Minggu, 16 Oktober 2016

Meburu harta (18)

Aku baru saja mendapat telepon dari bank di Singapura, bahwa ada kiriman uang yang masuk ke rekening offshore-ku. Pengirimnya adalah lembaga investasi di Hong Kong. Aku merasa lega ternyata team dari pihak Chang menepati janjinya setelah cukup lama menanti. Aku minta kepada banker agar dana itu di cadangkan untuk pelunasan hutang atas nama Special propose company milik Budiman. Aku segera menghubungi lawyer dan agentku untuk mengkeksekusi rekeningku untuk tujuan pelunasan hutang dan pastikan SBLC sebagai collateral ditarik. Walau Tomasi sudah meninggal namun janji harus aku penuhi, yaitu membayar hutang.
Aku segera memesan tiket ke Singapura dan tidak berencana untuk menginap. Aku  hanya ingin bertemu dengan team yang akan bertugas mengatur penyelesaian hutang Budiman. Aku perkirakan, cukup dua jam di sana. Setelah itu aku sudah bisa kembali lagi ke rumah. Karenanya aku merasa tidak perlu berpamitan kepada istri.
Tanpa ada firasat apa pun, aku keluar dari Changi Airport dengan langkah ringan. Tiba-tiba seorang wanita datang menghampiri dan berkata, “ikuti saya.” 
Aku terkejut karena aku tidak pernah merasa mengenal wanita ini sebelumnya. “Anda bisa lihat di depan pintu lift itu,” kata wanita itu sambil mengarahkan wajahnya ke arah lift. Ada dua orang pria berbadan tegap. “Mereka bersenjata. Ikuti saya dengan tenang. Maka semua akan beres,” tegas wanita itu setengah memaksa.
Ketika masuk ke dalam elevator, dua pria tadi mengapit ku di kiri dan kanan. Aku hanya diam sambil berdoa di dalam hati. Semoga saja tidak terjadi apa-apa, walau aku tak bisa menafikan firasat tentang sesuatu yang buruk bakal menimpaku. Ketika keluar dari lift, salah satu pria tegap itu menutup mataku dengan kain hitam. Selanjutnya, giliran kedua tanganku yang dilipat ke belakang dengan kasar.
“Dudukkan dia di kursi itu,” terdengar suara tegas si wanita. Sepintas kemudian kain penutup mataku dibuka. Aku memperhatikan lingkungan  sekitar, mencoba mengenali tempatku di sekap. Sepertinya ini di basement. 
Kemudian mereka melucuti pakaianku satu persatu sampai  benar-benar bugil. Di depan ada seperangkat alat yang tidak pernah kulihat. Baru kutahu fungsinya, ketika alat itu mulai disambungkan dengan kabel ke tubuhku, tepatnya di selangkangan. Apa yang akan mereka lakukkan dengan listrik ini? Aku sedikit gentar namun berusaha untuk tetap tenang. Dalam hati kusebut asma Allah berulang-ulang.
“Kami tidak punya banyak waktu. Jadi jawab pertanyaan kami dengan singkat dan jelas. Di mana dokumen itu Anda simpan?” tanya wanita itu singkat. Dua pria tegap tadi, berdiri sigap di sampingku.
Aku menyadari bahwa pihak yang kuhadapi sekarang adalah group raksasa yang sangat berkepentingan dengan dokumen yang ada di tanganku. Ancama maut telah begitu dekat. Inilah resiko yang harus kuhadapi, seperti peringatan Amir sedari awal. 
Namun, sungguh aku tidak pernah membayangkan akan seperti ini jadinya. Aku yakin mereka tidak akan membunuhku sebelum mendapatkan apa yang mereka inginkan. Kecuali bila alat yang tersambung dengan kabel di selangkanganku bekerja dan berhasil memaksaku untuk bicara.
Aku diam tanpa suara apapun. Mataku terpejam. 
“Apakah kamu mengerti apa yang aku katakan?” teriak wanita itu garang. Aku tetap diam. Berkali-kali wanita itu berteriak namun jawabku  tetap sama, diam! Beberapa saat kemudian aku merasakan sakit yang teramat sangat mulai menyebar ke seluruh tubuh. Berawal dari selangkangan, lalu ke otak dan akhirnya ke seluruh tubuh. Alat itu bekerja dan aku sama sekali takberdaya. 
Sekejap kemudian, tubuhku serasa melayang ke udara menuju sebuah lingkaran cahaya putih yang berkilau. Tubuhku terhisap ke dalam lingkaran cahaya itu, tapi kemudian tertahan oleh tangan seseorang yang mamagut diriku dengan kuat. Orang itu adalah Darsa. 
“Belum saatnya kamu pergi ke sana,” kata Darsa sambil menunjuk lingkaran cahaya itu. “Misi kamu belum tuntas,” sambungnya.
Aku melihat diriku sendiri terbujur lemas, dikelilingi dua orang pria dan satu wanita. Mereka sedang berusaha memberikan kejutan listrik pada jantungku.
“Oh, Tuhan. Kita terlalu keras menyiksa dia. Kita lupa satu hal bahwa pria ini bukanlah seorang agen profesional. Alat ini tentu terlalu keras untuknya,” kata wanita yang tadi menginterogasiku.
Aku menyaksikan mereka sibuk memberi pertolongan kapada jasadku. Dan saat itulah, sekonyong-konyong ada suara berdebam, pintu ruangan terbuka, dua orang pria berkulit kuning masuk dan melepaskan tembakan. Kejadian berlangsung begitu cepat. Dua orang pria dan seorang wanita yang tadi menyiksaku kini terkapar dan bersimbah darah.
Darsa membisikkan sebuah kata, “saatnya kembali ke tubuhmu. Ikutilah dua orang pria berkulit kuning tadi. Mereka adalah takdirmu. Jemputlah!” Aku merasakan sakit yang teramat sangat, saat ruhku terhisap ke dalam pusaran waktu. Dan aku telah kembali ke dalam raga.
“Nadinya masih berdetak. Dia masih hidup,” kata salah satu pria kepada temannya lalu membopongku keluar dari ruangan. Antara sadar dan tidak, samar-samar  aku melihat dari balik bahu pria yang menggendongku. Mereka sedang menyusuri sebuah lorong yang diterangi lampu neon. Bayangan cahaya putih berkilat-kilat menyilaukan. Aku memicingkan mata, sentara aku sama sekali tidak tahu kemana mereka akan pergi. Pria itu  menurunkanku sebentar ketika sampai pada tangga besi yang menjulang ke atas. Dua pria tadi mengikat tubuhku dengan seutas tali. Salah satu dari mereka menaiki tangga. 
Aku merasakan tubuhku terangkat ketika pria yang sudah sampai di atas menarikku. Pria itu lalu memelukku ketika sampai di atas. 
Sepertinya kini aku berada di samping landasan pacu. Ternyata lorong tadi berada di bawah landasan pesawat terbang. Tidak jauh dari tempat kami keluar, sudah menanti sebuah mobil yang menjemput. Seorang pria keluar dari mobil, berlari ke arah kami dan segera membopongku. 
Sementara pria yang tadi menarikku keluar masih menunggu temannya sampai di atas. Lalu menyusul, berlari menuju kendaraan. Semuanya bergerak cepat dan taktis tanpa suara. Aku berbaring lemah. Hanya mataku yang dapat kugerakkan, itu pun hanya bisa melihat dengan samar. 
Kendaraan yang kami tumpangi melaju menuju tempat parkir pesawat jet pribadi. Aku dibaringkan di dalam sebuah pesawat.  Salah satu pria di sana memberi suntikan ke tubuhku. Lalu gelap!
***
Kepalaku pening. Aku mencoba membuka mata namun begitu berat. Aku tak mendapati apa pun, kecuali sesuatu yang berwarna putih. Semua serba putih. Yah, aku berada dalam sebuah ruangan  serba putih.
“Dia sudah siuman. Detak jantung dan darahnya sudah stabil,” terdengar suara wanita dengan pakain serba putih berbicara lewat telepon. Wanita itu berdiri di samping tempat tidurku. 
Tak berapa lama, seseorang yang kuperkirakan berumur limapuluh tahun, masuk ke dalam ruangan. “Selamat datang kembali, Jaka,” sapanya. Dia seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik.
“Di mana aku sekarang?” aku memegangi kepala dan menatap heran wanita di sampingku.
“Kamu berada di tempat yang aman,” jawab wanita itu tersenyum.
“Oh ya?”
“Ya.” Wanita itu lalu memegang keningku. “Lihatlah siapa yang datang,” katanya kemudian sambil menunjuk pintu ruangan yang terbuka.
“Oh, Honey. Puji Tuhan, kamu sudah siuman,” Catty datang dan memelukku.
“Catty?”
“ Ya, Honey.”
“Bagaimana kamu bisa ada di sini?”
“Panjang ceritanya. Istirahatlah dengan nyaman. Yang penting sekarang kamu sudah siuman.” Catty berlinang air mata. Telapak tangannya menggenggam jemariku. Wanita setengah baya tadi menyaksikan sebuah ‘drama’  dengan senyumnya yang ramah.
Aku kembali tertidur setelah wanita berpakaian serba putih tadi menyuntikku. Ketika terjaga, aku  merasa tubuhku kembali segar. Sakit di selangkanganku tak lagi terasa. Aku  berusaha berdiri dan berjalan ke arah pintu. Langkahku terhenti ketika melintasi satu ruangan di samping kamarku, tempat di mana wanita berpakaian putih tadi sedang asyik menonton televisi. 
“Oh, ternyata kamu sudah bangun?” kata wanita itu menghampiri sambil tersenyum.
“Aku ingin bertemu dengan Catty,” 
“Baiklah. Mari kuantar.” 
Wanita itu berjalan di sampingku. Setelah menaiki tangga melingkar, kami sampai di suatu ruangan seperti kamar penthouse  hotel bintang lima. Catty terkejut melihat kedatangan kami yang tiba-tiba.
“Cepat sekali kamu sembuh. Obatnya bekerja dengan baik, ya?” sambut Catty lalu memelukku.
“Katakan padaku, mengapa kamu ada di sini?” kembali kuulang pertanyaan.
“Duduklah,” Catty menuntunku ke sofa dan menceritakan peristiwa yang dialaminya di Madrid. 
“Ketika aku di Madrid, setelah sekian lama berusaha mendapatkan kontak bertemu dengan keluarga Ahmed Khalik, ada seseorang menghubungiku di hotel. Aku terkejut dan kawatir bagaimana ada yang tahu aku tinggal di hotel yang sangat kurahasiakan. Tidak ada pilihan lain kecuali mengangkat telephon kamarku. Ternyata seseorang meminta untuk bertemu. Tepat di depan loby hotel, sebuah mobil Limousine sudah menanti. Seorang pria dengan sangat sopan membukakan pintu dan aku masuk, meski dengan sedikit ragu. Tapi saat pria itu tersenyum, hatiku menaruh percaya. Bagiku, senyum dan kesopanannya sudah cukup walau dalam perjalanan, kami tidak ada saling sapa. 
Kendaraan kami berhenti tepat di depan loby Hotel Lusso Infantas Madrid. Pria itu dengan sigap membukakan pintu untukku. Dia minta aku naik ke  lantai empat. Di lantai empat, di depan koridor lift sudah ada dua orang pria. Semua berusia kurang dari empat puluh tahun. Dari tampilannya, terlihat bahwa mereka adalah pengawal profesional. Salah satu dari dua pria itu mendekatiku, dan memintaku mengikutinya bertemu dengan bossnya.
Di sebuah ruangan yang cukup luas, duduk seorang pria setengah tua. Dia berkepala agak botak. Duduk tegap di depan meja yang cukup besar. Dia sedang berbicara lewat telepon dengan bahasa Arab. Pria itu melambaikan tangan ke arah pria yang mengantarku. Kemudian dia keluar dan meninggalkan aku seorang diri.  Pria berkepala botak mengulurkan tangan kearahku, memperkenalkan dirinya yang bernama Abdul.  Aku menerima jabat tangan itu dengan cepat.
Dia mengetahui bahwa aku sedang berusaha mencari ahli waris Ahamed Khalik. Aku terkejut namun berusaha tetap tenang dan mencoba tidak menunjukkan reaksi. Menurutnya, keluarga keturunan Ahamed Khalik sudah tidak ada lagi. Delapan belas tahun lalu, satu keluarga terbunuh hingga mata rantai keluarga ini pun punah. Sampai hari ini polisi tidak mengetahui siapa di balik pembunuhan keji itu. Dia ingin tahu apa sebetulnya yang aku inginkan. 
Aku  tidak bisa terlalu lama berpikir. Di hadapanku, ada  seorang pria yang hidup dikelilingi banyak pengawal. Tidak ada lagi yang perlu ditutupi karena pastinya, semua info tentangku  sudah diketahui pria ini. Dia mengatakan tentang sesuatu yang sangat berharga. Sesuatu yang membuka jalanku  menuju ke timur.”
“Bagaimana dia bisa tahu?” aku bertanya dengan perasaan heran.
“Menurutnya, bulan lalu dia  mendapatkan dokumen dari seseorang, yang katanya mendapatkan dokumen ini dari seorang ex KGB. Mereka menjual dokumen ini kepadanya. Menurutnya itu bukanlah investasi yang buruk bila melihat tulisan yang ada dalam dokumen tersebut. Yang mengejutkan, ex KGB itu sudah meninggal.  Terjatuh dari lantai 20 hotel di Beirut. Mungkin dia bunuh diri atau entahlah. Kejadiannya bulan lalu. 
Jak,  aku sadari bahwa perburuan aset ini beresiko tinggi. Kau ingat? Rencana bertemu di Hong Kong dengan pria ex KGB itu pun tidak akan pernah menjadi kenyataan. Ternyata dia sudah tewas.  Pria itu tidak butuh uang dariku. Dia hanya butuh aku menuntunnya untuk bersama-sama membuka tabir di balik dokumen ini.
Abdul berdiri dan berjalan ke salah satu dinding ruangan. Di sana, tergantung sebuah lukisan besar. Lukisan yang bercerita tentang Salahuddin dalam perang Yarmuk. Di balik lukisan itu ada lemari penyimpanan surat berharga. Setelah membuka kunci kombinasinya, Abdul mengambil selembar dokumen yang sudah nampak usang. Kemudian menyerahkannya kepadaku, “tolong Anda lihat dokumen ini,” katanya.  
Beberapa saat kuperhatikan lembar dokumen bertuliskan Arab itu. Abdul dengan sabar menanti reaksiku. Dokumen itu berisi informasi yang sulit dipahami. Dari sekian tulisan yang ada, hanya satu yang kalimat yang bisa ku mengerti, yaitu Danau Angsa, tempat dinasti Zou berkuasa. 
Tapi aku tidak melihat dokumen legal aset yang berkaitan dengan bullion account, Hilton Memorial. Di manakah dokumen itu? Mungkinkah sudah dijual oleh pria ex KGB, ke orang lain, seperti dokumen yang sekarang ada di tangan Abdul? Tapi aku tidak percaya bila pria ex KGB itu bermental culas atas aset ini. Bisa jadi malah Abdul yang menghabisi nyawa pria Ex KGB, kemudian menjual dokumen itu kepada orang lain.
Kami masih saling diam ketika tiba-tiba, terdengar ketukan di balik pintu. Pria bernama Abdul, menatap ke arah pintu dengan alis ditarik ke atas. Rupanya pria yang tadi menjemputku di hotel sudah berada di ambang pintu. Berdiri miring hendak terjatuh. Seorang pria melangkah dari balik badan si pengawal, lalu mendekati kami tanpa kata-kata. Mengangkat sebuah pistol. Abdul terhenti berbicara. Ia tersungkur dengan mata mendelik. Pistol berperedam milik pria yang baru masuk itu menembak tepat di kepala Abdul. Pria itu kemudian dengan cepat mengambil dokumen dari tangan Abdul dan memasukkannya ke dalam jas. Cepat sekali kejadiannya, Jak.”
“Hmmm…. Lalu?” 
“Pria itu menatapkuku dan menarik lenganku kasar untuk mengikutinya keluar dari kamar. Di luar ruangan, dua pria yang tadi mengantarku masuk, telah menjadi mayat. Pria itu terus berjalan cepat namun tenang ke dalam lift dan menekan tombol lantai basement Car Park. Tidak ada suara apapun yang keluar dari mulutnya. Namun pancaran ketenangan meski telah menghabisi tiga nyawa, menunjukkan bahwa pria ini adalah seorang profesional. Bukan amatir. Dia tahu betul pekerjaannya dan tidak akan membunuh tanpa alasan yang jelas. Ini membuatku sedikit tenang.
Pria itu menggiringku  masuk ke dalam mobil Van yang terparkir dan mendudukkanku di kursi depan. Belum sempat aku berpindah tempat, tampak seorang wanita muda dari seberang berjalan tenang ke arah kami. Pria itu sedikit terkejut dan segera mengambil sesuatu dari balik jasnya. Tapi nahas, dia kalah cepat. Dan geraknya terhenti ketika wanita itu melepaskan tembakan berperedam tepat menembus jantungnya. Tubuhnya limbung dan jatuh ke lantai Car Park dengan dada bersimbah darah.
Aku melihat Catty menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tampak dia sedang berusaha mengatur nafasnya yang tersengal. Aku memegang bahunya, mencoba menyalurkan energy positif agar dia tenang. Pelan-pelan dia mulai mengangkat wajahnya dan mulai lagi bercerita.
“Aku cuma bisa diam, terperangah menyaksikan pria itu tersungkur bersimbah darah. Dengan jarak hanya setengah meter dari tempat dudukku. Wanita itu lalu memeriksa kantong jas milik mayat pria yang telah dihabisinya dan mengambil dokumen yang diambil dari Abdul.
Wanita itu membuka pintu mobil dan memintaku keluar dari kendaraan.  Aku tersekat dan menuruti kemauannya. Beberapa detik kemudian terdengar suara mobil menderu di balik tikungan lantai parkir, mengarah ke arah kami. Mobil  berhenti tepat di sampingku dan wanita itu dengan cepat membuka pintu, memberi perintah agar aku masuk ke dalam. 
Di dalam mobil, aku melihat seorang pria berkumis dengan wajah kasar, memegang kemudi. Aku berusaha menarik nafas dalam-dalam, mencoba menekan perasaan dan menenangkan diri. Kau tahu, Jak? Saat itu, seakan detak jantungku berdetak sangat cepat. Sejujurnya aku sangat takut menghadapi situasi ini, namun aku harus menghadapinya dengan tegar.”
 “Iya, Sayang. Aku paham.”
“Segala gerak-gerikku diperhatikan oleh wanita yang ada di sampingku. Mereka membawaku ke Airpot dan sampailah aku disini, Bangkok.
Catty berhenti sejenak dan menyandarkan punggungnya pada sofa. Bahunya tampak mengendur. Beberapa kali aku melihatnya mengambil nafas berat. Betapa aku iba dengan wanita ini.
“Jaka, telah hilang lima nyawa untuk sesuatu yang tidak ku ketahui. Untuk sebuah perebutan yang tidak jelas. Siapakah mereka ini?”
Aku tak dapat menjawab pertanyaan Catty. Aku semakin sadar bahwa kami, telah  terjepit di tengah pertarungan besar. Setiap pihak saling berebut sesuatu yang entah apa. Namun semua telah terjadi dan berjalan begitu jauh. Telah banyak korban nyawa yang menjadi tumbal atas situasi yang rumit ini. Mau mundur juga sudah kepalang basah tak ada pilihan lain selain menghadapinya dengan gagah berani. 
***
“Mari bertemu dengan Madam Lyan.” Kata Catty sambil menarik tanganku
“Siapa itu Madam Lyan?”
“Wanita yang pertama kali menyapamu saat siuman.”
“Oh!” Aku mengikuti langkah Catty keluar dari kamar. Kami  melewati sebuah lorong yang panjang dan kemudian berbelok ketika sampai di ujung. Aku menyaksikan sebuah ruangan yang penuh dengan orang yang sibuk bekerja. Dilengkapi layar monitor komputer di setiap mejanya. Di ujung ruangan nampak wanita setengah baya melambaikan tangan ke arah kami. Sebuah isyarat agar kami mendatanginya.
“Jak, bagaimana keadaanmu?” Tanya Madam Lyan.
“Sudah lebih baik, Madam. Terima kasih.”
“Bagus,” wanita itu tersenyum. “Anda sekarang berada di tempat kami. Di sinilah kami bermarkas lebih dari sepuluh tahun untuk melancarkan operasi tandingan melawan group Fidelity.”
“Group Fidelity?”
“Ya. Group yang ingin menguasai decade asset. Mereka tidak ingin ada pihak yang berhasil mengungkap keberadaan aset itu.”
“Siapa mereka itu?”
“Tidak mudah menjelaskan eksistensi mereka. Bukan saja karena sifat group mereka yang rahasia, tetapi juga karena rentang waktu pergerakan mereka yang sudah berlangsung selama ratusan tahun. Dan warna sejarah yang sangat panjang, melahirkan berbagai spekulasi dan hipotesis tentang mereka. Singkatnya, mereka adalah group yang merupakan sempalan dari kaum Yahudi dengan paham Zionismenya. Ini adalah ideologi atau gerakan sekuler-materialistis berskala internasional untuk mengkafirkan umat beragama. Jadi harus bisa di pisahkan apa itu Yahudi dan apa itu Zeonisme. Yang kita perangi adalah paham zeonisme itu, bukan yahudi nya." Madam Lyan berhenti sejenak. Menuangkan the panas ke dalam sebuah cangkir dan menyerahkannya kepada kami. 
“Pada awalnya, Zionisme terinspirasi kitab yang memuat titah tentang ‘tanah yang dijanjikan’ atau Ezrat Yisrail. Akan tetapi, dalam perkembangannya, Zionisme berubah menjadi sebuah ideologi imperialisme baru dengan target menguasai seluruh penduduk dunia, dengan jalan melemahkan semua potensi umat beragama. Termasuk agama Yahudi itu sendiri. Memang gerakan Zionis berkaitan dengan sejarah kaum Yahudi itu sendiri. Mereka adalah bangsa yang sangat unik. Bertebaran di berbagai penjuru dunia yang dilambangkan dengan simbol angka ‘13’. Sebuah angka yang bila di jumlahkan menjadi 4, menunjukkan cita-cita untuk mewujudkan sebuah kesatuan dunia. Serta panggilan bagi seluruh bangsa Yahudi yang tersebar di empat penjuru mata angin: utara, timur, selatan dan barat.
Sebagaimana kita ketahui, sejak pembuangan di Babel, tiga kaum Yahudi mulai bertebaran ke penjuru dunia. Karena rentang waktu yang cukup lama, membuat mereka tidak menjadikan bahasa Ibrani sebagai bahasa sehari-hari. Mereka hanya bisa menggunakan bahasa Yunani atau Koine. Juga oleh sebab yang sama, Injil Perjanjian Lama diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani sekitar tahun 200 SM. Dan pertama kali terbit di Mesir dengan nama Septuaginta.  Menurut sebuah hikayat, dia diberi nama Septuaginta karena disusun oleh tujuh puluh ahli bahasa.
Betapa pun mereka sudah tersebar dan terpecah belah ke berbagai kelompok, tapi ikatan kesejarahan, emosi, khususnya keyakinan pada kitab suci serta kebanggaan sebagai bangsa pilihan Tuhan, membuat mereka menjadi bangsa yang selalu jadi pembicaraan dalam setiap panggung sejarah peradaban manusia. 
Penderitaan dan kekecewaan mereka bersatu padu dalam cinta dan harapan, hingga melahirkan suatu bangsa yang unik. Falsafah hidup mereka melambangkan jiwa yang penuh semangat menghadapi berbagai tantangan. Pandangan hidup mereka yang bertumpu pada kekuatan, kebijaksanaan, kemanusiaan serta cinta dengan karakternya yang cerdik dan licik telah melahirkan tokoh-tokoh dunia di segala bidang. Sederet nama, seperti Karl Marx si tokoh komunis, Friedrich Wilhelm Nietzsche yang di kenal sebagai seorang filosof kontroversial, Albert Einstein, juga Steven Spielberg, dan banyak lagi tokoh-tokoh kelas dunia lainnya.”
Aku dan Catty menyimak dengan seksama setiap kata-kata yang disampaikan Madam Lyan. Sesekali kami berpandangan, untuk menyatakan keterkejutan atas sebuah fakta yang baru kami ketahui.
“Tentu ada orang yang ditokohkan, untuk bisa membangun gerakan sedahsyat ini,” sahut Catty membuat kesimpulan.
“Ya,” jawab Madam Lyan tegas. “Tokoh yang paling di kenal di kalangan mereka adalah Adam Weishaupt.  Tidak ada satu pun revolusi di abad ini kecuali bisa dihubungkan dengan nama dan cita-citanya. Revolusi Perancis, Revolusi Bolshevik Rusia, selalu berakhir pada mata rantai pemikiran dan strategi brilian pemikirannya. Dulu, Adam adalah seorang pastor Katolik. Tapi kemudian berbalik menjadi pelopor paling gigih dalam menentang agama Kristen serta agama lainnya.
Adam Weishaupt juga seorang Yesuit.  Dia adalah profesor di bidang hukum dan mengajar di Universitas Ingolstadt, Bavaria, Jerman sampai tahun 1770. Kekecewaannya terhadap dogma-dogma Kristen Katolik membuatnya keluar dari jabatannya sebagai pastor dan mulai mengabdikan diri pada gerakan Zionis. Sebuah gerakan yang bercita-cita mendirikan satu pemerintahan tunggal dunia, yang akan menegakkan martabat manusia dengan cara menghapuskan semua ajaran agama di muka bumi, terkecuali paham-paham atau ideologi hasil pemikiran manusia.  Jabatannya sebagai pastor dan Yesuit ia tinggalkan karena merasa bertentangan dengan pemikirannya yang bersifat kosmopolitan dan universalis. Inilah cikal bakal terbentuknya group Fidelity. 
Setelah keluar dari gereja Katolik, dia mendirikan jaringan konspirasi baru yang disebut dengan Luciferian  Conspiracy  serta Gereja Setan. Menurutnya, setan bukanlah makhluk yang hina, melainkan kekuatan yang melambangkan kejujuran, keberanian, dan kebebasan. Setan sebagai makhluk, telah mendapatkan pengampunan Tuhan dan sebagai bukti penebusannya setan ingin menyelamatkan manusia. Ajaran ini ditanamkan kepada para anggota mereka, bahwa paham Satanism merupakan bentuk evolusi kemanusiaan, lambang kebebasan manusia, dan mencakup seluruh jaringan dalam denyut kehidupan dunia secara global.
Selama lima tahun dia menyusun buku yang berjudul The Novus Ordo Seclorum  yang berisi konsep-konsep, doktrin, serta teori tentang pemerintahan global.  Buku tersebut selesai ditulis pada tanggal 1 Mei 1776. Langkah-langkah strategis yang ditulis Weishaupt untuk mewujudkan ambisinya tersebut antara lain, mereka harus menguasai para pejabat tinggi pemerintahan dari berbagai tingkatan jabatan. Bila perlu akan digunakan cara-cara kotor dengan menyogok, baik dengan uang maupun perempuan.
Mereka melakukan perekrutan terhadap aktivis mahasiswa potensial, yang mempunyai bakat dan dari keturunan yang unggul untuk dilatih sebagai anggota prospektif di masa depan. Pihak yang sudah terperangkap dalam jaringan mereka, termasuk mahasiswa yang dilatih dan diberikan pengetahuan khusus tentang dunia internasional dan cita-cita mereka, akan diangkat sebagai agen di beberapa negara. Ditempatkan sebagai staf ahli atau spesialis yang mendampingi pejabat kunci pemerintah.
Mereka juga akan menguasai seluruh saluran media massa, baik media elektronik maupun cetak. Memiliki dan mengontrolnya sedemikian rupa, dan menjadikannya kanal informasi terpercaya, sehingga mampu membentuk opini publik sesuai keinginan. 
Pemikiran Weishaupt dikembangkan pula pada pola pemikiran filosof Friedrich W. Nietzsche yang mengkampanyekan slogan ‘God is dead!’ sebagai salah satu bentuk serangan terhadap agama Kristen. Dogma Kristen yang mempertuhankan Yesus adalah dogma budak yang harus dibebaskan. Manusia hanya akan bisa menjadi ‘manusia’ selama dia bebas, kuat, dan kuasa melepaskan diri dari jerat dogma agama.”
“Lantas apa hubungannya dengan decade asset?” Tanyaku antusias, mencoba untuk mengorek informasi lebih dalam. Madam Lyan meneguk teh dalam cangkirnya, menatapku sejenak dan kembali bercerita.
“Pada abad ke-18, saat kekuatan Asia Tengah dan Cina mulai memudar, Meyer Amschel Rothchild  memanfaatkan harta milik Asia di Eropa untuk dijadikan bagian dari sistem portfolio perbankan. Dengan kepiawaiannya mengembangkan sistem perbankan ini secara turun temurun, dia sukses membangun sebuah dinasti keluarga yang sangat berpengaruh di dunia.
Berkat kekuatan dana  Rothchild-lah, gerakan rahasia Zionis berkembang menjadi jaringan yang ‘menggurita’ di semua sektor kehidupan manusia. 
Salah satu ucapan Rothchild yang terkenal adalah, “Beri aku kesempatan mengendalikan ekonomi suatu bangsa, maka aku tidak peduli lagi siapa yang sedang berkuasa.”
Motto Rothchild ini memberi motivasi serta dorongan luar biasa bagi seluruh anggota mereka, untuk tidak melewatkan setiap jengkal aspek yang menggiring mereka pada diktatorisme ekonomi. Sehingga mampu menguasai dan mengendalikan pemerintahan di pelosok dunia manapun. 
Bahkan, salah satu Presiden Amerika ke-20, yaitu James Abram Garfield yang masih salah satu anggota mereka, juga berkata, “Barangsiapa mengendalikan uang atau perekonomian suatu bangsa, maka ia akan menguasai bangsa tersebut.”
“Jadi itulah sebabnya keberadaan decade asset ini akan selalu mereka pertahankan di bawah kendali dan dalam sistem mereka. Tidak boleh ada klaim dari pihak manapun,” kata Catty menyimpulkan.
“Anda memang cerdas,” Madam Lyam tersenyum kepada Catty.
“Keberadaan kami hanya untuk menjaga kepentingan mayoritas warga negeri kami dan juga seluruh umat manusia di planet bumi. Yang selama beratus-ratus tahun telah dijajah oleh gerakan raksasa ini. Kita harus berbuat sesuatu untuk masa depan yang lebih baik, lebih adil dan penuh cinta kasih. Bukankah ini tujuan universal bagi pemeluk agama manapun?” kata Madam Lyan sambil melirikku.
“Benar, Madam..!”
“Nah, sekarang,” Madam Lyan menatap kami berdua  bergantian, “apakah kalian bersedia bekerjasama dengan kami?”
Aku dan Catty terdiam. Kami  saling berpandangan satu sama lain. “Bagaimana kalau kami menolak?” tanya Catty.
Madam Lyan tersenyum. “Itu hak kalian. Kami hargai itu dan kalain boleh pergi sekarang juga. Tapi,” Madam Lyan berdiri dan menghampiri kami. “Mereka ada di mana-mana. Mereka juga sudah mengetahui siapa kalian. Ingat, mereka mulai mencari tahu kegagalan operasi mereka di Singapore menguasai Jaka dan di Madrid untuk mengambil Catty. Berikutnya, serangan mereka pasti lebih taktif dan terencana. Kemugkinan gagal sangat kecil sekali walau kamipun berusaha melindungi kalian bedua.”
Kalimat terakhir terdengar seperti sebuah ancaman, yang membuat kami tidak punya pilihan. Pun kenyataannya memang benar bahwa kami berdua berhasil lolos dari lubang maut setelah mendapat perlindungan dari Madam Lyan.
“Baiklah. Kami setuju,” kataku. Catty melirikku sembari memegangi telapak tanganku. Semoga ini bukan keputusan yang salah. 
“Berikan dokumennya kepada kami dan kita akan bersama-sama mencari tahu code di balik dokumen itu,” kata Madam Lyan.
“Saya menyimpannya di salah satu Bank, di Hong Kong,” kataku. “Anda bisa mengambilnya sendiri. Kunci safety box-nya atas nama Garuda dengan sandi 170845.”
“Terima kasih.” 
Madam Lyan kemudian mengangkat gagang telepon. Terdengar dia bicara dengan seseorang, “Ambil dokumen itu dan bawa kemari,” perintahnya. Madam Lyan tersenyum. “Sekarang kita akan lakukan pengamanan untuk kalian berdua.”
“Bagaimana caranya? Apakah Anda akan mengoperasi plastik wajah kami dan mengganti identitas kami?” Tanya Catty sedikit khawatir. Aku merinding membayangkan nasib harus berpisah dengan keluarga demi keselamatan diri dan keluargaku    .
“Tidak perlu. Kita akan menggunakan teknik pengelabuan lewat sistem mereka sendiri. Kami akan memasukan acces code ke dalam Fed System agar mereka dapat memonitor dan secara otomatis akan mem-block code tersebut. Dengan demikian mereka akan menganggap perburuan terhadap decade asset ini sudah selesai. Anda pun bukan lagi ancaman bagi mereka.”
“Mengapa?”
“Mereka telah berhasil menciptakan komputer canggih yang terhubung dengan database Fed System. Jadi seperti jaringan antar muka. Komputer ini bertindak sebagai firewall  bagi semua pihak yang memiliki acces code decade asset. Ketika code tersebut terkunci dengan komputer tadi, maka acces code itu akan rusak. Selanjutnya pihak pemilik code tidak akan bisa lagi meng-access Fed System.”
“Oh! Sementara The Fed sebagai intitusi ‘bersih’, tidak perlu melakukan apapun dalam system-nya kecuali hanya menunggu ada pihak yang mengakses. Benar-benar cara perlindungan yang canggih,” sahutku penuh kekaguman.
“Benar sekali. US Treasury tidak tahu kalau ada sistem lain yang mengatur Deposit System The Fed. Tapi tidak usah khawatir. Seseorang yang ikut merancang sistem komputer itu telah membocorkan rahasianya kepada kami. Sehingga kami dapat memanipulasi mesin itu dengan kode palsu yang kami rancang, bukan kode yang sebenarnya,” jelas Madam Lyan memandangku dengan wajah tenang dan bijak.
“Tapi bagaimana caranya? Tentu mereka akan tetap mengejar kami?” tanyaku sambil menatap Catty.
“Yang mereka tahu, semua aktivitas itu berasal dari Naga Kuning dan bukan dari Anda. Posisi Anda pun akan tetap aman dan tidak lagi dianggap sebagai ancaman bagi mereka.”
“Oh, aku mengerti sekarang. Luar biasa. Kelihatannya Madam sudah merencanakan semua ini dengan rapi,” kata Catty.
Madam Lyan menepuk pundakku dan Catty. “Mari ikut ke ruang operasi kami.”
Kami memasuki sebuah ruangan komputer. Temperatur ruangannya hanya 8 derajat celcius. Membuatku dan Catty kedinginan. 
“Pakailah ini untuk menghangatkan tubuh kalian,” Madam Lyan menyerahkan jaket plastik warna kuning. Sama seperti petugas yang ada di dalam ruangan itu.
Mereka menghadap layar monitor berukuran 2 x 6 meter. Madam Lyan memerintahkan petugas yang ada di dalam ruangan untuk mulai melakukan hubungan ke dalam Fed System. Diantara petugas itu lalu sibuk melakukan pengoperasian komputernya masing-masing. Kemudian nampak di layar monitor, sebuah konfirmasi bahwa sistem sudah terkoneksi. 
“Lakukan sekarang,” kata Madam Lyan. Salah satu petugas memasukkan kode sandi ke dalam sistem tersebut. Terjadi penantian terhubung ke terminal database. Beberapa detik kemudian di layar monitor tertulis notifikasi, ‘Access denied’. Dan semua petugas di dalam ruangan itu pun bertepuk tangan.
“Kita berhasil mengelabui mereka. Sistem mereka mengenal acces code kita sebagai yang asli. Buktinya kita bisa terhubung ke terminal mereka dan dinyatakan ‘Access denied’,” kata Madam Lyan, tersenyum senang. 
“Nah, sekarang Anda bisa beristirahat. Besok orang kami akan mengantar kalian ke Airport untuk pulang. Selanjutnya biarkan kami yang akan bekerja memecahkan kode decade asset itu.”
Aku dan Catty kembali ke ruangan masing masing. “Apa kamu percaya, mereka akan menemukan kode akses itu?” tanyaku ketika sampai di ruangan penthouse Catty.
“Tidak tahu. Tapi kelihatannya mereka yakin sekali.”
“Lalu, apa pendapatmu tentang semua ini?”
“Entahlah, Jak. Aku hanya ingin segera pulang.” Kata Catty duduk di pinggir tempat tidur.
“Aku juga.” kuhampiri Catty yang duduk di tepi ranjang, “aku tidak menduga keadaannya akan sampai seperti ini.”
“Aku juga. Semua ini membingungkan.”
“Catty, maaf,” sapaku lirih. “Aku harus kembali ke kamar.” Saat aku melangkah ke pintu. Catty berdiri dan menatapku sendu. “Tidurlah di sini, Jak. Please…”

5 komentar:

  1. Luar biasa, aku ketinggalan bacanya. Lama pengen tahu tentang ini, tapi ini sekedar cerita atau yang sesungguhnya banyak dibicarakan para tokoh ?

    BalasHapus
  2. keren banget pak Eri. penasaran menunggu lanjutannya

    BalasHapus
  3. Mantaaaaap.dan semoga jak ngga tidur dg katty.hehehe

    BalasHapus
  4. Mantaaaaap.dan semoga jak ngga tidur dg katty.hehehe

    BalasHapus
  5. Masya Allah, Om..

    Mengerikan sekali..
    Membacanya saja membuat..............

    Sehat-sehat ya Om .....

    BalasHapus