Selasa, 11 Oktober 2016

Memburu harta (10)


Harapan yang begitu besar, dengan impian yang juga begitu indah, tentu semuanya terlihat begitu menyenangkan. Namun ketika harapan itu hancur, yang terbentang adalah awan gelap di depan mata. Seolah meliputi segala pandangan dan suasana hati. 
Kegelapan itu pula yang kurasakan ketika menginjakkan kaki di rumah setelah menempuh penerbangan panjang dari Swiss. Aku merasa hancur. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan semua ini kepada Budiman yang tentu selalu menanti untuk sebuah harapan. Rasanya aku ingin mengutuk diriku sendiri atas segala kebodohan, kenapa begitu mudah terjebak dalam permainan yang tidak ku pahami. Awalnya begitu mudah tapi pada akhirnya hanya sampai pada ruang tanpa ujung. 
Dalam tekanan kekecewaan dan rasa bersalah, tak ada yang bisa kulakukan kecuali berserah diri kepada Tuhan. Semua telah terjadi. Ini semua tentu ada hikmahnya dari Tuhan. Setidaknya, lewat peristiwa ini keimananku diuji untuk ikhlas dan sabar, dan belajar dari kesalahan.
Ketika kuceritakan semua kepada istriku selama sepuluh bulan di luar negeri. Dia hanya tersenyum. Dengan wajah teduh istriku berkata, “tidak usah dipikirkan. Rejeki itu urusan Tuhan. Yang penting kamu sudah di rumah. Anak-anak membutuhkanmu. Ketika kamu tidak di rumah, Istri Budiman di setiap kesempatan selalu menelephon, meminta aku untuk bersabar.” 
“Tapi aku gagal. Aku merasa bodoh sekali, Ma”
“Jangan mengadili dirimu sendiri. Syukuri saja apa yang kini kita punya. Kamu punya keluarga yang selalu mencintaimu dan menantimu dalam sepajang waktu. Dulu, aku ingin kamu jadikan istri karena semangatmu untuk bertanggung jawab mengemban hidup yang tidak ramah bagi orang seperti kamu yang tidak berpendidikan tinggi. Aku tetap yakin kamu berkah dari Tuhan yang harus aku syukuri.”
 Istriku terdiam namun senyumnya masih menghias wajahnya.Seakan meyakinkanku bahwa semua akan baik baik saja.
“Papa,tahu “seru istriku.Aku memperhatikan dengan wajah haru akan sikap istriku yang menyadarkanku untuk senantiasa bersyukur “Setiap hari aku berdoa agar kamu diberi kekuatan ditengah kesulitan yang kamu hadapi. Aku tahu kamu menghadapi resiko diluar sana. Tidak semua orang tulus terhadapmu. Aku berdoa agar kamu bertemu dengan orang orang yang mencintaimu dengan tulus. Melihatmu dari pribadimu yang selalu berniat baik. Andaikan itu adalah wanita  yang menjadi sahabatmu maka aku berharap ia adalah orang yang tidak memanfaatkan kelemahanmu sebagai pria, yang akhirnya membuatmu hancur.Aku berharap dia ada untuk menjagamu dan mengertimu. Andaikan sahabatmu adalah  pria, aku berharap dia adalah orang yang dikirim  Tuhan untuk mejagamu dengan cinta dan ketulusan. Apapun hasilya aku ingin kamu tidak sampai merugikan siapapun. Aku dan anak anak baik baik saja. Kami dirumah engga butuh harta berlebih. Kami hanya ingin kamu kembali kerumah menemukan sorga  kecil yang kamu bangun dengan keringat halalmu..ya kan sayang..”
Aku memeluk istriku dan betapa saat itu aku sangat merindukannya. Aku merindukan seorang wanita yang telah memberiku dua orang anak. “Udahan ya, dengan kegundahannya?” bisik istriku lembut. “Anak-anak membanggakanmu. Jangan sampai mereka tahu kamu  lemah!” Sambung istriku lagi. Aku mengangguk.
***
Sehari berada di rumah, aku sudah bisa berdamai dengan kenyataan. Aku harus bangkit kembali dan terus melawan. Saat ini, aku kembali teringat kata-kata dari pimpinan Global Aset Management tentang ‘The Fed’ dan ‘mereka tidak cooperative’. Tentu yang dimaksud adalah Bank Sentral Amerika. Dan ini ada hubungannya dengan pemerintahan Amerika. Walau aku punya pengetahuan cukup tentang dunia keuangan, namun soal hubungan pemerintahan adalah hal baru bagiku. Keinginanku untuk berbuat sesuatu, sepertinya akan berakhir di jalan buntu. Pikiranku hampir mentok. Bagaimana mungkin, diriku sendiri akan melawan sebuah pemerintahan?
Tiba-tiba aku teringat pada sahabatku Amir, yang sedang berkarir di pemerintah bidang keuangan. Aku yakin, Amir tentu bisa memberi penjelasan cukup perihal keberadaan Bank Central itu. Atau setidaknya, Amir bisa berbagi cerita tentang segala informasi antar pemerintahan yang dia tahu. Ya, aku harus menghubungi Amir. Hanya Amir yang mungkin bisa dimintai tolong.
“Hai, Amir, bisakah kita bertemu hari ini?”
“Ada apa, Jak?” Terdengar jawaban dari seberang telepon.
“Penting untuk kamu ketahui, aku sedang ada masalah. Please....
“Oh,” suara Amir terhenti sejenak. Sepertinya dia sedang berpikir sesuatu. “Baiklah. Dalam dua jam kamu bisa menemuiku di Hotel Grand Hyat.”
Aku yakin, Amir akan membantuku. Kami adalah sahabat lama. Banyak hal yang membuat kami bisa menjadi sahabat karib. Dia saudara muslimku. Kami memilih berkarir dalam dunia yang berbeda. Amir memilih menjadi birokrat dan saat ini sudah menjadi pejabat tinggi. Sementara aku, memilih dunia bisnis dan sekarang menjadi konsultan.
Di restoran hotel Grand Hyat, aku datang lebih awal. Aku dapat melihat langkah Amir ketika masuk ke dalam restoran.  Aku segera menyambutnya, “kamu nampak sangat luar biasa dengan pin yang tersemat di dadamu.”
“Ah biasa saja. Tidak ada yang luar biasa,” jawab Amir. 
“Tanda emas yang menempel di dadamu itu,” kataku tersenyum, sambil menunjuk lambang status pejabat tingkat tinggi di Republik ini. Sebuah simbol yang membuat Amir tampil menjadi segelintir orang yang mengontrol jutaan manusia. “Itulah yang luar biasa, saya bangga dengan kedudukanmu sekarang.”
Amir hanya tersenyum menatapku. Dia kenal betul siapa aku. “Bagaimana rasanya setelah reformasi,” tanya Amir mengalihkan pembicaraan.
“Entahlah!” Jawabku  singkat.
“Kok, entahlah? Bukankah sekarang jauh lebih baik? Ada kebebasan dan iklim demokrasi tersebar kemana-mana.”
“Demokrasi atau apalah, itu hanya cara lain bagi tampilnya tiran yang lain. Tidak lebih!”
“Kok, kamu jadi skeptis begitu, sih?” Kata Amir dengan tersenyum. “Sejak diamandemennya UUD 45, memang kesannya negara kita menjadi negara paling demokratis di dunia. Meski  tentu dengan segala resiko menghadang di depan.” Sambungnya
“Sebetulnya tidak perlu ada amandemen UUD 45. Yang perlu diamandemen itu adalah mindset para elite agar sadar-sesadarsadarnya bahwa kekuasaan itu adalah amanah. Tak ada yang salah dengan UUD 45. Apalagi dengan Pancasila.”
“Maksud kamu?” Amir terpancing dengan cara berpikirku.
“Setiap elite berkata lantang kalau ditanya soal NKRI. Jawaban mereka jelas dan tegas: ‘NKRI harga mati’ atau ‘tak bisa ditawar’. Memang demikianlah adanya. Dulu ketika Indonesia diproklamirkan, konsep negara kesatuan bukanlah konsep yang mudah untuk dicetuskan. Rapat maraton dalam PPKI berlangsung alot. Satu sama lain bersitegang soal kesatuan. Pertanyaan mendasar yang sulit dipecahkan adalah apa yang mengharuskan kita bersatu? Sumatra tidak punya kepentingan apapun bila harus bergabung dengan jawa. Begitu pula dengan Jawa,  Kalimantan dan lainnnya berpikiran sama.
Tapi sejarah mencatat, para tokoh pendiri negara kala itu, berhenti berbeda pendapat ketika ruh agama disampaikan ke depan. 
Yang mempersatukan kita adalah ‘agama’. Agama kita mengenal satu Tuhan, artinya hanya satu pengabdian, satu tujuan. Lalu, mengapa kita harus berbeda bila tujuan hidup kita sama? Mengapa? Demikian jelas Muhammad Yamin yang kemudian dijabarkan oleh Soekarno. 
Konsep ini kemudian diamini oleh Agus Halim, Hatta dan tokoh lainnya. Perbedaan suku dan budaya tak lagi dibahas bila sudah menyangkut agama. Itulah sebabnya ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ ditempatkan di sila pertama Pancasila. Barangkali, kitalah satu-satunya negara di dunia yang menjadikan Tuhan sebagai dasar bernegara dan menempatkannya di urutan pertama dalam falsafah negaranya.
Mengapa ketika agama dikedepankan, serta merta semua pihak setuju bersatu dalam bentuk negara kesatuan?  Jawabannya sederhana. Bahwa setiap agama mengajarkan satu hal yang sama, yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab. Tidak ada agama yang mengajarkan keadilan yang subyektif dan relatif. Tidak ada! 
Adil dan beradab itu, begitu tinggi nilai dan maknanya. Di dalamnya terkandung cinta dan kasih sayang. Mengajarkan untuk berbuat atas dasar cinta untuk memanusiakan manusia. Manusia memang harus bekerja untuk mendapatkan rejekinya dan memang itulah keadilan. Tapi membayar upah dengan harga sangat murah adalah tidak beradab. Sekolah juga adalah hak dan keadilan bagi semua orang tapi menyuruh orang membayar uang masuk perguruan tinggi dengan harga mahal, itu tidak beradab namanya. Diakui ataupun tidak, perbedaan kelas dan terciptanya jurang yang teramat lebar antara si kaya dan si miskin merupakan bentuk dari tidak adanya kemanusiaan yang adil dan beradab di negeri ini. Adakah kita termasuk di antara mereka yang kehilangan keberadabannya? Hanya hati kita yang mampu menjawabnya.
Bila ‘Kemanusiaan yang Adil dan Beradab’ dapat ditegakkan di negeri ini, maka pasti persatuan dan kesatuan akan terbentuk dengan sendirinya. Cinta tanah air dan bela negara akan menjadi ruh kehidupan berbangsa dan bernegara. Jangan kita sesali bila Papua bergolak. Itu karena rasa kemanusiaan yang adil dan beradab tidak dirasakan oleh rakyat Papua. Mereka menyaksikan setiap hari Freeport menguras hasil bumi mereka, tapi kehidupan mereka masih saja miskin dan terbelakang. Ini satu contoh. Tanyalah pula rakyat di Pulau Sipadan tentang keberadaan Republik ini. Nyatanya, sehari-hari kebutuhan pokok mereka didapat dari Malaysia, dan mereka lebih mengenal ringgit dari pada Rupiah.
Ketika ‘Persatuan Indonesia’ dilandasi rasa kemanusiaan yang adil dan beradab, dimiliki oleh seluruh rakyat maka kepemimpinan akan benar-benar dipercayakan kepada elite. Mereka segelintir orang yang lahir dari proses kepemimpinan yang berakar dari bawah. Mereka menjadi inpirasi bagi publik sebagai teladan hingga akhirnya melahirkan aspirasi kolektif. 
Para elite ini bersikap dan berbuat berdasarkan hikmat dan kebijaksanaan, yang merupakan perpaduan kehalusan nurani dan kekuatan pikiran untuk cinta, keikhlasan. Tidak ada menang kalah dalam pengambilan keputusan. Semua dimusyawarahkan untuk menghasilkan mufakat. Semua berpihak kepada kebenaran bukan pada golongan atau kepentingan. 
Tapi lihatlah kini. Elite politik seperti sedang berdagang dengan amanahnya. Pemerintah pun sudah bergaya seperti broker national resource bagi pihak asing. Para penegak hukum mengabdi di atas keadilan subyektif. Ini semua karena kekuasaan yang didapat dari hasil membayar. Dan kepemimpinan sudah jauh dari hikmat kebijaksanaan.
Seandainya para elite kekuasaan terdiri dari orang-orang yang amanah berdasarkan hikmat dan kebijaksanaan, tentu ‘Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia’, akan segera terjelma. Namun bila Pancasila hanya menjadi jargon politik saja, maka  mengawal NKRI akan melulu berujung dengan bedil!
Tidak akan ada kesatuan dan persatuan dibawah sistem yang jauh dari agama. Sejarah telah membuktikan, dan cerita bangsa-bangsa jadi saksinya. Kalaupun ada maka itu adalah keterpaksaan saja. Terpaksa nrimo karena sudah terlanjur. 
Semoga kita menyadari falsafah Pancasila sebagai sikap hidup berbangsa dan bernegara. Karena bila gagal, maka terlalu mahal taruhannya bila sampai terjadi perang kelas. Tak akan ada yang bisa meleraikannya. Karena agama sebagai pemersatu dan pendamai sudah terkaburkan. Jangan jadikan Pancasila hanya sebatas jargon. Jangan!” Jelasku panjang lebar.
“Wah kamu hebat ya. Nggak nyangka pengusaha yang jauh dari ring politik mampu berpikir seperti seorang politisi hebat,” puji Amir sembari tertawa. “Oh, ya. Apakah yang penting itu?” Tanya Amir.
“Baiklah. Aku ingin kamu tahu semua ini.”
“Apa itu?” Amir tampak penasaran.
“Seseorang telah menggiringku ke sebuah transaksi beresiko. Ini dunia baru bagiku namun menjanjikan laba yang luar biasa besar.” Aku menghentikan kata-kata. Menghisap rokok dalam-dalam sambil membuang muka. Sementara Amir tetap memperhatikanku. Menanti kalimat berikutnya.
“Mir, hanya kamu yang bisa membantuku.”
“Sebutkan, apa yang harus aku kerjakan? Tapi, apa masalahmu sebenarnya?”
“Ini, kamu bisa lihat sendiri!” Aku mengeluarkan setumpuk dokumen dari dalam tas.
Amir tampak berkerut kening. Sesekali dia melita ke arahku dengan tatapan bingung. Aku yakin, setelah membaca dokumen yang aku sodorkan, Amir akan berkesimpulan bahwa aku telah masuk ke ‘dunia lain’ dari sistem yang ‘lain’ dalam dunia keuangan global. Ini adalah transaksi yang sangat eksklusif dan tidak semua orang bisa memiliki akses. Amir mungkin menyadari bahwa aku tidak sedang mengadu peruntungan. Tapi lebih dari itu, aku telah memasuki dunia yang tidak lagi melihat uang sebagai tujuan. Transaksi yang kuhadapi adalah bagian dari sumber kekuatan besar untuk menguasai dunia dan mengarahkan banyak negara dalam satu jaringan, yang dikendalikan oleh grup raksasa.
“Bagaimana kamu bisa sampai melakukan ini semua?” Tanya Amir keheranan. Dan dugaanku benar.
“Itulah,” aku mengusap kepala, “aku sendiri tak pernah membayangkan akan terjebak ke dalam transaksi ini. Semua hanya karena aku ingin mendapatkan exit atas hutang temanku di Singapore. Ini bagian dari skema pembiayaan untuk menyelesaikan masalahnya di Otoritas Penyelesaian Utang.”
“Siapa yang kamu maksud dengan teman itu?”
“Budiman.”
“Oh. Mengapa pula kamu sampai harus bersusah payah membantunya?”
“Dia adalah sahabatku dan aku kenal betul visinya untuk membangun negeri ini. Kamu bisa lihat, tidak ada yang berubah dari dia walau usahanya berkembang pesat. Dia tetap sederhana dan amanah. Aku hanya tidak ingin orang baik seperti dia hancur karena negara tidak bisa berbuat sesuatu. Lagipula dia sudah keluar dana besar untuk membiayai transaksi ini.”
“Okelah, itu masalah personal. Lalu, siapa yang mengenalkanmu dengan dunia ini?”
“Relasiku di Swiss.” Aku memegang tangan Amir, “tolong aku, Mir. Pleace…”
“Baiklah. Aku akan berusaha untuk membantumu. Akan kucarikan jalan keluar. Hanya saja, mesti kamu ingat, bahwa kasus ini bukanlah hal yang biasa bagi kebanyakan orang.”
“Oh!” Aku bingung, “apa maksudmu?”
“Sebetulnya transaksi ini hanya di-block, kelihatannya key player dalam transaksi ini sengaja mem-block transaksimu. Yang jadi pertanyaannya adalah, why? Sepertinya ada sesuatu yang aneh dan tidak lazim.”
“Aneh apanya?”
“Kita akan mengetahuinya kemudian. Aku akan gunakan akses formal internasionalku sebagai pejabat negara untuk mencari tahu tentang ini.”
“Terima kasih, Mir. Terima kasih!” Seruku sambil memeluk tubuh Amir. “Kamu memang sahabat terbaikku.”


1 komentar: