Sabtu, 01 Oktober 2016

Memburu harta (1).


JAKARTA. Kota tempatku mengawali hidup sebagai petarung kehidupan. Setelah usai menamatkan sekolah di kampung, dengan berbekal ijazah SMA, aku datang ke Jakarta. Semuanya kumulai benar-benar dari nol. Namun aku datang tidak dengan tangan kosong. Aku punya semangat dan impian untuk menjadi orang sukses di Jakarta!
Banyak teman di kampung mencibir ketika aku berangkat ke Jakarta. Menurut logika mereka, aku tak seharusnya  bertarung untuk sesuatu yang sudah pasti kalah. Namun  hidup tidak sepenuhnya bergantung kepada akal, bukan?  Aku punya iman! Yakin bahwa Tuhan tidak akan membiarkan aku kalah begitu saja. Asalkan tetap gigih, terus berjuang tanpa kenal takut dan lelah. Maka aku berhak punya harapan di masa depan. Keyakinan  ini tertanam atas didikan spiritual dari Ayah. Untuk itulah, aku bertekat menaklukkan Jakarta!
Mungkin, setiap pria kampung yang datang ke Jakarta di usia muda, adalah mereka yang punya semangat dan keyakinan sama denganku.  Tapi benarlah, bahwa tidak semua dari mereka sukses di kota metropolitan ini. Diantara mereka lebih banyak yang gagal dari pada berhasil. Kebanyakan, mereka yang sukses adalah mereka yang punya rumah dan sumber daya penghasilan. Entah itu karena profesi atau karena mahir berdagang.  Berdagang apa saja. Termasuk berdagang tubuh bagi wanita yang lemah kemauan namun tinggi keinginan.  Atau pria yang begitu banyak keinginan dan impian namun malas  berbuat sesuatu. Maka jadilah dia preman jalanan atau preman berdasi. 
Pelacur dan preman jalanan adalah  penyakit sosial di Jakarta yang menjadi musuh orang-orang beragama dan pemerintah.  Pemerintah daerah menciptakan aturan agar menggaruk mereka untuk digiring ke dalam truk. Kemudian mereka dikirim ke tanah seberang dan di transmigrasikan. Preman berdasi,  walau sangat merugikan masyarakat namun mereka lebih beruntung. Mereka di puja karena pandai memanjakan pejabat pemerintah yang korup dan kalau tertangkap, tetap mendapat fasilitas kemewahan di dalam penjara.
Namun, Jakarta tetap menjadi magnit bagi siapa saja. Di sini, yang kalah akan tersingkir, sementara penghuni baru datang lagi dan lagi. Maka jadilah Jakarta tempat pertarungan yang tidak adil bagi yang lemah. Sementara penduduk kota yang unggul, menutup diri rapat-rapat dari kemiskinan yang dipertontonkan secara vulgar. Rumah kumuh di bantaran kali dan pinggir rel kereta api menjamur. Mereka yang kalah sangat mudah di provokasi oleh politisi petualang, untuk menjadi alat presure kepada penguasa. Juga dimanfaatkan oleh sekelompok orang yang membawa romantika surga dengan mahzab berlandaskan dalil agama yang menurut mereka, bahwa Tuhan hanya berpihak kepada kaumnya. Yang lain kafir, munafik dan taghut.  Orang-orang kalah itu mengumpulkan sampah yang layak dijual sambil memajang photo Rasul di dinding rumahnya  tanpa IMB atai Ijin Mendirikan Bangunan,  dari pemerintah kota.
Jakarta bagaikan ibu yang menyusui anaknya dengan kemunafikan elite negeri ini. Semua orang pintar dari kalangan politisi, agamawan, tentara, budayawan, intelektual dan akademisi semua ada di Jakarta. Namun Jakarta harus menyembunyikan wajah aslinya ketika tamu asing datang ke rumahnya. Dengan susah payah, Jakarta memoles rupa demi menciptakan kesan PANTAS sebagai Ibu Kota dari sebuah bangsa besar dan kaya raya bernama Indonesia!
Sementara McDonald dan Sogo dikibarkan namanya di jalan utama Jakarta. Setiap pinggir  jalan utama selalu berjejer papan iklan dengan menawarkan produk modern yang berkompetisi. Malam hari papan iklan itu bertabur cahaya warna warni ribuan watt. Sementara peduduk miskin bantaran kali harus mencuri listrik dari bentangan kabel di depan rumahnya. Tentu saja dengan ancaman resiko kesetrum atau rumah  terbakar  melahap segalanya begitu saja. Akhirnya, pemerintah kota punya alasan untuk mengusir mereka dengan melarang rumah yang terbakar di bangun kembali. Kelak tanah  bekas kebakaran itu akan berubah menjadi mall atau apartement mewah. Makanya tidak aneh bila Jakarta, menyimpan dendam kaum  pinggiran akibat ketidak adilan.
Namun bagaimanapun, walau dengan segala kecarut-marutannya, aku menyukai Jakarta. Karena di sini berdiri Masjid terbesar di Asia Tenggara. Masjid megah yang selalu dijaga Satpam dua puluh empat jam agar tidak dijadikan tempat singgah para musafir miskin dan tuna wisma. Kadang aku menyadari mereka yang paling pandai bicara kebenaran tentang Tuhan dan agama adalah mereka yang mengaku fundamentalis. Mereka garang dengan pentungan di tangan, melabrak semua yang berbau maksiat. Mengejek korupsi dan prostitusi dari kejauhan. Mereka hendak menciptakan dunia seperti yang mereka mau untuk beres dan dirahmati Tuhan. Namun yang beres dan rahmat itu memang sulit datang karena memang Tuhan tidak ingin dunia beres dengan cara  mereka. Tuhan ingin perubahan terus menerus sampai akirnya manusia tidak berharap apapun  kecuali membagi cintanya kepada siapapun untuk berdamai dengan kenyataan. Yang baik dan jahat selalu bersanding untuk menguji siapapun agar menjadi sebaik baiknya kesudahan.
Bertempat di Jalan Cikini, bilangan Jakarta Pusat, berdiri megah sebuah hotel bintang tiga. Hotel ini dimiliki oleh keluarga kaya raya turun temurun. Di hotel inilah sahabatku Fernandez, tinggal selama ada di Jakarta. Aku mengenalnya pertama kali dari seorang teman yang bekerja di bank asing. Aku tidak tahu pasti berapa lama dia sudah tinggal di hotel ini. Aku tidak menanyakan itu padanya karena tentu saja, aku tak ingin bertanya sesuatu yang tidak penting. 
Semua karyawan hotel, akrab denganya. Dia adalah pria berkewarganegaraan Mexico. Penampilannya sederhana  namun pancaran matanya menunjukan bahwa dia orang yang cerdas. Dia fasih berbahasa Inggris dan Indonesia. Bahkan bahasa Jawa dan Sundanya lebih baik dariku. 
Aku sendiri tidak punya hubungan bisnis dengan Fernandez. Namun aku senang berjumpa dengannya karena dia, teman yang asik diajak ngobrol. Itulah sebabnya di setiap akhir pekan, aku selalu menyempatkan waktu untuk bertemu Fernandez. Yah, sekedar untuk ngobrol ringan tentang banyak hal.
Ketika aku sampai di loby hotel, tampak Ester sedang duduk sendirian di lounge sambil membaca sebuah majalah wanita. Aku berdiri tepat di sisinya ketika kutangkap kerling mata itu, melirik padaku dan berkata, “Fernandez sedang pergi keluar.”  
Ester adalah salah satu sahabat wanitaku. Dia datang kemari juga dengan tujuan yang sama. Kami sering berkunjung ke hotel ini untuk sekedar ngobrol dan makan malam sambil menikmati red wine yang biasanya, di beli Ester dari luar hotel. Persahabatan kami telah berlangsung lebih dari dua tahun. Kali pertama bertemu dengan Eater, ketika aku membuka rekening private banking dimana dia bekerja. Sejak itu kami menjadi akrab dan kadang, bila ada waktu senggang, kami makan malam di luar.
Ayah Ester adalah orang German sementara ibunya adalah orang Jawa. Dia cantik dengan wajah opalnya. Hanya saja Ester kurang suka bersolek sehingga penampilannya terkesan tomboy. Pakaian yang dikenakan Ester selepas bekerja sebagai Account Officer sebuah bank, selalu celana denim dengan atasan Tshirt. Kukira kalau dia bersolek, akan banyak pria yang ingin mejadikanya pacar bahkan menikahinya. Ester tidak peduli manakala usianya sudah di atas tigapuluh tahun dan dia masih sendiri. Yang pasti, dia merasa nyaman bersahabat dengaku. Mungkin karena kami berusia hampir sebaya, hanya terpaut dua tahun.
Dari pintu lobi utama hotel nampak Fernandez datang bersama temannya. Dia seorang pria dengan penampilan bak pragawan. Dia ganteng, tinggi dengan postur tubuh propotional, berambut pirang, bermata abu-abu dan hidung yang runcing. Dia berjalan dengan elegance dalam balutan hem putih dan setelan jas warna biru tosca. Di tangannya, dia menjinjing sebuah tas hitam kecil. Sementara Fernandez, membantunya untuk membawa sebuah koper hitam dengan ukuran sedang.
“Siapa pria yang bersama Fernandez itu?” Ester bertanya sambil melirik kearahku. Aku mengangkat bahu dan menjawab sekenanya, “Tidak tahu. Ini kali pertama aku melihatnya. Mungkin tamunya dari luar negeri.” 
Dengan senyum mengembang, Fernandez menghampiri kami. “Sudah lama menunggu? Maaf karena aku harus menjemput tamu di Bandara.” Kata Fernandez sambil menoleh kepada pria ganteng yang berdiri di sampingnya, “Kenalkan, ini Tomasi.” 
Kami berjabat tangan dan dengan percaya diri, aku memperkenalkan namaku sebagai Jaka Samora.  Tomasi melempar sebuah senyum yang menawan. Kemudian Ester  menjulurkan tangan kepada Tomasi untuk menjabat tangannya dan dengan gayanya yang cuek, dia memperkenalkan diri sebagai Esterina. 
Mereka  bergabung dengan kami dalam satu meja setelah Tomasi check in kamar. Kutatap Tomasi dengan  hormat sambil berbasa basi, “ini kali pertama Anda datang ke Jakarta?” 
“Benar. Ini kali pertama.”
“Bagaimana pendapat Anda tentang Jakarta?”  
“Kota besar. Sangat besar. Semoga saya menikmati kota ini sebelum berangkat ke Bali “
“Bali?” aku terkejut. Benarlah bahwa orang asing belum lengkap bekunjung ke Indonesia bila tidak ke Pulau Dewata.
“Ya, besok saya mau ke Bali menemani Tom. Apakah kalian mau ikut?”  tawar Fernandez.
“Tawaran menarik yang tak mungkin ditolak!” sahut Ester yang sedari tadi hanya diam.
“Bagaimana dengan kamu, Ja?”   
“Ikut!” kataku tegas sambil tertawa. Ester tersenyum melihat tingkahku. Kami  tahu, kalau sebuah rencana datang dari Fernandez, maka semua ongkos akan ditanggung olehnya. Namun Fernandez  membaca pikiran kami dan dia berkelakar, “hmmm… kamu pintar sekali memanfaatkan peluang, ya? Ini kesempatan terbaik menikmati Bali dengan pesta sepanjang malam. Kita berangkat dengan investment banker dari Eropa. Dia yang tanggung semua biaya.” Kata Fernandez sambil ujung dagunya menunjuk ke arah Tomasi.
 Aku merasa konyol dan mentertawakan diriku sendiri karena tebakanku salah. Ternyata Tomasi yang menanggung semua biaya perjalanan. Tapi yang pasti, ini akan menjadi liburan yang sangat menyenangkan! 
“OK, kalau begitu semua harus siap di hotel ini besok pagi. Karena kita akan terbang dengan pesawat pertama.” Tambah  Fernadez, lalu kami menyanggupi usulannya dengan mendentingkan gelas wine yang kami pegang.
Malam semakin larut dan kami juga semakin asik berbincang banyak hal. Pada beberapa kesempatan, aku mampu memancing Tomasi untuk berbicara tentang siapa dia sebenarnya. Namun bagaimanapun, Tomasi terkesan tertutup kecuali dia menegaskan bahwa dirinya punya bisnis di bidang investasi surat berharga dan masuk ke bursa pasar uang di pusat keuangan dunia. Bagiku ini bisnis yang luar biasa yang hanya dilakukan oleh segelintir orang. Kalau benar apa yang dia katakan, maka dia adalah elite player.
Keesokan paginya, kami sudah berkumpul di hotel. Fernandez sudah menyiapkan taksi pribadi untuk membawa kami ke bandara. Aku duduk di barisan tengah dengan diapit oleh Fernandez dan Ester. 
“Bagaimana hasil test kerja kamu?” Tanya Fernandez kepada Ester.
“Lusa aku ikut wawancara akhir di Hong Kong. Kalau lolos, mungkin bulan depan aku akan pindah ke Hong Kong.” 
Fernandez melirik ke arah Ester yang duduk di sebelahnya dengan wajah heran. “Mengapa harus pindah? Orang seperti kamu dibutuhkan oleh negeri ini. Bagaimana Indonesia akan maju bila orang sehebat kamu lebih memilih bekerja di luar negeri?”
Dengan gaya acuhnya Ester menjawab, “Aku muak dengan sang diktator. Sehebat apa pun kita, tidak akan dihargai secara pantas. Di sini pengusaha menjilat kepada penguasa dan  menindas karyawan. Karena pengusaha merasa kemajuan usahanya lebih disebabkan kedekatannya kepada penguasa untuk menguasai bisnis rente. Tidak! Aku tidak mau menua di negeri ini. Kita hidup hanya sekali. Dunia ini luas dan kesempatan di luar terbentang lebar. Sayang kalau usia di buang  dengan menyia-nyiakan kesempatan untuk berkembang. Ya, kan?”
Aku tersenyum sekaligus kagum akan sikap Ester untuk menentukan pilihan hidup juga masa depanya. Namun Fernandez berusaha meyakinkan bahwa dia mempunyai prinsip yang berbeda dengan Ester. “Tetap aku tidak sependapat dengan kamu. Setiap  generasi harus berkorban untuk masa depan negaranya. Kakekmu juga berkorban untuk kemerdekaan negera ini. Mungkin bukan harta saja yang hilang, tapi juga nyawa yang dipertaruhkan untuk merebut kemerdekaan dari Belanda. Dan kini, kamu bisa merasakan era kebebasan dari system colonial.” 
Nampak Ester agak terpengaruh secara emosional ketika Fernandez mengingatkannya akan cinta Negara. Namun itu hanya sebentar saja. Ester dengan diplomasi berkata, “Aku tetap mencintai negeri ini. Hanya beri aku kesempatan untuk berkembang di usia muda. Kelak bila telah berhasil, aku akan pulang membangun negeri ini”  Ester tersenyum dan menoleh ke arahku yang menahan tawa demi mendengar kalimat Ester. “Kata-katamu seperti putra Minang,” kataku. “Merantaulah dulu, Buyung. Karena di kampung belum berguna!” Ester gemas dan mencubit pinggangku. Kami tergelak bersama.
Selama di Bali, Tomasi lebih banyak menghabiskan waktu  bersama Fernandez. Kalau pun bersama aku dan Ester, itu hanya waktu makan malam. Dan setelah makan malam, Fernandez akan kembali ke kamar. Entah apa yang  diperbincangkan keduanya. Aku tak begitu peduli dengan mereka. Sementara aku dan Ester, menggunakan kesempatan liburan ini dengan sebaik-baiknya. 
Dengan motor sewaan, kami menuju Pantai Kuta. Aku tidak bisa mengendarai motor dan tentu saja tidak paham jalanan di Bali. Namun Ester dengan cekatan mengendarai motor memboncengku. “Jangan ragu! Pagut erat tubuhku dari belakang agar motor ini stabil,” kata Ester mengingatkan. Dia melaju hanya mengandalkan papan petunjuk arah yang terpasang di pinggir jalan
Semula perjalanan terasa ringan dan menyenangkan. Akan tetapi, lama kelamaan kami mulai kehilangan arah. Tak mau lama-lama dengan ketersesatan, Ester bertanya  kepada seorang  petugas lalu lintas yang berdiri di pinggir jalan. Ester berusaha mengingat dan mengikuti petunjuk arah jalan ke Kuta. Setelah memutar di beberapa ruas jalan, kami berhasil masuk ke kawasan Kuta. Tapi kami tak bisa menemukan pantai Kuta dengan mudah. Motor terus bergerak mengikuti setiap belokan jalan. Dan yang kami jumpai hanya bar, kafe, toko, distro, hotel dan bule-bule yang berjalan di trotoar jalan.
“Jangan cemas, Ja! Aku adalah perempuan petualang yang mampu melebarkan sayap sampai ke Hong Kong. Masak menemukan pantai Kuta saja aku tidak mampu?” Ester berkelakar setelah beberapa kali bertanya. Aku setuju saja dengan apa yang dia lakukan. Dan pencarian kami membuahkan hasil setelah dua jam perjalanan. Di hadapan kami, terhampar  samudra yang bertepi di kaki langit, Pantai Kuta!
Ester memarkir motor di pinggir kiri jalan yang sengaja disisakan untuk tempat parkir. Di sebelah kanan jalan, berdiri MacDonald dan cafĂ© berjajar-jajar. Kami mencari tempat yang cocok untuk duduk sambil menatap laut. Sebagian pantai ini tampak teduh tertutup pohon-pohon kelapa berdaun rendah. Beraneka penjual menggelar karpet dan tikar di bawahnya. Menjajakan aneka panganan seperti bakso, soto dan lumpia. Pelatih surving dengan kulit yang menghitam terbakar matahari, menata dan mendirikan papan survingnya sedemikian rupa. Di mataku, gundukan papan surving di sepanjang pantai Kuta itu tampak seperti bukit-bukit kecil berwarna-warni. 
Malam mulai turun dan pantai tampak gelap dan sepi. Kami hanya bisa duduk di atas pasir sambil menatap langit. Sesekali, aku melirik bule yang terlentang di atas pasir beralas kain sarung di dekat kami.
 Malam itu kami menghabiskan waktu di pinggir Pantai Kuta tanpa banyak cerita. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing hingga aku dikejutkan oleh suara ponsel. Sebuah pesan singkat dari Tomasi, mengingatkan agar kami kembali ke hotel untuk makan malam. Kemudian kami bergegas meninggalkan pantai Kuta. Perjalanan pulang sama dengan perjalanan saat berangkat, kami kembali tersesat. Kami sudah berusaha mengikuti petunjuk arah, tapi hal ini tidak berfungsi. Kami berkelana hingga kemana-mana. Setiba di Hotel, kami di sambut oleh Fernandez dan Tomasi dengan wajah kesal karena menunggu cukup lama.
Keesokan harinya, aku dan Ester pergi ke Pantai Sindu dan  Legian. Perjalanan saat siang hari lebih lancar dibandingkan perjalanan saat malam. Walaupun sesekali kami masih tersesat di jalan. Kami juga pergi ke Tanah Lot, Nusa Dua dan masih tersesat juga. Untung kami bisa sampai di Tanah Lot dengan selamat. Akan tetapi, sesaat setelah sampai, tiba-tiba hujan datang dengan derasnya. Kami berteduh di tempat istirahat yang tersedia di sekitar area. 
Kami melanjutkan perjalanan ke tempat-tempat wisata di Bali. Kami masuk ke perkampungan yang masih lekat dengan budaya asli. Kami  mandi bersama penduduk kampung di kolam air pancuran. Airnya bening dan dingin. Laki perempuan mandi satu kolam. Para wanita bertelanjang dada. Ester agak ragu melepas pakaianya.
”Kenapa ragu? Bukalah bra kamu,” candaku, “lihatlah mereka, begitu menikmati kebebasan alam yang diberikan Dewata untuk umatnya.” Aku menahan tawa. 
Tentu saja aku berharap Ester tidak melepas bra yang dipakainya. Dia turun ke kolam dengan bikini dan bra masih melekat di badan. Namun dia tidak bisa jauh dariku. Ester berlindung di balik punggungku bila ada pria kampung yang mendekatinya.
Kemudian, kami mendaki bukit. Sesampai di atas, Ester merentangkan tangan dan berteriak, “Hai duniaaa… Inilah aku! Bulan depan aku akan meninggalkan negeri ini untuk terbang tinggi ke negeri orang. Aku terbang untuk menjadi bagian dari orang-orang hebat yang menghargai waktu dan bekerja keras di usia muda, untuk menikmati hari-hari bahagia dimasa tua!” 
Kuperhatikan tingkahnya dari belakang dan aku tersenyum. Dia berbalik, berlari ke arahku lalu memelukku dengan erat, “Jakaa…” serunya riang. “Kamu adalah sahabat terbaikku, Ja. Aku akan selalu merindukanmu. Jangan pernah melupakanku, ya?” Sambungnya tanpa melepas pelukan. Udara senja yang sejuk di atas perbukitan, membuat kami terhanyut  dalam lamunan. Kami bersedekat dan membiarkan angan membumbung tinggi ke langit. Bayangan matahari menjelma seperti bongkahan emas raksasa yang tersembunyi di balik bukit. Burung-burung melintas, terbang pulang ke sarang  dan Ester melepas pelukan. Lalu dia bertanya dengan suara manja, “bagaimana dengan bisnismu, Ja?”
“Sejauh ini baik namun aku bingung karena dollar terus menguat. Aku tidak tahu tiga tahun  kedepan, apa yang bakal terjadi. Mungkin negeri ini akan bangkrut karena dollar terbang ke langit meninggalkan rupiah yang terpuruk ke lubang  lumpur.”
“Tiga tahun lagi? Artinya tahun 1998, ya? Kau yakin?”
“Entah!” Sahutku sambil mengangkat bahu.
“Kalau terjadi apa-apa di negeri ini, jangan lupa temui aku di Hong kong, ya?” Kata Ester sambil memegang pipiku. “Berjanjilah,” katanya lembut. Ujung jemarinya mencubit pipiku. Dia meyakinkanku dengan wajah manja. Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Malam turun perlahan menyelimuti perbukitan dengan kegelapan. Bintang-bintang mulai beraksi, saling berkompetisi memamerkan keindahannya. Kami memutuskan untuk kembali ke hotel setelah mengucap janji bahwa kami akan selalu menjadi sahabat.
Di hotel, Fernandez dan Tomasi sudah mananti di restoran untuk makan malam. Sesuai janji yang telah di sepakati, kami akan menikmati kebersamaan malam ini sepuas-puasnya. Karena  pukul sepuluh esok pagi, kami harus kembai ke Jakarta. 
Tomasi membawa kami ke tempat karaoke yang tersedia di hotel.  Di ruang karaoke itulah kami merasakan kehangatan bersama Tomasi.  Berkali-kali dia membawakan lagu dengan apiknya sambil berdansa dengan Ester. Aku dan Fernandez mengikuti tarian itu dengan gelas minuman di tangan. Usai sebah lagu dilantunkan oleh Tomasi, kami saling berpelukan dan tak henti tertawa. Sungguh, malam itu adalah malam yang menyenangkan.
Menjelang dini hari, kami sudahi keceriaan di kamar karaoke. Aku menuntun Ester kembali ke kamarnya karena dia tidak bisa berjalan stabil. Ester mabuk berat! Tomasi dan Fernandez masih melanjutkan pembicaraan di kamar Fernandez. Aku merebahkan Ester di tempat tidur dan menyelimutinya. “Mengapa tidak temani aku tidur, Ja?” terdengar suara Ester parau. Aku hanya tersenyum, mematikan lampu dan berlalu dari kamarnya.
Sebulan sejak wisata ke Bali itu, Ester mengabarkan padaku bahwa dia diterima bekerja di bank  investasi di Hong Kong. Sejak itu pula aku  jarang bertemu dengan Fernandez karena dia pindah ke apartement  yang cukup jauh dari kantorku. Lagi pula Fernandez jarang ada di Jakarta. Dia sering melakukan travelling ke luar kota. Entah apa yang dia lakukan. Walau aku tahu sedikit tentang bisnisnya yang katanya bergerak di bidang riset tambang emas. Tetapi aku tidak tahu pasti bisnisnya yang sesungguhnya. Disamping itu, keadaan ekonomi Negara semakin mengarah kepada pelemahan pertumbuhan karena kurs rupiah yang terus melemah. Aku sibuk mencari solusi merestruktur hutang perusahaanku yang bermata uang dolar. 
Beriring berjalannya waktu, aku sering kali merindukan Ester. Rindu kebersamaan yang indah tanpa ada beban kecuali kami menikmati persahabatan yang tulus. Ester, kuharap kau baik-baik saja di tempat dan pekerjaan barumu. Gumamku dalam hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar