Senin, 31 Oktober 2016

Allah Maha Perkasa..


Ada kisah. Seorang bernama Abrahah. Ia adalah Raja Yaman yang berasal dari Habasyah (Ethiopia). Dia masih keturunan Bani Kanisah di Shanaa. Abrahah berniat untuk memindahkan ziarah Suci ke Yaman. Oleh karena itu dia bersumpah akan menghancurkan Ka’bah yang ada di Makkah. Pada tahap awal , ia melakukan provokasi dengan mengirim pasukan  berkuda yang di pimpin Al-Aswad bin Maqsud ke Makkah. Tanpa perlawanan apapun, ia berhasil menjarah harta benda penduduk makkah, termasuk dua ratus ekor unta milik Abdul Muththalib, kakek Rasul. Ketika itu, Abdul Muththalib adalah pemimpin dan tokoh orang-orang Quraisy. Setelah itu Abrahah mengutus Hanathah Al-Himyari pergi ke Makkah, 

 “Tanyakan siapa pemimpin dan tokoh negeri ini, kemudian katakan kepada pemimpin tersebut, bahwa sesungguhnya Abrahah berkata kepadamu, ‘Sesungguhnya kami datang ke tempat kalian tidak dengan maksud memerangi kalian. Kami datang untuk menghancurkan Ka’bah. Jika kalian tidak menghalang-halangi kami dengan mengumumkan perang melawan kami, kami tidak butuh darah kalian. Sebaliknya, jika pemimpin tersebut bermaksud memerangiku, maka bawa dia kepadaku.” kata sang Raja, Abrahah.

Tiba di Makkah, Hanathah menemui Abdul Muththalib yang di ketahuinya sebagai pemimpin kaum Qurais dan menjelaskan kepadanya apa yang diperintahkan Abrahah. 

“Demi Allah, kami tidak ada maksud untuk memerangimu, karena kami tidak mempunyai kekuatan untuk itu. Ka’bah adalah Rumah Allah yang suci dan rumah kekasih-Nya, Ibrahim AS. Jika Allah melindunginya, itu karena Ka’bah adalah Rumah-Nya dan rumah suci-Nya. Jika Allah tidak melindunginya, demi Allah, kami tidak mempunyai kekuatan untuk melindunginya. ” Kata Abdul Muththalib. 

“ Baiklah. Mari ikut aku, karena aku diperintahkan pulang membawamu.” Kata Hanathah.

Kemudian Abdul Muththalib dangan di kawal sebagian anak-anaknya pergi bersama Hanathah. Tiba di barak Abrahah, Abdul Muththalib menanyakan Dzu Nafr, karena ia sahabatnya. Ketika berjumpa dengan Dzu Nafr di tahanan

“Wahai Dzu Nafr, apakah engkau mempunyai kekuatan untuk mengatasi musibah yang menimpa kita?” Kata , Abdul Muththalib.

“Apalah artinya kekuatan tawanan raja? Ia menunggu kapan di bunuh, pagi hari atau sore hari? Aku tidak mempunyai kekuatan sedikit pun untuk mengatasi musibah yang menimpamu. Namun Unais, pengendali unta adalah sahabat karibku. Aku akan datang kepadanya kemudian aku perintahkan dia untuk berbuat baik kepadamu, menjelaskan kepadanya bahwa hakmu amat besar, dan memintanya mempertemukanmu dengan Raja Abrahah, kemudian engkau berkata kepadanya apa saja yang engkau inginkan, serta membelamu dengan baik di sisinya, jika ia mampu melakukannya.”

Kemudian Dzu Nafr menemui Unais,

 “Sesungguhnya Abdul Muththalib adalah pemimpin orang-orang Quraisy, dan pemilik rombongan dagang Makkah. Ia memberi makan orang-orang di dataran rendah, dan binatang buas di puncak gunung. Sungguh, Raja Abrahah telah mengambil dua ratus ekor untanya. Oleh karena itu, mintakan izin untuknya agar ia bisa bertemu dengan Raja Abrahah, dan berilah pembelaan kepadanya sesuai dengan kemampuanmu!” 

“Itu akan aku kerjakan.” Jawab Unais 

Kemudian Unais menghadp Abrahah,
“Paduka raja, sesungguhnya pemimpin Quraisy sedang berada di pintumu untuk meminta izin bertemu denganmu. Ia pemilik rombongan dagang Makkah, memberi makan orang-orang di dataran rendah, dan binatang buas di puncak gunung. Izinkan dia masuk agar ia bisa mengutarakan maksudnya kepadamu!” 

Abrahah mengizinkan Abdul Muththalib masuk ke dalam tenda. Kali pertama melihat Abdul Muththalib , tahulah Abrahah bahwa tamunya adalah orang yang paling tampan, dan paling agung. Abrahah memuliakan Abdul Muthalib, mengagungkannya, dan menghormatinya dengan tidak menyuruhnya duduk di bawahnya. Abrahah tidak suka dilihat orang-orang Habasyah mendudukkan orang lain di atas singgasananya. Oleh karena itu, ia turun dari singgasananya, kemudian duduk di atas permadaninya dan mendudukkan Abdul Muththalib di sebelahnya.

Pembicaraan di bantu oleh penerjemah. 
 “Apa keperluanmu.” Kata Abrahah
“ Mohon kembalikan  dua ratus ekor unta saya” Kata Abdul Muththalib
" Aku pikir tadi engkau datang mengharapkan aku agar tidak menghancurkan tempat Suci agama nenek moyangmu. Tapi ini justru engkau meminta unta milikmu yang aku ambil. "
Sesungguhnya aku adalah pemilik unta, dan aku berkewajiban untuk mempertahankannya.
" Bagaimana dengan Ka'bah , rumah suci agama nenek moyangmu? 
 “Itu milik Allah. Itu terserah antara engkau dengan-Allah

***
Kisah tersebut di muat dalam hadith dan di singgung dalam  AL Quran. Ini sebuah pembelajaran bagi kita penganut agama Tauhid. Tidak ada alasan kita menabuh genderang perang untuk sesuatu milik Allah yang akan di ambil orang, atau firman Allah yang di lecehkan orang lain. Allah tidak perlu di bela untuk menjaga agama dan firmanNya agar tetap hidup di dunia ini. Allah itu Maha Perkasa, Maha Pengurus, Maha Besar. Apakah kita lebih hebat di bandingkan Allah, sehingga bawa perasaan seakan jadi hero membela Allah. Tugas kita sebagai manusia adalah mempertahankan apa yang menjadi hak kita. Dan benarlah dalam sejarah Pasukan Abrahah di luluh lantakan oleh sekawanan burung yang di kirim oleh Allah. Ka'bah sampai sekarang tetap di tempatnya tanpa terusik sama sekali.  Agama Tauhid adalah keimanan tak  bertepi terhadap kekuasaan Allah, dan berserah diri tanpa syarat. Karena janji Allah itu pasti, bahwa hanya Dia yang akan menjaga Agama dan Al Quran, bukan manusia.

Bagaimana dengan kita sebagai manusia ?  Sayyid Qutb mengatakan,”Bagaimana orang-orang beriman menolong Allah sehingga mereka menegakkan persyaratan dan mendapatkan apa yang di syaratkan bagi mereka berupa kemenangan dan diteguhkan kedudukan ?” Beliau melanjutkan,”Sesungguhnya mereka memurnikan Allah dalam hati mereka dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu baik syirik yang nyata maupun yang tersembunyi serta tidak menyisakan seseorang atau sesuatu pun bersama-Nya didalam dirinya. Dia menjadikan Allah lebih di cintai dari apapun yang dia cintai dan sukai serta meneguhkan hukum-Nya dalam keinginan, aktivitas, diam, saat sembunyi-sembunyi, terang-terangan maupun saat malunya, maka Allah akan menolongnya dalam diri mereka. Jadi menolong Allah itu adalah memperkuat tauhid dalam diri kita tanpa terjebak dengan simbol apapun. 

Apabila ada orang atau penguasa merampas harta kita dengan semena mena, kita wajib berperang dan menyabung nyawa untuk itu. Kalau ada orang atau penguasa melarang kita melaksanakan keyakinan kita beragama, maka wajib kita lawan. Ini jihad. Perang penaklukan beberapa wilayah di zaman Rasul dan kemudian di zaman Sahabat Rasul, semua karena hak umat islam berniaga dan melaksanakan ritualnya di larang oleh penguasa. Dan juga umat islam di ancam nyawanya karena keyakinannya. Mempertahankan hak pribadi kita adalah bagian dari Tauhid. Karena tidak ada yang perlu di takuti di dunia ini kecuali Allah. Namun untuk itupun usaha persuasi di tempuh terlebih dahulu agar di dapat saling pengertian tanpa harus berperang. Namun bila usaha perdamaian dan kompromi tidak mencapai hasil, maka perang di lakukan. Itupun syarat perang sangat ketat. Tidak boleh membunuh wanita, anak anak, orang tua, bahkan di larang membakar tempat ibadah serta menebang pohon.

Jadi perang yang di lakukan umat islam pada generasi pertama itu berdimensi moral, bukan penaklukan demi kekuasaan semata. Karena terbukti setelah penaklukan di capai, tidak ada pemaksaan terhadap agama , dan butuh waktu lama sampai islam di terima oleh penduduk yang di taklukan. Syiar islam sampai menyebar keseluruh pelosok bumi ini bukan karena pedang dan kebencian tapi dengan semangat cinta kasih sayang, tidak menghilangkan budaya lokal tapi memperbaiki budaya lokal agar sesuai dengan ruh Islam, tidak meminggirkan tapi merangkul yang berbeda, dengan penuh pemaaf dan berhati lapang menghadapi masalah tanpa di tunggangi nafsu duniawi yang hanya membuat pertikaian. Apalagi di era kini dimana Hak pribadi orang di lindungi oleh UU bukan hanya oleh hukum nasional tapi juga international. Tidak ada alasan lagi untuk berperang. Era kini umat islam harus di garis depan menebarkan cinta dan kasih sayang sebagai ujud Islam adalah rahmat bagi semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar