Jumat, 23 September 2016

Dekatlah kepada Tuhan,..

Beberapa bulan atau tepat 4 bulan 17 hari setelah Yuni mengundurkan diri dari perusahaan, dia merasakan ada yang hilang dari dirinya. Apa itu ? Ketulusan. Satu demi satu sahabat yang tadinya akrab dia tinggalkan. Betapa tidak ? Yang kaya selalu ngajak shoping. Kalau ketemu yang di bahas masalah sepele , sekitar barang dan pria. Ada teman yang kurang berada. Kalau ketemu selalu mengeluh tentang suami yang malas, anak yang bandel dan hidup yang semakin sulit karena biaya biaya terus naik. Ada juga yang jomblo. Selalu mudah tersinggung dan bawa perasaan. Hobinya makan dan nonton. Engga jelas motivasi hidupnya. Ada juga pria yang bersuami selalu mengeluh soal istri namun mereka suka berimajinasi soal sex dengan wanita lain. Bahkan ada yang bangga bisa mempecundangi wanita setelah menikmatinya. Entah siapa memanfaatkan siapa. 

Yuni semakin merasa kesepian dan mungkin lebih tepatnya kosong. Bertahun tahun dia tinggalkan pergaulan dengan teman temannya yang dulu pernah jadi sales jalanan. Kini ketika dia kembali bergaul dengan mereka. Dia melihat kenyataan, hidup mereka tidak berubah lebih baik. Bahkan samakin mundur. Yang status istri semakin tergantung dengan suami dan selalu punya alasan menyalahkan suami. Yang punya istri semakin kehilangan semangat untuk saling mengkawatirkan diantara mereka. Yang kaya doyan konsumsi dan terkesan sombong. Yang hidup kekurangan , selalu punya alasan mau kasbon, bahkan merasa tidak kotor di ajak tidur dengan teman pria bule setelah dua kali kencan. 

Mungkin kehidupan kosmopolitan di Jakarta terlalu mahal harga persahabatan. Semua orang yang dia temui punya motive untuk saling memanfaatkan dan cepat berlalu bila tak ada lagi mutual benefit. Yuni merasakan semakin tak bisa punya ruang untuk bernafas diantara mereka. "Apakah persepsi ku yang otopis tentang persahabatan ataukah dunia sudah berubah dan aku tidak memahami perubahan itu" Katanya membatin. Yang dia sesali, dua kali dia minta bertemu dengan Burhan namun ketika waktunya bertemu, dia punya alasan untuk membatalkan pertemuan. Mungkin karena itu Burhan mem block Telp nya sehingga dia tidak bisa lagi Telp Burhan. Marahkah Burhan ? Karena merasa di permainkan oleh nya.

Kini dia kuatkan hati untuk bertemu dengan Burhan. Karena Telp sudah di block, dia coba meminta bertemu melalui e-mail. Yuni juga sampaikan bahwa dia sakit. Hanya setengah jam, Burhan menjawab singkat " OK. Aku akan datang ke rumah sore ini. ”  Benarlah sore hari , Burhan sudah ada dirumah.

Yuni masih tidur di sofa ruang tengah ketika Burhan datang. Angin tak sampai. Hanya lapat-lapat suara kendaraan, agak jauh di depan, di jalan. Juga harum kenanga. Dan hari tak henti berenang dalam petang. Burhan duduk di kursi mengamati Yuni, sesekali melihat ke tivi. Alangkah lengang petang. Betapa sunyi siang di ujung hari. Dan dari pojok ruang di lihatnya Yuni tidur di sofa, tak bergerak. Dadanya bak tak beriak. Mukanya putih-bersih. Atau pucat? Tidak, tidak. Kulit Yuni memang bersih-putih dan saat tidur mukanya terlihat makin putih. Tapi Burhan ingin meraba kening Yuni, memegang tangannya, menyentuh jarinya. Burhan ingin merasa kehangatan tetap mengalir di sana. Dia mendekat, di rapikan daster dan luruskan kaki Yuni hati-hati. Dia tersenyum lega merasa kehangatan mengalir di sana. 

Di luar, hari berlayar menuju petang seperti usia. Bayang pohon memanjang di halaman berlawanan dengan bayang sore. Suara-suara pembantu senyap di belakang. Telepon bisu di sudut ruang. Di jalan agak jauh di depan rumah kendaraan lalu-lalang, bunyinya menyusup masuk usai berenang meniti daun dan bunga-bunga di halaman. Dibawanya juga harum kenanga ke dalam ruangan.

Burhan amati wajah Yuni sekali lagi, balik ke kursi, menonton tivi. Tidak ada yang patut. Pisah-cerai artis. Heboh, aneh, bagai pasangan hidup hanya mainan. Atau baju, sepatu, dapat kau ganti kapan mau. Tapi Burhan terus menonton. Di saluran lain film kartun, masak-memasak. Ah. Masakan Yuni tentu mampu bersaing kalau tak lebih sedap. 16 tahun kebersamaan dengan Yuni , selerannya dimanja, asam urat kolesterol pun tak singgah. Cuma umur, terus menjulur; meretas garis dekat ke batas.
”Oh, hebat ini! Sedap. Luar biasa!” Semua teman Burhan pun memuji tiap kali Yuni mengundang makan di rumah, dulu, sebelum Yuni berhenti, kebersamaan itu terasa indah.

Bagaimana tak hebat luar biasa. Dari kecil Yuni menurut ceritanya ia suka dan terlatih memasak. Bakatnya turun dari nenek serta ibunya, dia asah tiap hari. ”Pokoknya, masakan Mama itu hm!” puji Yuli ketika disuruh pulang dengan alasan mamanya sakit, tahunya mamanya hanya rindu.

***
Yuni bergerak. Matanya perlahan terbuka. Dia lihat Burhan sejenak, lalu beralih melihat tivi. ”Uda, maaf. Kenapa Telp Yuni di block. WA juga?” tanyanya. Suaranya lirih seperti bisik. Matanya redup, hati Burhan teriris. Yuni  masih tidur di sofa ruang tengah

" Aku memberi kesempatan kamu focus dengan dunia kamu yang baru, Yun. Lingkungan yang baru. Karena memang kamu butuh ruang untuk itu, tanpa harus ada aku lagi. Aku maklumi itu ketika kamu dengan mudah membatalkan dua kali pertemuan dengan ku. Engga apa apa."

" Uda tersinggung ya"

" Engga. Kan aku udah bilang. Aku memaklumi sikap kamu, selalu"

" Uda..."

" Ada apa?

" Kemarin Yuli minta izin ke Sudan. Ikut program kemanusiaan dari Bulan Sabit London. Dia ingin gunakan waktu libur musim panas untuk kegiatan sosial. Yuli engga bisa tidur mikirkan dia mau ke sana” Suara Yuni nampak parau. 

" Pendapat kamu ?

" Aku larang keras. Tapi dia berkeras mau ikut rombongan Bulan Sabit ke sana. Uda, please. Bilang Yuli engga usah pergi. Larang dia, Uda. Hanya Uda yang dia dengar. Aku ibunya tapi engga ada respect di hadapan dia" kata Yuni, air mata mengalir di tubir kelopak matanya

" Yuli sangat respect dengan kamu, Yun. Sangat. Hanya masalahnya kamu engga bisa memahami gejolak usia mudanya. Kamu engga melihat masalah secara utuh dan bijak. Anak kamu sekarang sudah dewasa. Pergaulannya di luar sana ikut mempengaruhi karakternya. Kamu tidak bisa paksa dia untuk mengikuti seperti apa kamu mau. “

" Tapi itu kan misi berbahaya. Apalagi berada di wilayah konflik. Uda..please” Yuni berusaha berdiri dari rebahannya di sofa. Ingin duduk mendekati Burhan. Tapi Burhan cepat mendekatinya dan membantunya duduk. Terasa aroma parfum yang sangat Burhan kenal.

" Itulah kamu. Alasan yang tidak berkelas. Kamu engga tahu bahwa dia pergi dengan rombongan Bulan Sabit yang merupakan organisasi kemanusiaan yang di hormati di seluruh dunia. Mereka punya SOP yang ketat untuk memastikan para aktifis terhindar dari kecelakaan atau korban dari akibat adanya konflik. Jadi aman. Engga usah kawatir"

" Kan masih ada kegiatan lain yang lebih bermanfaat untuk liburan musim  panasnya "

" Contoh?

" Ke Bali sama Yuni atau ke Thailand liburan. Banyaklah "

" Itu artinya untuk kepentingan kamu aja. Sementara dia bukan lagi hidup di dunia kamu. Dia hidup di dunianya untuk takdirnya. Ya , pantas aja dia sulit menerima alasan kamu"

Burhan masuk kekamar. “ Kita kedokter ya. Aku antar kamu.” Kata Burhan sambil membawa selimut menyelimuti kaki Yuni sampai pinggang.

" Engga apa apa Uda. Engga usah ke dokter. Yuni hanya capek mikir soal Yuli. Dia satu satunya harta Yuni di dunia ini, Uda.” kata Yuni dengan suara terkesan berbisik. Matanya memandang ruangan tengah rumah yang luas. 
“ Sepi sekali hidup Yuni , Uda. Di luar sana banyak teman, tapi semua membosankan. Berkali kali Yuni ingin telp Uda tapi tidak ada keberanian. Capek Yuni mikir apa yang salah dengan hidup Yuni.”

“  Masih sering kan sholat Tahajud? Tanya Burhan.
“ Udah jarang Uda.”
“ Kenapa ?
“ Yuni malu sama Allah. Masalah hidup Yuni karena pilihan hidup Yuni sendiri. Sementara kasih sayang Allah terlalu melimpah.”

Burhan diam saja. Tanpa ingin membahas lagi masalah Yuni. Karena masalah Yuni dari dulu adalah dia tidak pernah bersikap memilih jalan hidupnya dangan ikhlas. Makanya dia selalu cepat bertindak pragmatis. Burhan harus mengarahkan Yuni untuk benar benar bisa memilih jalan hidupnya. Dan itu hanya Yuni yang bisa melakukannya. Burhan hanya bisa membantu dengan mengurangi sikap intervensi nya yang berlebihan seperti sebelumnya. 

" Uda, gimana?

" Gimana apa?

" Apa yang harus Yuni lakukan?

" Kamu bisa buka usaha lain untuk mengisi kesibukan. Kan kamu ada uang dari saham yang kamu serahkan ke aku.  Sampai kini kamu belum ambil uangnya di kantor. Ambillah , itu hak kamu. Pakailah uang itu untuk usaha kamu sendiri" 

" Tapi Uda ikut ya dalam usaha itu ya"

" Untuk apa? 

" Ikut aja, Uda."

" Itu sama saja kita jadi mitra lagi"

" Engga. Uda jadi mentor Yuni aja. Kan saham uda kecil. Biar Yuni yang setor semua"

Burhan diam sambil melirik kearah Yuni yang mengejar arah matanya " Mau ya"  kata Yuni dengan tersenyum sipis.

“ Yun, untuk jadi mentor tidak harus jadi mitra. Ya, kan. Jadi sahabat itu lebih tinggi di bandingkan hubungan kemitraan bisnis. Kamu harus belajar menjadi diri kamu sendiri. Sudah saatnya kamu tentukan sikap untuk jauh dari bayang bayang aku. Kita tetap bersahabat. Aku akan selalu ada di kala kamu memang membutuhkan aku. Seperti sekarang ini, kan. Aku ada di samping kamu.”

Yuni terdiam. Dia kembali merebahkan dirinya di sofa. Tak berapa lama dia sudah tertidur. Burhan menyelimuti tubuh Yuni, sambil mengusap kening Yuni. “ Kamu wanita kuat Yun. Kamu tahu bagaimana seharusnya menyelesaikan hidupmu. Aku akan berusaha menjadi penonton yang baik, sembil berdoa untuk mu. Bukan aku penolong mu tapi Tuhan. Dekatlah kepada Tuhan, dan kamu akan tahu betapa bernilainya dirimu untuk kamu syukuri sepanjang usia. Ya sayang..” Kata Burhan berbisik. Kemudian melangkah keluar rumah. Senja telah berlalu, malam datang. Besok fajar akan kembali menyapa. Akan selalu ada harapan baru dan kemuningkan baru , untuk Yuni tentunya.

***
Dermaga besar yang teramat sabar, bentangan laut memanjang sampai ke penjuru ingatan, ke palung kehilangan, ke laut kasmaran. Sesungguhnya, ada banyak cerita di Kowloon atau Tsim Sha Tsui, East. Bukan hanya sepasang kekasih yang duduk di besi dermaga untuk menunggu senja, tapi juga kisah-kisah lain manusia. Semua itu adalah cerita. Tapi pemandangan Dermaga, senja, dan sepasang kekasih mungkin akan menjadi cerita yang paling dramatis. Bisa saja sepasang kekasih itu pada akhirnya akan berpisah, tapi masing-masing dari mereka tak bisa menghilangkan kenangan ketika duduk berdua di dermaga. Seakan-akan mereka sedang mengabadikan cinta dalam hitungan detik terbenamnya matahari. Lalu pada suatu waktu si lelaki akan sengaja kembali ke tempat itu, duduk di sana, demi mengenang wanita itu atau bisa saja kisahnya di balik. Meski mungkin si wanita tak kembali, sebab ia merasa tersakiti jika harus melihat senja di dermaga itu lagi.
Tetapi, kapal akan tetap melintas, tepat ketika senja, ketika matahari bundar di ujung laut.Ya, sebentar lagi, sebuah kapal akan melintasi teluk itu. Sungguh suasana yang romantis, seorang kapten kapal  yang bertugas di kapal itu sedang membayangkan kapal yang di kemudikannya sebentar lagi melintasi teluk, lalu ia akan membunyikan peluit keras-keras, nguooongngng, hingga ia pun teringat dengan kekasihnya di masa lalu; seorang wanita penggemar senja.
”Bertahun tahun aku berimajinasi Uda menjadi kapten, dan membawa kapal yang melintasi teluk tepat ketika senja.”
”Kamu ingin aku jadi kapten kapal?”
”Ya. Menjemput ku yang setia menanti di kala senja” Mata sipit Yuni melirik kearah Burhan” Tidak mungkin ya Uda ?” Matanya layu jatuh ke tanah.
”Aku telah mencoba tapi tidak pernah berhasil Yun. Maafkan aku. Persahabatan kita terlalu indah untuk dibatasi oleh lembaga perkawinan.”
”Uda akan selalu dalam pikiranku, selalu.”
”Cinta sudah cukup sempurna bila kita punya ruang untuk berbagi dan peduli.”
" Apakah cukup cinta yang Uda maksud itu? Untuk ku? Sepanjang angin akan berembus, pertanyaan seperti itu seolah tak ada gunanya. ”Cinta yang uda maksud tidak membuat Uda merindukanku. Uda hanya peduli dan selalu ada untuk Yuni , untuk melindungi Yuni, menghapus air mata Yuni. itu aja. Sementara cinta yang kumaksud adalah merindukan. Selalu ?” Kata Yuni.
Burhan hanya diam. " Rindu hanyalah sebatas keinginan. Apa pun selebihnya adalah milik Tuhan!Apalah aku untuk bisa memiliki sehingga selalu merindukan. Bahkan terhadap diriku saja aku tak berdaya. Kalau sakit ya sakit aja walau begitu kerasnya menjaga disiplin agar tetap sehat. "Kata Burhan kemudian sambil menatap kearah dermaga.
“ Ini terakhir aku menanti senja. Satria itu telah datang kemarin.  Besok besok ia akan melamarku.” Akhirnya sampai juga sebuah sikap dari Yuni. Menentukan pilihan yang ketiga kalinya dalam hidupnya. Dia yakin tidak ada pilihan yang sempurna namun dengan memilih dia mengakui kelemahanya sebagai manusia yang tidak sempurna. Andi sudah menentukan sikap dengan menceraikan istrinya yang memang tidak pernah ada titik temu untuk berdamai. Rasa hormatnya akan pribadi Yuni telah membuatnya punya keberanian melamar Yuni jadi istri.
“ Siapa kapten itu ?
“ Bukan Uda yang pasti. “ Kata Yuni dengan mata sipitnya yang sendu.
“ Siapa ?
“ Andi Ng. Dia telah mengabarkan bahwa dia berani mengambil keputusan untuk memperistriku”
“ Akhirnya berlabuh juga kamu di dermaga harapan. “
“ Ya. Aku lelah menanti senja, menanti kapten kapal menjemputku, yang akhirnya hanyut dibawa angin malam. Dia bukan si kapten  yang aku imajinasikan namun dengannya aku bisa menghapus warna warni imajinasiku, tentang Uda.”
“ Aku tetap sahabatmu. Kapanpun kau merindukan ku, yakinlah aku selalu di hatimu. Setidaknya aku ada pada Yuli. Dia akan menjadi malaikatmu di usia senjamu.”
“ Terimakasih Uda. Terimakasih untuk segala galanya. Yuni tidak akan ambil uang dari saham yang Uda hibahkan ketika kita mendirikan Holding. Di hadapan Yuni , Uda terlalu berharga di bandingkan uang yang Uda berikan untuk 20% saham itu. Tabungan Yuni hasil dari deviden, bonus dan gaji selama berkerja dengan Uda, lebih dari cukup untuk seorang istri pilot. “
“ Baik baik selalu sayang. Jaga dirimu ya” Kata Burhan dengan senyum tertulus.
“ Ya, Uda. “ Kata Yuni dengan air mata berlinang.  “ Yuli bersikap jelas. Dia tidak mendukung keputusan Yuni untuk menikah. Dia memilih untuk tetap bersama Uda. Jaga Yuli ya Uda.”
" Aku sudah berusaha meyakinkan Yuli untuk mengerti kamu. Bahwa kamu butuh suami yang akan melengkapi hidup kamu, menuju sorga yang di janjikan Tuhan. Tapi, sabar ya Yun, semoga berjalannya waktu , Yuli bisa berdamai dengan kenyataan. Tentu. Tentu, akan aku jaga Yuli seperti aku menjaga nilai nilai persahabatan kita. “
" Sifat Uda lebih dominan pada diri Yuli. Entah kenapa pandangan hidupnya adalah pandangan Uda. Termasuk dia merasa nyaman ketika Henry dekat dengannya.
" Hubungan Henry dengan Yuli hanyalah hubungan orang dewasa. Henry pria lajang yang baik dan cerdas. Dia juga dari keluarga miskin yang yatim sedari kecil. Henry di besarkan oleh kakeknya."
" Mengapa Yuli sampai dekat dengan Henry, Uda?
" Yuli ambil jurusan Financial and banking dan Henry alumni Harvard yang jurusannya sama dengan yang di ambil Yuli di Universitas. Mungkin chemistry intelektual mereka sama makanya bisa nyambung. Beri Yuli kepercayaan untuk menentukan sendiri hidupnya. Kita akan awasi dia agar tidak terjerumus. Dan lagi Henry sangat menghormati Yuli, bahkan terkesan walau dekat masih menjaga jarak. Karena Henry tahu siapa Yuli, putriku. Tenang aja"
Terdengar getaran telepon genggam Yuni, dan melirik Burhan “ Andi Ng, sudah di loby. Jemput Yuni untuk makan malam. Besok Yuni ke London  bersama Andi. Karena Andi ingin bicara dengan Yuli.”
“ Ok. Silahkan Yun. Aku kembali ke apartement ku.” Kata Burhan sambil tersenyum.  Yuni menyalami Burhan sambil mencium punggung tangannya. “ You always my man, my dearest. You were always on my mind..” Kata Yuni lirih ketika Burhan melangkah menjauh menjemput malam. Senja berlalu dan dia biasa pergi meninggalkan senja, tanpa beban. Semua berawal karena Tuhan dan berakir karena Tuhan.
***
Han, entah mengapa aku ingin berkirim surat kepadamu. Lewat email ini segala hal mudah di sampaikan, dan kali ini aku tidak akan menyebut “ Uda” tapi Han. Ya cukup Han saja. Karena kamu sekarang benar benar sudah jadi sahabatku. Tidak ada ikatan apapun secara bisnis. Secara emosi ada dinding tebal memisahkan kita karena statusku sebagai istri orang. Sehingga tidak memungkinkan kita bersedekat seperti dulu, tidak mungkin lagi ya kan, Han

Hanseperti biasa, ia tak menoleh ketika aku menggeliat mengeluarkan suara manja. Aku pun bangkit. Kubiarkan selimut yang semula menempel di dada akhirnya terjatuh. Dingin memang. Tapi itu justru memberiku cukup alasan untuk bersegera merangkak mendekatinya dan menekankan payudaraku ke punggungnya. “Sudah terbangun cukup lama?” tanyaku. Ia masih saja tak menghiraukanku dan tampak asyik membaca buku tebal. 

***

Aku dan Andi Ng pertama kali bertemu dua tahun yang lalu. saat itu aku sedang galau karena keputusanmu Han, menempatkan Yuli ke asrama di Singapore. Dalam keadaan seperti itu, di dalam pesawat , sang pilot dengan simpati menyampaku. Dan aku lebih senang lagi, karena rupanya pilot itu tertarik kepadaku—bisa kupastikan itu dari tatapan matanya. Ia  meminta nomorku yang bisa ia hubungi. Kuberikan Business card ku  dan diapun memberi ku.

Beberapa jam setelah kami berpisah malam itu, ia mengirimiku SMS. Dua hari kemudian, ia meneleponku. Lima hari setelahnya, ia mengatakan ingin sekali bertemu denganku. Maka kubilang, “Ke sinilah. Mungkin kita bisa sekalian ngobrol-ngobrol dan kamu bisa memberitahuku bagaimana caranya mengendalikan pesawat di tengah badai.” Rupanya, ia menanggapi perkataanku itu dengan serius. Pada hari kedelapan belas sejak pertemua  itu kami bertemu di Cafe, plaza Senayan. Ada rasa tersengat, tentu saja, melihat sosoknya itu berdiri di hadapanku. Singkat kata kami pun berbicara tentang berbagai hal 

“Aku menyukaimu dan ingin kembali bertemu denganmu,” katanya besok harinya, Aku tersenyum. Dua bulan setelah saat itu ia datang lagi, dan kami berdiskusi banyak hal. Mungkin yang tak dia minati adalah business. Selebihnya dia menyenangkan, Han. Di salah satu malam yang kami lalui bersama, aku pernah menanyakan padanya bagaimana sesungguhnya perasaannya padaku. 

Ia bilang, ia menyukaiku, tapi tak lebih dari itu. Tak bisa. 
“Kenapa?” tanyaku. 
“Karena aku sudah memiliki seseorang,” jawabnya. “Dan dia adalah istriku dengan dua anak,” lanjutnya. 
Aku pun mengerti. Ia sempat cemas dan bertanya apakah kejujurannya itu mengusikku. Kujawab dengan senyum percaya diri. Pada malam selanjutnya ia memberiku sebuket mawar merah dan beberapa buku. “Ini untuk mengurangi rasa bersalahku,” katanya. Kukatakan bahwa itu tak perlu, sebab aku sama sekali tak pernah menganggap ia bersalah. “Tapi aku merasa bersalah,” desaknya. Jadi kuterima saja. 

Namun rupanya itu memberinya peluang untuk menciumiku di bibir, aku mengelak. Di pipi, akupun mengelak. Di leher, di bahu, aku mundur dengan perasaan tersinggung.
 “Kamu tahu, kurasa aku mulai mencintaimu,” ucapnya. 
“Apakah itu berbahaya?” tanyaku. 
“Sangat,” jawabnya. 
Namun lagi-lagi rupanya itu tak menghentikannya untuk mencoba menciumiku tapi tetap aku tolak, yang akhirnya aku kehilangan respect terhadapnya. Bukannya aku munafik melepaskan kesempatan di cumbui pria hebat, apalagi aku sudah menjanda lama. Bukan, Han. Aku hanya ingin hubungan yang tulus, bukan karena kencantikan wajah atau kulitku yang putih bersih, Bukan. Tapi aku tidak melihat ketulusan itu. 

 ***
Berbulan bulan lamanya sejak saat itu kami tak berkomunikasi melalui telepon maupun SMS. Kukira saat itu ia akhirnya memutuskan untuk berhenti dan mulai sepenuhnya mempersiapkan diri untuk membangun kembali rumah tangganya yang retak berderak. Akan tetapi, suatu pagi, ia membangunkanku, dan mengatakan betapa ia merindukanku dan tak bisa berhenti memikirkan ku. 

“Aku juga,” kataku, yang kemudian kusesali. 

Beberapa hari setelahnya kami kemudian bertemu. Kali itu aku yang mendatanginya di Singapore. Konyolkan, Han. Hanya sejengkal dengan apartement tempat istri dan anak anaknya tinggal. Dalam pertemuan di sebuah cafe di Mandarin Hotel, awalnya kami berdiskusi hal yang sederhana. Tapi akhirnya aku meminta pendapatnya tentang pria yang punya karakter seperti kamu , Han. Kamu tahu Han, apa pendapatnya? Dia mengatakan bahwa pria tersebut secara GEN tidak punya sifat pendendam, yang tentunya tidak bisa membeci, apalagi sakit hati. Pria seperti ini, dia tidak akan paham arti mencintai seperti yang kita persepsikan. Dia tidak akan merindukan siapapun, dan tidak merasa takut kepada siapapun. Kalau dia memberi, karena itu memang secara pantas dia harus memberi. Kalau dia melindungi , itupun biasa saja. Tidak ada alasan melodrama yang kita harapkan dari sikap kelembutan kasihnya.

Kalaupun dia menikahi wanita , itu bukan karena dia ingin memiliki wanita seperti pria lainnya yang merasa unggul menaklukan hati wanita dengan kegantengan dan harta, atau kata kata. Baginya menikah adalah perintah Tuhan. Itu saja. Apapun yang dia lakukan kepada istri dan anak anaknya  , itupun karena alasan Tuhan. Dia tidak akan memanjakan mereka, namun selalu ada ketika hal yang penting harus di adakan. Dia tidak perlu merindukan semua hal sehingga merasa kawatir berlebihan. Hidupnya terkesan datar saja. Tanpa gelombang. Dalam bisnis juga begitu. Tak lebih. Kalau deal menguntungkannya , tidak akan membuat dia euforia. Kalau rugi , atau bahkan bangkrut , tidak akan membuat dia hancur. Mengapa ? Berapapun laba bertambah, tidak akan membuat dia kehilangan dirinya. Harta dia perlukan tapi itu hanya option. Sama halnya dengan sex, itu juga option. Kalau ada , yang di pakai seperlunya dan kalau engga ada, diapun bisa melupakan, Namun caranya selalu menurut standar nya sendiri sesuai agama yang dia yakini. Jangan kamu bayangkan dia bisa membeli sex untuk kepuasannya dan membeli barang bermerek untuk memuaskan egonya. Tidak mungkin.

“ Begitukah pemahamanmu tentang pria yang kumaksud” Tanyaku kepada Andi.

“ Ya. Aku pernah baca buku psikologi tentang manusia yang punya kepribadian seperti itu. Kadang orang salah duga bahwa dia punya ke pribadian ganda, seperti bunglon. Karena dia bisa bersikap humanis sebagai sahabat dan bisa juga sebagai petarung ketika berbisnis. Sebenarnya, karakternya satu saja. Dia menggunakan akal dan hatinya ketika bersikap. Yang membuat dia terkesan aneh, adalah di akalnya tidak ada storage informasi tentang dandam dan benci. Memang GEN sebagai cetak biru kehidupannya tidak ada buku yang memuat bagaimana membenci dan dendam. Ya semacam kelainan jiwa. Kalaupun ada orang seperti itu, pasti tidak banyak, atau mungkin tidak ada.” 

Jangan marah ya Han. Aku tidak bilang bahwa itu karakter kamu. Aku berusaha mendebatnya, namun akhirnya semakin membuat aku tercerahkan, tentang alasan dibalik kebaikan demi kebaikan kamu kepadaku. Aku mengangguk-angguk saja meski sesungguhnya begitu dongkol dan dalam hati terus bergumam: orang yang teguh dengan prinsipnya memang terkesan kelainan jiwa. Tapi sebetulnya kita sendiri yang tidak punya prinsip. Pragmatis. Sehingga menilai orang seperti itu, punya kelainan jiwa.”  Ketika ketegangan sudah benar-benar menghilang, ia akhirnya tersenyum, meraih tanganku, dan berkata, “Aku merindukanmu beberapa hari ini. Sangat.”

 ***
Han, Sejauh itu hubungan ku dengan Andi terkesan hambar. Namun ketika dia sedang off,  selalu sepanjang waktu itu ia habiskan berdua saja denganku. Kadang itu membuatku bertanya-tanya, apakah ia dan istrinya masih hidup serumah?

Suatu saat akhirnya kuutarakan keherananku itu padanya dan ia menjawab cepat, “Masih kok.” Sambil sesekali menatap mataku ia menjelaskan bahwa apapun yang telah terjadi di antara kami, ia tak akan mengubah keputusannya untuk menceraikan istrinya. 
“Apakah kau mencintainya?” tanyaku. 
“Tentu saja,” jawabnya, dengan raut muka seperti awan gelap yang memadat. Ketika kuungkapkan keherananku dengan sikapnya itu, betapa ia mengakui pernikahannya adalah takdir yang tidak sanggup dia pikul, dan karena kasih Tuhan mengirim aku kepadanya. Ini pengkhiatan halal dan harus di maklumi sebagaimana ia mengatakan sesuatu yang membuatku terdiam, “Ia tahu kok hubungan kita ini.” Lima detik, dua belas detik, kuhabiskan dengan ternganga. 

“Benarkah itu?” tanyaku. 

“Ya,” jawabnya. 

Di setiap malam aku terus memikirkannya dan akhirnya aku jadi tak bisa benar benar mencintainya. Dua minggu setelah saat itu, aku memberanikan diri untuk menemuimu Han, Ingat engga ketika kita di cork and screw, Plaza Indonesia, membicarakan soal hubunganku dengan Andi Ng. Sebenarnya, Andi sudah sejak lama mewanti-wanti agar aku tak mencoba-coba menemui mu membicarakan hubungan dengannya. Tapi aku sudah memikirkannya masak-masak selama dua minggu dan kusimpulkan bahwa hari-hariku tak akan tenang jika aku dan kamu tak bertemu. Maka, ketika pertemuan riskan itu terjadi, besar harapanku kamu memberikan pernyataan yang entah bagaimana bisa menghapuskan kegelisahanku.

Ternyata, yang terjadi adalah benar adanya. Kamu menasehatiku untuk tabah dengan penuh maklum bahwa aku bukanlah wanita pertama yang pernah di cintai Andi Ng. Sebetulnya jawabmu tidak begitu penting. Namun, Han, ketika itu aku membayangkan kamu menasehatiku untuk tahu resiko mencintaimu dan berharap menjadi istrimu. Yang jelas aku tak akan sanggup memenuhi syarat seperti yang kamu tetapkan. Kamu jujur tapi Andi Ng, tidak bisa jujur. 

Sejak saat itu, aku sebisa mungkin menghindari pertemuan dengan Andi Ng. Alasan demi alasan kuberikan. Rindu demi rindu aku simpan. Hingga akhirnya, pertemuan kembali tak terhindarkan.
“Menurutmu, apakah aku ini orang yang setia?” tanyanya.
Aku terpaku, lantas menggeleng.
“Entahlah,” kataku. “Kau bilang apapun yang terjadi di antara kita, istrimu akan diceraikan. Kurasa, itu suatu wujud ketidak kesetiaanmu “. Tapi kamu…”
“Terus meyakinkanmu ?” potongnya.
“Ya,” jawabku.
Ia diam, beberapa detik.
“Bukankah itu suatu wujud kesetiaanku padamu, bahwa perceraian itu terjadi karena tekadku memberikan diriku padamu?”
Giliranku yang terdiam. Benarkah itu? pikirku. Dan senyum di wajah Andi Ng itu seperti berkata, “Ya.”
Maka aku pun tak lagi ambil pusing dengan semua itu. Biarlah ia kelak bercerai dan kami akan menikah. Biarlah ia terus mengatakan padaku bahwa seseorang itu baik-baik saja dan perkawinan kami tak akan melukai siapapun. 

***

Satu hal kutanyakan, “Tidak kah kamu ingat kenangan malam pertama dengan istrimu. Menerobos selaput virgin nya. Apakah itu tidak ada artinya lagi kini?” Ia menjawab, “Malam itu, kami sama sama menikmati.Biasa saja” Oh.. Aku pun sepertinya mengerti mengapa setelah malam pertama dengannya , ketika aku terbangun dia asyik dengan bukunya. Sepertinya tidak ada arti hubungan intim suami istri ini. Atau mungkin baginya hubungan intim adalah mutual benefit karena mutual orgasm. Artinya dia hanya anggap hubungan intim hanyalah bisnis. Padahal banyak hal yang ingin kubicarakan dengannya , tentang rencana kesibukanku selama dia terbang, tentang Yuli yang terus kamu tanggung biayanya. Apalagi Han, setelah bosan membaca dan matanya mengantuk, dia mematikan lampu, tidur memunggungiku. Itu kehidupan perkawinanku kini, Han.

Benar katamu, Han, memang tidak ada hubungan yang sempurna namun rasa hormat tidak boleh hilang. Bukankah kita hidup berjuang untuk kehormatan diri di hadapan manusia dan Tuhan. Rasa hormat itu tidak kutemukan dari Andi Ng. Sementara bertahun tahun aku bersama mu, Han, walau bukan istrimu aku mendapatkan rasa hormat. Persahabatan yang kamu maknai memang menempatkan rasa hormat yang harus di bayar dengan kelapangan hati untuk mengerti satu sama lain. Tidak Han , aku harus akhiri perkawinan ini...

***
Seindah apakah senja yang mengendap perlahan-lahan di permukaan laut sehingga tampak air yang hijau itu berangsur-angsur berwarna warni akibat pantulan cahaya lampu reklame yang berjejer di atas gedung kawasan causeway bay Hongkong. Sesedih apakah perasaan kala melihat senja itu lewat jendela apartemen Harbour Horizon view , Kowloon? Sepanjang angin akan berembus, selalu ada cerita tentang wanita kesepian, senja yang menunggunya dalam waktu yang serba sebentar, lalu keheningan pun terjadi meski sesungguhnya seruling kapal ketika melintasi harbour itu bisa terdengar hingga ke batas langit, atau ke dasar laut.
”Aku melihat senja, lalu memikirkan Uda.” Ucap Yuni pada Burhan. Mereka keluar dari apartement, di sore yang cerah, di tepi dermaga. Keduanya duduk di korsi taman pinggir Harbour , menikmati embusan angin dan melihat kapal berlalu-lalang masuk dan keluar pelabuhan. Akankah Burhan masih paham tentang Yuni menunggu senja yang dimaksud. Mungkin saja Burhan tak pernah memperhatikan bagaimana bentuk senja semenjak ia memutuskan menikahi istrinya.
”Uda tahu kenapa aku memikirkan Uda setiap kali melihat senja?” tanya Yuni.
Burhan  tak menjawab, toh sebentar lagi pasti Yuni menjawab pertanyaannya sendiri.
”Karena senja seperti diri Uda, keras dengan mata elang tapi menyenangkan. Sangat menentramkan, walau bisa kapan saja bagaikan elang terbang menembus cakrawala dan muncul tiba tiba dari balik awan menyerang dengan akurasi tinggi. Dingin tanpa emosi. ”  Kata Yuni seakan mencoba mendiskprisikan seorang Burhan di hatinya.
”Yuni tetap suka berada di sini meski Uda diam saja.” Kata Yuni
Begitukah?
Burhan memang masih diam.
”Kalau tidak ada Uda, pasti senja membuatku merasa ditimbun lara. Dengan bersama Uda, entah mengapa selalu ada harapan. Angin senja selalu setia menyampaikan pesan rinduku”
Sepanjang angin berembus, Yuni terus berbicara. Tapi hari masih belum menuju malam pekat. Belum waktunya pulang, beberapa burung kecil duduk di besi dermaga kemudian terbang lagi. Malam belum datang, dan kebersamaan ini janganlah cepat berlalu.
”Benarkah ada imajinasi yang selalu datang ketika senja?” tanya Burhan. Mungkin ia gusar dengan cara Yuni selalu menikmati keheningan senja.
”Tentu saja.”
”imajinasi apa? Imajinasi cinta?
”Ah, bukan. Jangan terlalu klise, Sayang.”
”Lalu?”
”Hanya imajinasi saja.”
”Pasti ada visualnya. Bahkan anak TK saja punya visual imajinasinya. Sampaikanlah. Aku ingin dengar"
” Dari langit akan  ada burung besi di kendarai kesatria menjemput putri yang selalu menanti di jendela kamarnya"
”Ya. Terus ..."
”Ah sudahlah ..."
Kenangan lagi. Seperti diksi yang luar biasa picisan, namun kadang sepasang kekasih bisa mengorbankan apa saja untuk sesuatu yang picisan, bahkan pembicaraan selanjutnya seperti tak akan menyelamatkan mereka. Kecuali waktu yang terus susut, jam terpojok ke angka 7.  Senja turun,  ada kapal yang melintas di teluk itu.  
”Mungkin kita harus pindah tempat, kembali ke apartement” Ucap Burhan
”Tidak. Dari sini kita bisa melihat senja.”
”Tapi kini terasa dingin.”
”Tapi kalau kita pindah, nanti Yuni susah memikirkan Uda dalam bentuk yang seperti ini.”
Tentu saja.
***
Burhan pernah berkata " mencintai satu hal namun perpisahan adalah takdir, namun anehnya banyak orang siap jatuh cinta namun tidak siap ketika harus berpisah. Seakan bila sudah mencintai maka itu kavlingnya yang syah sebagai miliknya. Padahal tidak ada manusia berhak atas hidup ini kecuali Tuhan” Kini Yuni dapat meklumi kata kata bijak itu. Tidak ada yang tahu pasti kapan panah cinta itu melesat tanpa bisa menghindar dan akhirnya panah cinta itu tidak bisa lepas dari jantung hatinya. Hingga sampai pada keputusan melanjutkan hubungan sampai ke mahligai rumah tangga. Itu yang kini di rasakan oleh Yuni. Dia tidak tahu bagaimana dia bisa jatuh cinta dan berbahagia ketika Andi Ng melamarnya. Bagaimana sampai dia tidak menyadari resiko atas pilihannya menjadi istri seorang duda yang gagal membangun rumah tangga? Memang cinta bisa mengaburkan logika , dan hati menuntun orang kepada takdirnya. Maka yang terjadi, terjadilah.

Begitu banyak orang berumah tangga tapi mereka tidak harus menyelesaikan masalahnya dengan perceraian. Walau ada berakhir dengan cerai namun itu tidak banyak. Dan Yuni termasuk yang segelintir orang yang menyelesaikan masalah dengan perceraian. "Coba perhatikan baik baik, " kata burhan dalam email balasannya kepada Yuni " apakah kamu kira suami istri yang selalu bergandengan tangan itu karena hubungan mereka hebat ? Tidak! Mengapa ? Mereka hanya cerdas menghadapi kebersamaan itu. Kamu kira Bar penuh sesak setiap hari oleh orang orang bahagia? Tidak. Mereka adalah para pria dan wanita yang punya banyak masalah dan Bar adalah tempat mereka lari dari masalah barang sejenak, untuk kemudian kembali menghadapi masalah. Ya, semacam recharge. Kamu kira gereja dan masjid ramai di kunjungi orang karena mereka orang Tabah ? Tidak juga. Mereka datang ketempat ibadah sebagai tempat mengalihkan masalah, karena mungkin pendapatan lebih kecil dari pengeluaran, istri yang bawel, suami yang jarang pulang, karir yang mentok, bisnis yang lesu,  jomblo, dan lain sebagainya. Barang sebentar di tempat ibadah itu bisa melupakan semuanya, untuk kembali ke dunia nyata dengan harapan baru. Ya semacam recharge juga. Yang pasti orang bisa bertahan karena dalam kehidupanya banyak caramenemukan cara cerdas untuk bebas dari masalah walau itu hanya sejenak. Namun sejenak itu sudah cukup me recharge power nya.

Di kehidupan ini Yun, tidak ada hubungan yang sempurna. Yang ada adalah orang orang cerdas menghadapi masalah untuk mereka berdamai. Manusia selalu punya cara berdamai dengan kenyataan selagi dia sadar bahwa dia tidak akan pernah menemukan dan merasakan sesuatu seperti yang dia mau. Mungkin kamu bisa dapatkan suami kaya tapi kurang waktu kebersamaan. Mungkin ada yang miskin yang selalu punya waktu melimpah untuk keluarga namun tidak cukup uang untuk memenuhi kewajibannya sebagai suami. Atau bisa juga tidak punya waktu dan juga uang namun dia sebagai suami yang penyabar dan mau mencuci celana dalam istrinya ketika sakit. Akan ada selalu sisi baik dan buruk di setiap orang. Akan ada benturan di setiap rumah tangga. Mengapa? Karena begitulah cara Tuhan menciptakan kehidupan ini. Agar manusia sadar bahwa mereka bukan siapa siapa kecuali makhluk hidup yang di design oleh Tuhan tidak sempurna. Yang sempurna hanya Tuhan. Karena itu manusia harus mendekat kepada Tuhan agar ketidak sempurnaannya membuat dia rendah hati dan pandai bersyukur di situasi apapun. Pahamkan sayang "

Yuni acap tersenyum bila ingat nasehat Burhan. Selalu rasional dan membumi tanpa kesan menggurui , apalagi berpikir utopia. Lantas bagaimana seharusnya kehidupan cinta itu? Inilah kata Burhan lewat email " Saya katakan bahwa kalian berdua tidak pernah saling mencintai. Kalian berdua hanya mencintai diri sendiri. Sehingga sulit sekali bersatu ketika harapan dan impian tidak tercapai. Ketahuilah oleh mu bahwa Cinta itu adalah menyadari bahwa realitas lebih baik daripada mimpi dan berjuang untuk saling mengerti melewati hari hari dengan saling memperbaiki . Memang pahit. Karena kamu harus menari seperti orang lain tidak menontonnya. Menyanyi seperti orang lain tidak pernah mendengarnya. Tersakiti seperti kamu tidak pernah terluka karenanya. Hidup seperti layaknya kamu tidak pernah tahu apa itu sorga. Dan itu hanya mungkin berbuat dan berkorban satu sama lain tanpa pernah bertanya mengapa. Kalian saling mengetahui sebuah alasan mengapa kalian harus bersama..”

Itulah cinta yang Burhan maknai.? Sampai kini Yuni tidak tahu cinta yang dimaknai Burhan. “Menurutku cinta itu tidak perlu didefinisikan. Sekuat apapun kamu ingin meraih impian cinta maka kamu akan menghadapi ujian dengan derita sampai kamu tidak lagi berpikir tentang mimpi tapi sebuah kenyataan yang harus kamu lalui dengan rendah hati, tanpa kebanggaan, tanpa merasa saling ingin memiliki, ingin menguasai. Mengapa ? Karena pemilik cinta itu adalah Tuhan. Bila hubungan karena Tuhan maka cinta tidak lagi dimaknai dengan mimpi indah tapi kenyataan yang harus dilewati dengan semangat memberi dan ikhlas.Tak penting siapa memanfaatkan siapa..Dia dapat bisa mengerti.

Yuni teringat kata katanya kepada Burhan "Aku merasa nyaman ketika aku melangkah Uda memegang tanganku untuk memastikan aku tidak terjatuh dan aku mengkawatirkan kebiasaan Uda yang selalu lupa makan siang karena kesibukan".Burhan tersenyum. "itu sebabnya sampai kini kita selalu bersama sebagai sahabat,ya kan”..Kata Burhan. Tak terasa 15 tahun kebersamaan karena satu sama lain tidak merasa saling memiliki tapi saling menjaga dan memaafkan kekurangan untuk saling memaklumi selalu, selanjutnya ikhlas karena Tuhan

Menurut Yuni nasehat Burhan tentang cinta ini tidak seratus persen dia terima. Kecuali dia terlahir tanpa Gen benci dan dendam. Imbal balik seharusnya diakui oleh masyarakat Modern. Orang berbuat baik akan mendapatkan balasan baik. Orang jahat harus membayar kejahatan nya. Masalahnya , menurut Burhan, siapa yang menentukan ukuran baik dan jahat itu ? Kalau manusia yang menentukan maka siap siaplah kecewa bila kebaikan berbalas kejahatan. Kejahatan mendulang kemenangan. Jadi bagaimana seharusnya ? Jangan menghakimi orang dari perbuatannya. Kalau tidak baik dan merugikan kita ya bersabar. Kalau bagus , jangan di puji. Syukuri saja kalau itu berdampak bagus untuk kita. Karena selalu setiap perbuatan ada alasan dan dibalik alasan itu selalu ada niat. Yang tahu niat seseorang itu ya hanya Tuhan. Tugas kita hanyalah berprasangka baik. Itu aja.  Namun Yuni tetap sulit menerima cara berpikir Burhan.

***
Proses perceraian sedang berlangsung. Selama itu Yuni kembali ke Jakarta. Tidak ingin mengabarkan kepada Burhan tentang keputusannya bercerai telah di eksekusi. Yang dia tahu dari e-mail , Burhan menasihatinya seperti nasehat yang sering dia dengar. Ini masalah hidupnya. Burhan bisa saja nyaman dangan sikap hidupnya tapi tidak bagi Yuni. Hidup hanya sekali, terlalu bodoh bila harus menderita karena cinta kepada seorang pria yang untuk menaruh hormat kepada istri  saja tidak bisa. 

Di Jakarta keseharian Yuni di habiskan bersama dengan teman teman lamanya. Dia berusaha mengalihkan masalahnya , larut dengan kebiasaan teman temannya, termasuk berjudi kelas teri. Hanya sekedar have fun. Kadang mereka menyewa apartement atau kamar hotel untuk main mahyong. Waktu terbuang begitu saja tanpa terasa. Kadang tertawa dengan cetusan kata yang tak senonoh. Kadang cemberut ketika setiap putaran kalah. Kebiasaan ini menjadi mengasyikan dan membuat dia benar benar melupakan perceraiannya, dan tentu melupakan Burhan. Yuli , putrinya sudah jarang dia telp .Karena merasa yakin Yuli akan baik baik saja di London, apalagi sudah ada pangeran gagah yang setia menjaganya. Biaya Yuli sepenuhnya di tanggung oleh Burhan.

***

“ Papa “ terdengar suara Yuli di seberang. Burhan menerimanya ketika sedang dalam perjalanan pulang kerumah. Ketika itu jam menunjukan pukul 11.30 malam.
“ Ada apa sayang?
“ Tolong mama”
“ Kenapa dengan mama kamu ?
“ Mama di tahan polisi,barusan aja mama telp”
“ Di tahan? Kenapa ?
“ Di grebek karena pesta dan judi di apartement.”
“ Baik, sekarang papa telp mama kamu” Kata Burhan segera mematikan telp.
Cukup lama telp Burhan tidak diterima oleh Yuni, namun akhirnya diangkat.
“ Ya Uda”
“ Dimana kamu sekarang? Kata Burhan tegas.
“ Di Polres.”
“ Aku akan urus kamu sekarang.”

Burhan segera matikan telp. Dia segera menghubungi lawyer nya menjelaskan masalah Yuni yang sedang di kantor Polisi “ Bud, tolong urus Yuni. Pastikan besok pagi dia ketemu saya di Pullman Hotel, Central Park.”
“ Baik, Pak. Segera saya urus malam ini”
Burhan segera menghubungi temannya di Kepolisian agar membantu Yuni.Tak berapa lama temannya menjelaskan bahwa Yuni hanya di tanyain saja. Tidak akan di penjara. Target polisi sebetulnya adalah operasi narkoba. Setelah test urine tidak ada bukti, Yuni sudah bisa pulang keesokan paginya. Beberapa temannya terpaksa mendekam dalam penjara untuk proses ke pengadilan

Jam 10 pagi Yuni sudah ada di Hotel Pullman. Dia nampak pucat ketika melihat Burhan menantinya di loby. 
“ Uda..” Kata Yuni dengan air mata berlinang. “ Maafkan Yuni, uda. Maafkan..” Kata Yuni memegang lengan Burhan berharap Burhan memaklumi keadaanya.
“ Ibu macam apa kamu? Inikah yang akan kamu contohkan kepada putri kamu? Rubah sikap hidup kamu.!” Kata Burhan menatap dingin kearah Yuni “ Pulang kamu sekarang. Mandi yang bersih. “ Burhan menahan geram. Yuni diam dengan air mata berlinang.

“ Bud, antar dia pulang. Pastikan dia sampai di rumah.“ kata Burhan  kepada lawyer nya sambil  melangkah ke arah restoran untuk breakfast dengan relasinya. Meninggalkan Yuni seorang diri diam terpaku. Namun entah menganpa Yuni berlari kearah Burhan sambil memukul  Burhan  " Uda , jahat dengan Yuni. Yuni kehilangan segala galanya, suami, perusahaan, anak juga Uda ambil. Manusia macam apa Uda itu? jahat sekali" Kata Yuni histeris. Pengunjung hotel menatap kearah Yuni. Burhan menghadapi dengan tenang tanpa ada reaksi apapun atas sikap Yuni. Namun mata Burhan menatap keras kearah Yuni sehingga mata Yuni terkulai.  
" Tenangkan dirimu Yun. Semua akan baik baik saja. " Kata Burhan seraya memeluk Yuni.
" Yuni hanya butuh Uda maafkan Yuni, Itu aja"
" Aku engga pernah marah kepada kamu Yun. Aku hanya engga suka dengan kelakuanmu."
" Aku sudah bercerai  dengan Andi Ng, Uda." Yuni makin terisak dalam pelukan Burhan
Burhan menarik napas panjang sambil menoleh ke kiri seakan menahan keterkejutannya. Dia menyadari keadaan Yuni sedang rapuh " Yun, kalau kamu punya masalah, kita bisa bicarakan. Akan selau ada solusi, sayang. Engga usah dengan cara sampai kamu kena grebek Polisi. Nah pulanglah.  Nanti aku temui kamu di rumah. Kita bahas masalah kamu."
" Benar ya Uda. Yuni tunggu di rumah."
" Ya." Kata Burhan dengan tersenyum. Dan itu cukup membuat Yuni lega.

Yuni belalu dari Burhan. Dia melangkah berat sambil sebentar bentar menoleh  ke belakang melihat Burhan yang masih berdiri melihatnya. Hati Burhan serasa terenyuh. Wanita besi yang akhirnya lunak dan layu karena waktu. Semoga Yuni akan baik baik saja...

***
Sore itu Burhan datang ke rumah Yuni. Pembantu membuka pintu pagar " Ibu sedang tidur di kamar sejak siang tadi"
" Udah makan dia?
" Belum Pak. Sejak datang Ibu langsung masuk kamar. Engga keluar lagi" 
" Ya, sudah" 
" Bapak mau makan?
" Engga. " Kata Burhan langsung masuk ke dalam ruang tamu. Dia duduk di sofa sambil nonton TV. Hanya lima menit setelah itu, Yuni sudah keluar dari kamar. 
" Uda, sudah lama? " katanya sambil tersenyum. Duduk di sebelah Burhan.
" Baru saja datang." Kata Burhan seraya membelai rambut Yuni.
" Kemarin malam Yuni takut sekali Uda. Engga bisa membayangkan Yuni akan di penjara. Sebetulnya Yuni mau Telp Uda, tapi takut Uda akan marah. Dan lagi memang engga ada keberanian. " kata Yuni sambil menunduk, tak berani menatap Burhan.
" Dan kamu lebih berani Telp Yuli, putri kamu?
" Yuni takut Uda ..."
" Kamu hanya mementingkan diri kamu sendiri. Seharusnya kalau kamu benar sayang dengan anak kamu, tidak seharusnya dia tahu kelakuan buruk kamu. Aku berusaha menjelaskan setiap alasan sikap kamu ke Yuli agar kamu tetap idolanya. Tapi dengan peristiwa semalam, apalagi yang akan aku sampaikan tentang kamu seorang ibu yang harus jadi panutannya."
" Maaf Uda."
" Aku sahabat kamu, Yun. Apakah ada masalah kamu yang tidak aku selesaikan. Aku selalu ada untuk kamu di saat tersulit kamu dan berusaha memaklumi kamu. Kapan aku marah sehingga melukai perasaan kamu? Apakah aku pernah menyakiti kamu?" 
" Tidak pernah sekalipun Uda menyakiti Yuni. Baik phisik maupun perasaan . Tidak pernah. "
" Jadi kenapa kamu tidak hubungi aku ketika berurusan dengan polisi? Mengapa hubungi Yuli?
" Engga tahu Uda. Maafkan Yuni..."

Burhan terdiam. Terdengar isakan tangis Yuni. Burhan pergi ke toilet. Setelah kembali, Burhan kembali duduk di samping Yuni.
" Yun, tolong beritahu aku, apa yang harus aku lakukan agar masalah kamu selesai. "
" Yuni engga tahu , Uda. "
Burhan terdiam. Di rangkul nya Yuni dari samping. Yuni merebahkan kepalanya di pundak Burhan. " kenapa ya Yuni jadi begini ? 
" Kamu hanya lelah dengan semua masalah kamu, yang sebetulnya bukan masalah rumit tapi kamu yang bikin rumit. "
" Maksud Uda" Kata Yuni menatap Burhan. " jelaskan kepada Yuni, Uda"

Burhan terenyum menatap Yuni, dan kemudian menyentuh dagu Yuni. " Baik aku jelaskan kepada kamu. Ada teman di Hongkong, dia baru saja diputuskan oleh pacarnya. Tak nampak dia stress. Apa alasannya ? Mungkin dia berpikir saya bukan orang yang tepat untuk teman hidupnya. Itu hak dia dan saya harus hormati. Demikian katanya dengan tenang. Ada teman yang terpaksa menelan pil pahit karena kemitraannya dengan investor gagal. Dia tak nampak stress. Alasannya, mungkin investor itu tidak melihat hal yang positif atas rencana bisnisnya. 

Ada juga mendengar kabar anaknya gagal di terima di universitas. Dia tenang saja. Menurutnya, mungkin putranya tidak harus jadi sarjana. Ada juga teman yang bercerai setelah 15 tahun berumah tangga. Dia juga tenang saja. Alasannya, tidak ada yang inginkan perpisahan tapi kalau itu terjadi selalu karena alasan yang harus di pahami. Ada juga di PHK di saat dia sangat butuh biaya hidup. Namun dia tidak nampak kawatir seakan kiamat datang. Dia hanya berpikir bahwa perusahaan perlu PHK dan itu hak perusahaan.

Cerita diatas sering aku temui, Yun, di banyak pergaulan. Aku menilai mereka orang-orang hebat. Tak terdengar mereka mengeluh menyalahkan orang lain dan merasa dia paling benar. Tak terdengar mereka membenci karena itu. Mereka sudah sampai pada tahap bukan hanya menjalani hidup tapi mengenal hidup dengan rendah hati. Mengapa rendah hati? Karena mereka tidak mengutuki masalah namun menarik hikmah dari setiap masalah yang datang. Hidup mereka adalah mereka sendiri yang jalani dan itu tidak ada kaitannya dengan orang lain. Itu antara mereka dengan Tuhan.

Hidup tidak seperti menarik garis lurus dan memisahkan jalur. Hidup seperti melukis diatas kanvas. Tidak ada tarikan kuas yang salah. Selalu ketika kamu berpikir menarik jari ke kiri menggerakkan kuas, itulah yang terjadi dan itulah yang akan menjadi warna lukisan. Soal sketsa sehebat apapun kamu buat diawal lukisan, ketika mulai menggerakan kuas, yang terjadi ya terjadilah. Hanya ada dua pilihan hentikan melukis atau terus melanjutkan lukisan dengan improvisasi agar yang sudah terlanjur di tores oleh kuas tetap dapat indah dengan tarikan kuas berikutnya.

Kehidupan juga begitu. Kalau kesalahan terjadi sehingga menimbulkan kegagalan, perceraian , perpisahan, kerugian , jangan berhenti. Terus lanjutkan hidup. Langkah berikutnya akan ada moment untuk lukisan hidup kamu menjadi indah, walau tak seperti sketsa awal. Karenanya jangan dibuat ruwet hidup ini dan kerjakan saja dengan cara berpikir sederhana. Bahkan beragama pun jangan berlebihan. Sesuatu yang berlebihan akan melemahkanmu. Tuhan itu maha bijaksana dan maha pengatur. Yang ruwet itu karena kamu percaya kepada Tuhan namun sikap hidup kamu meragukan kasih sayang Tuhan dan lupa bahwa Tuhan itu maha bijaksana dan pengatur. Pahamkan sayang "

" Paham Uda"

" Paham apa ? 

" Ya paham. Kalau Yuni harus menerima kenyataan tidak mungkin jadi istri Uda. Engga usah Uda lagi di jadikan target dan impian. Ya kan? Kata Yuni seakan paham arah pembicaraan Burhan kepadanya.

" Yun, aku mencintai mu tapi soal menikah itu tidak mudah.  Kalau aku menurut kan ego sebagai pria , tidak sulit dan tidak dilarang untuk punya istri lebih dari satu. Tapi nilai persahabatan kita yang telah terbangun dan aku sebagai pria beristri , menikahi kamu bukanlah pilihan yang bijak. Yakinlah persahabatan kita jauh lebih baik untuk kamu."

Yuni terdiam. Nampaknya dia berusaha mengerti tentang persahabatan sehingga begitu dibela oleh Burhan. Ketika dia tanya lebih jauh , Burhan menjawab "  Sahabat adalah kebutuhan jiwa, yang harus di penuhi. Dialah ladang hati, yang kamu taburi dengan kasih dan kamu tuai dengan penuh rasa terima kasih. Dan dia pulalah naungan dan penyejukmu. Kerana kamu menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa inginkan kedamaian. Bila dia berbicara, mengungkapkan fikirannya, kamu tiada takut membisikkan kata “Tidak” di kalbumu sendiri, pun tiada kamu menyembunyikan kata “Ya”. Dan bilamana dia diam, hatimu mendengar hatinya; kerana tanpa ungkapan kata, dalam  persahabatan, segala fikiran, hasrat, dan keinginan dilahirkan bersama dan di gabungkan , dengan kegembiraan tiada terkirakan. Di kala berpisah dengan sahabat, kamu tidak berduka ; Kerana yang paling penting bagimu adalah dia, mungkin keberadaan kamu semakin utuh ketika tidak sedang bersamanya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.

Tidak ada maksud lain dari sebuah persahabatan kecuali saling memperkaya roh kejiwaan. Kerana cinta yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya, bukanlah cinta , tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada di harapkan. Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu. Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenali pula musim pasangmu. Sahabat itu Yun, bukan hanya sekedar teman untuk membunuh waktu. Bukan teman seperti itu yang harus kamu dapatkan. Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu! Karena dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu. Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria menyatukan  kegembiraan. Kerana dalam titisan kecil embun pagi, hati manusia menemui fajar dan ghairah segar kehidupan. Pahamkan sayang …”

Yuni bisa memahami kata kata Burhan itu. Namun dengan kesadaran dia katakan “  Yuni disini dan Uda disana. Kita akan selalu berjarak dalam diam. Walau gelora hati ku menembus laut dan benua , namun semua terbang terbawa sekawanan burung yang pergi entah kemana. Kini Yuni tak ingin lagi bertanya lebih jauh tentang Uda. Biarkan Yuni cukup membayangkan kegigihan Uda menutupi kelemahanku. Melindungiku dari kebodohanku. Menjagaku dalam kealfaan. Menggiring ku kearah cahaya dimana aku harus melangkah ditengah kegegelapan. Setelah itu Uda pergi. Mengapa ? Maaf, ini bukan hendak bertanya kepada Uda. Ini hanya sekedar menutupi luka hatiku yang gagal dan salah menilai siapa Uda. Sebegitu indahkah makna persahabatan yang terpatri dalam diri Uda.Seperti apakah kira kira makna itu. Katakanlah kepadaku. Katakan.... Uda diam ,menjauh dan berjarak, Setelah itu semua tinggal misteri bagiku, dalam hening.

Uda, setiap malam sepi ,dari balik jendela kamar kulihat bulan bulat putih. Tanpa bingkai mega. Di kitari oleh taburan bintang yang berkelip bagaikan kunang kunang. Semakin kupandang semakin jauh kenangan terbawa. Masihkah Uda seperti dulu sebelum aku menikahi pria yang akhir nya mengecewakanku. ? mungkin tidak. Atau setidaknya Uda mengingat dalam kesadaran seperti kesadaran burung yang harus terbang kebenua lain berlindung dibalik musim salju. Tak ada yang istimewa, Bila harus pergi maka pergilah. Setelah itu yang ada hanyalah kepasrahan untuk sebuah pilihan yang tak bisa memilih. Tegarkah Uda ? Ah terlalu bodoh aku bertanya seperti itu. Tapi bulan itu dimalam malam sepi membawaku kepada Uda. Mengenang tentang kesadaran bahwa “perjuangan menaklukan diri tak akan pernah usai sampai ajal menjemput” Ngeri aku mengingat itu. Uda petarung sendirian melewati jembatan yang rapuh oleh kerakusan bisnis global namun semangat Uda membuat dinding tebal terkoyak dan bergetar. Kadang kalah , kadang menang, kadang melayang tinggi, kadang tersungkur. Tapi aku yakin kamu akan baik baik saja.

Hari ini aku harus berkata satu kepada diriku bahwa Uda bukanlah milik siapa siapa, Uda adalah milik sang pencipta. Ketika Uda mewakafkan diri Uda kepadaNYA maka Dia yang akan menjaga Uda. Lebih dari apapun didunia ini. Aku tak ingin lagi berusaha menjangkau Uda. Setidaknya doaku akan lebih khusu untuk Uda yang sendiri ditengah orang ramai. Betapa tidak ? Inilah yang tak pernah bisa kulupakan tentang Uda. Kali pertama pertemuan kita. Tidak ada yang istimewa. Aku dengan aku dan Uda dengan diri Uda. Namun dalam perjalanan waktu , dalam kebersamaan kita, Uda tampil sebagai sahabat. Aku semakin merasa bodoh dihadapan Uda. Namun Uda tak pernah nampak superior dihadapanku. Rasa hormat untuk saling menjaga bagaikan hembusan angin dimusim semi. Raut wajah Uda begitu bersemangat memancarkan magnit untuk kumengerti bahwa Uda peduli dengan obsesiku, dengan impianku. Ya, kan.

Malam seperti seperti malam sebelumnya, tak beda dengan diriku yang melangkah terseok seok dijalan berliku dan berduri. Aku tak pernah henti berasa akan ada perubahan untuk nanti dan nanti. Namun aku semakin terjepit dalam asa yang tak sudah. Kini , aku lelah dan sangat lelah. Benar kata Uda bahwa mungkin segala hal aku bisa hadapi tapi soal waktu aku tak bisa berbuat apa apa. Ditengah kegalauanku itulah Uda datang menemuiku. Selalu begitu. Kita saling tersenyum melangkah kekorsi dipinggir dermaga tanpa saling bertatap. Kita asyik dengan lamunan kita. Rasanya kita ingin menumpakah semua rindu itu dalam imajinasi kita yang bersetatapan.

“ Besok aku harus kembali ke Holding di Hong kong. “ kata Burhan. Kemudian  membalikan tubuhnya menghadap kepada Yuni.

“ Secepat itukah ? Tanya Yuni

“ Ya. Besok jam 2 sore pesawatku.“

“ Uda tahu.. Berulang kali Yuni mencoba melupakan Uda. Tapi tak pernah aku bisa berkompromi dengan diriku sendiri. Uda terlalu berharga untuk dilupakan. Karena tak ada satupun alasan bagiku untuk melupakan Uda Sungguh. Kini here I am.! . “ Kata Yuni

“ Ya aku tahu itu.. “

“ Uda! Setiap bangun pagi yang pertama aku pikirkan adalah Uda. Aku tidak tahu mengapa selalu begitu. Wajah Uda selalu terbayang. Maafkan aku ,Uda. Aku terlalu naïf bila harus selalu berbohong atas perasaanku. “ Yuni berhenti bicara namun pancaran wajahnya menusuk jantung Burhan Mungkin Yuni berharap Burhan menimpalinya. Namun Burhan hanya diam.. Burhan mengalihkan pandangannya ketempat lain. Kemudian melangkah agak menjauh dari tempat Yuni duduk. 

“ Uda,  tahu ..! seru Yuni hingga membuat Burhan terkejut. “ Yuni tahu adalah bukan sifat Uda untuk pergi ketika kesulitan datang. Yuni dan Yuli banyak bergantung pada Uda. Sementara , Uda selalu senang membantu dan tidak pernah terganggu bila kadang kami mulai mengacuhkan Uda.. Ketika kami kawatir dengan hidup ini , Uda hadir dengan senyum hangat untuk meyakinkan bahwa semua akan baik baik saja. Uda terlalu baik ,…terlalu baik. “ Yuni nampak menahan tangis namun airmata nampak mengambang dipelupuk matanya.

“ Sekarang…inilah Yuni. “ kata Yuni. Sambil merentangkan tangannya. Burhan menyambutnya dengan memeluk Yuni.  “ Aku senang bila pada akirnya kita dapat saling mengerti, Yun.”

“ Terimakasih Uda…” Dengan air mata berlinang

“ Ya….Yun. Gimana kalau ikut aku ke Hong Kong. Mungkin bisa menenangkan pikiran kamu. Sayang apartement kamu di Hong Kong di anggurin aja. Kamu bisa lihat keindahan senja di Harbour View Horizon, Ya kan” kata Burhan seraya melepaskan pelukannya dengan senyum tulus.

Burhan melihat Yuni menangis dan berdiri dari tampat duduk, melangkah ke arah kamar. Burhan hanya terdiam tanpa harus mengikuti langkah Yuni ke dalam kamar, dan Burhan memilih pergi ke arah pintu untuk pulang.

***
Yun, satu hal yang dapat kuungkapkan kepadamu bahwa Allah memberiku begitu banyak maka ini adalah berkah dan sekaligus beban. Kecintaanku kepada sahabat dan siapa saja hanyalah untuk lebih pandai bersyukur. Semuanya kulakukan hanya karena cinta dan cinta. Bukan masalah siapa memanfaatkan siapa tapi lebih kepada kepedulian ketika kita mampu berbuat lebih kepada orang yang terdekat pada kita. Semoga perjalanan waktu dapat membuat kamu menyadari bahwa kecintaan persahabatan begitu agung ketika kita dapat bersikap dengan jelas tanpa pamrih. Tapi kata kata Burhan terbang terbawa angin sore. Yuni  di kamar dan Burhan berlalu, menjauh...Namun akan selalu ada untuk Yuni sebagai sahabat.

***
Selama ini aku agak tertutup bercerita tentang aku dan dia. Mungkin Yun, menjadi tanda tanya yang tak sudah bagimu. Mengapa aku begitu tegar besikap. Seakan bagaikan batu karang di tengah samudera yang tak pernah tergoyah walau di hantam ombak tiada henti. Baiklah aku ceritakan sedikit. Ketika menikah, aku hanyalah pria kampung yang miskin. Datang ke Jakarta tanpa skill, hanya berbekal keberanian atas dasar keimanan. Berawal dari sebuah rumah mungil di pinggiran barat Jakarta yang  kami sewa bulanan. Sebuah pagi berjalan sebagaimana lazimnya. Dia berkubang dalam banyak pekerjaan rumah. Aku , seperti biasa, sibuk bersiap diri pergi ke kantor. Bukan orang kantoran tapi orang yang melapor ke kantor bahwa dia hadir untuk menjajakan barang dagangan. Tak ada gaji kecuali komisi. 

Dasternya tak mampu menutup seluruh kulit putih bersihnya. Tapi, daster itu tetap bisa menyembunyikan tahi lalat di tempat tertutup. Hanya aku tentunya yang tahu persis letaknya. Rambut lebatnya dibiarkan memanjang sebatas bahu. Hidungnya yang tak mancung kerap mengundang godaan ku. " Tak apa-apa hidungmu tak mancung. Lebih baik berhidung seperti itu tapi dengan dua bukit mancung dan terurus di bawahnya,” kata ku meyakinkan bahwa dia adalah pilihanku dan itulah yang terbaik bagiku. 
”Lebih baik daripada apa…?” selanya yang kadang merajuk.
”Ya…, lebih baik daripada berhidung mancung dengan dua bukit pesek tak terurus di bawahnya.”

Aku tergelak. Dia hanya tersenyum. Senyum tertahan. Adegan tersipu seperti inilah yang sangat kusukai. Karena diapun punya cara menertawakan kekuranganku. Kulit hitam, muka kasar dan pendengkur. Karena itu, kami gemar saling menggoda terutama pada setiap pagi yang jadi milik kami. Kadang-kadang aku  berpikir bahwa kami memang ditakdirkan sebagai pasangan yang saling melengkapi. Tergelak dan tersipu. Keliaran seorang penyerang dan kelembutan sang penenang. Keberingasan seorang pemburu dan kepasrahan korban buruan.

Yun, dia adalah perempuan bersahaja. Selalu nrimo. Dalam banyak hal ia bahkan cenderung naif. Yang pasti, ia sungguh rajin mengerjakan setiap pekerjaan yang tersedia di rumah. Tak ada bagian rumah yang tak terjamah olehnya. Setiap hari. Sepanjang minggu. Sepanjang tahun. Anak anak terurus dengan baik. Semua sehat dan pintar pintar. Aku membayangkan. Seperti itulah ibuku dulu selagi muda bekerja di rumah masa kecilku di Kampung. Menyelesaikan semua pekerjaan rumah dengan tertata. Mengurus suami, ayahku, yang lumayan banyak urusan. Dan mendidik 7 orang anak yang sungguh merepotkan. Tanpa pernah mengeluh. Satu kali pun.

Yun, lima tahun pertama pernikahan kami. dia tampil sebagai tiang rumah tanggaku. Diapun tak banyak menuntut dari seorang pengusaha pemula. Rumah tangga kami tanpa servant. Menyangkut materi, permintaannya selalu sederhana. Pakaian yang tak perlu bermerek , rumah mungil di pinggir kota, sebisa mungkin menabung berapapun untuk biaya sekolah anak. Tak pernah dia menuntut dan bermimpi rumah mewah, dan segala standar kehidupan orang kaya. Aku ingat Yun, dari sisa uang belanja , dia tabung dan di belikan emas . Emas itu di jualnya.  Ia dengan bangga berkata kepadaku " pakailah uang ini untuk ibumu pergi ke tanah suci." Padahal ketika itu hidup kami belum mapan. Namun dia tak ragu mengorbankan tabungan sekolah anak untuk kepergian ibuku ke Tanah Suci.

" Mengapa ? Bukankah kamu sangat menginginkan pergi haji. Mengapa kamu lebih utamakan ibuku" Kataku. Kamu tahu Yun, apa katanya " cinta papa yang paling tulus adalah kepada orang tua. Aku mengutamakan ibu karena aku berharap Tuhan mengkokohkan cinta kita. Bukankah ridho Ibu, juga adalah ridho Tuhan. " rasanya aku ingin menangis mendengar kata katanya Yun. Begitu rendah hatinya dia mengungkapkan cintanya kepadaku. Bahwa sebesar apapun cintanya kepada ku tetap tidak akan bisa mengalahkan cinta ibuku kepadaku. Dia tidak cemburu karena itu. Tidak juga menggunakan senjata merayu berwajah penuh make up tapi dengan memuliakan ibuku. Dia percaya bahwa pada ibuku ada Tuhan dan doa ibu selalu di kabulkan Tuhan. Ya kan.

Hanya satu permintaannya yang kadang di sampaikannya dengan malu malu" kalau Tuhan kasih rezeki kita berlebih , ajaklah aku ke Baitullah. Itu keinginanku yang tak pernah kusebut ketika masih di bangku Madrasah Sanawiyah. Aku ingin di peluk suamiku ketika usai mencium ajar aswad. " Alhamdulilah, 15 tahun setelah itu, aku bisa mengabulkan permintaannya. Aku tidak pernah melhat wajahnya begitu bahagia kecuali ketika usai mencium azwar aswad, sambil memelukku " Puja Puji kepadaMu ya Allah, engkau kabulkan doaku untuk bisa datang ke RumahMu bersama suamiku. Papa, terimakasih sudah memenuhi impianku di masa remaja”

Dengan berjalannya waktu , ekonomi ku semakin membaik. Untuk banyak alasan, yang tentu saja kusetujui, dia memang tak pernah memamerkan berlebihan barang-barang berharga pemberianku. Kendaraan yang di pilihnya bukan yang bermerek hebat tapi yang kuat dan efisien untuk antar jemput anak sekolah. Ia menyimpan dengan rapi setiap pemberianku , serapi menyimpan cintanya untuk satu-satunya lelaki yang pernah menjamah tubuhnya itu.

Waktu berlalu, aktifitas ku sebagai pengusaha semakin sulit dia pahami. Aku menjelma menjadi elang yang bisa terbang melintasi pulau dan benua. Namun aku selalu pulang. Kebersamaan dengannya adalah recharge power ku untuk tegar menghadapi ketidak pastian hidup. Dia maklum akan hidupku seperti dia bisa berdamai menjadi istri pengusaha, yang bisa kapan saja bangkrut, yang bisa berteman dengan siapapun, yang bisa terjerumus dalam pergaulan. Karenanya doanya tiada henti siang malam ketika aku ada di luar rumah. Ketika aku tanya , apa doanya, dia berharap agar aku selamat di luar, bertemu dengan orang orang baik , menjaga persahabatan dengan tulus, sabar dari segala kesulitan, dan tidak membuat aku kikir untuk berbagi.

Oh ya Yun, untuk kamu ketahui bahwa setidaknya dua kali dalam usia perkawinan kami , aku jatuh bangkrut. Kami  tidak punya uang sama sekali tapi kami tidak pernah mengemis dan mungkin tidak banyak orang tahu kami sudah jatuh miskin. Karena dia memang pandai mengambil peran untuk menjadi penyanggaku ketika aku oleng. Dia bisa trampil dan gesit mendatangkan uang untuk sekedar dapur kami mengepul. Dengan sikapnya mendorong aku produktif dan doyan kerja keras, tidak ragu mengambil resiko atas keyakinanku. Ingat ketika paska krismon , dalam keadaan bangkrut aku hijrah ke China, di  Bandara ketika mengatarku, dia berkata " Jangan pikirkan Rumah. Jangan nampak kan Papa lemah di hadapan anak anak. Papa akan selalu jadi idola mereka. Apapun itu. Anak anak akan baik saja denganku. Jangan ragu karena Papa yang terbaik Tuhan beri kepadaku."  Kata katanya membuatku menjadi petarung tanpa lelah. Kalaulah boleh meminta seperti yang aku mau kepada Tuhan, aku lebih memilih di beri waktu 36 jam sehari daripada harta melimpah. Sehingga aku bisa bangkit lagi.

Dengan kebangkrutan itu , aku semakin menyadari bahwa Tuhan tidak hanya mengirim wanita untuk menjadi istriku tapi juga seorang sahabat. Bahkan Yun, aku menemukan kesejatiannya sebagai wanita ketika aku jatuh bangkrut. Sabarnya bisa membuat aku nyaman menghadapi kemiskinan dan tegar untuk bangkit kembali. Walau tanpa kata kata seperti layaknya sang motivator , sikap hidupnya telah menjadi buku besar untuk aku belajar bijak. Jadi kalau kamu mengenal seorang Burhan hari ini , maka itulah cermin dari kekuatan istrinya. Dialah mentor ku , tentu dengan caranya yang kadang membuat aku stress. Ia bisa dengan keras menyalahkan aku untuk aku sadar dan berubah namun diapun takut untuk memujiku karena kawatir aku lupa bersyukur. Dia melarang aku untuk menulis buku dan di terbitkan.  Selalu dia lakukan dengan niat baik. Aku tahu itu. Bukan karena dia melarang aku menyalurkan hobiku tapi dia tidak ingin aku di puji orang , yang bisa melemahkan aku karena sifat sombong. Aku pernah jatuh tapi bukan karena kesombongan dan itu artinya secara spritual aku tidak pernah bangkrut. Maka akan selalu ada cara untuk bangkit.

Aku menghabiskan sebagian besar pikiranku ke bisnis , rapat bisnis, di Cafe menjamu clients, business trip melintasi banyak negara, Hidupku seperti lalu lintas di antara business yang melelahkan dan di rumah yang hanya hitungan jam. Kadang aku sering mengeluh tentang bisnisku tapi aku tidak pernah mendengar dia mengeluh mengurus rumah dan anak anak. Bagi sebagian orang uang memang kadang-kadang jadi persoalan. Aku sendiri tak pernah mau pusing soal keuangan. Aku tak terlalu peduli apakah uang kami sedang melimpah atau kami sedang bangkrut. Dari dulu aku hidup mengambil resiko. Mungkin itu karena di rumah aku tak pernah mendapat keluhan-keluhan berarti soal uang. 

***
Kini , di usia diatas setengah abad, aku dan dia semakin saling mengkawatirkan. Saling merindukan dan menjaga. Dia tidak ingin aku terus di sibukan dengan bisnis. Dia tahu aku lelah dan tahu aku tidak begitu menyukai kehidupan ku sebagai pengusaha. Dia hanya tahu aku hanya bertahan hidup dengan apa yang aku bisa, sebagai orang yang tak pernah berhasil masuk PTN, dan gagal menjadi profesional yang bergengsi seperti cita cintaku waktu kecil. 
Walau hidup kami tetap  bersahaja, kami merasa hidup kami lebih dari cukup. Memiliki sebuah rumah mungil di pinggiran Jakarta adalah sebuah kemewahan. Terlebih-lebih, buat dia, ternyata rumah mungil itu adalah sebuah istana besar yang megah. Aku bisa  mengatur sendiri hidupku, tanpa terikat oleh jam kerja atau jadwal-jadwal rutin lain, pergi sholat subuh ke masjid sambil bergandengan tangan  dengannya adalah kemewahan lain yang kumiliki. Aku merasa hidupku sudah selesai dengan dua kemewahan yang sudah digenggamanku, apalagi kedua putra putri kami sudah menikah dan mandiri.
Yun, pernah aku bilang kepadamu bahwa tidak ada perkawinan yang sempurna. Tidak ada manusia yang sempurna. Aku tahu kamu melihatku sebagai pria sejati menurut ukuranmu. Pria sejati tidak akan kamu temukan di etalage, Yun. tidak ada. Tidak juga pada diriku. Aku adalah repliksi istriku yang dengan kedua tangannya bersusah payah menjadikan pria kampung yang pemalu  untuk tampil di panggung dunia menjadi elang. Temukanlah pria yang karenanya membuat kamu nyaman untuk melabuhkan cintamu, kemudian berjuanglah untuk menjadikan ia pria sejati. Pria sejati tidak tersedia di luar sana tapi kamulah yang harus menjadikannya pria sejati. Pria itu akan menjadi cobaan mu sepanjang usia, untuk kamu memakluminya. Mencintainya bukanlah dengan kata kata tapi bagaimana sikapmu untuk mempercayainya dan memahaminya sepanjang waktu. Itulah yang di lakukan istriku terhadapku. 

Mungkin aku pria yang beruntung karena aku bisa berkembang tidak dengan kemanjaan dan pujian wanita , tidak dengan rongrongan wanita yang gila harta, tidak dengan kecantikan bidadari. Aku mendapatkan seorang istri yang sebetulnya ia adalah sahabatku, mitra ku , kelengkapan jiwaku. Sepanjang hidupku banyak keputusan yang aku buat dan kalau ada keputusan terbaik adalah ketika aku melamarnya menjadi istriku. Mengapa? kami mengawali dengan ketidak sempurnaan dan kami lewati hidup dengan sadar bahwa kami tidak akan pernah sempurna. Hubungan kami adalah cobaan untuk menguji keimanan kami kepada Tuhan. Bukankah menikah adalah ibadah untuk menguji ke imanan kita. Belum di katakan beriman sebelum di uji, ya kan.

***
Seperti biasa aku masih berkutat dengan data di komputer ku. Memonitor perkembangan portofolio bisnis secara online . Kadang aku tersenyum , kadang merengut tapi aku nikmati saja pagi itu sambil melepas ketegangan lewat facebook. 
”Hayuu sarapan. Aku sudah masak kesukaan papa “ Tiba-tiba suaranya menyereruput punggung telingaku. Dua bilah tangan putih melingkari dipinggang ku.  Dia merapatkan badannya di punggungku. Wangi-pagi-hari tubuhnya yang khas membuat pagiku begitu sempurna, selalu. Kebersamaan dan kebahagian kecil seperti inilah yang tak ingin aku korbankan hanya karena ego pribadiku. Kini kusadari , dia telah menua , aku juga , memang sudah banyak yang kurang dari dia karena usia namun ia tak mungkin kuduakan. Tidak mungkin, Yun, dan kamu tetap sahabatku. Semoga kamu maklum. 

***
Berulang kali Yuni membaca Email itu. Dia tersenyum cara Burhan mengungkapkan siapa “dia “ yang di maksud. Setidaknya Yuni bisa menangkap makna di balik tulisan Burhan itu. Bahwa dia terperangkap dalam pelukan istri yang katanya pasrah, namun sebetulnya Burhan sendirilah yang menjadi kepasrahan korban buruan. Memang Pria hebat tidak bisa di kalahkan dengan kehebatan wanita.Tidak akan bisa. Itu yang Yuni ketahui dari sebuah buku yang dia baca. Hampir sebagian besar pria sukses terperangkap di rumah bukan karena istrinya hebat dan cantik tapi karena kesederhanaan istri. Karena dunia pria , dunia petarung, memang sudah rumit dari sononya dan dia merasa nyaman bersama wanita yang bersikap sederhana. Kecuali bagi pria yang pecundang, selalu inginkan sesuatu yang hebat dari istrinya di rumah, selalu inginkan istri sebagai konpensasi atas hidupnya yang kalah di luar sana.

Yuni dapat memaklumi mengapa Burhan tidak pernah terperangkap denganya walau ia sukses menjadikan perusahaan awalnya bernilai ratusan ribu dollar,  dalam 10 tahun menjadi puluhan juta dollar dengan omzet ratusan juta dollar Amerika. Kesuksesan demi kesuksesan yang dia raih tidak membuat Burhan terperangkap. Bertahun tahun dia merawat tubuhnya di salon dan spa. Ikut fitness , semua bertujuan agar dia tampak cantik dan seksi. Tapi itu tidak juga membuat Burhan tergila gila. Wajah oritental , kulit putih bersih, make up dan parfume mahal melekat tidak membuat Burhan bertekuk lutut. Yang bertekuk lutut justru pria selain Burhan yang memang dari sananya sudah pecundang , yang menilai wanita dari qualifikasi libido mereka.

“ Apakah Uda tidak pernah tertarik dengan kecantikan wanita di luar, selain Istri di rumah? Kata Yuni suatu waktu.

“ Kalau cantik yang kamu maksud, apa ada yang lebih hebat dari gadis cantik lulusan academy escort di Beijing. Mereka punya wawasan hebat mengenai sosial dan politik. Enak diajak bicara. Terkenal hebat di tempat tidur. Tinggi mereka diatas 165 cm. Usia belia. Dada mancung , pinggul yang serasi dengan panjang kakinya.  Betisnya yang indah dengan sepasang sepatu indah. Parfurme dan aksesoris mahal melekat sebagai wanita berkelas untuk….” Kata Burhan sambil tersenyum ringan

“ Untuk apa ? Yuni mengerutkan kening

“ Untuk menjadi aksesori pria berkelas, barang sesaat. Tak lebih”

“ Dan semua ada harga yang dibayar, kemudian di lupakan? Kata Yuni sinis.

“ Ya. “ Kata Burhan tenang.

“ Sejahat itukah pria  menilai wanita?

“ Aku tidak sedang menilai. Aku hanya menjawab pertanyaan kamu. Aku tidak menilai wanita karena kecantikannya dan kepintarannya. Bagiku wanita itu hebat karena dia menyadari kelemahan dan kekurangannya. Bukan berusaha menutupinya kekurangannya dengan berusaha tampil hebat. Tapi dengan kesederhanaannya.”

“ Tapi setidaknya Uda tertarik dengan kecantikan dan kemolekan tubuh wanita.”

“ Ya. Itu manusiawi. Tapi tidak akan membuat aku membeli untuk transaksi sex. Tidak pernah. “

“ Mengapa ?

“ Aku berusaha untuk tidak jadi pecundang yang menggunakan uang membeli kepalsuan. Tidak.” 

Yuni tahu benar akan sikap Burhan itu. Ini bukan soal munafik tapi setiap orang punya standar sendiri sendiri untuk membawa wanita ketempat tidur. Yuni harus maklum walau dia  bertemu dengan Burhan yang punya standar langka diantara banyak laki laki. Yuni bisa membuktikan itu selama lebih 10 tahun bersahabat dan bermitra dengan  Burhan. Pernah, bahkan sering dalam business trip , memaksa dia satu kamar hotel dengan Burhan, dan Burhan tidak pernah menyentuhnya, walau dia menanti sepanjang malam untuk di sentuh Burhan. Lambat laun kebersamaan dengan Burhan,  menyadarkan dia, arti kehormatan dan nilai persahabatan itu tidak harus di campur dengan sex. Walau kemungkinan itu bisa saja terjadi tapi hanya option. Dan option Burhan tetap tidak menyentuhnya.

Bila tadinya WA di block namun kini Burhan juga block telp nya. Sehingga Yuni benar benar tidak punya akses untuk bicara langsung dengan Burhan kecuali lewat email pribadi Burhan. Burhan benar benar sudah menjaga jarak dengannya. Yuni tahu bahwa itu bukan berarti Burhan membencinya dan tidak ingin terlibat dalam hidupnya lagi , tapi semata mata demi kebaikannya agar dia bisa focus melanjutkan hidupnya. Satu satunya yang meyakinkan Yuni bahwa Burhan tetap peduli dengannya adalah dengan keberadaan Yuli, putrinya. Yang sampai kini tetap di tanggung biaya pendidikan dan hidupnya oleh Burhan. Kalau dia menolak Burhan terlibat dengan biaya pendidikan Yuli, dia tidak tahu apakah masih ada ikatan emosi sebagai sahabat antara dia dengan Burhan.

Dengan email dari Burhan itu, Yuni harus menutup lembaran hidupnya menaklukan seorang Burhan. Dia harus melanjutkan hidupnya. Kini dia seorang janda. Punya tabungan lebih dari USD 10 juta , apartement di Jakarta, Singapore, Hong Kong, Perth dan ter-akhir di London. Dia anggota priority banking berkelas dunia yang memberikan layanan investasi dengan fixed income diatas biaya hidupnya sebulan. Secara materi dia aman dan secara psikis dia harus lebih baik karena melihat putrinya tumbuh sehat dan cerdas. Apakah ada yang lebih di syukuri dari seorang ibu , di banding menyaksikan anaknya sukses sebagai manusia berakhlak dan berilmu? Sebagai sahabat Burhan telah mentunaikan perannya. Sebagai mitra bisnis, Burhan telah mendelivery semua commitment nya  kepada Yuni. Apalagi ?

“ Terimakasih, uda. Terimakasih” Katanya menutup ipad nya. Dia berusaha tidur.

***
Ketika fajar datang , Yuni terbangun dari tidur lelapnya. Dia sholat sunah dua rakaat dan di lanjutkan dengan sholat Subuh. Dia berdoa tapi tepatnya tafakur. Puncak tafakurnya adalah rasa syukur atas hidup yang diberikan Tuhan kepadanya. Betapa setelah melewati cobaan derita nestapa, Tuhan memberinya kehidupan yang begitu Indah. Punya sahabat setia yang merubahnya menjadi lebih baik. Punya anak yang berlaku menentramkan hatinya, mencari rezeki mudah dan melimpah. Nikmat Tuhan apalagi yang dia dustakan? Karena di luar sana banyak wanita yang jatuh ke lubang lumpur untuk makan dan terpaksa menjadi piaraan pria pecundang..

Terdengar suara dari ipad nya. Dia berdiri dari duduk diatas sajadah. Melangkan kearah meja kerjanya. Ada email dari lembaga humanitarian international. Dia baca email itu. “ Selamat bergabung. Anda telah resmi menjadi anggota kami. Kami tunggu ke hadiran anda di New York.”  Yuni terkejut dan senang. Namun yang lebih membuat dia terharu adalah email itu di cc kan kepada 5 orang yang telah merekomendasikannya untuk lolos dari nominasi anggota dari lembaga terhormat itu. Hanpir tidak bisa di percaya dia bisa lolos dari nominasi itu. Apalagi sampai bisa mendapatkan 5 rekomendasi dari dunatur terbesar dari lembaga itu. Siapa yang ada di balik suksesnya sebagai anggota dari lembaga terhomat ini. 

Setelah dia teliti dari lima orang konlomerat legendaris yang memberi rekomendasi itu, ada satu nama yang dia kenal. Ia adalah CEO venture capital terbesar di China. Namanya tidak asing karena dia sahabat Burhan yang pernah satu team dalam proyek kemanusiaan di bawa china western development program. Tahulah Yuni bahwa Burhan di balik terpilihnya dia sebagai anggota dari lembaga terhormat dibidang kemanusiaan. Walau dia tidak pernah memberi tahu dan minta pendapat Burhan untuk bergabung dalam misi kemanusiaan namun tindakannya di ketahui Burhan, tanpa banyak tanya Burhan membantunya untuk menjadi pegiat kemanusiaan berkelas dunia.

***
Sore itu, hari kamis. Yuni duduk di restoran yang ada di Bandara, menanti seseorang. Dia tidak berharap seseorang itu akan menemuinya walau dari email dia sempat pamit akan terbang ke New York. Karena dia yakin seseorang itu sedang sibuk dengan persiapan pernikahan putrinya, yang tinggal hitungan hari pelaksanaannya. 

Dari kejauhan nampak seorang pria menghampirinya dengan senyum khas. Dia berusaha berdiri dari tempat duduknya untuk menyambut pria itu. “ Terimakasih Uda sudah datang” Kata Yuni menjabat tangan dan mencium punggung tangan pria itu.
“ Yun. Kini kamu sudah resmi menjadi pegiat kemanusiaan berkelas dunia dan tentu akan bergaul dengan orang hebat hebat. Selamat”
“ Terimakasih Uda. Untuk kesekian kalinya Uda bantu Yuni.  Yuni janji akan bekerja sebaik baiknya. Tidak akan mengecewakan Uda yang telah menjadi sponsor Yuni”
“ Kamu wanita hebat Yun. Kamu pantas mendapatkannya.”
“ Terimakasih Uda…”
“ Aku harus sholat dan langsung pulang. Kamu udah sholat” Kata Burhan berdiri dari tempat duduknya dan melangkah ke kasir membayar bill minuman Yuni. Pertemuan itu tidak lebih 5 menit.
‘ Belum. Ashar baru masuk kan Uda. Yuni ikut Uda ya ke musholla”
“ Ayo. “ Kata Burhan melangkah dan Yuni mengikuti dari belakang. " Mungkin anggota di Lembaga Kemanusiaan itu perempuan yang pakai jilbab hanya kamu, Yun" Sambung Burhan dengan tersenyum.
" Oh Ya Uda. "
" Jaga sholat ya.Itu cara terbaik kamu bersyukur kepada Tuhan."
" Ya Uda."

Sore itu pesawat membawa Yuni membelah langit dan terbang menuju dunia baru, untuk dia menemukan kesejatian akan dirinya di hadapan Tuhan.  Bahwa hidup bukan apa yang di pikirkan tapi apa yang di lakukan. Bukan apa yang di pelajari tapi apa yang di ajarkan.Bukan apa yang di  dapat tapi apa yang di berikan. Dari Burhan dia menemukan jalan menuju mata air ketika dia haus dan lapar,  dan ketika dia tersesat, Burhan menuntunnya ke cahaya.  Terimakasih Uda….







Tidak ada komentar:

Posting Komentar