Sabtu, 30 Juli 2016

Keteguhan hati.



Ini kisah lama, jauh sebelum ada reformasi. Kenapa saya ceritakan ini kepadamu? Tak lain agar kamu tahu bahwa kebaikan itu ada di mana saja, sebagaimana Allah hadir di dalam setiap kehidupan manusia.
Ketika itu seorang pria datang ke kantor saya. Dia masuk tepat ketika kantor memulai aktivitas kerja. Saya tahu pria itu sudah berada di pekarangan kantor setengah jam sebelumnya. Dia hanya berdiri di tempat parkir motor. Saya tidak tahu siapa dia. Saya baru tahu setelah dia memperkenalkan dirinya sebagai petugas pajak yang mendapatkan surat perintah dari kantornya untuk memeriksa pembukuan kantor saya.
Awalnya ada rasa khawatir tentang pemeriksaan ini. Maklum sajalah, kamu kan tahu, mana ada petugas yang salah? Tentu dia datang untuk mencari-cari kesalahan kita. Ujung-ujungnya ya pasti uang. Tapi saya pasrah.
“Pak, apa saya dapat diberi tempat duduk di kantor Bapak?” tanyanya dengan sopan. “Saya ingin memeriksa pembukuan Bapak di sini. Jadi, kalau ada yang kurang saya bisa langsung minta kepada staf Bapak.
“Oh, tentu. Tentu. Saya akan sediakan tempat khusus untuk Anda,” kata saya, lalu membawanya ke ruang meeting. “Anda bisa kerja di sini.
Dia tersenyum.
Saya memerintahkan staf untuk melayani petugas pajak itu sebaik mungkin, termasuk menyediakan makanan dan minuman. Namun, sebelum semua itu disediakan, pria itu berkata “Cukup beri saya air putih, Pak, kalau berkenan.”
Saya terkejut. Betapa rendah hatinya petugas ini. Ketika minuman terhidang di mejanya, segera dia mengucapkan terima kasih. Terdengar suaranya seperti orang berbisik ketika dia memulai kerjanya, “Bismillah.
Saya meninggalkannya bekerja di ruang meeting itu dengan tumpukan dokumen. Ketika makan siang, pria itu membuka kotak makan siang yang dia bawa dari rumah. Kelihatannya dia begitu menikmati makanan yang dibawanya dan tak ingin menikmati makan siang yang kami tawarkan dari restoran mahal. Dua jam sebelum kantor tutup, dia sudah pergi. Alasannya, dia harus langsung ke kantor untuk membuat laporan.
Setiap hari pria itu datang lebih awal dan selalu setia menanti di tempat parkir sampai kantor dibuka. Jarang sekali dia berbicara. Kalau ada kekurangan, dia akan menulis memo kepada saya untuk meminta dokumen yang dia maksud. Saya pun akan memerintahkan staf untuk memberikan. Begitulah kegiatannya selama seminggu di kantor saya. Setelah itu, dia minta waktu untuk bertemu dengan saya. Saya menyanggupinya.
“Pak,” ucapnya dengan suara datar, saya telah memeriksa semua catatan pembukuan perusahaan Bapak. Hasilnya, ada kelebihan setor sebesar seratus ribu rupiah. Artinya, ada kesalahan dalam pencatatan pajak dan pembukuan hingga perusahaan Bapak kelebihan pembayaran pajak. Mohon ini diurus ke kantor saya untuk Bapak ambil.
Saya pehatikan pria ini seorang petugas yang cerdas. Tapi lebih daripada itu, wajahnya tampak bersih. Tak terlihat emosi apa pun di balik wajah itu kecuali keikhlasannya melaksanakan tugas. Sebuah dedikasi yang luar biasa dari seorang pejabat negara.
“Bagaimana kalau saya ikhlaskan saja seratus ribu rupiah itu? Saya tidak minta dikembalikan.  Gimana?” tanya saya sambil tersenyum.
“Tidak bisa, Pak. Bapak harus mengambil uang itu. Kalau tidak, saya dianggap tidak kerja oleh atasan saya. Mohon mengerti.
“Oh, begitu?”
“Ya, Pak,” jawabnya tegas. Kemudian dia memberikan formulir restitusi pajak untuk saya tanda tangani.
Keesokan harinya, dia menemui saya dengan membawa Surat Penetapan Pajak Rampung. Ketika itulah saya terpanggil untuk memberinya sedikit uang tanda terima kasih. Menurut saya uang itu tidak besar, hanya Rp25 juta. Tak ada artinya bagi perusahaan yang mempekerjakan buruh pabrik lebih dari 3.000 orang.
Dengan tegas dia menolak pemberian saya. “Maaf, Pak. Terima kasih untuk kebaikan Bapak. Saya hanya melaksanakan tugas saya dan untuk itu negara sudah bayar saya. Terima kasih. Ambil kembali uang itu.
Saya merasa malu di hadapan manusia yang begitu tulus dengan tugasnya dan merasa tak lebih sebagai abdi negara dengan segala keterbatasannya.
Saya tidak pernah bisa melupakan wajah tulus itu. Kepada seluruh staf saya ceritakan semua tentang pribadi petugas pajak itu. Ada staf saya yang tak begitu percaya namun mereka dapat menjadikan kisah itu sebagai inspirasi agar bekerja dengan dedikasi tinggi.
Dua tahun setelah peristiwa itu, saya berada di rumah sakit untuk menjenguk putra teman yang mengalami kecelakaan. Ketika hendak masuk rumah sakit, saya melihat seorang pria yang tak pernah bisa saya lupakan. Pria itu sedang duduk termenung di dekat loket pembayaran. Dia adalah petugas pajak yang pernah memeriksa pembukuan di kantor saya.
“Pak, apa kabar?sapa saya dan langsung menyalaminya. Dia menyambut hangat jabatan tangan sayaSaya merasa pria itu dalam keadaan bingung namun berusaha menyembunyikannya di hadapanku.
“Ada apa di sini?” tanya saya.
Dia tak menjawab. Tak berapa lama terdengar suara dari dalam loket. “Pak, minimal jaminan sepuluh juta rupiah. Kalau tidak ada, terpaksa anak Bapak di kelas tiga sesuai Askes Bapak tapi ruang itu sekarang penuh.
Pria itu terdiam, memalingkan wajah dari pandangan saya.
Tanpa berpikir panjang, saya langsung bicara kepada petugas loket itu. “Saya akan bayar untuk Bapak ini. Tunggu sebentar, biar saya ke ATM dulu untuk ambil uang.
Pria itu terkejut dengan sikap saya. Dengan cepat dia memegang tangan saya agar tidak melangkah ke ATM. “Pak, terima kasih. Tidak usah, Pak. Tidak usah. Saya akan berusaha mencari tempat lain yang bisa menampung anak saya sesuai Askes saya,” katanya dengan air mata berlinang. “Tidak perlu Bapak bantu saya. Ada lebih tiga ribu karyawan menggantungkan hidup di perusahaan Bapak. Cukuplah perhatikan nasib mereka. Itu lebih baik. Insya Allah, anak saya akan baik-baik saja,” kata pria itu lagi.
Saya terenyuh dengan keteguhan hatinya. Saya lihat dia keluar dari tempat loket pembayaran itu dengan langkah berat. Saya termangu melihat kepergiannya. Dari jauh saya lihat pria itu bersama istrinya menggendong putra mereka naik bajaj untuk mencari rumah sakit yang bisa menyediakan kamar sesuai Askesnya. Dia tegar. Lebih tegar lagi istrinya yang tetap tenang sambil memeluk lengan suaminya. Karena petugas seperti itulah sebagai pengusaha saya malu untuk menghindari pajak atau culas membayar pajak.
Tahukah kamu, ketika saya melihat ada petugas pajak golongan IIIA hidup bergelimang harta, puluhan miliar di bank dalam bentuk uang tunai dan emas lantakan, saya jadi berpikir. Apa makna dari perubahan dengan menjatuhkan Soeharto? Ke manakah reformasi ini akan kita bawa? Bila seorang petugas golongan IIIA saja bisa mendapatkan suap di atas puluhan miliar, bagaimana dengan pejabat di atasnya? Memang pengusaha bisa saja salah tapi semua pengusaha bergelut dengan tanggung jawab untuk menafkahi banyak orang yang terlibat di dalamnya. Namun, tetap tidak bisa dibenarkan bila petugas pajak sebagai abdi negara memperkaya diri dengan memanfaatkan kesalahan pengusaha.
Saya rasa, bukan masalah reformasi sistem yang menjadi harapan akan sebuah kebaikan tapi reformasi attitude. Reformasi mindset dari memuja harta menjadi memuja keikhlasan untuk mengabdi kepada negara dan tentu saja mengabdi kepada Allah untuk mencari rida-Nya. Inilah yang kebanyakan kita lupa. Kita telanjur berharap banyak reformasi sistem akan membawa perubahan yang lebih baik bagi kesejahteraan rakyat. Pada waktu bersamaan, kita lupa bahwa sebuah sistem ternyata tak mampu menuntaskan soal keadilan, apalagi rasa keadilan. Itulah kisah gelap dari bentuk reformasi sekuler yang melelahkan dan culas. Semoga kamu paham.

Cuplikan Buku : Cinta yang Kuberi. Volume 2
Tersedia di toko Buku Gramedia. 
Pesanan khusus dapat hubungi email ebandaro@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar