Rabu, 28 September 2016

Ujian keimanan...


Selama ini aku agak tertutup bercerita tentang aku dan dia. Mungkin Yun, menjadi tanda tanya yang tak sudah bagimu. Mengapa aku begitu tegar besikap. Seakan bagaikan batu karang di tengah samudera yang tak pernah tergoyah walau di hantam ombak tiada henti. Baiklah aku ceritakan sedikit. Ketika menikah, aku hanyalah pria kampung yang miskin. Datang ke Jakarta tanpa skill, hanya berbekal keberanian atas dasar keimanan. Berawal dari sebuah rumah mungil di pinggiran barat Jakarta yang  kami sewa bulanan. Sebuah pagi berjalan sebagaimana lazimnya. Dia berkubang dalam banyak pekerjaan rumah. Aku , seperti biasa, sibuk bersiap diri pergi ke kantor. Bukan orang kantoran tapi orang yang melapor ke kantor bahwa dia hadir untuk menjajakan barang dagangan. Tak ada gaji kecuali komisi. 
Dasternya tak mampu menutup seluruh kulit putih bersihnya. Tapi, daster itu tetap bisa menyembunyikan tahi lalat di tempat tertutup. Hanya aku tentunya yang tahu persis letaknya. Rambut lebatnya dibiarkan memanjang sebatas bahu. Hidungnya yang tak mancung kerap mengundang godaan ku. " Tak apa-apa hidungmu tak mancung. Lebih baik berhidung seperti itu tapi dengan dua bukit mancung dan terurus di bawahnya,” kata ku meyakinkan bahwa dia adalah pilihanku dan itulah yang terbaik bagiku. 
”Lebih baik daripada apa…?” selanya yang kadang merajuk.
”Ya…, lebih baik daripada berhidung mancung dengan dua bukit pesek tak terurus di bawahnya.”
Aku tergelak. Dia hanya tersenyum. Senyum tertahan. Adegan tersipu seperti inilah yang sangat kusukai. Karena diapun punya cara menertawakan kekuranganku. Kulit hitam, muka kasar dan pendengkur. Karena itu, kami gemar saling menggoda terutama pada setiap pagi yang jadi milik kami. Kadang-kadang aku  berpikir bahwa kami memang ditakdirkan sebagai pasangan yang saling melengkapi. Tergelak dan tersipu. Keliaran seorang penyerang dan kelembutan sang penenang. Keberingasan seorang pemburu dan kepasrahan korban buruan.

Yun, dia adalah perempuan bersahaja. Selalu nrimo. Dalam banyak hal ia bahkan cenderung naif. Yang pasti, ia sungguh rajin mengerjakan setiap pekerjaan yang tersedia di rumah. Tak ada bagian rumah yang tak terjamah olehnya. Setiap hari. Sepanjang minggu. Sepanjang tahun. Anak anak terurus dengan baik. Semua sehat dan pintar pintar. Aku membayangkan. Seperti itulah ibuku dulu selagi muda bekerja di rumah masa kecilku di Kampung. Menyelesaikan semua pekerjaan rumah dengan tertata. Mengurus suami, ayahku, yang lumayan banyak urusan. Dan mendidik 7 orang anak yang sungguh merepotkan. Tanpa pernah mengeluh. Satu kali pun.
Yun, lima tahun pertama pernikahan kami. dia tampil sebagai tiang rumah tanggaku. Diapun tak banyak menuntut dari seorang pengusaha pemula. Rumah tangga kami tanpa servant. Menyangkut materi, permintaannya selalu sederhana. Pakaian yang tak perlu bermerek , rumah mungil di pinggir kota, sebisa mungkin menabung berapapun untuk biaya sekolah anak. Tak pernah dia menuntut dan bermimpi rumah mewah, dan segala standar kehidupan orang kaya. Aku ingat Yun, dari sisa uang belanja , dia tabung dan di belikan emas . Emas itu di jualnya.  Ia dengan bangga berkata kepadaku " pakailah uang ini untuk ibumu pergi ke tanah suci." Padahal ketika itu hidup kami belum mapan. Namun dia tak ragu mengorbankan tabungan sekolah anak untuk kepergian ibuku ke Tanah Suci.

" Mengapa ? Bukankah kamu sangat menginginkan pergi haji. Mengapa kamu lebih utamakan ibuku" Kataku. Kamu tahu Yun, apa katanya " cinta papa yang paling tulus adalah kepada orang tua. Aku mengutamakan ibu karena aku berharap Tuhan mengkokohkan cinta kita. Bukankah ridho Ibu, juga adalah ridho Tuhan. " rasanya aku ingin menangis mendengar kata katanya Yun. Begitu rendah hatinya dia mengungkapkan cintanya kepadaku. Bahwa sebesar apapun cintanya kepada ku tetap tidak akan bisa mengalahkan cinta ibuku kepadaku. Dia tidak cemburu karena itu. Tidak juga menggunakan senjata merayu berwajah penuh make up tapi dengan memuliakan ibuku. Dia percaya bahwa pada ibuku ada Tuhan dan doa ibu selalu di kabulkan Tuhan. Ya kan.

Hanya satu permintaannya yang kadang di sampaikannya dengan malu malu" kalau Tuhan kasih rezeki kita berlebih , ajaklah aku ke Baitullah. Itu keinginanku yang tak pernah kusebut ketika masih di bangku Madrasah Sanawiyah. Aku ingin di peluk suamiku ketika usai mencium ajar aswad. " Alhamdulilah, 15 tahun setelah itu, aku bisa mengabulkan permintaannya. Aku tidak pernah melhat wajahnya begitu bahagia kecuali ketika usai mencium azwar aswad, sambil memelukku " Puja Puji kepadaMu ya Allah, engkau kabulkan doaku untuk bisa datang ke RumahMu bersama suamiku. Papa, terimakasih sudah memenuhi impianku di masa remaja"
Dengan berjalannya waktu , ekonomi ku semakin membaik. Untuk banyak alasan, yang tentu saja kusetujui, dia memang tak pernah memamerkan berlebihan barang-barang berharga pemberianku. Kendaraan yang di pilihnya bukan yang bermerek hebat tapi yang kuat dan efisien untuk antar jemput anak sekolah. Ia menyimpan dengan rapi setiap pemberianku , serapi menyimpan cintanya untuk satu-satunya lelaki yang pernah menjamah tubuhnya itu.
Waktu berlalu, aktifitas ku sebagai pengusaha semakin sulit dia pahami. Aku menjelma menjadi elang yang bisa terbang melintasi pulau dan benua. Namun aku selalu pulang. Kebersamaan dengannya adalah recharge power ku untuk tegar menghadapi ketidak pastian hidup. Dia maklum akan hidupku seperti dia bisa berdamai menjadi istri pengusaha, yang bisa kapan saja bangkrut, yang bisa berteman dengan siapapun, yang bisa terjerumus dalam pergaulan. Karenanya doanya tiada henti siang malam ketika aku ada di luar rumah. Ketika aku tanya , apa doanya, dia berharap agar aku selamat di luar, bertemu dengan orang orang baik , menjaga persahabatan dengan tulus, sabar dari segala kesulitan, dan tidak membuat aku kikir untuk berbagi.

Oh ya Yun, untuk kamu ketahui bahwa setidaknya dua kali dalam usia perkawinan kami , aku jatuh bangkrut. Kami  tidak punya uang sama sekali tapi kami tidak pernah mengemis dan mungkin tidak banyak orang tahu kami sudah jatuh miskin. Karena dia memang pandai mengambil peran untuk menjadi penyanggaku ketika aku oleng. Dia bisa trampil dan gesit mendatangkan uang untuk sekedar dapur kami mengepul. Dengan sikapnya mendorong aku produktif dan doyan kerja keras, tidak ragu mengambil resiko atas keyakinanku. Ingat ketika paska krismon , dalam keadaan bangkrut aku hijrah ke China, di  Bandara ketika mengatarku, dia berkata " Jangan pikirkan Rumah. Jangan nampak kan Papa lemah di hadapan anak anak. Papa akan selalu jadi idola mereka. Apapun itu. Anak anak akan baik saja denganku. Jangan ragu karena Papa yang terbaik Tuhan beri kepadaku."  Kata katanya membuatku menjadi petarung tanpa lelah. Kalaulah boleh meminta seperti yang aku mau kepada Tuhan, aku lebih memilih di beri waktu 36 jam sehari daripada harta melimpah. Sehingga aku bisa bangkit lagi.

Dengan kebangkrutan itu , aku semakin menyadari bahwa Tuhan tidak hanya mengirim wanita untuk menjadi istriku tapi juga seorang sahabat. Bahkan Yun, aku menemukan kesejatiannya sebagai wanita ketika aku jatuh bangkrut. Sabarnya bisa membuat aku nyaman menghadapi kemiskinan dan tegar untuk bangkit kembali. Walau tanpa kata kata seperti layaknya sang motivator , sikap hidupnya telah menjadi buku besar untuk aku belajar bijak. Jadi kalau kamu mengenal seorang Burhan hari ini , maka itulah cermin dari kekuatan istrinya. Dialah mentor ku , tentu dengan caranya yang kadang membuat aku stress. Ia bisa dengan keras menyalahkan aku untuk aku sadar dan berubah namun diapun takut untuk memujiku karena kawatir aku lupa bersyukur. Dia melarang aku untuk menulis buku dan di terbitkan.  Selalu dia lakukan dengan niat baik. Aku tahu itu. Bukan karena dia melarang aku menyalurkan hobiku tapi dia tidak ingin aku di puji orang , yang bisa melemahkan aku karena sifat sombong. Aku pernah jatuh tapi bukan karena kesombongan dan itu artinya secara spritual aku tidak pernah bangkrut. Maka akan selalu ada cara untuk bangkit.

Aku menghabiskan sebagian besar pikiranku ke bisnis , rapat bisnis, di Cafe menjamu clients, business trip melintasi banyak negara, Hidupku seperti lalu lintas di antara business yang melelahkan dan di rumah yang hanya hitungan jam. Kadang aku sering mengeluh tentang bisnisku tapi aku tidak pernah mendengar dia mengeluh mengurus rumah dan anak anak. Bagi sebagian orang uang memang kadang-kadang jadi persoalan. Aku sendiri tak pernah mau pusing soal keuangan. Aku tak terlalu peduli apakah uang kami sedang melimpah atau kami sedang bangkrut. Dari dulu aku hidup mengambil resiko. Mungkin itu karena di rumah aku tak pernah mendapat keluhan-keluhan berarti soal uang. 

***
Kini , di usia diatas setengah abad, aku dan dia semakin saling mengkawatirkan. Saling merindukan dan menjaga. Dia tidak ingin aku terus di sibukan dengan bisnis. Dia tahu aku lelah dan tahu aku tidak begitu menyukai kehidupan ku sebagai pengusaha. Dia hanya tahu aku hanya bertahan hidup dengan apa yang aku bisa, sebagai orang yang tak pernah berhasil masuk PTN, dan gagal menjadi profesional yang bergengsi seperti cita cintaku waktu kecil. 
Walau hidup kami tetap  bersahaja, kami merasa hidup kami lebih dari cukup. Memiliki sebuah rumah mungil di pinggiran Jakarta adalah sebuah kemewahan. Terlebih-lebih, buat dia, ternyata rumah mungil itu adalah sebuah istana besar yang megah. Aku bisa  mengatur sendiri hidupku, tanpa terikat oleh jam kerja atau jadwal-jadwal rutin lain, pergi sholat subuh ke masjid sambil bergandengan tangan  dengannya adalah kemewahan lain yang kumiliki. Aku merasa hidupku sudah selesai dengan dua kemewahan yang sudah digenggamanku, apalagi kedua putra putri kami sudah menikah dan mandiri.
Yun, pernah aku bilang kepadamu bahwa tidak ada perkawinan yang sempurna. Tidak ada manusia yang sempurna. Aku tahu kamu melihatku sebagai pria sejati menurut ukuranmu. Pria sejati tidak akan kamu temukan di etalage, Yun. tidak ada. Tidak juga pada diriku. Aku adalah repliksi istriku yang dengan kedua tangannya bersusah payah menjadikan pria kampung yang pemalu  untuk tampil di panggung dunia menjadi elang. Temukanlah pria yang karenanya membuat kamu nyaman untuk melabuhkan cintamu, kemudian berjuanglah untuk menjadikan ia pria sejati. Pria sejati tidak tersedia di luar sana tapi kamulah yang harus menjadikannya pria sejati. Pria itu akan menjadi cobaan mu sepanjang usia, untuk kamu memakluminya. Mencintainya bukanlah dengan kata kata tapi bagaimana sikapmu untuk mempercayainya dan memahaminya sepanjang waktu. Itulah yang di lakukan istriku terhadapku. 

Mungkin aku pria yang beruntung karena aku bisa berkembang tidak dengan kemanjaan dan pujian wanita , tidak dengan rongrongan wanita yang gila harta, tidak dengan kecantikan bidadari. Aku mendapatkan seorang istri yang sebetulnya ia adalah sahabatku, mitra ku , kelengkapan jiwaku. Sepanjang hidupku banyak keputusan yang aku buat dan kalau ada keputusan terbaik adalah ketika aku melamarnya menjadi istriku. Mengapa? kami mengawali dengan ketidak sempurnaan dan kami lewati hidup dengan sadar bahwa kami tidak akan pernah sempurna. Hubungan kami adalah cobaan untuk menguji keimanan kami kepada Tuhan. Bukankah menikah adalah ibadah untuk menguji ke imanan kita. Belum di katakan beriman sebelum di uji, ya kan.

***
Seperti biasa aku masih berkutat dengan data di komputer ku. Memonitor perkembangan portofolio bisnis secara online . Kadang aku tersenyum , kadang merengut tapi aku nikmati saja pagi itu sambil melepas ketegangan lewat facebook. 
”Hayuu sarapan. Aku sudah masak kesukaan papa “ Tiba-tiba suaranya menyereruput punggung telingaku. Dua bilah tangan putih melingkari dipinggang ku.  Dia merapatkan badannya di punggungku. Wangi-pagi-hari tubuhnya yang khas membuat pagiku begitu sempurna, selalu. Kebersamaan dan kebahagian kecil seperti inilah yang tak ingin aku korbankan hanya karena ego pribadiku. Kini kusadari , dia telah menua , aku juga , memang sudah banyak yang kurang dari dia karena usia namun ia tak mungkin kuduakan. Tidak mungkin, Yun, dan kamu tetap sahabatku. Semoga kamu maklum. 


Antara Jakarta, Tangerang
Septermber 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar