Kamis, 13 Oktober 2016

Memburu harta (13)

Malam itu, lamunanku kembali tertuju pada Fernandez. Seseorang yang kuharapkan bisa menjadi kunci pembuka misteri transaksiku. Aku mencoba mengingat segala sesuatu tentang pria Meksiko itu. Siapa tahu, ada petunjuk yang tersirat dari persahabatan kami selama ini. Di kamar kerja yang terletak di sebelah kamar tidur, aku menebar semua dokumen di atas meja. Satu-persatu dokumen dari dalam tas kecil dari Susi, ku baca. Sudah hampir enam jam sejak pukul tujuh, setelah makan malam bersama istri, aku belum juga menemukan sesuatu yang berarti dari tumpukan dokumen itu.
“Bang,” terdengar suara istriku lembut. Aku terkejut, menyadari dia sudah ada di belakang, memegang bahuku mesra. 
“Abang kelihatannya sibuk sekali?”
“Eh, iya sayang.” Aku menyambut lembut sentuhan tangan istrinku di bahu.
“Istirahatlah, sudah pukul satu pagi.” Istriku menatap sambil tersenyum.
“Tidurlah duluan, nanti aku nyusul.”
“Oh iya, Bang. Nilai Lia bagus semua. IPK Rizki juga naik, sekarang sudah di atas 3.”
Aku tersenyum. “Itulah nikmat luar biasa pemberian Tuhan. Kita dikarunia anak-anak yang cerdas dan berbudi pekerti yang baik. Itu semua berkat Mama yang jago mendidik mereka.”
“Bukannya mereka meniru Papa sebagai teladan?” sergah istriku sambil memelukku dari belakang.
“Mamalah yang mencetak mereka seperti apa yang Papa mau,” kataku sembari mencium kening istriku. “Nah, tidurlah sekarang. Sebentar lagi papa nyusul ya..”
“Iya deh Bang,” kata istriku lalu berjalan keluar. Sebentar kemudian, dia masuk kembali dengan secangkir kopi susu untukku. Dia meninggalkan satu ciuman sebelum akhirnya pergi ke kamar untuk tidur.
Tiba-tiba aku menemukan sebuah dokumen yang unik. Tidak ada satupun kalimat dalam dokumen itu yang aku mengerti. Bahkan aku tidak tahu bahasa apa yang dipakai.  Apa maksud Fernandez menyimpan dokumen ini dalam tempat pribadinya? Dan apa sebetulnya yang dicari oleh Fernandez di Indonesia yang berujung pada kematiannya? Inilah misteri yang membuatku penasaran. 
Satu demi satu kalimat dalam dokumen itu kuketik di search engine. Berharap mendapatkan sedikit info tentang isi dokumen. Di era internet seperti sekarang, tidak ada informasi yang tak dapat di akses. Walau begitu banyak jumlah situs yang bertebaran di internet, namun berkat sistem pencari situs atau search engine memungkinkan setiap orang dapat menemukan informasi yang dicarinya dengan mudah. Hanya dalam hitungan detik, dengan menulis singkat pokok kalimat yang hendak dicari, maka search engine akan menuntun orang tersebut ke situs yang hendak dituju. 
Setelah melewati berbagai situs, akhirnya aku menemukan sebuah situs yang menarik perhatianku. Begitu di-clik, nampak di layar komputer sebuah arsip email dari seseorang berinisial “Catty_ohh”. Kelihatannya Catty_ohh sengaja menampilkan isi emailnya dalam situs terbuka agar dapat di-search orang lain. 
Isi emailnya sangat singkat, “ada tiga pilihan untuk Anda. Yaitu: pertama, menerima situasi buruk dengan apa adanya dan berusaha larut dalam situasi tersebut. Kedua, mencari orang lain untuk bekerja sama melawan situasi dan yang ketiga adalah masa bodoh.” Di kalimat terakhir ada kata-kata yang persis sama, seperti yang tertulis dalam dokumen. Namun hanya sepotong kalimat yang dibiarkan terlacak search engine.
Segera aku membuka webmail dan mengirim email ke seseorang berinisial Catty_ohh itu. Aku hanya mengirim pesan singkat dan menyebutkan sepenggal kalimat yang ada di dalam dokumen. Berharap pesan ini akan menarik perhatian Catty_ooh. Sambil berdoa agar keesokan harinya aku akan mendapat response sekaligus titik temu bagi misteri ini. Aku pun membaringkan tubuh di samping istriku sambil memeluk tubuhnya  yang sedang terlelap.
***
Paginya, aku terjaga agak siang dan terlambat sholat subuh. Dengan langkah berat aku menghampiri ruang kerjaku untuk membuka webmail. Ada pesan masuk, satu jam setelah aku kirim email. Dan pengirimnya adalah Catty. 
Apakah kita bisa bertemu? Saya ada di Taipe, sekarang. Kalau Anda bisa datang ke Hong Kong hari ini, maka saya juga akan terbang ke Hong Kong. Salam, Catty. 
Di bawah namanya juga tertera nomor telepon internasional. Tanpa pikir panjang, aku langsung membalas email tersebut. 
Saya pastikan hari ini berangkat ke Hong Kong. Sampai ketemu.
Aku menutup webmail. Lalu segera mandi, bersiap-siap berangkat ke airport. Istriku sudah pergi sedari pagi kepasr. Dalam perjalanan ke airport aku mengirim pesan singkat kepada istriku, bahwa aku pamit pergi ke Hong Kong. Istriku menjawab singkat, hati-hati ya sayang..
Aku tersenyum. Itulah yang kusukai dari istriku. Selalu menaruh kepercayaan penuh, dan memberi dukungan tanpa pernah mempertanyakan alasan untuk setiap tindakan. Dalam hati aku bergumam, I do love you!
***
Entah sudah berapa kali aku menjejakan kaki di Hong Kong. Lebih dari 3 tahun setelah krisis moneter aku banting setir dari pangusaha pabrikan menjadi konsultan keuangan. Bisnis ini membuatku selalu bersinggungan dengan institusi keuangan yang ada di Hong Kong. Hong Kong adalah financial resource  utama bagi negara-negara Asia. Hampir semua pembisnis tahu bahwa Hong Kong adalah magnet, financial center untuk mendapatkan solusi pembiayaan. 
Tapi kedatanganku kali ini, tidak untuk bertemu dengan lembaga keuangan. Aku tidak akan menghubungi Ester. Karena benarlah Tomasi, bahwa transaksi ini beresiko bagi Ester yang mempunyai posisi formal sebagai pejabat bank. Aku datang untuk sesuatu yang belum jelas. Untuk mencari informasi dari seseorang yang hanya kukenal lewat email. Sebagai pembisnis, aku sadar sekecil apapun peluang, harus dikejar. Ini adalah sikap standar bagi semua pengusaha untuk keluar dari ruang sempit dan gelap yang dihadapi. Begitu pula Aku. Berharap mendapatkan setitik cahaya yang akan membantuku menemukan jalan keluar.
Dalam sebuah kafe yang terletak di Hotel Marriot Hong Kong, aku duduk menghadap ke arah loby utama hotel. Aku memperhatikan setiap wanita yang masuk. Wanita yang kutunggu adalah Catty, yang melalui telepon menyebutkan ciri-cirinya. Dia mengenakan blazer  biru dengan kerah berenda putih dan menenteng tas warna hitam. Di tengah penantian, aku dikejutkan oleh getaran dari telepon seluler.
“Hai. Saya Catty. Anda di mana?” terdengar suara lembut dari seberang.
“Saya ada di kafe. Di samping lounge executive,” jawabku.
“Ok. Saya ada di arah jam tiga pada posisi Anda.”
Aku menoleh ke samping. Nampak wanita cantik berdiri tidak begitu jauh dariku dengan pakaian persis seperti yang disebutkan di telepon. 
“Saya pikir Anda akan masuk dari lobi utama,” kataku ketika menghampiri Catty. “Kenalkan, nama saya Jaka.”
Wanita itu menerima uluran tanganku sambil tersenyum. “Saya Catty Liem,” sahutnya memperkenalkan dirinya. “Saya masuk dari Mall, di samping hotel ini.”
Aku memperhatikan sekilas, Catty Liem berusia tidak lebih dari tiga puluh tahun. Tapi justru terlihat cantik dan dewasa. Bisa berbahasa Inggris dengan sangat baik. Wanita ini nampak terdidik dan mungkin terlahir dari keluarga kalangan atas, bisik hatiku menyimpulkan.
“Bisakah kita duduk sekarang?” tanya Catty membuyarkan lamunan.
“Oh, iya, tentu. Mari silahkan.” Aku menarik kursi, mempersilahkan Catty duduk.
“Anda cantik sekali,” pujiku  tiba-tiba, tanpa kusadari.
“Terima kasih untuk pujiannya. Anda juga luar biasa. Saya taksir, usia Anda tidak lebih dari empat puluhan,” sambung Catty balas memuji.
“Maaf. Tapi usia saya sudah di atas empat puluh,tepatnya 41” jawabku sambil tersenyum.
“Oh ya?” Nampak otot-otot wajah Catty tertarik, seakan tidak yakin dengan jawabanku.
“Seharusnya Anda menulis buku tentang hidup sehat dan tips awet muda. Saya yakin akan menjadi best seller,” Catty tertawa ringan memperlihatkan sederet gigi putih yang sehat terawat.
Aku tertawa kecil menanggapi celotehnya, “Anda bisa saja. Anak saya yang tertua, sekarang kuliah di universitas dan yang bungsu sudah berusia empat belas tahun.”
“Wow! Luar biasa. Anda sangat beruntung sebagai ayah. Tentu putra-putri Anda juga sangat bangga pada ayahnya.”
“Ah, biasa saja,” kataku singkat. “Bagaimana dengan Anda?”
“Usia saya tigapuluh lima tahun. Saya bekerja di perusahaan investasi di Lugano.”
“Oh ya? Tadinya saya yakin usia Anda tidak lebih dari tigapuluh tahun.”
“Anda selalu pintar memuji,” kata Catty dengan tersenyum.
Wanita yang ada di hadapanku sangat ramah. Suasana menjadi sangat santai dan akrab. Seakan kami sudah saling kenal selama bertahun-tahun.
“Baiklah. Apa yang mengharuskan kita bertemu? Mungkin ada sesuatu. Tapi apapun itu, saya sudah sangat beruntung dapat berkenalan dengan Anda,” kataku dengan hati-hati agar tidak merusak suasana.
“Ok. Saya memang sengaja menempatkan pesan dengan kalimat itu di internet agar terindeks search engine. Berharap suatu saat nanti ada seseorang mencari tahu tentang kalimat itu. Hampir dua tahun sejak saya menuliskannya, baru sekarang saya mendapatkan respon. Dan itu datang dari Anda.”
“Apakah saya boleh tahu, apa makna kalimat itu?”
“Sebelumnya, saya harus memastikan, bahwa Anda benar-benar memegang dokumen yang memuat lengkap kalimat tersebut.” Suara Catty terdengar pelan. Sepertinya tak ingin ada orang lain yang ikut mendengar.
“Apakah ini yang Anda maksud?” Aku memberikan copy document yang ada di tanganku.
“Apa Anda punya aslinya?”
“Tentu. Ada di kamar saya. Bukan hanya ini, tapi ada beberapa dokumen lagi,” jawabku sambil memperhatikan Catty yang sibuk membaca copy document tersebut. 
Tiba-tiba Catty menatapku dengan seksama. Air mata mengambang di pelupuk matanya. “Hanya ada satu kata yang dapat saya sampaikan kepada Anda.”
“Apa itu?”
“Takdir!”
“Takdir?” kataku dengan mimik bingung.
“Tuhan mungkin mengirim Anda ke dunia ini untuk menerima takdir sebagai warrior pelawan ketidak-adilan di muka bumi.”
“Saya tidak mengerti?”
“Sebaiknya kita bicara di kamar Anda,” bisik Catty yang membuat aku terkejut. Seriuskah wanita ini? Bukankah wanita ini baru mengenalku?
“Apakah Anda tidak keberatan saya ke kamar Anda?” sambung Catty lagi, membuat Aku tidak bisa berkata. “Tidak!” aku segera berdiri dan membimbing Catty menuju lift.
Di dalam kamar hotel.
“Dari mana Anda mendapatkan dokumen ini?” tanya Catty seolah tak percaya, ketika aku memperlihatkan dokumen aslinya.
“Fernandez.”
“Ramon Fernandez,” tebak Catty menyebut nama lengkapnya.
“Bagaimana Anda bisa tahu nama lengkapnya?” ganti aku yang terkejut.
“Saya mengenal Fernandez, delapan tahun lalu. Kami berkenalan karena kesamaan visi dan misi. Kedatangnya ke Indonesia adalah untuk memburu dokumen Decade Asset. Data dari perpustakaan menuntunnya untuk datang ke Indonesia.” Catty terdiam. Kemudian berdiri dari tempat duduknya, air matanya berlinang. 
“Saya kehilangan kontak dengannya lebih dari empat tahun. Itulah sebabnya saya membuat pesan singkat di internet, berharap ada seseorang yang dapat memberi saya jawaban. Karena hanya Ramon dan saya yang tahu tentang potongan kalimat itu. Dengan adanya dokumen ini di tangan Anda, maka selesailah tugas Ramon. Dapatkah saya bertemu dengan dia? Di mana dia sekarang dan siapa Anda sebetulnya?” Catty membalikkan tubuh dan menatapku. Bekas air mata masih terlihat di pelupuk matanya.
“Sayang sekali...”
“Maksud Anda?”
“Anda tidak akan pernah bertemu lagi dengan dia.”
“Mengapa?”
“Dia sudah meninggal empat tahun lalu. Seseorang telah membunuhnya.” Aku berhenti  meneruskan kalimatku, saat melihat wanita itu mulai limbung dan terduduk di tempat tidur.
“Oh Tuhan!” Catty menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Kemudian menengadah ke atas, seperti menerawang sesuatu yang tak pernah akan dia mengerti. “Mengapa begitu banyak korban. Sampai kapan ini akan berakhir?” tubuhnya berguncang dan tangisnya pecah.
Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Mengapa Catty bicara soal korban? Siapakah Catty sebenarnya dan ada apa di balik pembunuhan Fernandez? Bertemu dengannya justru membuat misteri ini semakin membingungkan.
Tak ingin semakin larut dalam kebingungan, aku pun memulai cerita. “Oh, ya. Saya menemukan semua dokumen ini dari seorang teman wanita Ramon. Wanita itu sempat mengambil barang milik pribadi Ramon sebelum melarikan diri setelah peristiwa kematiannya.” Catty mendengar dengan seksama meski matanya tetap berkaca-kaca. Aku melihat dirinya begitu terpukul dengan kematian Ramon. 
“Saya bukanlah siapa-siapa. Saya juga tidak tahu apakah dokumen ini berharga. Yang pasti awalnya saya hanya ingin bertemu dengan Fernandez untuk mencari tahu alamat seseorang yang dulu pernah dia kenalkan kepada saya,” lanjutku.
“Siapa yang Anda maksud?” tanya Catty.
“Tomasi.”
“Tomasi Gonzales?” Lagi-lagi Catty menyebut nama lengkap lelaki yang aku cari. Dan kukira, Catty juga mengenal Tomasi. “Anda mengenalnya?” Tanyaku antusias.
“Tentu,” jawab Catty tegas.
“Di mana dia sekarang?” aku bertanya lagi, tak sabar ingin segera bertemu dengan Tomasi.
“Tewas! Dia dibunuh di kamar hotelnya di Moskow. Setahun yang lalu.” Air mata Catty kembali mengambang di pelupuk mata. Mendengar informasi sedetail itu, aku merasa ada hubungan spesial antar keduanya. Aku pun meneruskan pertanyaan, “sejauh mana Anda mengenal Tomasi?”
“Dia suami saya,” jawab Catty sambil memalingkan wajah.
“Oh, maafkan saya,” kataku refleks, sambil menawarkan tisu kepada Catty yang tak kuasa lagi menahan air matanya.
Suasana menjadi hening. Aku membiarkan Catty, hanyut bersama perasaannya. Aku merasa berdosa telah membuat wanita ini mengingat sesuatu yang sangat menyedihkan. Selang beberapa saat, Catty kembali melihat dokumen yang tergeletak di atas meja. Dia membaca lembar demi lembar dokumen tersebut.
“Dengan semua dokumen ini, saya rasa kematian Ramon tidak akan sia-sia,” sebut Catty tenang. Sepertinya dia sudah kembali tegar. Matanya yang masih merah, menatapku kembali. “Apa yang Tomasi lakukan pada Anda?”
“Tomasi memperkenalkan saya dengan seseorang bernama Chang. Orang itu kemudian memberikan mandat kepada saya untuk mengelola asetnya yang ditempatkan di suatu Bank di Eropa. Tapi setelah saya kelola melalui transaksi 144 A SEC dengan hasil yang sangat luar bisa, ternyata aset yang ditempatkan sebagai jaminan trading tadi dinyatakan tidak syah oleh The Fed. Akibatnya rekening hasil trading saya, di-block berdasarkan sistem yang mereka buat. Anehnya tidak ada bukti ataupun keterangan yang menyatakan bahwa saya telah melakukan penipuan karena aset tidak syah. 
Ketika gugatan hukum saya ajukan, sampai hari ini tidak ada jawaban apapun dari pihak pengadilan. Alasannya tidak satupun lembaga keuangan di mana transakasi itu dilakukan, bersedia menjadi saksi atau mengakui keberadaan transaksi itu. Inilah yang membuat saya bingung. Apalagi belakangan ada dua pihak yang bersedia memberi kompensasi, kalau saya mau menuruti keinginan mereka. Di satu pihak menginginkan saya maju, di lain pihak minta saya mundur. Ini, kan aneh? Saya tidak berharap banyak dari semua keganjilan ini, kecuali hanya ingin tahu kebenarannya. Itu saja.”
“Apa yang dilakukan oleh Tomasi adalah hal biasa dari strategi untuk mengacaukan sistem yang memang harus kami hancurkan,” kata Catty memulai cerita dengan mimik serius. 
“Tidak terbilang jumlah orang seperti Anda yang ditempatkannya dalam permainan ini. Namun memang tidak satupun dari mereka yang berani membawa masalah ini ke pengadilan. Kecuali Anda. Apalagi, di tangan Anda sekarang ada dokumen yang bisa membuat seluruh sistem peradilan dan keuangan global terguncang.”
“Oh! Bagaimana mungkin?” tanyaku takjub.
“Tahukah Anda,” kata Catty sambil memegang lembar dokumen. “Dokumen ini membuktikan suatu fakta bahwa ada kelompok tertentu yang menjadikan bangsa Amerika dan Eropa Barat sebagai penipu besar secara sistematis, dan perampok harta negara-negara dunia ketiga yang tercatat dalam decade asset di bawah hukum trustee. Ketika Perang Dunia Kedua usai, Amerika membawa seluruh harta rampasan perang dalam bentuk emas, platina, dan permata yang ada di Cina, Jepang, dan Eropa.
Setelah itu mereka mengumumkan, bahwa mata uang mereka, Dollar dijamin dengan emas. Tidak ada perlawanan atau bantahan dari negara lain, karena pemenang perang berhak mendapatkan semuanya, termasuk hukum. Maka supply Dollar dalam bentuk pinjaman lunak mengalir deras ke negara-negara yang hancur karena perang. Seperti Jepang, Eropa, dan Taiwan untuk rekonstruksi, pemulihan pasca perang.
Kemudian ketika Nixon menjadi presiden, Amerika melepaskan mata uangnya dari emas. Persoalannya, ketika itu seluruh dunia sudah sangat bergantung dengan kekuatan mata uang Dollar. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, apakah uang yang terlanjur beredar itu sama dengan jumlah emas yang pernah dijadikan jaminan? Dokumen ini akan menjadi bukti dan bantahan keculasan mereka!!” cerita Catty berapi-api. Ia tampak begitu geram. Sepertinya ada sesuatu yang sangat mengusik emosinya.
“Seharusnya verifikasi sistem terhadap aset itu sudah cukup jadi bukti keabsahannya. Tidak ada lagi alasan bagi the Fed untuk menolak hasil forfeiting trading program saya.” 
“Itu saya tidak tahu. Yang jelas, Tomasi telah menggiring Anda ke dalam trading surat berharga di luar koridor Bank International for Settlement.  Dia mempunyai akses kedalam pedagangan surat berharga melalui Federal Reserve System,  dengan kode privatnya, untuk bisa menggunakan decade asset.”
“Lantas, mengapa tidak ada satupun pihak perbankan yang terlibat, meminta agar saya memberikan kode rahasianya? Mereka hanya bilang bahwa dokumen asset itu tidak syah.”
“Memang benar! Itu bagian dari cara mereka menjaga kerahasiaan transaksi. Juga salah satu cara untuk menguji sejauh mana kebenaran posisi Anda sebagai pihak yang mewakili pemilik aset. Melalui sistem data base, Anda dapat membuka posisi dari keadaan terkunci menjadi unlock hanya dengan memasukkan kode rahasia dari dokumen tersebut di screen.”
“Oh!”
“Dan untuk Anda ketahui, bahwa kode aset yang Anda pegang sekarang adalah yang terbesar dari seluruh dokumen aset yang ada. Ia mewakili 90% dari total aset, yang kini dipegang segelintir orang. Dokumen yang sekarang ada di depan kita adalah kode atas aset tersebut!”
“Di mana letak kodenya?” tanyaku sambil memperhatikan setiap lembaran dokumen yang ada.
“Saya tidak tahu. Tapi dengan dokumen ini kita bisa menemukan kode rahasianya.”
“Hm.. Lantas, bagaimana sistem dapat mengakui validitas kode itu? Tentu ada seseorang yang sudah mengatur kode tersebut dalam sistem, sehingga bisa digunakan pihak lain agar dapat mengaksesnya.”
“Benar. Tapi seseorang itu sudah tidak ada. Dia meninggal dalam peristiwa pembunuhan bersejarah. Rahasia itu terkubur bersama jasadnya. Sementara Amerika, tidak bisa mendesain ulang sistem tersebut karena sudah terlanjur menjadi sistem yang diakui, sejak emas dijadikan jaminan mata uang Dollar. Mendesain ulang sistem, akan menghancurkan sistem itu sendiri yang akan mengakibatkan runtuhnya kepercayaan terhadap mata uang itu.”
“Apakah mereka tidak mampu menciptakan alat untuk melacak dan menemukan kode aksesnya?”
“Sampai hari ini mereka gagal. Walaupun mereka telah membuat alat canggih pencari kode dengan jutaan prosesor yang mampu bekerja secara paralel. Tapi belum menunjukkan hasil.”
“Benar-benar kode yang rumit,” aku menggelengkan kepala.
“Ya! Seakan kecanggihan alat modern abad 21 ini tidak berarti sama sekali.”
“Kalau tidak salah, dokumen yang ada di tangan kita ini, pernah juga dimiliki seseorang. Ia juga menempatkan kodenya kedalam sistem. Benarkah itu?”
“Benar sekali! Tapi yang sekarang ada di tangan kita ini asli. Sementara orang itu hanya mendapatkan salinannya.”
“Siapa yang menyalin?”
“Dia adalah pendiri negara Anda. Pejuang kemanusiaan kelas dunia dan terbesar dalam sejarah peradaban modern, demi melawan ketidak-adilan.”
“Itu juga sebabnya mengapa Ramon datang ke Indonesia?” kataku mencoba mengambil kesimpulan.
“Nah, sekarang Anda sudah mulai memahaminya,” puji Catty tersenyum indah. “Transaksi Anda dan dokumen sandi yang ada di tangan kita ini, akan merubah tatanan dunia menjadi lebih adil. Kita harus berjuang untuk kemanusiaan, menegakkan keadilan di muka bumi. Apa pun hasilnya nanti, kepada Tuhan kita berserah diri.” 
“Mulia sekali tujuannya,” aku mulai terpengaruh semangat Catty yang menggebu-gebu. “Tapi, bolehkah saya tahu dari mana Anda tahu semua ini?”
Catty berdiri dan menghadap ke jendela.  Mimik wajahnya tiba-tiba berubah. Sepertinya, ada emosi yang bergemuruh di hati yang susah payah dia tahan. Ditatapnya mataku lalu berkata, “keluarga dari ayah saya adalah salah satu pendiri bank terkemuka di Eropa, tempat di mana aset ini disimpan. Ibu saya berkebangsaan Taiwan dan tetap tinggal di sana sampai sekarang. Kakek dari ibu saya ini sangat dekat dengan saya di bandingkan cucunya yang lain. Dia berpesan, agar saya berjuang menebus kesalahan keluarga dengan mengungkap kebenaran aset-aset ini semua. Keluarga kami dahulu tidak berhasil. Karena, di samping aset itu sudah tidak ada lagi akibat perang, juga dokumen asli aset itu hilang ketika terjadi perang dunia kedua.
Makanya kakek mengharapkan, agar saya mencari dokumen aset itu sampai kapanpun. Jadi ini soal kehormatan keluarga untuk menjaga amanah mereka yang pernah menitipkan hartanya kepada keluarga kami. Saya bersyukur mendapatkan Tomasi sebagai suami yang setia mendukung obsesi saya ini. Tapi sayang dia pun harus menebus ini dengan nyawanya.” Kata-kata Catty terhenti. 
“Saya harap Anda mengerti apa yang saya rasakan. Atau bahkan meneruskan ambisi pendiri negara Anda untuk menggerakkan revolusi melawan ketidak-adilan. Hidup memang masalah pilihan. Setiap pilihan, ada resikonya dan pilihan ini memang tidak akan mudah,” sambungnya.
“Sekarang saya mengerti maksud Anda tentang takdir. Anda benar. Ini adalah takdir yang harus saya jemput. Hidup sekali harus berarti atau mati,” kataku menimpali dengan semangat. 
Catty menyambutku dengan senyum, lalu menjulurkan kelingking tangannya kepadaku, “janji ya?” serunya sambil menjepit jari kelingkingku. Ini cara khas orang Taiwan saat ingin mengikat janji.
“Ok. Katakan dari mana kita harus memulai?” tanyaku serius. Penuh semangat.
“Pertama, kita harus memecahkan makna di balik dokumen ini untuk mendapatkan kode tersebut. Tapi ini memang tidak akan mudah.”
“Bagaimana bila saya diskusikan dengan pemilik aset yang tertera dalam dokumen yang sekarang terkunci?”
“Tepat sekali. Tapi sebaiknya Anda cukup membawa salinan dokumennya saja,” kata Catty sambil menunjuk salah satu dokumen di atas meja.
“Mengapa?”
“Demi keselamatan Anda. Ketahuilah, semua dokumen yang sekarang ada di tangan Anda ini sangat bernilai. Tanpa ini, tidak ada artinya dokumen aset itu. Jangan lupa, Ramon membayar dengan nyawanya untuk mendapatkan dokumen sandinya.”
“Ya, saya mengerti.”
“Ok. By the way, kelihatannya saya harus segera kembali ke hotel,” Catty melirik jam di tangannya. “Senang bertemu dengan Anda.”
“Apakah saya boleh mengantar Anda sampai ke hotel?”
“Terima kasih. Tidak usah. Anda harus istirahat. Selamat malam.”
Di depan pintu kamar, Catty membalikan tubuh dan berkata, “Jaka, saya tidak ingin nasib Ramon dan Tomasi terjadi padamu. Hati-hati dan jaga kerahasiaan ini rapat-rapat. Jangan diskusikan masalah ini kapada orang lain, bila Anda tidak yakin dia adalah orang yang tepat.” 
“Saya mengerti.” 
Kemudian Catty berlalu dari hadapanku. 
Jam telah menujukan pukul dua dini hari, aku belum juga dapat memejamkan mata. Pikiranku masih terngiang kata-kata Catty. Dalam lamunan, ketika aku menunduk untuk membuang isi asbak rokok ke tempat sampah, tanpa disadari sikutku menyenggol gelas yang berisi teh dan tumpah membasahi meja. Sebagian dokumen yang ada di atas meja terkena air. Bertambah lagi keterkejutanku, saat aku melihat perubahan warna pada kertas yang terkena air. Lambat namun pasti, kertas yang terkena air membentuk tulisan dalam bahasa Arab dan Cina. Sangat aneh. Sementara tulisan yang tadinya tertera sebelum kena air, kini menghilang. Aku dapat membaca tulisan itu karena aku memang pernah belajar tulisan Arab. Beberapa lembar lainnya bertuliskan huruf Sansekerta. 
Dengan seksama kubaca baris demi baris kalimat dalam dokumen tersebut. Aku terkesima. Ternyata dokumen ini memberikan data atas keberadaan aset dalam bentuk jumlah, nama pemilik, tahun penempatan dan nama tempat penempatan aset. Luar biasa. Tapi di mana kode asetnya?
Akhirnya semua lembar dokumen itu kulumuri dengan air. Kini semua dapat terbaca dengan jelas. Salah satu dokumen tersebut menceritakan proses penempatan aset tersebut. Di bagian akhir dan di bawah dokumen itu tertera nama Ahmed Khalik, Istanbul. Ada tulisan yang memancing tanda tanya, Di dalam ada terang dan di luar ada kegelapan. Berjalanlah ke arah timur dan jangan melihat ke belakang. Karena di timurlah tempat matahari terbit. 
Kalimat ini sepertinya tidak ada hubungannya dengan dokumen. Tapi tidak mungkin ada kalimat sia-sia dalam dokumen sepenting ini. Aku yakin, pasti ada maksud lain di balik kalimat tersebut. Ingin rasanya menelpon Catty untuk menceritakan masalah ini, tapi kuurungkan. Khawatir akan membangunkannya dari lelap. Beberapa menit kemudian, telepon selularku tiba-tiba berdering.
“Hai, Jak.”
“Ya, Catty. Kebetulan sekali, sebetulnya saya ingin menelpon tapi khawatir mengganggu.”
“Aku tidak bisa tidur,”  Catty terdiam sesaat, sepertinya bangkit dari tempat tidurnya. “Iya, ada apa, Jak?”
“Sesuatu telah terjadi dengan luar biasa, saat dokumen itu terkena air, muncul tulisan baru. Kini saya bisa membaca dokumen itu.”
“Oh ya? Besok pagi saya ke kamar Anda.”
“Saya tunggu.”
“Ok. Bye.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar