongan manusia dari balik kegelapan. Mungkinkah suatu saat akan muncul seorang pemimpin di Indonesia yang menyadari ini dan  berjuang merubah mindset berdasarkan standard akhlak mulia yang diajarkan oleh Tuhan, bukan oleh aliran sesat ini? Ya, seperti kata Deng, perubahan mental dan revolusi kebuyaaan adalah revolusi mental. Inilah yang harus dilakukan dalam suatu gerakan rekayasa sosial secara menyeluruh. Mungkinkah?
“Pak, sebentar lagi kita akan mendarat di Changi airport.” Aku dikejutkan suara Pilot yang terdengar dari speaker di atas tempat dudukku. Aku membuka amplop kuning. Isinya selembar dokumen dan surat berisi pesan, Jemputlah takdirmu. Dokumem ini akan membuktikan hasil transaksi yang sudah kamu lakukan di Swiss. Bila kamu siap, masuklah ke dalam Fed system.
Tapi aku tidak mengerti maksud dari dokumen ini. Sedang untuk menanyakan masalah dokumen ini, aku juga tidak tahu bagaimana menghubungi Madam Lyan. Tidak ada nomor telepon yang bisa ku gunakan untuk menghubunginya.
Cukup lama aku memperhatikan dokumen yang disebut sebagai bukti itu. Dokumen itu berisi fund confirmation yang dikeluarkan oleh US33. 
Oh My GOD! Padahal dokumen semacam ini bahkan tidak pernah berhasil aku dapatkan dari Global Asset Management dengan alasan The Fed menolak. Selain dokumen ini, tidak ada bukti lain yang bisa ku peroleh untuk bisa menang di pengadilan.  Dari dokumen ini jelas terlihat bahwa US Treasury mengakui transaksi yang kulakukan. Lantas mengapa sistem The Fed bisa tidak bekerja seperti seharusnya? Kini aku mengerti, Fidelity Group berada di balik itu semua.
Tapi, untuk apa dokumen ini bagiku? Mengapa Madam Lyan memberikan dokumen ini kepadaku? Sungguh aku tidak mengerti. Aku menghela napas panjang dan menyimpan kembali amplop itu di balik jas. Yang pasti, kini aku telah mendapatkan dokumen bukti keberadaan transaksi. Sementara dokumen decade asset telah berpindah ke tangan Madam Lyan. Sebuah pertukaran yang membingungkan.
Roda pesawat terasa menyentuh landasan, menandakan bahwa aku akan sampai pada putaran berikutnya dalam menjemput sang takdir. Jam menunjukan pukul 08.45 malam. Seorang pria bermata sipit menjemputku ketika aku sampai di depan gerbang imigrasi..Tanpa bicara, pria itu menyerahkan paspor. Aku terkejut karena itu adalah paspor milikku. Aku perhatikan paspor itu lembar demi lembar. Isinya dicap sesuai dengan kedatangan dan keberangkatanku. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Padahal aku tidak pernah melintas gerbang imigrasi sama sekali. 
Aku tergesa-gesa menuju pesawat saat diingatkan petugas bahwa pesawat menuju Jakarta sudah mulai boarding. Perasaan lega ketika pesawat Garuda yang kutumpangi, beranjak take off. Terbayang wajah istri yang tentu cemas karena aku tidak sempat memberi kabar kepergian.

3 komentar:

  1. Semakin kesini semakin sy sadar kondisi negara kita Dan semakin penasaran dg ending nya pak����

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus