Senin, 01 Agustus 2016

Cintaku Negeriku, Mari berubah.


Jalan terjal 


Ada teman yang empat tahun lalu saya temui dia hanyalah seorang Sales di Guangzhou. Tapi sekarang dia sudah jadi boss pabrik besar di China. Bagaimana secepat itu teman ini dapat sukses.? Dia cerita bahwa awalnya dia mengetahui ada informasi dari Internet tentang new produk. Produk ini dibuat dari bahan alami atau istilahnya friendly environments. Kegunaanya adalah untuk membersihkan toilet atau mencuci piring kotor atau membersihkan kramik kamar mandi. Hebatnya lagi, limbah dari produk ini ,kalau mengalir kesaluran pembuangan maka dapat membersihkan juga saluran tersebut dan sekaligus menghilangkan aroma busuk.

Dia melihat ini suatu peluang yang luar biasa kalau dapat dipasarkan di China. Kemudian , dia mengirim email ke perusahaan yang memproduksi tersebut yang berada di AS. Hampir sebulan , tidak ada response. Padahal dalam sebulan itu dia berkirim email lebih dari 100 kali. Apa pasal ? Karena dalam email itu dia menawarkan diri sebagai sole agent di china. Bayangkan? Teman ini hanyalah salesman ,yang tidak punya kantor sendiri , apalagi karyawan.Tapi dia jujur menyampaikan background dia kepada produsen barang itu.

Akhirnya ada juga response. Perusahaan itu bersedia menujuk dia sebagai agent asalkan dia dapat memenuhi persyaratan yang ditentukan. Syarat tersebut , tentu syarat yang normative. Artinya dia harus punya gudang, harus punya kantor, harus punya cabang, harus punya bukti kemampuan menjual sesuai target selama setahun. Secara logika, tidak mungkin teman ini mampu memenuhi syarat tersebut. Tapi yang logika bagi orang awam, tidak bagi dia. Dia beerjuang untuk dapat memenuhi syarat yang ditetapkan oleh produsen. Sebelum dia melangkah lebih jauh dia minta ada penjanjian sederhana (seperti MOU ) yang memberikan hak dia untuk memproses sesuai sarat yang ditentukan dan juga kewajiban produsen memenuhi janjinya apabila dia dapat memenuhi persyaratan.

Setelah MOU ditanda tangani. Dia mulai bergrilya mendatangi target pasar. Dia memilih meyakinkan pasar sebelum dia melengkapi persyaratan lainnya. Beberapa rumah sakit besar, Hotel dan apartement resort , dia datangi. Setiap hari sedikitnya ada sepuluh calon target pasar yang dikunjunginya. Menurutnya, dia mendatangi target market itu terpaksa menggunakan angkutan umum dan kadang berjalan kaki. Karena kendaraan pribadinya telah dijual untuk keperluan biaya sehari hari. Dsamping itu dia juga menggunakan business directory untuk mendapatkan alamat target pasarnya, dan mengirim brosur via email lebih dari enam ribu sasaran. Hasilnya dalam tiga bulan , dia bisa mendapatkan response lebih dari 500 target marketnya. Total permintaan tak disangka , lebih dari valume penjualan produsen AS selama setahun di lima negara.

Hasil penjajakan pasar ini , dia laporkan kepada produsen di AS tapi tidak ditanggapi serius karena dia belum melampirkan kesiapan yang lainnya seperti kantor, izin perusahaan dan lain lain. Dia sadar jalan sebagai agent terlalu sempit baginya. Ada ruang yang lebih besar yaitu sebagai industriawan. Tetap inipun jalan terjal yang tak mudah. Maka dengan keyakinan pasar yang begitu besar, jalan sebagai industriawan dipilihnya. Walau dihadapan produsen AS dia tidak dianggap sebelah mata, terbukti tidak ada response apapun atas emailnya namun dia tidak mengecilkan diri dengan ragu untuk mengajukan proposal sebagai industriawan. Selanjutnya,  dia mengajukan proposal kerjasama untuk membuat produk tersebut di china. Lebih dari empat bulan, proposal itu tidak pernah digubris oleh produsen. Walau setiap hari dia selalu mengirim email tentang hal yang sama. Kadang sehari dia kirim 5 email. Menurutnya, tidak sedikitpun dia ragu akan diterima proposalnya. Dia yakin seyakinnya. Selagi belum ada jawaban maka peluang masih ada. Kalaupun ada jawaban penolakan maka dia masih punya cara untuk meyakinkan.

Akhirnya , benarlah keyakinannya bersua dengan kenyataan. Pihak produsen , menyanggupi untuk bekerja sama tapi tidak ingin mengeluarkan uang sepeserpun untuk investasi. Dia juga diwajibkan untuk membayar technology fee berdasarkan volume penjualan , juga ditambah golden share sebesar 15%. Dia juga harus membayar transfer right untuk patent sebesar USD 1 juta dollar didepan. Lagi lagi, ini hampir tidak mungkin dapat dipenuhinya. Apalagi dengan keadaanya yang hampir bankrupt. Maklum lebih dari setahun dia hidup dari tabungan karena tidak lagi bekerja sebagai sales. Seluruh energy dan waktunya dicurahkan untuk ini. Dalam keadaan serba kurang , dia tetap yakin akan berhasil. Apalagi istrinya selalu mendukungnya dan tak sedikitpun meragukan obsesinya.

Waktu dilaluinya dengan berat dan jalan terseok seok. Semakin sulit semakin membara semangatnya. Menurutnya, andaikan semua mudah, tentu sukses akan menjadi milik semua orang. Hanya pejuang yang berhak memenangkan pertempuran  Demikian philosopy hidup yang diyakininya. Itulah sebabnya tidak ada istilah menyerah baginya. Ditengah sulit akan selalu ada cara untuk keluar dari kesulitan asalkan selalu bergerak dan bergerak , tidak menyerah dengan keadaan. Dia juga tidak mengemis dengan produsen untuk mengasihaninya agar melunakan kondisi. Baginya, kemitraan adalah keseimbangan. BIla dia ingin dihargai maka dia harus memastikan dirinya qualified untuk dijadikan mitra dan itu hanya satu jalan yaitu dia harus memenuhi syarat dari produsesn.

Jalan yang ditempuh adalah mencari orang lain yang bisa dijadikan sinergi untuk meraih impiannya. Pertama tama yang dia datangi adalah Perusahaan Distributor besar, yang mengageni banyak produk import. Ada banyak distributor yang didatanginya. Akhirnya beberapa menyanggupi untuk mendukung rencananya membuat pabrik dan bersedia menjadi distributor. Masalah marketing teratasi. Masalah kedua , darimana modal untuk merealisasikan ini. Inilah yang paling utama. Tanpa modal , semua impian akan menjadi tetap impian. Dia tidak frustrasi. Tanpa izin perusahaan, tanpa kantor , tak mengurangi rasa pecaya dirinya untuk bertemu engan bank. Ya, hanya bank yang dia tahu sebagai sumber pembiayaan. Lain tempat tidak dia paham. Apalagi mengharapkan bantuan dari keluarga Itu tidak mungkin. Dia terlahir dari keluarga miskin, juga istrinya.

Dengan bermodalkan proposal bisnis dan MOU dengan produsen di AS, dia berusaha meyakinkan bank untuk mendukungnya. Bukan hanya satu bank yang didatanganinya ,tapi beberapa bank. Jawaban bank semuanya sama bahwa dia harus punya track record sebagai businessman atau collateral, juga perizinan yang lengkap. Tanpa itu bank tidak bisa kasih dia modal. Tract record ,dia tidak ada. Collateral, apalagi, izin jangan tanya. katanya. Teman ini tetap tidak kecewa dengan penolakan itu. Karena dari penolakan itu dia mengetahui apa yang harus dilakukannya agar qualified mendapatkan pinjaman dari bank. Ya menurutnya, dia harus mencari mitra yang punya tract record sebagai debitur bank yang sehat. Tentu mereka orang yang sukses dan perusahaan yang hebat. Bila dia bermitra dengan orang itu maka perusahaannya akan memenuhi syarat untuk dibiayai oleh bank. Untuk biaya melengkapi izin usaha, dia menggadaikan apartementnya. 

Selanjutnya dia mendatangi beberapa nasabah bank yang sudah punya track record. Proposal ini disampaikan kepada mereka. Dia tidak meminta modal dari mereka. Dia hanya minta nama mereka tercantum sebagai pemegang saham perusahaanya. Karena nasabah bank yang sudah punya track record adalah perusahaan besar , tentu tidak mudah mendatangi mereka apalagi meyakinkan petinggi perusahaan itu. Bahkan menurut ceritanya, untuk mendapatkan kesempatan bertemu dengan pimpinan perusahaan itu, dia pernah duduk seharian di sebuah restoran hanya karena menunggu pimpinan perusahaan itu datang kerestoran yang biasa dikunjungi. Tak sedikit yang lansung menolak rencana bisnisnya. Namun dia tak pernah lelah dan berputus asa. Dia terus berusaha .

Akhirnya ada satu perusahaan yang tertarik untuk mendukungnya.Benarlah. Mereka tidak keluar uang hanya bersedia menempatkan namanya sebagai pemegang saham mayoritas. Mereka minta saham 60% namun dia punya opsi untuk membeli kembali saham itu dalam jangka waktu tertentu dengan harga 50% diatas harga nominal. Dia terima deal itu tanpa sedikitpun merasa dirugikan. ini wajar, menurutnya. Karena siapa yang akan percaya kepada pemula. Namun dia yakin , walau dia minoritas dia  akan menjadi pemenang karena dia sangat memahami bisnis ini dan tahu bahwa mitranya hanya mengejar rente saham. Setelah kemitraan terjadi maka proses pengajuan pinjaman ke bank dilaksanakan. Bankpun setuju memberikan kredit dengan kondisi semua saham dijadikan jaminan, termasuk personal guarantee dari pemegang saham mayoritas yang dikenal bank sebagai nasabah yang punya track record bagus.

Maka, jadilah teman ini sebagai direktur perusahaan dengan investasi raksasa. Tiga tahu setelah perusahaannya beroperasi , produksinya sudah membanjir pasar dalam negeri China maupun kemanca negara. Hebatnya lagi , principalnya yang di AS memilih menutup pabriknya di AS dan memindahkan businessnya ke china. Melalui venture capital  dia mengajukan skema pembiayaan untuk menbeli kembali saham yang 60% tersebut dan kemudian menjualnya kembali kepada mitranya dari AS seharga 4 kali lipat.  Kini dia bermitra langsung dengan principal yang menguasai riset dan technology.

Sukses sudah ditangannya. Apakah penampilannya berubah , seperti orang kaya baru ? tidak !.Justru dia semakin keras bekerja. Sehari dia berkeja hampir 18 jam. Hidup sederhana. Tidak membeli rumah mewah, Dia bahagia dengan tetap tinggal ditempat yanag lama. Kenapa ? dia masih punya obsesi ? “ saya ingin membuat imperium business , bukan hanya untuk saya dan keluarga tetapi juga untuk masyarakat china. Kami harus menguasai technology ini untuk kami kembangkan sendiri”. Tahun depan perusahaanya akan masuk ke Shenzhen Stock exchange dan Shanghai Stock Echange.

Apa yang dilakukan oleh teman saya diatas adalah suatu semangat entrepreneurship.  Jeli membaca peluang, creative mencari solusi, tidak kenal lelah dan selalu bekerja keras , tidak takut menghadapi resiko ketidak pastian, selalu berpikir positif, tidak rendah diri, bersikap terbuka dan mau berkerjasama demi mencapai tujuan. Lebih daripada itu adalah niat baik untuk kepentingan semua pihak. 
*** 
Ya, Keberhasilan tidak pernah datang dengan mudah. Semuanya harus diperjuangkan ditengah keterbatasan yang ada. Hidup adalah proses , yang semua orang harus melewatinya. Tanpa kecuali. Yang membuat orang lain kagum bukanlah hasil yang dicapai seseorang melainkan proses dibalik keberhasilan tersebut. Jangan pernah tergoda dengan istilah miracle atau short cut atau kekuatan doa miskin effort. Bila kita percaya kepada Allah maka kita juga harus percaya kepada hukum Allah, yaitu sunattulalh, bahwa semua harus dilalui dengan kerja keras, istiqamah dan sabar. Ini juga yang disunahkan oleh Rasul kepada kita semua yang beriman..

Sumber : Cuplikan dari salah satu Bab Buku " CIntaku Negeriku, Mari  berubah.
Tersedia di Toko Gramedia di kota anda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar